Lima tari Banyuwangi ,dipentaskan di Perancis

•Oktober 13, 2009 • & Komentar

 

YUSI & ELISE DI EIFFEL PERANCIS

YUSI &ELISE ,EIFFEL PERANCIS

 

Jawa Pos[ Senin, 12 Oktober 2009 ]

 

Lima Tari Banyuwangi Segera Tampil Go Internasional

Tampilkan Gandrung Lanang dan Bumbung di Prancis

Lima tari daerah Banyuwangi akan segera ditampilkan dalam pergelaran tari level internasional di Prancis. Tiga seniman akan berangkat negeri pusat mode dunia itu dengan mengusung tari andalan, gandrung lanang dan gandrung bumbung.

ALDILA AVRIKARTIKA, Banyuwangi

——————————

SUARA musik terdengar bertalu- talu dari Gesibu Blambangan Banyuwangi. Beberapa warga berjalan berduyun-duyun menujuu ke arah suara gamelan tersebut. Hanya dalam tempo sekitar 30 menit, hampir seluruh tempat duduk di Gesibu sudah dipenuhi warga.

 Tepat pukul 20.30, tarian gandrung bumbung yang merupakan tari kolaborasi Banyuwangi – Bali, tampil sebagai tarian pembuka. Penonton langsung bertepuk tangan begitu melihat gebyar prestasi yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi itu. Penari gabungan dari sanggar tari Sayu Gringsing, Sanggar tari Lang Lang Buana dan sanggar tari Sidopekso tampil cukup atraktif. Penari senior Banyuwangi, sekaligus pemilik sanggar Sayu Gringsing, Subari Sofyan tampak lincah membawakan tarian yang akan ditampilkan di Prancis itu.

Setelah penampilan tarian gandrung bumbung, mereka menampilkan tari Marsan atau yang biasa disebut sebagai tari gandrung lanang. Puas menampilkan tari legendaris itu, mereka berurutan menampilkan tari jejer jaran dawuk, cunduk menur, jaran goyang, dan tari pupus widari. Selain itu, mereka juga menampilkan berbagai kesenian seperti, musik tradisional anak Indonesia, dolanan anak nusantara dan lainnya.

Pergelaran yang mampu menghibur masyarakat Banyuwangi itu, sejatinya merupakan acara pisah pamit kepada seluruh masyarakat Banyuwangi. Karena, lima tari tersebut akan ditampilkan di Prancis. Mereka akan membawa misi promosi budaya dan pariwisata.

Banyuwangi yang kaya akan seni dan tradisi ini, mendapat kehormatan diundang oleh Prancis. Dalam pergelaran tersebut, mereka akan tampil bersama penari dari beberapa negara lainnya. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Banyuwangi mempersiapkan lima tarian di Prancis.

Tiga penari yang jadi duta negeri itu adalah Subari Sofyan, Icha dan Tari. Tiga penari itu juga dituntut memiliki kemampuan make up. Sebab, mereka bertiga harus menari tanpa membawa perias ke Prancis. Bahkan untuk menghemat biaya, mereka membatasi barang bawaan maksimal 20 Kilogram agar tidak kena charge biaya bagasi.

Subari Sofyan mengatakan, persiapan untuk berangkat sudah 90 persen. Mulai dari kostum tari, hingga persiapan fisik dan gerakan. Lima kostum yang akan ditampilkan, didesain semenarik mungkin tapi tetap terkesan glamour. ”Karena Prancis itu kan kota mode. Jadi kami akan membuat seluruh orang terkesan dengan Banyuwangi,” katanya.

Dia menambahkan, mereka sudah melakukan persiapan selama satu bulan. Selama bulan September 2009 lalu, mereka sudah mempersiapkan gerakan kolaborasi, kostum hingga hiasan kepala yang akan digunakan. ”Kami akan berusaha tampil maksimal. Dengan adanya promosi ini, diharapkan bisa menarik minat wisatawan ke Indonesia khususnya di Banyuwangi,” katanya.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disbudpar Banyuwangi, Dariharto mengaku bangga. Karena Banyuwangi telah diberi kesempatan untuk bisa tampil dalam pergelaran promosi budaya dan pariwisata di Prancis. Banyuwangi diberi kesempatan emas untuk memamerkan kekayaan seni dan tradisi kepada dunia internasional. Dia berharap, adanya promosi itu bisa menarik minat wisatawan asing untuk datang ke Banyuwangi. (bay)

SUASANA HARI RAYA “BROJOLAN” /MENDADAK 56 TAHUN LALU

•September 19, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari Raya tahun ini yg dipastikan akan terjadi pada tanggal 20 September 2009, berbeda dengan tgl yang tertera di kalender umum yaitu tgl 21 September 2009, menimbulkan kalang kabut kenalan, tetangga, dan saudara saya.

Seorang executive kenalan saya, terpaksa mengabaikan ticket pesawat yang dibeli untuk tanggal 20 September, dan kalang kabut mencari ticket tgl 19 September, karena beliau tidak akan mungkin akan tenang dan bahagia kehilangan moment yang sangat penting, untuk bersama ibunya, pada malam hari Raya, dan sungkem setelah menjalankan sholat Eid…………..Berapapun harga ticket akan dia bayar asal moment ini tidak terlewatkan.

Seorang tetangga terpaksa mempercepat pulang dengan kendaraannya, hingga menimbulkan kegaduhan……..dan setelah mencapai Cirebon baru ketahuan satu box  untuk hadiah  bapaknya ketinggalan.

Ribuan orang bingung…….namun itu tidak terrekam . Ticket yang dibeli , kalau perlu antri berjam jam  dengan harga duakali lipat (karena tgl 20 Sept  diperkirakan Peak Seasons) ,sekarang menjadi tidak berharga……sungguh memilukan.

Saudara2 yang mestinya  pulang hari Sabtu ,mendadak berubah hari Jum’at, point2 yang biasanya  macet sekarang macet total , SPBU kehabisan bbm…….duh gusti……………

Melihat kejadian seperti diatas , pikiran penulis melayang ketika penulis masih kecil berumur 5 sd 6 tahun , atau yang terjadi 56 tahun yang lalu.

Pada malam itu ,ayah begitu tergopoh gopoh datang dari masjid, karena Lebaran ternyata  terjadi esok hari. Bedug bedug mesjid dipukul lebih keras, bapak bapak berlari lari mengabarkan Hari Raya. Tetangga saya terburu buru menangkap ayam yang masih tidur dipohon, suara ayam ribut dimalam itu, belum lagi gelepar suara ayam disembelih.

Ibu ibu berlarian pontang panting mencari kekurangan bumbu dapur, dan kemudian masak semalaman.

Saya sendiri berlari pontang panting mengirim zakat fitrah keluarga (6 orang),kemudian mencabuti bulu ayam sampai mendekati tengah malam

Seluruh desa malam itu hiruk pikuk, semalam suntuk. Takbiran sudah tidak berirama lagi. Tetapi bedug dipukul lebih keras, kemudian diikuti kampung yang lainnya, begitu seterusnya…….tiap orang merasa chawatir  saudara yang berada diluar  kota tidak tahu besok lebaran….maka pamanku yang memiliki sepeda    mengabarkan ke sanak keluarga di desa desa.

Dan malam itu ada kebahagian yang terpancar , apabila ternyata dialah yang pertama mengabarkan berita  Hari Raya itu……sungguh luar biasa.

Setelah semalam suntuk bergadang, maka bersiaplah untuk sholat Eid di mesjid. Pakaian kami baru, hati sangat gembira, tetapi muka kami kuyu……jalan terseok seok dengan sepatu baru

Keramaian Hari Raya , dipagi hari sangat semarak……..tetapi menjelang dzuhur ….desa sudah sangat sepi……..seperti desa yang telah diluluh lantakan serangan  Garuda ……..sampai magrib tiba……dan setelah itu meriam  bambupun berlaga ,lagi memecahkan daun telinga.

 

Allohuakbar Allohuakbar Allloooooohuakar………………………..

Kami Sumono & Kel menghaturkan SELAMAT HARI RAYA EIDUL FITRI 1430 H, mohon maaf lahir bathin, semoga kita selalu mendapatkan Ridho Alloh, dan meneguhkan silaturahmi. Amiiiiiiiiiiiiiin

 

(sampun paripurno anggen kawulo talak broto siam ing wulan romadhon, nenggo dawuh guru lelakuning alam (PARA ROSUL), memayu  hayunining  bawono.

Naliko swanten takbir medar ing angkoso, ngagungaken asmaning gusti Alloh ingkang MOHO RACHMAN LAN MOHO ROCHIM, mratela sampun rawuh Dinten Ingkang Agung;

Duh gusti ,lan saderek kulo sedoyo ‘ ngaturaken sugeng riyadi 1 syawal 1430 h, nyuwun agunging pangaksami sedoyo kelepatan.,kawulo lan keluargi)

ivANHARIYANTO pElukis Brang Wetan Alumnus SMAN I bANYUWANGI

•September 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

  

  

Banyuwangi secara perlahan tetapi pasti menjadi daerah yang  mampu melahirkan pelukis handal. Para pecinta seni lukis, pasti mengenal pelukis yang terkenal  yang berasal  dari Banyuwangi  seperti Huang  Fong, Moses Misdy , Yadi  dan tentu Ivan Hariyanto alumnus SMAN I BANYUWANGI.

Oleh karena itu menurut  pengamat seni lukis, membicarakan seni lukis     Indonesia , tentu tidak  mungkin tidak  membicarakan seni lukis yang berkembang di Brang    Wetan(Jawa Timur), demikian juga membicarakan seni lukis di Brang     Wetan,  tentu tidak mungkin  tidak membicarakan seni lukis yang     berkembang di  Banyuwangi.  

 

IvanHariyanto, setelah lulus SMAN I Banyuwangi, melanjutkan pendidikannya ke STSRI di Yogjakarta, sehingga  merupakan  salah satu pelukis yang memiliki pendidikan Formal, oleh karenanya  memiliki basis yang kuat .

 

Tak heran apabila pameran lukisan  Sdr Ivan Hariyanto, selalu mengundang kehadiran kolektor 2 seni lukis.

Lukisannya telah menjadi koleksi para kolektor dalam maupun luar negeri . Didalam negeri lukisannya telah dikoleksi , kolektor seni,, mantan pejabat, mantan menteri, malahan mantan wakil Presiden Bpk Tri Sutrisno, dan Mantan Presiden Hababi, memiliki  lukisan Ivan Hariyanto.

Pameran lukisan yang pernah diikuti, mencakup pameran didalam negeri maupun diluar negeri yaitu , di Hongkong, Singapore, Thailand, Malaysia, Philipine, Brunei Darusalam.

Seandainya tidak terikat dengan pameran yang diadakan pada bulan Oktober, Sdr Ivan Hariyanto, sangat berkeinginan ikut memeriahkan reuni emas SMAN I Banyuwangi.

Mudah 2 an pada kegiatan mendatang , Sdr Ivan Hariyanto dapat ikut serta ….

Amiiiiiin

dr.Bayu Santosa ,anggota team dokter Presiden Suharto (ALUMNI SMAN I BANYUWANGI)

•September 6, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

   

KAN KUSEBUT APA NAMAMU SAUDARAKU  …dr. BAYU SANTOSA

 Mahasiswamu menyebutmu guru yang hebat

M.L.D.I menganugerahkan sebutan DOKTER MULIA

Dekan Fak Kedokteran Unair menyebutkan dokter yang tidak diragukan lagi Kompetensinya dan kemampuannya

Dan IDI menetapkan sebagai seorang anggota Team Dokter Presiden Suharto

Wyana saudaramu, dengan kagum menyebutmu seorang dokter yang berjoang

di gempa Yogja dengan alat sederhana yang mengundang decak kagum

Dan Sarwono saudaramu dengan bangga menyebutnya sebagai pejoang kemanusiaan

Sudah terlalu lama kita tidak bertemu saudaraku…..dan sudah terlalu lama baktimu yang

tak diketahui

Tetapi saudara saudaramu tidak tahu menyebutmu……

Di malam yang sunyi ini dengan terbata bata dan haru

Aku hanya mampu menyampaikan terima kasih untuk baktimu

Dan dari qalmuku yang paling dalam kusebut namamu

Bayu Santosa saudaraku di SMAN dulu……

 *MLDI .Mailing List Dokter Indonesia

NOTE:
INI ADALAH SMS DARI dr BAYU SANTOSA, Tentang penulisan diatas melalui smsnya

“Mas Sumono , those words in your email are so beautiful.

I’m very proud of it not  due to what I’ve done but because Iwas graduated and shape by my loved SMAN B’WANGI.

Thank U so much

———————————————————————————————————————————–

* Untuk mengingat betapa dahsyatnya gempa Yogja tersebut, saya sertakan  tragedy DIAN

DIAN ,MENANGISLAH !KARENA INDONESIAPUN MENANGIS.

Sudah berhari hari Singapore diguyur hujan,dan ketika hari ini udara sangat cerah ,alangkah segarnya.Kicauan burung dari Green Oval Garden merangsang untuk menikmati pagi yang cerah bersama cucu cucu.Maka akupun berangkat ke taman Green Oval .

Ketika sedang berlari lari kecil ,seorang gadis remaja memperhatikan kehadiran  kami, tersenyum kemudian menyapa; Eyangnya Mikail  ya pak ? Salam ya untuk mamanya Mikail.

Kemudian dia meninggalkan kami karena keponakannya  sudah jauh berlari lari.Tetapi sebagai orang yang sudah S2 (Sudah Sepuh alias sudah tua ),perasaanku mengatakan ada sesuatu yang diperhatikan dari penampilanku dan ada sesuatu yang ingin disampaikan.Aku mengira ngira sejenak tetapi tingkah cucuku dengan cepat menghilangkan perasaan itu.Ketika keringat sudah membasahi badan kami dan nafasku sudah tersengal sengal ,pulanglah kami menyudahi hari yang indah ini .

Sampai di apartement, anakku menyapaku : “Oooo pakai kaos ini ya pa?”.Aku heran mendapat sapaan itu,karena rasanya tidak ada yang salah dengan kaos yang kupakai ini: Memang kenapa?

Anakku kemudian menjelaskan ; Tulisan di kaos papa itu meningatkan dia , pada peristiwa gempa di Yogya dan perjalanan hidupnya. Menyedihkan pa…………

Anakku berhenti bicara dan kulihat matanya berkaca kaca

Tulisan dikaos yang kupakai itu bunyinya :

TRAVEL WARNING.

INDONESIA

DANGEROUSLY BEAUTIFUL

Kaos ini kuterima dari Iwan esjepe, seorang muda yang yg penuh passion dan energi melakukan kegiatan sosial , mulai dari keperhatinan dia pada bencana alam di Indonesia sampai melawan travel warning dari negara2 maju. Dia mencetak puluhan  ribu sticker dan  ribuan kaos yang dibagikan pada teman2nya untuk diedarkan dan ditempel di kopor2 perjalanan.Dan menyebarkan luaskan kegiatannya melalui blognya INDONESIA BERTINDAK Dan aku kebagian sticker untuk aku berikan pada orang2 yang berangkat keluar negeri dan kaos untuk aku  pakai di Singapore.

Tak kusangka kata2 di kaos ini dapat membuat seorang remaja putri menangis mengenang Indonesia kita.

Gadis remaja itu  bernama Dian,  salah satu putri , dari bapak Indonesian dan ibu Singaporean.Ayahnya seorang konsultan di Singapore

Ketika ibunya mengandung Dian ,ayahnya menginginkan anaknya lahir dan menikmati masa kecil di Indonesia.Keluarga ini kemudian memutuskan untuk menetap di Yogyakarta.Indonesia.

Ayahnya meneruskan pekerjaan sebagai  konsultan dan juga menjadi dosen .

Semua berjalan lancar , cukup dan penuh bahagia . Ketika Dian menginjak klas 2 SMA, ayah Dian meninggal dunia.

Keluarga ini meneruskan perjalanan hidupnya sambil terus berjuang hidup semampunya,serta berusaha mewujudkan  angan angan ayahnya menjadi keluarga yang bahagia dan menjadikan anaknya menjadi anak yang dapat dibanggakan.

Kehidupan memang bertambah berat namun kehadiran neneknya  yang berwajah sejuk dan menentramkan, membuat keluarga ini mampu mengatasi tantangan kehidupan.

Alangkah bahagianya Dian ketika  harapan ayahnya dapat dicapai .Dia diterima di almamater ayahnya,di Universitas Gajah Mada yang tercatat sebagai Universitas yang baik di dunia .

Ketika cahaya kehidupan keluarga Dian mulai merekah…tidak seorangpun yang menyangka  Yogyakarta dan sekitarnya terserang gempa dahsyat.

Bencana ini mulai mengharu birukan ,kehidupan Dian. Nenek  sang penghibur hati dan yang dicintai meniggal dunia, rumah warisan ayahnya hancur berantakan.Memulai kehidupan dari titik yang tak di sangka2 alangkah sulitnya,

Akhirnya keluarga ini memutuskan pindah ke Singapore bergabung dengan keluarga ibunya.Dian masih ingat bagaimana hebatnya media Singapore menyambut kedatangannya pengungsi dari Yogya termasuk dirinya.

Selama di Singapore,Dian meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya,untuk mengisi waktu luangnya,dengan harapan nanti bisa kembali ke Yogya dan melanjutkan kuliahnya di Universitas Gajah Mada. Waktu terus berlalu dan harapan itu semakin hari semakin sirna.

Hidup sebagai warga Negara Indonesia di Singapore,sungguh sangat mahal,namun motivasi untuk melanjutkan kuliah tak pernah surut. Prestasi di SMA yang sangat bagus  dan kemampuan bahasa Inggrisnya  ,mengantar Dian diterima sekolah yang sangat bergengsi di Singapore.

Kini pilihan hidup menjepitnya, pulang kembali ke Indonesia tak terbayangkan beratnya.Hidup di Indonesia harus dimulai dari titik nol,ayah dan nenek sudah meninggal ,rumah sudah hancur berantakan ,sedang hidup dan tinggal di  Singapore sebagai orang Indonesia, dan kuliah di Universitas yg berstandard International sungguh tak tertanggungkan biayanya .Ibu sudah semakin tua ,adik perlu biaya untuk bersekolah.

Hanya dengan menjadi warga negara Singapore maka kesulitan hidup dapat teratasi, karena pemerintah Singapore menyediakan berbagai macam subsidi bagi warga negaranya dan sekolah dengan biaya murah.Lagi pula Universitas menjanjikan bea siswa bagi mahasiswa yang berprestasi.

Kini Dian harus menetapkan pilhannya,pilihan yang tak tertnggungkan beratnya…

Dari telepon selularnya diseberang sana terdengar suara Dian lirih dalam isak tangis;Akhirnya aku  meninggalkan warga negara Indonesia  mbak dan menjadi warga Negara Singapore………….. Duh Gusti(ALLah) nyuwun gunging pangaksami..

Dian menangislah, karena kami dan Indonesia mu pun menangis

REUNI EMAS SMANI NEGERI BANYUWANGI(Alumni SMAN I Banyuwangi, DR.Drs .Suprapto Ma’at Apt ,penemu Stimuno ,Mendapat BJ Habibie Award 2008)

•September 1, 2009 • 1 Komentar

Anda Kami Undang 

PENEMU STIMUNO , PRIMADONA INDUSTRI  FARMASI  MASA DEPAN ,adalah ALUMNI SMAN I BANYUWANGI

Satu lagi , kita patut berbangga dalam reuni emas ini, STIMUNO, yang diprediksi sebagai primadonna industri masa depan ( SWA 19 (XXIV/4 -17 Sept 08) , ternyata ditemukan  oleh ALUMNI SMA NEGERI I BANYUWANGI, yaitu  DR . Drs. Suprapto Ma’at Apt MS. Saya mengenalnya sebagai  mantan abonemen kereta api dari Kalibaru dan kawan nongkrong bersama Siawadi di rumah pak. Sudewo,  depan Stadion Banyuwangi.

Hei Prap  , Sis piye kabare…nongkrong maneh yooo.( Sumber Informasi Sarwono)

 Dibawah ini saya sampaikan petikan berita dari  Kompas , Jum’at 22 Agustus 2008 .

———————————————————————————————————-

 Suprapto, Sang Penemu Herbal untuk Kekebalan,

JERIH payah DR.Drs Suprapto Ma’at Apt MS meneliti obat herbal selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil gemilang. Risetnya tentang khasiat ekstrak meniran  (phyllanthus niruri) telah mendapat pengakuan secara luas sehingga ia mendapat Technology penghargaan BJ Habibie Award 2008.
Habibie Center memberikan penghargaan kepada pria kelahiran Banyuwangi, 18 Desember 1948, itu atas jasa dan prestasinya melalui riset aplikatif tanaman meniran untuk Stimuno. Habibie Award diberikan dalam rangka mendorong dan menggerakkan percepatan sumber daya manusia dan memberikan apresiasi bagi mereka yang aktif dan berjasa dalam menemukan, mengembangkan kegiatan iptek yang inovatif dan signifikan.

Formula ekstrak meniran terbukti berkhasiat dalam membantu penyembuhan berbagai macam penyakit, mulai dari tuberkulosis, hepatitis, dan vulvovaginitis. Tak heran bila hasil penelitian pria yang kini bekerja di Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini telah mendapat paten dari Dirjen HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual Indonesia) pada tahun  ini.

Ciptakan vaksin

Sebelum meneliti herbal, DR Suprapto  banyak berkecimpung di dunia bioteknologi dan menjadi otak lahirnya berbagai vaksin penting, seperti vaksin penyakit mulut dan kuku, vaksin anthrax, dan vaksin brucella. Namun, kemudian ia beralih ke bidang yang juga tak jauh dari vaksin, yakni ilmu kekebalan tubuh (immunologi). Ia lalu gencar meneliti  khasiat berbagai tanaman, seperti meniran dan tumbuhan obat lain seperti waluh jipang (Sechium edule) yang berkhasiat menurunkan hipertrigliseridemia, daun jambu biji (Psidium guajava) yang berkhasiat memperbaiki permeabilitas pembuluh darah dan mengatasi DBD.
“Saya menilai penelitian tentang obat herbal lebih menjanjikan. Kalau kita mau meneliti obat atau menemukan suatu obat lalu kita menang dengan obat kimia, itu rasanya omong kosong. Karena apa? Teknologi kimia sintensis Indonesia sudah tertinggal 100-200 tahun. Jadi tidak mungkin penelitian menggunakan bahan kimia dilakukan di Indonesia.  Satu-satunya kalau kita mau menemukan obat asli Indonesia, hanya dengan obat herbal,” ujar DR Suprapto di Jakarta Kamis (21/8) kemarin.
“Oleh karena itu saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun yang dikenal immnunomodulator,” ujarnya.
DR Suprapto menambahkan, ektrak meniran yang dikemas dalam Stimuno adalah immnunomodulator yang bersifat imunostimulator atau dapat merangsang sistem imun agar fungsi dan aktivitasnya meningkat dan siap bekerja optimal menghadapi invasi mikroba dan virus.  Stimuno telah teruji dengan baik yakni dengan 15  uji klinis.  Obat herbal ini juga telah  memperoleh serifikat Fitofarmaka dari BPOM.

REUNI-AKBAR 50th SMAN

Note: STIMUNO  juga mendapat penghargaan Most Recomended Brand untuk Sistim Imunitas anak  dari WORD OF  MOUTH MARKETING AWARD (2009).

REUNI EMAS S.M.A NEGERI I BANYUWANGI (Menghasikan tokoh tingkat Nasional dan International)

•Agustus 27, 2009 • & Komentar

 

 

Dalam menyambut reuni emas SMA N I BANYUWANGI, mengenang masa lalu ibarat minum secangkir teh manis dipagi hari, menyenangkan, membuat pikiran dan akan melayang jauh. Ternyata banyak hal yang dapat kenang dalam reuni emas  ini.

Tulisan ini, bukanlah tulisan orang yg mengenal dengan baik tentang SMA kita , apalagi ditulis setelah 47 tahun . Oleh karena itu jika kurang berkenan mohon dilengkapi, sehingga menjadi semacam Wikipedia.Jadi tulisan ini semacam trigger gituuuuuuuuuuu

 

Terlalu Jauh

Ketika saya klas 3 SMP rasanya SMA Negeri Banyuwangi, kurang dibicarakan di lingkungan kelas saya. Ya memang melanjutkan ke SMA masih merupakan pilihan yang berat, karena ekonomi pada saat itu sangat berat, dan apa yang didapat setelah SMA nanti tidak jelas dan apalagi nasib pegawai pada saat itu tidak menentu. Guru SD saya, menceri takan gajinya selalu terlambat dibayar sehingga timbul anekdot, gajinya dibayar tgl 35. Di samping itu letak SMA Negeri sangat jauh.dan pada jalan menanjak. Sisi lain mungkin karena usia SMA yang masih baru, bagi orang tertentu lebih baik menyekolahkan anaknya ke sekolah sekolah agama atau ke Yogja. Saya sendiri bingung menentukan akan  sekolah kemana? Ibu saya sangat menginginkan saya melanjutkan sekolah, dan ketika itu ibu menyarankan saya menemui sahabat ayah seorang Tionghoa, yang sudah seperti keluarga sendiri yaitu Tanusudibyo, bapak Hary Tanusudibyo , owner  RCTI . Ketika saya ketemu beliau , dia meminta saya sekolah di Surabaya, dan dia mendaftarkan saya kesekolah swasta yg bagus di Surabaya. Tetapi kemudian ibu saya meminta saya sekolah di SMA Banyuwangi ,dengan iming2 sepeda motor Zundapp. Tentu saya senang bersekolah di Banyuwangi , selain dapat sepeda motor Zundapp, saya bisa dekat dengan pacar saya………………

SMA Negeri, yang multi cultural dan plural

Mengenang SMA Negeri I Banyuwangi , 47 tahun yang lalu , adalah sekolah yang  banyak memiliki kekhasan. Sekolah SMA Negeri Banyuwangi , adalah satu satunya sekolah yang ada di kabupaten Banyuwangi, dan mungkin belahan barat dari Bali pada saat itu Pemerintah memang luar biasa pemikirannya, sekolahnya berada di Banyuwangi tetapi Kepala Sekolahnya dari Bali yaitu Bpk I. Made Rempet.

SMA Negeri, pada saat itu boleh disebut sekolah yang multi cultural dan plural, siswa terdiri ber macam macam suku ( Jawa, Osing , Bali , Madura ,Sumatra, Banjardll)dan suku bangsa yaitu Tionghoa, Arab, India, Pakistan. Siswa siswa dari Bali cukup banyak saat itu. Demikian juga dengan guru yang mengajar, ada yang keturunan Arab (Pak.Hadi Balilah, Pak.Abdullah Assegaf) dan keturunan Tionghoa (Pak. Lauw Shie Hing).Saya merasakan betapa besar pengaruh multi cultural dan plural itu pada suasana pemikiran saya saat ini. Saya dengan gampang bergaul dengan bangsa lain, dan dengan enak memcernak pemikiran mereka. Apalagi wajah saya yang lebih cenderung Mongolid meskipun saya asli Jawa . Kalo saya berada di luar Indonesia, orang mengira bahwa saya sebagai Tionghoa daripada Philipino( Begitulah sangkaan orang luar kepada orang Indonesia, mudah mudahan sekarang tidak lagi).

Ada pengalaman lucu waktu saya di Singapore, ketika seorang sales perfume di toko serba ada menawari  perfume , dan saya katakan, tawarkan pada istri saya dan saya tunjuk tempat istri saya , maka setiap wanita Chinese dihampiri dan ditanya apakah istri saya, tentu saja mengatakan tidak……dan ketika saya menghampiri istri saya , yang ternyata istri saya ARAB…dia sangat surprise dan tertawa terpingkal pingkal

Sekolah Diatas Bukit dan Betis yang gede gede dan Kuur Ketekuk

Seperti saya ceritakan diatas bahwa sekolah SMA terletak jauh diluar kota dengan jalan menanjak. Tidak seperti saat ini, banyak kendaraan bermotor yang siap mengantar siswa  ke SMA Negeri, pada saat itu, hanya ada pilihan , jalan kaki atau naik sepeda. Meskipun saya memiliki sepeda motor , tetapi sering ada tangan yang usil ,jadi saya lebih memilih bersepeda. Maka dapat dipastikan setelah tiga tahun bersepeda betis saya dan  siswa SMA membesar dan berotot.  

Saya sendiri tidak habis berpikir , bagaimana mungkin bersepeda sejauh itu dengan jalan menanjak dapat kita jalani. Yang lebih hebat lagi , tentu kalo ada siswa SMA yg pacaran, sepeda beriringan berdua naik menanjak keatas,    alaaaa mak  begitu heibat mereka menyesuaikan irama genjotan sepedahnya. Dan ada lagi siswa siswa dari barisan Kereta api, begitu turun dari setasiun kereta api , dia melesat berjalan kaki ………luar biasa. Kalo yang ini mestinya sampai di sekolah sudah basah kuyup…….tetapi nggak bau tu.

Kalau sudah sampai di sekolah sungguh luar biasa nikmatnya, kita bisa  melihat ketimur melihat laut pantai Banyuwangi dan pulau  Bali.

Sekolah pada saat itu, meskipun sangat serius, tetapi banyak jam pelajaran yang kosong …tetapi bukan karena dedikasi pak dan bu .guru yang kurang , tetapi memang beliau sangat sibuk ,rapat2.

Sulit membandingkan dedikasi guru pada saat itu , dengan dedikasi pegawai pada saat ini, hidup serba kekurangan, gaji diterima tgl 35, artinya terlambat dan malahan mungkin dirapel untuk 3 bulan, sedang pekerjaan sampingan tidak ada. Sungguh luar biasa.

Kami sangat menghormati beliau, demikian juga para ibu bapak kami sepenuhnya menyerahkan kepada bapak dan ibu guru…..tanpa reserve. Tidak seperti sekarang guru sering diprotes.

Banyak kenangan indah dengan guru guru, mulai dari Pak Seno dan Pak Basuki  yang bibirnya biru karena tak pernah berhenti merokok, atau pak Yitno dengan definisi  Eindah ( maksudnya Indah)  atau mengenang Pak.Rempet mengajar , yang  sampai waktu tertentu kadang muncul dalam mimpi saya.

Jika besok ada pelajaran Pak.Rempet saya semalam suntuk menyiapkan diri belajar pelajaran beliau, tetapi begitu masuk kelas , yang muncul hanya doa, mudah2an tidak disuruh kedepan……sebab kalau disuruh kedepan dan tidak bisa, alaaaa maak, langsung kaki disepak , sambil teriak toloooollllllll.

Tetapi Alhamdulillah saya selalu selamat dan sampai saat ini saya masih  canggih menghitung angka apalagi uang.

Kalau banyak pelajaran kosong, selain pulang kerumah biasanya ke boom, terutama untuk anak 2 yang kost, melihat kapal kopra dari Buton atau langsung ke Gilimanuk cari Siwalan. Kecuali Ho ( Budi Mranata) yang pergi menyebrangi hutan bakau di Kali asin…..nekat.

Kalau pulang sekolah, karena jalan menurun, biasanya bebas memilih, lewat Wisma Rini  atau rumah sakit Blambangan.

Dan untuk kawan 2 yang lewat rumah sakit biasanya suka usil…….begitu lewat didepan penjara , serentak meneriakkan Kuuur Ketekuk(meniru suara burung perkutut )mengganggu penjaga yang menjaga diatas menara. ( Meskipun sebenarnya kebiasaan yang sama dilakukan anak 2anak S.T.N)

Saya jarang sekali lewat disana, tetapi suatu ketika saya lewat disana , rupanya penjaga penjara sudah bersiap siap membalas……begitu siswa SMA berteriak Kuuuur Ketekuuk maka batupun berhamburan dan kami tunggang langgang berlari……Kenangan manis yang akan kubawa sampai mati

Menghasilkan tokok Nasional dan Internasional

Dengan pendidikan yang lebih cenderung egaliter , pada masa yang sulit, serta menempuh perjalanan yang jauh dan menanjak , rupanya tanpa disadari telah mendidik siswanya menjadi tangguh, dalam menghadapi gempuran zaman. Bayangkan sekolah yang baru berdiri, untuk anak di ujung pulau Jawa ini, tanpa disangka sejak mulai alumni pertamanya telah menghasilkan tokoh Nasional maupun International. Sebut saja Brigjen Abdul Kahfi , mantan Wagub DKI, Laksamana muda M.Rusdi Maksum .mantan Waka Bakin, Boedi Mranata ( Baca Boedi Mranata putra Banyuwangi yang Sukses,) Ir Arief Yahya  (oleh Koran Republika ditokohkan sebagai tokoh yang berpengaruh di Jawa Timur) dan pada saat diangkat sebagai Direktur Telkom, menjadi Direktur termuda dari seluruh BUMN , dan satu dari dua orang Indonesia yang tamatan sekolah bergengsi didunia dalam bidang Telekominikasi yaitu University of Surrey , United Kingdom .dan Ir Azam Azman ( anggota DPR  RI)dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan dalam tulisan ini.

Penulis berusaha menulis otobiographi beliau, namun saat ini baru Boedi Mranata Phd Hamburg University yang bersedia.Mudah mudahan pada saatnya kelak beliau bersedia ditulis biographinya untuk motivasi generasi muda.

SELAMAT BERREUNI EMAS SAUDARAKU, DAN INDONESIA SANGAT MENANTIKAN GORESAN EMAS DARI ALUMNI SMA NEGERI I BANYUWANGI

 

GURU KITA, PAHLAWAN TANPA TANDA JASA…………………

Sing koyo ring Banyuwangi ,panganan akeh macemeee

•Juli 21, 2009 • & Komentar

Iki jadwal mangan rancangan rabinisun dik Anis

Moleh teko sembahyang subuh ring mesjid Baiturr Rachman, mangan sego rawon lan ngombe susu kambing  ning warunge  Yu Tini  ring lore mesjid (Pekauman).

Jam setengah pitu mangan sego janganan ,jajane ketan ,orog orog,apem, sumping….

Kapan mari sembahyang subuh terus nang boom, mangan sego bodrex ambi kacang untir.

Jam sepuluh ,mangan lontong janganan Bali,utowo rujak soto

Jam rolas (dohor) mangan sego ginjah arum kang panas, iwake jangan kelor lan klentang, ambi pelasan iwak segoro, sambele kang pedes tambah empal , ngombene es man Rasyid.

Waktu Ashar ,mangan rujak kecut, rujak gobet utowo rujak ramonan.

Mari sembahyang Isya ring mesjid Hadi kampung Arab,mangan sego iwake Kaldu, lan sate ngombene temu lawak…

Jam sepuluh bengi mangan tahu lontong

Jam rolas bengi mangan sego tempong……..

Wareg……..yo terus turu…………kari koyo nang surga.

SMA BINA INSANI BOGOR LULUS 100% dan LEBIH DARI 50% TELAH DITERIMA UNIVERSITAS NEGERI

•Juni 18, 2009 • & Komentar

 

 

 

Seperti tahun tahun sebelumnya, SMA BINA INSANI BOGOR, telah menunjukan prestasi yang membanggakan. Pada tahun ini, tingkat kelulusan UAN mencapai 100% ( Seratus Persen).

Disamping itu 50% dari siswa tersebut telah diterima di Universitas Negeri  baik melalui PMDK maupun ujian Mandiri. Adapun universitas tersebut adalah :

1. Universitas Gajah Mada

2. Institut Pertanian Bogor

3. Institut Technologi Telekominikasi

4. Universitas Negeri Soedirman

 

Peraih nilai tertinggi  untuk jurusan IPA,

1. Perwita Sari

2.Thariq Basyir

3. M.Ghifari Muntahari

 

Peraih nilai tertinggi untuk jurusan IPS

1.Nadya Erwita Sarah

2.Muhammad  Nurwanto

3.Fajrul Hidayat Lubis

GANDRUNG BANYUWANGI ,KARYA GARAPAN DEDDY LUTHAN

•Juni 9, 2009 • & Komentar

 

 

 

Sembilan belas tahun yang lalu tepatnya tgl 5 Maret 1990, saya menonton Gandrung  garapan seniman kondang DEDDY LUTHAN ( HENDRAWANTO PANJI AKBAR LUTHAN) di Taman Ismail Marzuki dengan thema yang sangat menggugah  KADUNG DADI GANDRUNG WIS . Dari Kompas Januari 2008, saya baca beliau telah mementaskan gandrung  pada tahun1990, 1991, 1992, 1993, dan pernah membawa seniman gandrung  ke KEBUDAYAAN INDONESIA AMERIKA SERIKAT. Dan berkeinginan untuk mementaskan kembali gandrung pada tahun ini. Sungguh perhatian yang luar biasa.

Pada pementasan tgl 5 Maret 1990 itu beliau menghadirkan penari gandrung yang sudah mumpuni, yaitu mbah Suanah, mbah Awiyah, dan penari muda gandrung Banyuwangi, lengkap dengan peralatannya dan penabuhnya. Saya sendiri sudah tidak pernah nonton gandrung sejak SMP kelas 3 atau sejak tahun 1963 itu berarti saya  sudah 27 tahun  tidak menonton gandrung. Hal itu disebabkan disamping mulai tumbuhnya tontonan baru yang marak di Banyuwangi saat itu,seperti dangdut dan band ,dan angklung model baru juga saya lebih sering mendengar kabar miring tentang gandrung. Disamping itu nonton gandrung bagi orang kota , anak anak sekolahan ,dianggap  ndeso.

Sebagai pengunjung setia Taman Ismail Marzuki saat itu, meskipun saya hanyalah penggemar seni,dan  sebagai orang Banyuwangi, saya mulai tertarik untuk menonton pementasan itu dan  mulai nguping untuk tahu lebih jauh tentang maksud pementasan itu.Dari pembicaraan yang beredar saat itu  saya memutuskan untuk menonton. Ketika saya membeli tanda masuk, saya diberi buku, yang berisi reportoir tentang pementasan itu.( yang tersimpan apik sampai saat ini). Ketika saya membaca reportoir ,saya mulai bertanya tanya  apa benar arti kesenian gandrung seperti yang ditulis Bpk .Dedy Luthan, rasanya jauh benar dengan pemahaman saya selama ini. Gandrung selama ini saya fahami sebagai kesenian yang berbau miring, tetapi bpk.Dedy Luthan menulis gandrung pada dasarnya penuh pesan moral dan penarinya meyakini menjadi gandrung adalah panggilan Jiwa, semacam ritual.

Inilah kutipan pendapat beliau; Para gandrung pada masa lampau begitu teguh mempertahankan cara yang demikian( melagukan  secara penuh ,SEBLANG LOKENTO, SEKAR JENANG, KEMBANG PEPE, SONDRENG SONDRENG dan KEMBANG PIRMA), sehingga walaupun puisi puisi tersebut tidak pernah ditulis namun hingga dewasa ini sebagian besar dari puisi puisi masihdiingat dan dinyanyikan oleh orang tua terutama yang ada di pedesaaan, pada hal puisi puisi tersebut merupakan puisi yang amat tinggi dengan bahasa yang sulit dimengerti.

 Inilah salah satu kutipan lagu SEKAR JENANG pada buku repertoirnya.

Sekar sekar Jenang  .Maondang dadari kuning

Temuruno ageng alit .Kaulo nyuwun Sepuro

 Layar layar kumendung .Ombak umbul ring segoro

Segorone tuan Agung .Tumenggung numpak kereto

 Lilir liliro kantun.Sang kantun liliro putro

Sapanen dayoh riko.Mbok srungkubo milu tomo

 Lilir lilir gile.Sabuk cinde ring gurise

Kakang kakang ngeliliro.Sawah bondo ring seloko

 

Terjemahan bebas dari penulis

 Kuletakan bunga persembahan.Ketika purnama  sedang penuh

Duhai saudaraku .Dengarlah permohonan maaf saya

 Ketika fajar pagi menembus awan.Ombak dilautan bergelombang tenang

Lautan menampakkan kebesarannnya.Layaknya seorang pembesar naik kereta

  Janganlah  pernah berputus asa.Dikaulah yang mampu membangkitkan

Kembangkan tanganmu , menerima kebaikan.Pegang teguh ,keutamaan

Bangkit bangkitlah segera.Berita kemegahan telah Nampak

Duhai saudaraku bangkitlah.Kemakmuran adalah harapan kita.

Ketika saya baca kutipan itu,saya tersentak ……saya langsung teringat nonton Seblang  di waktu fajar bersama nenek, dan lagu yang dinyanyikan nenek menjelang tidur  .

Memang sulit memahami bahasa lagu lagu Seblang . Saya sendiri tidak pernah bisa mengerti kalimat nyanyian itu dengan baik, syairnya mengingatkan saya mantera yang diucapkan oleh dukun kampung , ketika nenek membawa saya untuk berobat.

Nenek saya orang Osing. Sebagai orang Osing , nenek sangat senang sekali nonton gandrung dan selalu mengajak saya menonton. Ketika itu ( sekitar tahun 50 an sampai dengan 60an) sebenarnya cukup banyak tontonan rakyat di Banyuwangi, mulai angklung caruk, jaranan,damar ulan, umar maya , kuntulan. Saya sebenarnya lebih senang nonton DAMARULAN, dan UMARMAYA,daripada nonton Gandrung. Nonton Damarulan , UMAR MAYA , bisa semalam suntuk. Dan setelah itu rasanya telinga berdengung sehari penuh, karena begitu kerasnya bunyi  tabuhan(gamelan) dimainkan . Karena cerita yang menarik dan karena ego (maksudnya jika kita bisa menonton semalam suntuk , kita akan dianggap jagoan). Dua tontonan ini , berbeda versi. Damarulan menceritakan tentang penaklukan raja Blambangan , Menak Jinggo,dengan iringan tabuhan Bali  sedang Umar maya menceritakan penyebar luasan pengaruh Islam ke Persia, sedang costum dan tabuhan (gamelan) hampir sama dengan wayang orang.Tetapi baiklah , cerita Damarulan dan Umar maya, mudah mudahan nanti bisa saya tulis dalam bab tersendiri.

Nenek selalu mengajak saya  menonton  gandrung saat permulaan(JEJER) dan saat menjelang fajar(SEBLANG).Pada saat paju gandrung , saya sudah di ajak pulang . Yang saya ingat pada saat itu,adalah perbedaan penampilan nenek dan orang yang sebaya. Pada waktu nonton Jejer ,wajah beliau dan orang2 sebaya sangat ceria , tetapi waktu menonton seblang menangis tersedu sedu, minimal menitikkan air mata. Suatu saat saya tanyakan kenapa nenek dan orang orang sebaya menangis, beliau menjawab bahwa gandrung itu sedang meminta ampun kepada Sang Maha Pencipta atas segala kekhilafan yang dia lakukan semalam. Saya sempat heran mendengar jawaban itu, oleh karena itu pada saat yang lain, saya tanyakan kalau sudah mengetahui salah, kenapa dia ulangi lagi. Ya menjadi gandrung itu sudah merupakan bagian dari hidup. Jawaban itu saya cerna begitu saja. Jawaban orang tua yang amat sederhana,dan saya bagian peradaban masa lalu yang patuh, menerima saja dengan ichlas jawaban itu.

 

Kini  seorang seniman besar DEDY LUTHAN ,membawa gandrung ke kancah pemikiran intellectual, dalam suatu pementasan KADUNG DADI GANDRUNG WIS di TAMAN ISMAIL MARZUKI. Menghadirkan mbak Suanah dan mbak Awiyah , penari gandrung yang tonton bersama nenek . Aku mulai berpikir , bagaimana mungkin seorang nenek menari gandrung………..Betapa mengejutkan ketika mbah Suanah dan mbak Awiyah , muncul menari gandrung,sungguh luar biasa……orang tua itu berubah menjadi sangat hidup seperti gandrung muda, dan aura gandrung dalam seblang ketika saya menonton bersama nenek menggetarkan seluruh sendi saja . dan ketika lagu seblang itu dilantunkan, suara yang sendu dan penuh kerendahan hati,tanpa aku sadari air mata saya  menetes membasahi pipi . Kini aku dapat memahami arti gandrung sebagai panggilan seperti yang disampaikan nenek. Pementasan ini membawa saya menyusuri masa masa kecil saya, berjalan di kegelapan fajar ,bersama nenek

 

Kini Seblang telah diarsipkan menjadi khasanah musik dunia menjelang fajar oleh Smithsonian Folk ways , New York , Amerika Serikat. Jejer Gandrung menjadi tarian penyambutan tamu. Gandrung telah menjadi ciri khas Banyuwangi. Gandrung telah metamorphosis mengikuti gerak zaman.Dan saya sejak saat itu memahami arti sebenarnya pementasan Gandrung. Jauh dalam lubuk hati , nyanyian gandrung SEKAR JENANG di waktu Fajar ( Seblang) merayap mengusik kalbu, dan memompakan semangat baru

CUCUKU DI BEIJING

•April 30, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
MIKAIL SUMONO RAMLI
MILHAM SUMONO RAMLI