KEBUDAYAAN BANYUWANGI WARISAN MAJAPAHIT

•27 November 2013 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Pendahuluan .

Leonardo da Vinci, ternyata tidak hanya seorang pelukis yang sangat mumpuni, tetapi juga pemikir  yang menjelajah berbagai bidang . Kedalamannya dalam sejarah terbukti dari wisdom wordnya: Masa depan kita ditentukan oleh pemahaman sejarah kita.

Padahal pemahaman kita tentang sejarah bangsa Indonesia , tidak terlepas dari propaganda Belanda yang dimulai ketika mesin cetak/penerbitan  masuk ke Indonesia  dan  dikuasai oleh Belanda , yang dikenal dengan masa Babad Londo , seperti dikemukakan William H.Frederick, Professor Jurusan Sejarah  Yale university USA  dan Soeri Suroto dosen sejarah UGM…..Secara umum abad ke 19 merupakan zaman yang “kejam” bagi pemikiran sejarah Indonesia , khususnya Jawa( 19)…..yang kemudian kita kenal “babad londo” dimana tokoh yang paling penting ( beradab) adalah Gubernur Jendral Belanda (20)[1]

Berdasarkan pendapat diatas maka sangat menarik untuk menelaah kembali tentang  Kebudayaan /kesenian Banyuwangi ,  apalagi setelah munculnya kegiatan event Banyuwangi Festival yang berlangsung cukup lama ( selama enam bulan ) dengan beragam atraksi.  Salah satu topic yang sangat menarik itu adalah tentang pengaruh kebudayaan /kesenian Bali , terhadap  kebudayaan / kesenian Banyuwangi .

Pengaruh itu menurut sahibul hikayat tertanam pada saat kerajaan Bali  menjajah Kerajaan Blambangan . Theory tentang  penjajah  menanam pengaruh terhadap peradaban , termasuk kebudayaan dan kesenian ,sulit dapat dibantah. Penjajah memiliki watak superior, oleh karena itu dapat memaksakan peradabannya menjadi peradaban anak jajahan sebagai upaya untuk  menjaga kelanggengan penjajahannya .

Salah satu faktor munculnya  hipothesa ini ,adalh karena kebudayaan / kesenian Banyuwangi memiliki ciri, warna yang sangat khusus ,terutama jika dibandingkan dengan kebudayaan /kesenian yang berkembang pada tataran tanah Jawa. Kebudayaan /kesenian Banyuwangi berbeda jauh dengan kebudayaan /keseniaan Jawa , terutama dalam nada dan ritme, yang lincah penuh gairah, seperti pendapat para ahli yang dikirim oleh Dir Jen Nilai Budaya Seni dan Film yang  menyimpulkan tentang kesenian Banyuwangi sebagai berikut : Perbedaannya dengan musik dari bagian lain di Jawa terletak pada cara memainkannya. Banyuwangi selalu menggunakan tempo yang cepat dan jalinan rumit yang tidak ditemui dibagian manapun di pulau Jawa.[2]

Maka  sangat menarik untuk melacak kebenaran  hipothesa  diatas  dengan mengajukan  tiga pertanyaan;

1.      Benarkah kerajaan kerajaan  Bali pernah  menjajah Blambangan?    

2.      Benarkah kebudayaan /kesenian Banyuwangi dipengaruhi Bali?,

3.      Adakah sumber  peradaban Blambangan, yang membuat kebudayaan/kesenian  Blambangan berbeda dengan kebudayaan/kesenian Jawa?

Penjajahan Bali di Blambangan dan fakta fakta kerajaan itu.    

Yang menarik dari pernyataan  tentang penjajahan Bali terhadap  kerajaaan Blambangan , ternyata sangat  simpang siur ,mulai dari aspek waktunya maupun siapa yang menjajahnya.

Inilah pernyataan  pernyataan itu

·         Ada sejarahwan yang menyatakan  bahwa Blambangan dijajah oleh kerajaan Gel Gel pada  tahun 1547 ketika Gel Gel dipimpin  Waturenggong

·         Ada yang menyatakan  bahwa Blambangan dijajah Buleleng  pada masa Gusti Ngurah Panji  mulai tahun 1697  sampai dengan tahun  1729 . Karena Buleleng dikalahkan Mengwi maka Blambamgan kemudian dijajah oleh  Mengwi .Ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung  ( Lekkerker  Blambangan hal  1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan  39 ) 

·         Sementara .Drs I Made Sudjana MA, menyatakanBlambangan dijajah  Mengwi pada pada tahun 1763 sampai dengan 1768. Pada tahun 1766 , Buleleng mencoba merebut Blambangan dari Mengwi namun gagal  ( Nagari Tawon Madu  hal 57 _ 68)

·         Sementara babad Buleleng  via Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 1599-1680. Kayu Mas Agung 1995) bahwa Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) diceritakan mengusai Blambangan

·         Ada yang tanpa menyebutkan tahun dan kerajaannya, hanya menyatakan kerajaan Blambangan pernah dijajah Bali, padahal di Bali memiliki kerajaan sangat banyak, dan pada masa lalu kerajaan tersebut saling berebut kekuasaan.  

 Karena ada perbedaan pendapat/interpretasi , maka untuk menjelaskan data tersebut , penulis mengikuti petunjuk Arnold J . Toynbee yang menyatakan bahwa untuk  menjelaskan suatu bagian , terlebih dahulu kita harus meninjau keseluruhan .

“in order to understand the part we must first focus our attention upon the whole , because this whole is the field of study  that is intelligible in self.[3]  Dan disamping itu mengikuti petunjuk petunjuk methode historis  ( historical methode)  bahwa dalam pengangkatan data menjadi fakta hendaklah melalui dua tingkatan kegiatan , yaitu pertama tama kita harus melakukan kritik historis ( historical critic = penilaian terhadap sumber ) yang menyelidik apakah data itu asli atau tidak akan dan bagaimana sifat serta coraknya. Sesudah itu kita melakukan interpretasi , yang akan menetapkan makna dan saling hubungannya data tersebut. Dari situlah akan dapat ditentukan apaka data sejarah itu dapat diangkat menjadi fakta sejarah atau tidak.

Fakta sejarah  dari kerajaan Gelgel  ,  Mengwi  , Buleleng  berdasar sumber  dari Bali  sebagai berikut

·         Kerajaan Gelgel

1.Dibangun oleh   Dalem Watu Renggong  1460   dan berdiri sampai 1550Kerajaan Gel Gel mengalami masa jaya pada masa Dalem WatuRenggong selama  25 tahun , kemudian setelah itu pengaruhnya memudar

2.Dalem Watu Renggong digantikan oleh   I Gusti Agung Maruti ,dan memerintah  mulai pada tahun 1551 . Selama dalam pemerintahan I Gusti Agung Maruti , kejayaan  Gel Gel semakin menurun dan kemudian terbelah menjadi beberapa kerajaan kecil , tetapi tetap  bernaung  dibawah lindunngan  kerajaan Gel Gel . Selanjutnya  Gel Gel  metamorphosis menjadi kerajaan Klungkung , yang lebih menekankan pada aspek rochani, yaitu sebagai pelindung kerajaan kecil  tersebut  yaitu Mengwi, Buleleng , Karangasem dll..

·         Kerajaan Mengwi

1.Didirikan oleh Gusti Agung Anom pada tahun 1627 . Mengalami masa jaya setelah dipimpin putranya Gusti Agung Putu  1634 ,bergelar I Gusti Agung Made Agung,

2. Mengwi seperti halnya Badung , Buleleng, Karangasem, Gianyar, Tabanan berada dibawah Klungkung.

3. Setelah I Gusti Agung Made Agung merasa kuat,  beliau berusaha berdiri sejajar dengan Klungkung dan menjadi kerajaan yang berdaulat. Pendapat lainnya mengemukakan setelah Mengwi  menaklukkan Blambanngan gelarnya menjadi I Gusti Cokorde Sakti Blambangan.

4. Setelah pemerintahan I Gusti Agung Made Agung yang berlangsung selama 25 tahun  , Mengwi terus mendapat gempuran dari Buleleng dan Badung, yang mendapat restu dari Klungkung, dan Mengwi  terus mengalami kemunduran. Pada tahun 1729  Mengwi mendapat gempuran dari Buleleng , dan meminta bantuan Blambangan  ( Pangeran Pati II). Berkat bantuan Blambangan Mengwi terhindar dari kehancuran , dan sebagai imbalan  P.Pati II dihadiahi putri Mengwi , yang dari perkawinan ini lahir Wong Agung Wilis.Tetapi kemudian runtuh karena gempuran kerajaan Badung.

·         Kerajaan  Buleleng

didirikan I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697)

Apabila kita sandingkan fakta fakta kerajaan yang ada di Bali tersebut diatas dengan fakta sejarah dari kerajaan Blambangan, maka betapa pernyataan penjajahan kerajaan Gel Gel, Buleleng , Mengwi ,jauh dari kebenaran, apalagi ditinjau dari perspektive yang lebih luas , dari aspek religius maupun luas wilayah.

 

Ketidak benaran Blambangan di jajah Gel Gel.

Seperti disebutkan diatas   bahwa Blambangan dijajah  Gel Gel pada  tahun 1547 ketika Gel Gel dipimpin  Waturenggong .

Dikisahkan pada tahun 1546, ketika Sultan Ternggono dari kerajaan Demak merencanakan menyerang Panarukan ,  Dalem Waturenggong , raja Gelgel di Bali , mendahului menyerang Blambangan pada tahun 1547 dengan mengerahkan  200.000 laskar Gelgel di bawah kyai Ularan membunuh penduduk , merampas harta, dan membunuh raja Blambangan . ( Drs I Made Sudjana MA Nagari Tawon Madu )

Pernyataan tersebut sangat tidak mungkin ;

1.Ditinjau dari sejarah Gel Gel , seperti disebutkan diatas bahwa Dalem Watu Renggong mendirikan Gel Gel pada  1460 dan memerintah 25 tahun , atau berakhir pada tahun  1485.  

2.Jika penyerangan dilakukan pada tahun 1546 maka yang mungkin menyerang adalah    I Gusti Agung Maruti . Tetapi pada saat itu Gel Gel sudah lewat masa jayanya dan malahan   pada tahun 1551  Gel Gel terbelah menjadi beberapa kerajaan kecil dan  Gel Gel  metamorphosis menjadi kerajaan Klungkung , yang lebih menekankan pada aspek rochani, yaitu sebagai pelindung kerajaan kecil itu .

3.Selain itu disebutkan bahwa penyerangan itu dilakukan dengan mengerahkan 200 ribu tentara ,untuk menaklukan Blambangan yang  ibu nagarinya  berada di Panarukan .

1.      Pertanyaannya adalah berapa jumlah penduduk Gel Gel pada saat itu ?

2.      Mungkinkah  Gel Gel mampu mengerahkan 200 ribu  pasukan ?

Jika mengikuti theory tentang besarnya kekuatan militer satu negara adalah 10 persen ,mungkinkah penduduk kerajaan Gel Gel mencapai  dua juta orang ? Sebagai perbandingan adalah catatan penduduk Blambangan yang disampaikan  oleh Stanford Rafless  pada tahun 1750 hanya 80 ribu orang .[4] Jumlah itu  ternyata diragukan oleh beberapa sejarahwan , padahal Blambangan pada saat itu mencakup daerah yang sangat luas Lamajang , Panarukan ( Situbondo ) ,Kedawung ( Jember , Bondowoso , Banyuwangi)[5]  atau seluas 10 ribu km. sebuah nagari yang amat subur , makmur dan seluas dua kali pulau Bali  jadi jauh lebih besar dari kerajaan Gel Gel yang hanya bagian dari Bali.

Dalam Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September, DR Sri Margana yang  mengambil Doktor di Universitas Leiden ,mengemukakan Blambangan pada masa Tawangalun II  sebagai berikut;

·         Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan  yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati  sebanyak 270 orang.

·         Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.

·         Kerajaan Blambangan , dalam mempertahankan existensinya, mampu bergerak dengan mobilitas yang sangat tinggi, terbukti kerajaan Blambangan telah memindahkan ibukota  kerajaan sampai 6 (enam) kali.(Lumajang, Panarukan , Kedawung /Jember, Macan Putih, Ulupampang,Lateng/Banyuwangi)

·         Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga  dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665

Andai kata kita sepakati bahwa jumlah penduduk Gel Gel sangat besar , pertanyaannya adalah  mampukah Gel Gel  mengirim  tentara 200.000 orang ke Panarukan.???            Dengan dengan kapal layar  terbesar yang dimiliki oleh orang Madura saat ini  dengan  daya tampung maximal 100 orang, maka diperlukan 2000( dua ribu kapal). Suatu hal yang sangat fantasis.  Baik dari jumlah maupun biaya yang dikeluarkan.  Sedang jumlah laskar tersebut jauh lebih besar dari laskar yang dikerahkan sahabat Umar Ibn Chatab untuk menaklukan kerajaan besar  Persia  atau  laskar yang dikerahkan oleh Jengkhis Khan  untuk menaklukan  Daulah  Abbasiyah.  Atau dibandingkan dengan ketika Ku Blai Khan raja Asia dan Eropa menyerang Singosari  , yang mengerahkan  10 ribu tentara , dengan 1000 kapal dan persiapan perak satu ton.   Padahal  kerajaan di Bali hanya bertumpu pada suwilih ( upeti dari petani),[6] dan Bali bukan tanah yang subur. Hanya dengan kerja keras dan rasa cinta yang mendalam orang Bali mampu berkehidupan .Dalam sejarah terdapat contoh dalam pertempuran Buleleng dan Mengwi menyiagakan armada 40 buah perahu mayang, pancalang , jukung . Pasukan Mengwi bergerak sejak Juni 1766, tetapi pada Juli 1766, sudah kehabisan Logistik (kelaparan) . [7]

4.Serangan itu juga mustahil karena  kerajaan Blambangan diakui sebagai negara kaya dan telah memiliki armada laut yang kuat  dengan demikian jauh lebih perkasa dari Bali.Dibawah ini kutipan keadaan Blambangan  dari abad  14 sampai abad 16. Fakta tentang kemakmuran kerajaan Blambangan juga di kemukakan oleh Jonno de Barros, Decada IV,buku I,bab 7 (Portugies). Yang menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca /Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka.Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam , dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam[8] Dibawah ini adalah peta p.Jawa dari buku Summa oriental /Tome pires. Fideida adalah Panarukan .

4.Konsep religius agama Hindu tentang Jagad raya yang merupakan agama orang Bali juga tidak memungkinkan serangan itu.                                                                                           . DR.  Agus  Aris Munandar , menulis bahwa konsep religius Hindu  tentang dunia sbb,[9] Dalam konsep Makrokosmos Hinduisme menyatakan alam  semesta( Axis Mundi )terdiri  tiga dunia yaitu Bhurloka , Bhuwarloka, dan Swarloka . Bhurloka adalah bagian kaki gunung , tempat tinggal manusia, ditengah Bhuwarloka , tempat tinggal para orang suci dan para pertapa, sedang Swarloka di puncak Mahameru  terdapat sorga , istana bersemayamnya para dewa ( Sudarsana). Dalam konsep ini daerah tepian pantai , laut dan lautan dianggap derah nista dan kotor, tempat tinggal roh roh jahat, para raksasa, dan machluk rendah lainnya.Oleh karenanya  daratan adalah tempat penting , tempat itu dinamakan Jambhudwipa,sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan kerajaan yang bercorak Hinduisme  lebih mementingkan In Ward Looking. Dan tidak memperhatikan daerah daerah di luar Jambhudwipa. Oleh karena  itu perhatian ke laut , pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas  yang disenangi oleh pemeluk agama Hindu.Juga  larangan bagi  pendeta Hindu untuk menyeberangi lautan, seperti terungkap dari  legenda tentang penyebaran agama Hindu dari India ke Nusantara , dan dari Jawa ke Bali

Dalam penyebaran agama Hindu ke Nusantara.Dikisahkan pendeta suci  Agastya harus bertiwikrama , sehingga mampu menghirup air laut yang memisahkan Asia dengan Nusantara, dan ketika  air laut  kering maka  pendeta  Agastyapun   berjalan menuju Nusantara dan menyebarkan agama Hindu di Swarnadwipa. Legenda itu  diabadikan dalam patung Rsi Kumbhayoni yang perutnya buncit ( karena minum air) .Patung itu tersimpan  di Museum Gajah Jakarta.

Dalam penyebaran Hindu dari Jawa ke Bali , diyakini pada masa kerajaan Daha Jaya , Jawa dan Bali masih satu pulau. Mpu Sidhimantra dari  Daha (Jawa) yang berperanan penting dalam penyebaran agama Hindu di Bali, terpaksa membelah Jawa dan Bali, agar putranya Manik Angkeran , berbakti kepada Naga Basukih yang menetap di Pura Besakih ( Bali).

Betapa besarnya pengaruh konsep religius Hindu tentang dunia , yang mengabaikan laut, terbukti tidak adanya gambar kapal laut di candi Hindu

Lebih dari itu Drs I Made Sudjana MA juga menolak bahwa Dalem Waturenggong menguasai Blambangan ( Nagari Tawon Madu 27)

 

Ketidak benaran penjajahan Buleleng terhadap Blambangan.                                           Seperti dikemukakan diatas  bahwa Blambangan dijajah Buleleng  pada masa Gusti Ngurah Panji  mulai tahun 1697  sampai dengan tahun  1729 . Karena Buleleng dikalahkan Mengwi maka Blambamgan kemudian dijajah oleh  Mengwi .Ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung  ( Lekkerker  Blambangan hal  1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan  39 ) 

Pernyataan tersebut tidak mungkin  ;

1.      Buleleng terletak di Singaraja . Seperti saya sebutkan diatas bahwa kerajaan  di Bali bertumpu pada pertanian ,dan tidak memiliki keahlian Maritim karena konsep religius Jagat raya  agama Hindu.

2.      Kerajaan  Buleleng didirikan  I Gusti Ngurah Panji Sakti  dan mengalami masa jaya pada (1660 sd 1697). Jadi pada tahun 1697  I Gusti Ngurah Panji Sakti telah wafat. Kemudian Buleleng tidak memiliki raja besar lagi.

3.      Jika mengacu pada tulisan  pada   babad Buleleng dan tulisan  Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 15991680. Kayu Mas Agung 1995).bahwa Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti  menguasai Blambangan pada tahun (1660 sd 1697) , maka hal itu juga tidak mungkin karena  pada masa itu  Blambangan justru berada  pada masa jaya dibawah Tawangalun II.DR Sri Margana yang  mengambil Doktor di Universitas Leiden , Belanda dengan disertasi  “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ dalam Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September, mengemukakan Blambangan pada masa Tawangalun II  seperti dikutip diatas .

 Ketidak benaran penjajahan Mengwi atas Blambangan.

Pernyataan penjajahan Mengwi terhadap Blambangan sama kacaunya dengan pernyataan penjajahan  Blambamgan  oleh Buleleng. Lekkerker menyatakan sejak tahun 1729 ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung  ( Lekkerker  Blambangan hal  1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan  39 )  Sementara .Drs I Made Sudjana MA, Blambangan dijajah  Mengwi pada pada tahun 1763 sampai dengan 1768. Pada tahun 1766 , Buleleng mencoba merebut Blambangan dari Mengwi namun gagal  ( Nagari Tawon Madu  hal 57 _ 68)

Pernyataan tersebut tidak mungkin  ;

1.      Seperti saya sebutkan diatas bahwa kerajaan  di Bali bertumpu pada pertanian ,dan tidak memiliki keahlian Maritim karena konsep religius Jagat raya  agama Hindu.

2.      Berdasar catatan sejarah Kerajaan Mengwi , didirikan  Gusti Agung Putu dan  digantikan putranya pada tahun 1634 ,bergelar I Gusti Agung Made Agung, dan pada pemerintahananya mengalami masa jaya. Raja I Gusti Agung Made Agung telah meninggal pada tahun 1659. Dan pada saat itu Kerajaan Blambangan sedang mengalami masa jaya di masa Tawangalun II

3.      Setelah pemerintahan I Gusti Agung Made Agung yang berlangsung selama 25 tahun  , Mengwi terus mendapat gempuran dari Buleleng dan Badung, yang mendapat restu dari Klungkung, dan Mengwi  terus mengalami kemunduran. Pada tahun 1729  Mengwi mendapat gempuran dari Buleleng , dan meminta bantuan Blambangan  ( Pangeran Pati II) .P.Pati mengirim 3000 JAGABELA sebanyak 3000 orang yang bersenjatakan keris emas. Dengan kekuatan tempur itu dan dukungan rakyat ,serbuan Kerajaaan Buleleng digagalkan.(45)Berkat bantuan Blambangan Mengwi terhindar dari kehancuran , dan sebagai imbalan  P.Pati II dihadiahi putri Mengwi , yang dari perkawinan ini lahir Wong Agung Wilis.

4.      Drs I Made Sudjana MA (Leiden) dengan susah payah mencari bukti , akhirnya menyimpulkan bahwa Mengwi menguasai Blambangan pada 1763 sd 1768 padahal pada masa itu Mengwi  sudah sangat lemah.

5.      Dalam riwayat penjajahan di muka bumi ini, hanya sekali ini, saya mendapatkan seorang penjajah menggunakan tempat yang dijajah .Ku Bilai Khan  , yang berasal dari stepa gurun di Mongolia  , tidak menggunakan nama Abbasiyah  atau nama dinasti di China,yang dijajahnya, dan di hancur leburkan, walaupun dia berasal dari peradaban yang lebih rendah . Demikian juga sejarah di Nusantara

 

Dengan  uraian diatas menjadi jelas bahwa penjajahan kerajaaan kerajaan Bali  tidak memiliki fakta yang benar .Bagaimana mungkin kerajaan yang terpecah belah dan saling bertempur , tidak memiliki ekonomi  yang  baik, dan tidak memiliki  industri perkapalan dan kebiasaan melaut  mampu   menyerbu  menguasai Blambangan .                                                    Adanya  kesamaan cerita, yaitu bahwa setiap masa keemasan masa raja Gelgel, Mengwi, Buleleng ,  pasti menguasai kerajaan Blambangan,karena  cerita menguasai kerajaan Blambangan menjadi simbol kebesaran raja raja Bali. Ini bisa dipahami bila kita kaitkan fungsi Babad dalam kerajaan Bali adalah sebuah naskah suci, yang menjadi bukti legalitas kerajaan Bali . ( DR.Robin Tatu meraih gelar MA. dalam program Asian Study  di University of Hawaii di kota Manoa dalam bulan Agustus 1999. sekarang  PhD dalam bidang Sejarah). Menguasai Blambangan  yang daerahnya meliputi Lumajang , Situbondo, Bondowoso , Jember , Banyuwangi , berarti memiliki G. Semeru yang terletak di Lumajang . Dan Gunung Semeru adalah tempat bersemayam Dewa Siwa ,tempat suci , orang Hindu. Jadi menguasai Blambangan adalah bagian mendapatkan Legalitas Kerajaan Bali.

Adakah pengaruh Bali pada kebudayaan /kesenian Banyuwangi ?

Jelas sudah berdasarkan kajian sejarah tidak terbukti   penjajahan  kerajaan  Gel Gel, Buleleng , Mengwi terhadap Blambangan, maka kita perlu  melacaknya melalui ragam kesenian.

Tentang ragam kesenian Banyuwangi , saya menggunakan kajian yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Nilai Budaya Seni dan Film , Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto, volume 7,Banyuwangi tahun 2002.

Ragam kesenian  Banyuwangi menurut buku tersebut adalah;

1.      Angklung Caruk

2.      Angklung Paglak

3.      Gandrung

4.      Kuntulan

5.      Gembrung (Burdah)

6.      Barong

7.      Gedhogan Lesung

8.      Patrol

Dari rincian kesenian diatas sulit mencari padanan kesenian mana yang dipengaruhi Bali.

Kesenian Kuntulan  dan Gembrung  ( Burdah )

Kesenian ini , jelas berasal dari peradaban Islam  yang berasal dari kesenian Rebana. [10]

Barong .

Dalam hal kesenian  Barong, ternyata bentuk Barong Banyuwangi berbeda dengan Barong Bali. Barong Banyuwangi bersayap sedang barong Bali tidak. Tentu aneh menyatakan Barong Banyuwangi adalah pengaruh dari kesenian Bali.Malahan Barong Banyuwangi sangat mirip dengan relief Narasingha  pada masa kerajaan Daha.

Relief Narasingha

Dengan demikian ada kemungkinan besar  bahwa Barong Blamabangan berasal dari peradaban Daha.

Gandrung

Demikian juga Gandrung , tidak ada kemiripan dengan tari Legong di Bali. Gandrung yang awalnya dipopulerkan oleh  penari laki laki , pada awalnya terdiri atas tiga babak , yaitu babak  Jejer,  Paju dan Seblang . Gandrung  bukanlah tari hiburan seperti  Legong , maupun  Tandak, Tayub, Ronggeng.

Dedy Luthan menulis  bahwa gandrung pada dasarnya penuh pesan moral dan penarinya meyakini menjadi gandrung adalah panggilan Jiwa, semacam ritual.

“Para gandrung pada masa lampau begitu teguh mempertahankan cara yang demikian( melagukan  secara penuh ,SEBLANG LOKENTO, SEKAR JENANG, KEMBANG PEPE, SONDRENG SONDRENG dan KEMBANG PIRMA), sehingga walaupun puisi puisi tersebut tidak pernah ditulis namun hingga dewasa ini sebagian besar dari puisi puisi masih diingat dan dinyanyikan oleh orang tua terutama yang ada di pedesaaan, pada hal puisi puisi tersebut merupakan puisi yang amat tinggi dengan bahasa yang sulit dimengerti.”

Disamping itu beliau mengungkapkan bahwa kesenian Gandrung penuh mystery dan banyak sekali yang berunsur ritual.dan Inilah petikan tulisan beliau.
• Sewaktu melagukan puisi delapan bait, baik dibabak pertama maupun babak Seblang Gandrung tidak menari sebagaimana layaknya namun yang disuguhkan berupa” pantomin” serta hanya diiringi oleh alat musik pembawa melodi,seperti biola……..dan ketika biola belum digunakan ,….melodi tersebut didendangkan melalui mulut.( tahun 1939) hal 14
[11]

 

Sebuah buku yang diterbitkan Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang diprakarsai Dir.Jen Prof DR Edi Sedyawati, dan Pelaksana Prof DR Sri Hastanto mengiringi volume 7 Tradisi Musik Nusantara khusus tentang Gandrung Banyuwangi menulis sbb;
• Walaupun kini telah banyak berubah ,namun sisa sisa wajah ritual itu masih sering terlihat. Misalnya dengan gerak tari yang “aneh”.Kadang kadang gerak demikian tidak sesuai dengan dandanan dan kecantikan serta, karakteristik penari.(hal 66)
• Ketika sedang menghias diri sendiri…..ditulis sbb: Itu semua dilakukan dengan ikhlas dan riang gembira,jauh dari sikap manja yang sering dilakukan oleh para artis……Ketika ditanya tentang sikap tersebut mereka menjawab:INI ADALAH IBADAH( hal 68)

Angklung Caruk.

 Dari kelengkapan peralatan dan corak interior , dan lagu serta ragam pertunjukan sulit dicarikan padanan dengan kesenian di Bali. Angklung Bali jauh lebih sederhana peralatannya dan interiornya, begitu juga materi permainnya ( baik Rindik maupun Bung bung).Juga kesenian angklung di daerah lainnya.  Maka sulit mengatakan Angklung caruk merupakan kesenian yang dipengaruhi oleh Bali. Theory  tentang kesenian, selalu mengatakan kesenian utama memiliki kelengkapan, ragam interior yang lebih complex dan sempurna .

Jika kita lacak pada masa lalu  , musik angklung telah ada pada relief Pendopo Agung candi Penataran.Lihat gambar dibawah.Dengan demikian  angklung Banyuwangi adalah turunan dan penyempurnaan dari zaman Majapahit.

Hiasan angklung berupa  Naga Ontorejo   adalah naga yang berkepala manusia  hiasan  khas  Banyuwangi yang tidak ditemui pada angklung lainnya  . Dalam dunia spiritual Blambangan  Naga Ontorejo atau Ontobumi dialah makhluk suci salah satu penjaga bumi , kemakmuran.

Dalam kesenian Angklung Caruk, terdapat episode, pertarungan untuk memperlihatkan kemampuan dalam olah seni yang sangat tinggi untuk menebak lagu  lawan dalam tempo hitungan detik . Lagu ini bukan lagu biasa, tetapi gabungan bunyi yang penuh mysteri.   Dan yang terlibat dalam pertarungan ini, bukan hanya nayaga Angklung,tetapi juga penonton. Dalam arti penonton mampu menilai dengan obyektive  kemahiran pemain angklung .Pada massa kecil penulis (tahun 1960an) penonton sangat disiplin dan sportif, dan  bersikap objektiv. Angklung caruk dapat mewakili watak orang Banyuwangi yang dilukiskan oleh prabu Tawangalun II , yang memiliki empat character yaitu  Kaloka (Visioner) , Prawira , Wibawa . Dalam angklung caruk adalah manifestasi dari watak Prawira, yaitu mengadu keahlian untuk mengasah watak supaya memahami nada , maka muncullah rasa berkesenian dalam kehidupan sehari hari Sehingga merasuk dalam  kehidupan  masyarakat Banyuwangi

Angklung Caruklah yang sebenarnya menurunkan kepekaan kesenian orang Banyuwangi, dan menurunkan  penghargaan yang amat besar terhadap kesenian.  Angklung Caruk adalah kesenian , yang belum penulis temukan padanannya dimanapun.

 

Ukiran patung nogo ontorejo,yang ditemukan di Singojuruh. ( Museum Blambangan )

 

Angklung  paglak ,Gedhogan Lesung , Patrol

Rasa berkesenian yang tinggi inilah kemudian menjelma dalam setiap peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Blambangan /Banyuwangi .

Maka tidak heran ketika musim panen muncul  Angklung Paglak untuk mengusir burung yang memakan padi dan menghibur para petani yang memanen padi. Sedang  ketika musim menumbuk padi , rasa kesenian orang Banyuwangi muncul dalam Gedhogan  , tidak sekedar menumbuk , tetapi juga memberi  nada dan irama yang menghibur. Begitu juga ketika menjalankan ibadah puasa, orang Banyuwangi yang memiliki rasa kesenian yang tinggi , tidak hanya berteriak membangun orang untuk bersahur , tetapi membangunkan dengan rasa seni yang tinggi , yaitu dengan musik patrol

Kesenian Damarwulan , Jaranan, Rengganis /Umar Maya

Saya sependapat dengan  para ahli yang dikirim oleh   Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film , Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto,  tahun 2002  yang tidak memasukkan  kesenian Damarwulan , Jaranan, Rengganis /Umar  Maya sebagai ragam  kesenian Banyuwangi dengan pertimbangan sebagai berikut:

Damarwulan .

Seni pertunjukan ini menggunakan costum dan gamelan Bali, oleh karena itu ada juga yang menyebut “Janger.”Cerita  dalam pertunjukan ini  adalah  tentang Menakjinggo, raja Blambangan yang memiliki cacat fisik,  pincang, dan matanya buta sebelah , dengan suara cadel dan parau serta memiliki character  angkuh , culas, dan tak tahu diri yang ingin mempersunting /memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu .

Versi lain menggambarkan Menakjinggo adalah raja para raksasa.                                                                        

Sungguh penggambaran yang amat sempurna tentang kejelekan manusia.

Selanjutnya untuk menghukum Menakjinggo yang tak tahu diri ini maka dikirimlah seorang ksatrya yang gagah perkasa dan berwajah ganteng bak arjuna, Damarwulan,sebagai Senopati  Mojopahit.  Dan ternyata sang rupawan mampu mengalahkan Menakjinggo. Berbeda dengan tampilannya yang gagak dan rupawan ternyata pemuda ini sangat keji, yaitu memenggal kepala sang Menakjinggo untuk dipersembahkan pada Ratu Kencono Wungu . Sang rupawanpun  akhirnya menikah dengan Ratu Kenconowungu dan lebih dari itu juga memperistri istri Menakjinggo.      

Jika ditinjau dari cerita yang menggambarkan keburukan raja Blambangan maka menjadi pertanyaan mengapa cerita ini begitu populer di Banyuwangi. Sebab biasanya tidak ada masyarakat yang dapat menerima jika pahlawannya digambarkan sebagai pecundang ( Orang Sri Langka menolak penggambaran Dasamuka dari kisah Ramayana , demikian juga orang Madura akan marah besar apabila Trunojoyo pahlawannya ditampilkan sebagai penghianat)

Sampai dengan tahun 1960an , seni pertunjukan Damarwulan,cukup memikat dan sering dipagelarkan dalam setiap keramaian , mulai dari pesta hajatan sampai pesta Kemerdekaan . Setelah itu mulai meredup dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat Banyuwangi.

                    

Menurut DR ( Leiden University ) Sri Margana cerita Damarwulan dan  Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda / Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian (Operate) oleh Mangkunegara IV (1853 sd 1881). Kemudian dipopulerkan di Banyuwangi oleh penguasa Banyuwangi yang masih berdarah Mataram pada masa penjajahan VOC.[12]

 

Brandes ,sejarahwan Belanda[13] dan Professor Slamet Mulyana berpendapat  kisah Damarwulan dan Menakjinggo mendapat inspirasi dari Perang Paregreg  yang terjadi setelah prabu Hayamwuruk lengser keprabon.  

Prof Slamet Mulyana  menulis bahwa penulis (sastrawan Mataram) Serat Kanda dan Serat Damarwulan hanya mengetahui kisah Perang Paregreg ( Perang yang terjadi berulang kali )antara Bhree Wirabhumi ( Menakjinggo ) raja Blambangan dan Wikramawardhana dalam memperebutkan tahta Majapahit, tetapi tidak mengetahui fakta sejarahnya.Dalam fakta sejarah Bhree Wirabhumi adalah putra satu satunya prabu Rajasa Nagara ( Hayamwuruk ) , yang telah dinobatkan sebagai Nararya Lamajang Tigang Juru /Kedaton wetan /Blambangan , sementara Wikramawardhana adalah menantu Hayamwuruk. Dari garis trah , Bhree Wirabhumi memiliki trah Sanggramawijya sementara Wikramawardhana tidak memiliki trah tersebut, dengan demikian berdasar fakta sejarah , Bhree Wirabhumi berhak untuk menjadi raja Majapahit. Tapi fakta tersebut diabaikan oleh penulis Serat Damarwulan,dan Serat Kanda dan diputar balikkan.

 

Dengan demikian cerita ini  merupakan sebuah rekayasa yang sistimatis ,untuk memperlemah keberadaan masyarakat Blambangan dan menghapus ingatan orang Blambangan terhadap  sejarah masa lalu.Melalui  penggambaran itu maka dicapai dua sasaran , penguasa ingin mengesankan pada  rakyat Blambangan, bahwa penguasa adalah sebagai pembebas dari raja  culas, yang tak tahu diri .Penggunaan  custome dan gamelan dari Bali mengesankan bahwa cerita ini berasal dari Bali sebagi bukti kuatnya pengaruh Bali atau sebagai bukti adanya penjajahan oleh Bali.Suatu usaha untuk mengadu domba orang Blambangan dan Bali dan memutar balikkan fakta sejarah.

DR ( Leiden) Sri Margana dalam wawancaranya yang dimuat majalah Tempo mengemukakan bahwa cerita  tentang Damarwulan ,Menakjinggo merupakan Sinisme dan deligimitasi raja Blambangan. Mataram /Surakarta ingin menunjukan keperkasaannnya ( Power full) di Blambangan.[14]

Pendapat DR. Sri Margana tersebut sangat tepat, dan  sesuai hasil penelitian Noevi Anoegrajekti . [15]

Sedang usaha adu domba orang Blambangan dengan orang Bali tidak berhasil karena

Damarwulan  , Menakjinggo  ini  tidak dikenal di Bali, dan tlatah pesisir Jawa, dan Sumatera , tempat kebudayaan pesisir mendapat tempat pada abad ke 16 dan 17. Pada daerah itu cerita Panji lebih populer. [16]  Pendapat ini sangat tepat pada daerah Gersik , Pesisir Utara  Jawa, Cirebon , Banten , para kyai Sepuh ,lebih meningat orang Blambangan sebagai pewaris Sunan Giri . ( Pengalaman penulis )

Jaranan dan Rengganis

Kesenian ini dibawa oleh para pendatang dari  Jawa .Dan sebagai masyarakat yang terbuka dan memiliki rasa seni yang mendalam ,maka  segala macam kesenian yang dibawa pendatang dapat berkembang dengan baik di Banyuwangi. Sementara kesenian Jaranan semakin disenangi , dan memunculkan genre baru dalam Jaranan  yaitu Jaranan Buta Sebaliknya Kesenian Rengganis  sampai tahun 50an masih cukup populer , tetapi kemudian meredup  tahun 60an, akhirnya harus tenggelam ditelan zaman. Salah satu faktor yang menyebabkan  adalah karena  pakaian dan gamelan yang digunakan dalam keseniaan ini adalah pakaian dan gamelan wayang , sedang  cerita bernuansa Islam . Tokoh Lamdahur berpakaian dan berdandan sama dengan Bima. Jadi bagi masyarakat Banyuwangi yang memiliki  rasa kesenian yang tinggi tentu tidak menarik dan membingungkan.Bagaimana mungkin cerita Islam bercustom wayang Hindu.

Peradaban Feodalisme dan  Peradaban Spiritual Hindu

Sumber Kesenian Banyuwangi.

Benar bahwa sampai tahun 2000an , Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah legenda yang ada di dongeng dongeng para sastrawan Mataram. Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah kerajaan yang dipimpin raksasa atau orang cacat sempurna yang tak tahu diri, yang ingin mempersunting ratu Majapahit. Dan karena pengaruh Belanda , fakta sejarah Blambangan lenyap dari sejarh Nasional. Tetapi  masa itu telah berlalu dengan munculnya para sejarahwan seperti Drs I Made Sudjana MA[17], Dr Sri Margana [18]yang mampu dengan gemilang mempertahankan disertasinya di Leiden University, bahwa Kerajaan Blambangangan adalah fakta sejarah

Dalam kaitannya dengan sejarah kerajaan Blambangan  ternyata Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa. Dan merupakan salah satu sendi dari ambisi besar raja Wisnu Wardhana dalam mewujudkan doktrinnya  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa.  Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan[19] , dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang. Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat Singosari. Dibawah raja Kertannegara ,Singosari tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Sayang , ambisi yang besar memperluas kerajaan, rupanya memperlemah kedudukan didalam negeri,sehingga negeri ini  dapat ditundukkan Jayakatwang dari kerajaan Gelang Gelang (Kediri).

Ketika putra  menantu Kertanegara , R.Wijaya berusaha merebut kembali Singosari dari Jayakatwang dan tentara Ku Bilai Khan  , maka R.Wijaya memohon bantuan Arya Wiraraja adipati Madura. Pasukan gabungan ini mampu mengusir  pasukan Ku Bilai Khan , maka   seperti tercantum dalam Prasasti  Gunung Butak,  (1294),  bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan sebagai  atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai  Nararya[20] .  Maka Lamajang menjadi Majapahit Kedaton Wetan dan  pusat  disebut Majapahit Kedaton  Kulon. Kedua bagian Majapahit memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Dan sejarah Majapahit ditentukan oleh hubungan  dua bagian ini. Ketika kedua sanak kadang ini bersatu maka Majapahit mencapai kejayaan , dan ketika terbelah maka suramlah Majapahit. Setelah  Majapahit runtuh pada tahun 1528 , Majapahit Kedaton Wetan /Blambangan tetap exist. [21] Kerajaan ini mampu bertahan sampai tahun 1771, dan menjadi kerajaan terakhir di Jawa  diduduki Belanda. Dengan demikian kerajaan ini berumur 500 tahun , dan telah mengalami masa jaya Majapahit, dan juga pernah mengalami masa Jaya setelah Majapahit runtuh.Kerajaan  Blambangan  menjadi bukti bahwa Kerajaan Hindu  bisa berdiri berdampingan dengan Kerajaan Islam  Giri , dan Demak .Dengan demikian kerajaan ini memiliki tradisi yang sangat kuat dan mampu menyesuaikan dengan perobahan zaman . Oleh karena itu peradabannya juga tidak gampang terkikis , apalagi selama masa ibu nagari berada di dataran Banyuwangi ( Masa Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) , kerajaan Blambangan mampu mempertahankan kemandiriannya karena perlindungan alam yang tidak mudah ditembus oleh kekuatan manapun di Jawa ( Terlindung oleh Gunung Raung dan Merapi). Pengaruh Islam diterima karena adanya hubungan darah antara Sunan Giri dengan  darah biru Blambangan . Sehingga Islam menyebar dengan penuh damai . Kedua kerajaan ini juga memiliki kesamaan visi, yaitu tidak bisa menerima pendudukan Belanda. Dan sikap egaliter dari kedua kerajaan ini menjadikan hubungan kedua kerajaan mampu duduk berdampingan. Disamping itu  baik kerajaan Hindu maupun Islam memiliki pola yang sama dalam penyebar luasan kesenian yaitu bersumber dari  ritual , sehingga tidak ada perbedaan antara kesenian di keraton maupun di desa desa . Maka kesenian sangat meresap di hati rakyat  dan teguh tak tergoyahkan .Oleh karena itu pantaslah disebut kesenian Banyuwangi adalah warisan peradaban kerajaan Blambangan yang agung , yang diterima dari peradaban agung Majapahit.

Berbeda dengan kesenian pada masa feodalisme keraton dibawah kekuasaan VOC, terjadi perbedaan yang jelas antara kesenian yang berkembang untuk raja dan bangsawan keraton. Kesenian Keraton memiliki ragam alat gamelan yang sangat complex , seperti nampak  dalam Langebdriyan, Wayang , seperti di luar kraton rakyat hanya boleh membuat kesenian yang sangat sederhana seperti Jaranan, Tandak, Kentrung.

 

Perbedaaan  kebudayaan /Kesenian Blambangan dan kebudayaan /kesenian Jawa adalah sumber /dasar dari kebudayaan tersebut .Kebudayaan Jawa berasal dari feodalisme Jawa yang terbangun pada abad ke 17 , sementara kebudayaan Blambangan terbangun dari peradaban spiritual Hindu yang terus bertahan sampai abad ke 18.[22]Berbeda dengan peradaban feodalisme ,dimana kesenian muncul dan mewakili dan dibesarkan raja , maka yang muncul adalah cerita tentang kebesaran raja rajanya, seburuk apapun raja itu . Dan lebih dari itu lawan dari raja itupun menjadi amat sangat buruk sebaik apapun fakta sejarah mencatatnya. Kesenian dipenuhi assesories yang gemerlapan, perangkat gamelan sangat sempurna. ( Langen driyan, Wayang kulit , wayang wong , ketoprak , penari yang gemulai . Masyarakat diluar keraton tidak boleh menyamai kebesaran kesenian itu , masyarakat harus  menciptakan sendiri kesenian yang amat sederhana seperti Jaran kepang atau Tayub. Lain halnya masyarakat spiritual , keraton tidak memiliki peranan. Sumber kebudayaan dan kesenian adalah ritual agama. Dari ritual agama inilah keraton dan masyarakat membangun kesenian. Kesenian keraton dan kesenian rakyat menjadi satu ,yaitu mengagungkan  Tuhan.Di ranah kesenian yang bersumber pada ritual inilah kesenian Blambangan ada. Ketika Blambangan bertransformasi menjadi pemeluk Islam yang teguh yang terjadi adalah acculturasi bukan sinkritisme.Hanya di Blambangan para pemeluk teguh ( muslim) berkesenian dari masa lalu (Hindu).Selesai bekerja mereka akan sembahyang menghadap Alloh, dan menjelang sore berlatih menabuh, magrib sembahyang lagi, petang berlatih seni lagi . Di kalangan santri yang teguh melakukan puji pujian, selowatan, barzanzi sebagai expressi kesenian.Semua berdampingan secara harmonis. Dan kesenian ritual sangat merasuk ketulang sumsum kalbu rakyat Blambangan . Kesenian menjadi bagian dari ibadah.

Darah seni mengalir deras di Banyuwangi.

Dari uraian diats terbukti sudah baik dari tinjauan sejarah maupun ragam kesenian  tidak ada penjajahan kerajaan Gel Gel, Buleleng ,Mengwi , juga tidak ada  pengaruh kebudayaan Bali . Malah kita mendapatkan bahwa kebudayaan /kesenian Banyuwangi adalah genuin /asli Banyuwangi,bersumber dari peradaban Hindu  yang sangat beragam  ,serta  adanya keterbukaan masyarakat Banyuwangi untuk menerima  kebudayaan /kesenian lain dan menyerap kesenian itu , serta kemudian memunculkan genre baru dalam berkesenian seperti nampak dalam Hadrah Kuntul, Gembrung , dan Jaranan. Ini membuktikan ada rasa berkesenian yang besar pada masyarakat Banyuwangi .  Malahan ada ungkapan   , bahwa bayi yang dilahirkan di Banyuwangi  sudah langsung dapat menabuh angklung                         Darah seni yang mengalir deras dari putra Banyuwangi tidak saja membangkitkan  kegairahan berkesenian di Banyuwangi , tetapi juga  memunculkan   seniman dan budayawan daerah yang mampu berkiprah secara Nasional dan International , dan  juga mampu menarik minat seniman/ budayawan  Nasional  dan Internasional untuk memperhatikan kesenian /kebudayaan Banyuwangi  dengan serius  . Seniman dan Koreographer  Nasional Dedy Luthan dan dosen IKJ malahan telah lima kali mementaskan karya Gandrungnya yaitu. Kadung Dadi Gandrung Wis ( 1990),Gandrung Salatun (1992), Iki buru Gandrung (1994), dan Gandrung Blambangan (1997).Gandrung Eng Tay ( 2002).

Kuntulan menginspirasi Jazzer nasional Innisrisi, dan menjadi kreasi Jazz yang memakau dalam pesta Jazz nasional,dan kemudian dipertunjukan dalam pesta Jazz International.  Seblang Gandrung  mendapat perhatian yang sangat serius dari Lembaga Kebudayaan yang sangat berwibawa Smithsonian Institute New York Amerika Serikat.                                                                 Luk Luk Lumbu karya Andang C.Y menjadi lagu yang sangat disenangi , oleh paduan suara tingkat Nasional ( ITB dan Parahyangan ) ,dan pernah unggul dalam perlombaan paduan suara international, dan sekarang  malah telah menjadi lagu pavorit pada  paduan Suara di Singapore , Hong Kong, Jepang, Korea, Jerman dan Amerika.                                                                     Tidak hanya dalam lagu , seniman Banyuwangi , mulai memperlihatkan kemampuannya  dan mulai berkiprah ditingkat nasional dan International .                                                                     Sumitro Hadi  pada tahun 1970 terpilih sebagai penari dalam resepsi Hari Kemerdekanaan di Istana negara ,kemudian melesat karirnya dalam seni tari setelah membuat pakem tari Jejer Gandrung, sehingga dapat diajarkan dengan systematik, dan setelah itu dia mengajarkan pada sekolah seni, STKW Surabaya,STSI Solo,ISI Jogyakarta,DKJ Jakarta, dan melanglang buana HongKong,Amerika Serikat,Australia, Malaysia, Finlandia .  Sahuni , seniman ini telah menata ulang Kuntulan menjadi Kundaran ,dan telah mementaskan Kundaran diberbagai kesmpatan Nasional maupun Internasional. Terakhir  pada tanggal 9,10,11 September   kesenian Kuntulan yang dipimpinnya  telah menjadi salah satu peserta dalm FESTIVAL DANAU TOBA , dan berkaloborasi dengan Balawan B atuan  Ethnic Bali,dan Percussionnya STING AMERIKA .Demikian juga   Sofyan Subahri koreografer Banyuwangi yang kreatif itu, telah mementaskan kesenian Banyuwangi pada tingkat nasional dan international,dan terakhir pementasannya di Perancis selain mendapat sambutan yang luar biasa juga mendapat pujian dari institute kesenian dan kedutaan Besar Indonesia.Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Ballada sebuah peradaban

Rasa kekaguman kita terhadap rasa berkesenian/berkebudayaan orang Banyuwangi menjadi lebih besar , karena betapa kayanya negeri ini ,hartanya dirampas oleh Belanda  dan penduduknya dibunuh  dalam satu perang yang tersadis dalam sejarah Nasional [23]  , dan kemudian dilakukan deslocating system  seperti tercantum dalam buku  Sir Thomas Stanford Raffles,History of Java  tentang adanya pembunuhan besar2an di Banyuwangi , yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1771 sampai dengan tahun 1811, hingga penduduk Banyuwangi yang pada tahun 1771 berjumlah mencapai 80.000 ribu,  pada tahun 1811  penduduk Banyuwangi tinggal 8000. Terbantai 90 % ( Hystory of Jawa , English page 68, Indonesia hal 48).

Kesadisan penjajah Belanda tidak hanya berupa siksaan fisik tetapi juga mental ,orang Banyuwangi seperti dikatakan oleh Dr  Sri Margana di legemitasi dan disiniskan dengan legenda yang memalukan tentang pemimpinnya (cerita  Menakjinggo Damarwulan ), dan dihapuskan kebesaran sejarahnya , dihancurkan leburkan istana Macan Putih untuk kemudian bahan bahannya digunakan sebagai rumah resident di Sukorejo[24].Rakyat Blambangan diadu domba dengan para pendatang, terutama Bali, kesejahteran dan pendidikannya diabaikan. Sampai tahun 60an , hanya ada satu SD di tingkat Kacamatan , dan hanya satu SMP pada tingkat Kabupaten . Dalam masa kemerdekaan , kita hanya sekejap mendapat kegairahan , kemudian sikap sinisme nerkembang lagi , melalui issue Komonis, dan terakhir Santet.

Tetapi seperti diakui oleh  Scholte (1927:146): “Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”.

Sumber Kesenian Banyuwangi.

Benar bahwa sampai tahun 2000an , Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah legenda yang ada di dongeng dongeng para sastrawan Mataram. Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah kerajaan yang dipimpin raksasa atau orang cacat sempurna yang tak tahu diri, yang ingin mempersunting ratu Majapahit. Dan karena pengaruh Belanda , fakta sejarah Blambangan lenyap dari sejarh Nasional. Tetapi  masa itu telah berlalu dengan munculnya para sejarahwan seperti Drs I Made Sudjana MA[25], Dr Sri Margana [26]yang mampu dengan gemilang mempertahankan disertasinya di Leiden University, bahwa Kerajaan Blambangangan adalah fakta sejarah

Dalam kaitannya dengan sejarah kerajaan Blambangan  ternyata Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa. Dan merupakan salah satu sendi dari ambisi besar raja Wisnu Wardhana dalam mewujudkan doktrinnya  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa.  Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan[27] , dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang. Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat Singosari. Dibawah raja Kertannegara ,Singosari tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Sayang , ambisi yang besar memperluas kerajaan, rupanya memperlemah kedudukan didalam negeri,sehingga negeri ini  dapat ditundukkan Jayakatwang dari kerajaan Gelang Gelang (Kediri).

Ketika putra  menantu Kertanegara , R.Wijaya berusaha merebut kembali Singosari dari Jayakatwang dan tentara Ku Bilai Khan  , maka R.Wijaya memohon bantuan Arya Wiraraja adipati Madura. Pasukan gabungan ini mampu mengusir  pasukan Ku Bilai Khan , maka   seperti tercantum dalam Prasasti  Gunung Butak,  (1294),  bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan sebagai  atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai  Nararya[28] .  Maka Lamajang menjadi Majapahit Kedaton Wetan dan  pusat  disebut Majapahit Kedaton  Kulon. Kedua bagian Majapahit memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Dan sejarah Majapahit ditentukan oleh hubungan  dua bagian ini. Ketika kedua sanak kadang ini bersatu maka Majapahit mencapai kejayaan , dan ketika terbelah maka suramlah Majapahit. Setelah  Majapahit runtuh pada tahun 1528 , Majapahit Kedaton Wetan /Blambangan tetap exist. Dalam wawancara dengan wartawan TEMPO  DR Sri Margana yang dimuat di Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September.2010 , antara lain mengemukakan bahwa Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga  dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan  yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati  sebanyak 270 orang.

Kerajaan ini mampu bertahan sampai tahun 1771, dan menjadi kerajaan terakhir di Jawa  diduduki Belanda. Dengan demikian kerajaan ini berumur 500 tahun , dan telah mengalami masa jaya Majapahit, dan juga pernah mengalami masa Jaya setelah Majapahit runtuh.Kerajaan  Blambangan  menjadi bukti bahwa Kerajaan Hindu  bisa berdiri berdampingan dengan Kerajaan Islam  Giri , dan Demak .Dengan demikian kerajaan ini memiliki tradisi yang sangat kuat dan mampu menyesuaikan dengan perobahan zaman . Oleh karena itu peradabannya juga tidak gampang terkikis , apalagi selama masa ibu nagari berada di dataran Banyuwangi ( Masa Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) , kerajaan Blambangan mampu mempertahankan kemandiriannya karena perlindungan alam yang tidak mudah ditembus oleh kekuatan manapun di Jawa ( Terlindung oleh Gunung Raung dan Merapi). Pengaruh Islam diterima karena adanya hubungan darah antara Sunan Giri dengan  darah biru Blambangan . Sehingga Islam menyebar dengan penuh damai . Kedua kerajaan ini juga memiliki kesamaan visi, yaitu tidak bisa menerima pendudukan Belanda. Dan sikap egaliter dari kedua kerajaan ini menjadikan hubungan kedua kerajaan mampu duduk berdampingan. Disamping itu  baik kerajaan Hindu maupun Islam memiliki pola yang sama dalam penyebar luasan kesenian yaitu bersumber dari  ritual , sehingga tidak ada perbedaan antara kesenian di keraton maupun di desa desa . Maka kesenian sangat meresap di hati rakyat  dan teguh tak tergoyahkan .Oleh karena itu pantaslah disebut kesenian Banyuwangi adalah warisan peradaban kerajaan Blambangan yang agung , yang diterima dari peradaban agung Majapahit.

Berbeda dengan kesenian pada masa feodalisme keraton dibawah kekuasaan VOC, terjadi perbedaan yang jelas antara kesenian yang berkembang untuk raja dan bangsawan keraton. Kesenian Keraton memiliki ragam alat gamelan yang sangat complex , seperti nampak  dalam Langebdriyan, Wayang , seperti di luar kraton rakyat hanya boleh membuat kesenian yang sangat sederhana seperti Jaranan, Tandak, Kentrung.

References;

1.      Sri Margana disertasi dalam program DR ,Leiden University “Java ‘s Last Frontier : The Struggle for Hegemony of Blambangan, c.1763-1813.

2.      DR. Sri Margana , Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan  Pustaka Ifada 2012

3.      C. Behan Mc Cullagh , Logic of History, Perspektif Posmodernisme , Lilin Persada Pers , Yogjakarta 2010

4.      Drs I Made Sudjana MA, Nagari Tawon Madu , Larasan Sejarah  2001

5.      Thomas Stanford Raffles. The History of Java, Narasi. Yogjakarta 2008

6.      William H.Frederick , Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia ,Sebelum dan sesudah Revolusi , LP3ES, Oktober 1984.

7.      Prof .DR. Drs. I Ketut Riana S.U. Kakawin Desa Warnnana uthawi  Nagara Krtagama , Masa Keemasan Majapahit, KOMPAS , Jakarta September 2009.

8.      Robin Tatu ,Babad Buleleng I Gusti Putu Jelantik Dalam Konteks Sejarah

9.      DR. Hasan Djafar , Mas Akhir Majapahit , Komunitas Bambu 2012

10.  Irwan Djoko Nugroho , Majapahit Peradaban Maritim , Suluh Nuswantara Bakti, November 2011

11.  Supratikno Rahardjo, Peradaban Jawa Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir, Komonitas Bambu 2011.

12.  Ninie Susanti AIRLANGGA Biografie Raja Pembaru Jawa Abad XI, Komonitas Bambu 2010.

13.  Prof DR.M . Bambang Pranowo , Memahami Islam Jawa,INSEP, Alvabet Oktober 2009.

14.  DR. Purwadi M.Hum dan Drs Niken H. M.Hum . Dakwah Wali Songo. Shaida Yogjakarta 2007

15.  Drs Wiji Saksono, MengIslamkan Tanah Jawa .MIZAN Januari 1995.

16.  Prof DR. Edi Sedyawati, Prof DR. Sri Hastanto , Musik Tradisi Nusantara , Traditional Music of the Archipelago  volume 7.  Dit Jen Nilai Budaya Seni Film , Dept Kebudayaan dan Pariwisata  , 2007

17.  Deddy Luthan , Kadung Dadi Gandrung Wis  1990.

18.  Sejarah Bali , Wikipedia dan Berbagai sumber dari Internet, tentang kerajaan di Bali.

19.  Pura Taman Ayun Mengwi

20.  Hasan Ali , Sekilas Puputan Bayu , Pemda Banyuwangi  2006.  

21.  Seno  Gumira Ajidarma , Nagabumi,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta  2009.

22.  Hasnan Singodimayan , berbagai artikel

23.  Makalah , Seminar hari Jadi Banyuwangi

24.  Berbagai sumber dari Majalah , Harian

 

 

 

 

 


[1] William H.Frederick, Professor Jurusan Sejarah , Asia Tenggara , spesialisasi Indonesia, Yale university USA lan Soeri Suroto dosen sejarah UGM.Pemahaman Sejarah Indonesia ,sebelum dan dan sesudah revolusi  LP3ES  1982..

[2] Musik Tradisi Nusantara  Volume 7. Banyuwangi  Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film , Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto,  tahun 2002. 7.

[3] Arnold Toynbee via  Pemahaman Sejarah Indonesia, William H Frederick dan Soeri Soeroto .206 )

[4] Thomas Stanford Rafless ; History of Java . hal 48 ( Edisi Indonesia ) , hal 68 ( edisi Inggris)

[5] DR. Sri Margana ; Perebutan Hegemoni  Blambangan dan Drs I Made Sudjana MA ; Nagari Tawon Madu hal 116 ,

[6]  I Made Sudjana  Nagari Tawon Madu hal 26 

[7] Ibid hal 62.

[8] Ibid hal 22

[9] DR.  Agus  Aris Munandar ,makalah KEMARITIMAN MAJAPAHIT  BERDASARKAN DATA YANG TERSEDIA  dalam diskusi ROAD TO BOROBUDUR WRITERS DAN CULTURAL FESTIVAL 2013, Jum’at  1 Maret 2013  .

[10] Musik Tradisi Nusantara  Volume 7. Banyuwangi  Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film , Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto,  tahun 2002

[11] Koreogrfer Nasional dan dosen IKJ Dedy Luthan . Karya nya ,Kadung Dadi Gandrung Wis ( 1990),Gandrung Salatun (1992), Iki buru Gandrung (1994), dan Gandrung Blambangan (1997).Gandrung Eng Tay ( 2002)

 

[12] Majalah Tempo (edisi 13 September 2010

[13] Brandes Verslag over een Babad Blambangan TBG .37(1894) via DR.Sri Margana  Perebutan Hegemoni Blambangan 29

[14] Majalah Tempo (edisi 13 September 2010)

[15]Novi Anoegrajekti / Desantara dalam  Wong Using: Sejarah Perlawanan dan Pewaris Menakjinggo

[16] Dr Purwadi M.Hum, dan Enis Niken H.M.Hum. DA’WAH WALISONGO Panji Pustaka Yogyakarta 2007.89).

[17] Nagari Tawon Madu

[18] Perebutan Hegemoni Blambangan.

[19] Prasasti Mula Malurung (1225), Anwar Hudiyono Kompas 10 Sept 2011.

[20]  (Lekkerkerker, 1923:220)

[21] Dalam wawancara dengan wartawan TEMPO  DR Sri Margana yang dimuat di Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September.2010 , antara lain mengemukakan bahwa Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.

[22] Blambangan tunduk pada VOC pada tahun 1771.

[23] Dr Sri Margana “ Perebutan Hegemoni Blambangan”

[24]Matjan Poeti.
(Verbeek n ° 666 dan 667, Rapp 1.903 p 49, 1904 p 143, Oudh.Versl, 1915, 2, hal 61…..) -

 

[25] Nagari Tawon Madu

[26] Perebutan Hegemoni Blambangan.

[27] Prasasti Mula Malurung (1225), Anwar Hudiyono Kompas 10 Sept 2011.

[28]  (Lekkerkerker, 1923:220)

BANYUWANGI MAULID FESTIVAL! Mengapa tidak!

•27 November 2013 • 4 Komentar

 

 Pendahuluan

Pariwisata ,Tradisi, Sosialisasi dan Infrastruktur.

Pariwisata adalah ladang yang sangat menggiurkan, dan malahan menjadi primadona untuk meningkatkan devisa atau pendapatan negara maupun pendapatan daerah.Negara negara didunia baik maju maupunberkembang berebut porsi Pariwisata. Demikian juga daerah daerah di negara itu berlomba lomba menjadikan daerahnya tujuan wisata . Perebutan rezeki Pariwisata di Asia Tenggara termasuk yang sangat keras. Oleh karena itu menjadikan menjadikan negara/daerah sebagai  tujuan Pariwisata pada  masa sekarang, dengan hanya menyerahkan pada proses alami adalah sebuah kenistaaan ( tidak masuk akal) .

Rezeki Pariwisata ditangguh dengan berbagai cara ,mulai  dengan carnival , atau perayaan yang meriah atau pesta tradisional, ritual ,penyajian alam yang indah , suasana damai . Artinya rezeki Pariwisata bisa muncul dalam setiap unggulan destinasi wisata itu sendiri , yang difahami oleh masyarakatnya .

Pariwisata tidak hanya menyangkut tersedia destinasi unggulan pariwisata tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur yang amat complex, dan  juga  menyangkut rekayasa promosi. Pada daerah rural jauh lebih complex lagi, karena dihadapkan pada tradisi, adat istiadat dan keyakinan. Tidak mudah merubahnya. Tourist datang tidak saja membawa uang, tetapi juga membawa adat, kebiasaan,yang mungkin malah sangat bertentangan dengan tradisi, adat istiadat dan keyakinan. Tourist dari negara Eropa dan Negara modern Timur Jauh, tentu sangat menikmati matahari tropis, menghangatkan tubuh disinar matahari pagi dengan hanya memakai bikini? Apakah hal ini bisa diterima. Mereka tentu juga menyenangi wine  ( ada ratusan jenis Wine) yang membuat badan terasa segar. Padahal masyarakat kita , memiliki keyakinan bahwa anggur adalah  memabukkan dan itu  haram. ? Perlu waktu untuk menjelaskan ini. Perlu sosialisasi tahap demi tahap dan perencanaan yang matang . Jangan mengharap  ada pariwisata yang instant. Jangan hanya berpikir  pariwisata pasti  mendatangkan harta dan dana, tetapi yang munculkan masalah, atau kerusuhan horizontal.

Demikian juga infrastruktur harus mendukung.Betapa significantnya pengaruh infrastruktur terhadap pariwisata ,sebagai ilustrasi sbb: Waktu tempuh perjalanan dengan pesawat dari Jakarta ke Banyuwangi , empat kali  lipat waktu tempuh  dari Jakarta ke  Singapore , empat kali lipat perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta ,atau Surakarta, atau tiga kali lipat dari Jakarta ke Denpaser Bali. Belum lagi dihitung dari aspek biaya , perjalanan ke Banyuwangi jauh lebih besar dari biayanya dari Jakarta  ke Singapore , Jogyakarta, Surakarta, atau Bali sekalipun.

Belum lagi pilihan orang kota pada budaya urban, seperti mall, permainan, atau game.

Perencanaan Pariwisata bukan hanya sekedar perencanaan  Bupati saat ini, tetapi menyangkut jangka panjang dan harus jelas road mapnya. Jangan sampai langkah Bupati sekarang dihentikan oleh Bupati mendatang. Oleh karena itu Perencanaan Pariwisata harus mengikutkan semua lapisan masyarakat, difahami, dihayati,  dan menjadi milik semua masyarakat sehingga  siapapun bupatinya harus committed , karena dia akan berhadapan dengan masyarakat apabila menghentikan.

Mendatangkan Wisatawan bukanlah kerja tunggal satu dinas. Satu dinas bekerja dengan kegiatan yang luar biasa, pengiriman duta kesenian ke Jakarta, Carnival yang bertubi  tubi, Carnival Agustus, Carnival Oktober ( BEC), Carnival Nopember , Carnival Desember , sementara lalu lintas kacau, kota kumuh,sampah tidak dibersihkan, spanduk iklan pejabat/ pimpinan bertebaran tak karuan sepanjang jalan,jalan tak terawat ( tidak mesti hot mix,  saya masih melewati jalan sirtu di USA, Inggris, dan Australia, tetapi terpelihara dengan baik.Saya masih melihat tiang listrik dari kayu di USA, tetapi terpelihara dengan baik). Jadi  yang paling mendasar adalah kesiapan masyarakat dalam menerima budaya asing , tetapi tetap teguh dalam menjaga nilai nilai , dan tradisi nya. Maka basis Pariwisata adalah kesiapan masyarakat .

Beragam  atraksi budaya dan event berbasis potensi alam  , mulai dari carnival etnik , sport  tourism, sampai jazz pantai telah digelar sejak tiga tahun yang lalu di Banyuwangi , dan telah memberi dampak positip terhadap perkembangan pariwisata , maupun  perkembangan seni budaya, sport, kesenian itu sendiri. Tidak kalah pentingnya , adalah perkembangan  dalam pembangunan , dan kesejahterraan masyarakat .

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas , menegaskan tekadnya  bahwa “ Banyuwangi akan terus menggali dan mengembangkan potensi wisata yang ada ,agar sektor ini bisa memberi kontribusi signifikan bagi pembangunan ekonomi daerah , terutama dalam upaya menciptakan lapangan kerja baru, mengentaskan kemiskinan dan mempersempit kesenjangan pembangunan spasial . Tentu saja  pengembangan pariwisata yang kami lakukan berbasis pada pelestarian warisan budaya dan lingkungan .( Press Release dalam Press Conference , tgl 2 September di Jakarta).

Menggaris bawahi tekad tersebut , tulisan ini dibuat mempertimbangkan  tradisi  Maulid Nabi sebagai usaha membangkitkan tekad ummat untuk membangun Banyuwangi, untuk memberikan kontribusi lebih besar pada pembangunan bangsa Indonesia.

Tradisi dan kebangkitan  bangsa.                 

Jika kita memperhatikan percaturan dunia, maka kita melihat negara negara maju adalah negara  yang menjunjung tinggi potensi sumber daya manusia melalui pelestarian tradisinya ( Jepang ,Korea, China , Malaysia dll).Sementara negara negara yang hanya  memperhatikan sumber daya manusia tetapi tidak ada kepedulian terhadap pelestarian tradisi terjerembab dalam pola konsumerisme tinggi , dari luar nampak maju, modern , tetapi menumpuk hutang yang sangat besar.itu 

Pengalaman itu menunjukan betapa pentingnya  membangkitkan budaya lokal sebagai sarana untuk membangkitkanpembangunan di Banyuwangi. Oleh karena itulah , betapa pentingnya  mewujudkan Banyuwangi Islamic / Maulid Festival yang berbasis pada peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi yang dirayakan secara gegap gempita oleh masyarakat Banyuwangi  . Tradisi Maulud Nabi dengan menggunakan endog endogan , adalah tradisi para wali yang pernah semarak pada masa para wali. Dan tradisi itu telah bertahan di Banyuwangi  sejak ratusan  tahun , sementara ditempat lain telah lenyap.Dengan mengemas perayaan itu menjadi lebih terstruktur  dengan kreativitas  yang cukup saya yakin perayaan Endog Endogan  dan digabungkan dengan atraksi kesenian yang berbasis Islam lainnyanya , seperti Kuntulan , Burdah , Rengganis , Festival anak Yatim maka Banyuwangi Maulid  Festival akan diminati dan didukung masyarakat serta menjadi genuin Banyuwangi , karena tidak ada ditempat lain .

Disamping itu Maulid Nabi terbukti pernah mampu membangkitkan rasa cinta yang luar biasa pada agama dan negeri pada masa pemerintahan Salahuddin Al Ayyubi , ketika ummat Islam mempertahankan Bitul Maqdis dari serbuan para sekutu Eropa. Tetapi dengan Maulid juga akhirnya dicapai perdamaian yang terhormat.

Di Nusantara, Wali Sanga  juga menggunakan sebagai alat da’wah , sehingga Islam diterima dalam penuh kedamaian , mengalir seperti air.

Blambangan negeri Spiritual/Agamis

Banyuwangi Maulid Festival memiliki potensi keberhasilan yang tinggi   , karena  perayaan endog endogan dalam Maulid Nabi masih tetap semarak sampai saat ini ,juga memiliki pijakan yang sangat kuat dalam budaya wong Banyuwangi yang memiliki spirit religius sangat tinggi.Spirit ini tetap bertahan walau masyarakat Banyuwangi digempur dengan issue Komunis dan Santet , serta budaya konsumerisme. Spirit Religius  masyarakat Banyuwangi memiliki garis sejarah yang jelas dengan kerajaan Blambangan yang telah berdiri  bersamaan dengan kerajaan Majapahit  .( Prasasti Kudadu 1925) .Dan kerajaan ini tetap terus exist ketika Majapahit runtuh pada tahun 1529 dan hidup berdampingan dengan kerajaan Islam  sampai tahun 1773.

Seperti diketahui sejak masa zaman kerajaan Hindu , Blambangan yang meliputi daerah Lumajang , Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi , adalah tempat para pertapa karena di kerajaan ini terdapat gunung suci agama Hindu di Jawa seperti tersebut dalam prasasti Ranukombolo , di tepi Danau Ranu Kumbolo ,lereng gunung Semeru.Prasasti mencatat  Raja Kameswara dari Kediri  melakukan ritual suci di gunung Semeru. Demikian juga dicatat dalam Negara Krtagama karangan Mpu Prapanca abad ke 14  bahwa Gunung Semeru adalah Gunung tempat Dewa Siwa, dewa dari segala dewa bersemayam  , sehingga juga menjadi bagian yang dikunjungi Raja Rajasa Nagara /Prabu Hayamwuruk dalam melakukan ritual suci.

Demikian juga ketika Islam mulai pertama kali menyebar di Jawa , Blambangan melahirkan putra terbaiknya yaitu Sunan Giri . Sunan Giri adalah  seorang pemimpin para Wali Sanga setelah Sunan Ampel wafat., seorang Kalifah di Bumi Nusantara( 1443 sd 1506)[1].Sebagai Khalifah beliaulah yang menentukan sah tidaknya , seorang Sultan  diakui pemimpin kerajaan Islam di Nusantara . Hal ini berlaku juga untuk Sultan Agung di Mataram .                           

Karena itulah utusan Blambangan mendapat kehormatan dalam peresmian mesjid Demak[2].

Disamping Sunan Giri sebagai bagian penting dari Wali Sanga, kita juga mengenal putra terbaik Blambangan sebagai bagian Wali Pitu di Bali , yaitu R. Mas Sepuh dan Habib Abdurachman bil Faqih , [3]  maka semakin kukuhlah sebutan Blambangan sebagai Negeri Para Wali.

Potensi Kesenian Islam  di Banyuwangi

Dengan adanya Banyuwangi Maulid Festival, maka  kesenian Islam di Banyuwangi ,akna bangkit lebih semarak. Ini penting karena selama ini yang paling menonjol dalam kemeriahan Banyuwangi , adalah Gandrung dan Angklung. Padahal Banyuwangi memiliki kesenian yang sangat beragam , dimana semua kesenian yang bersumber dari agama agama besar membangun acculturasi yang indah. Kesenian Kuntulan misalnya , meskipun bersumber dari peradaban Islam ,tetapi hentakan pukulan dan ritme , tidak sama dengan kesenian Islam  yang ada di Indonesia maupun tanah Melayu. Kuntulan adalah kesenian Islam yang memiliki warna peradaban kuno Majapahit, dengan hentakan yang indah berithme. Para penabuh musik Kuntulan sangat pas menggunakan pakaian tradisional, yang tidak mungkin dipakai oleh pemusik  rebana lainnya.

Karena itulah seniman Nasional Innisisri memilih musik Kuntulan untuk mendapatkan hentakan rebana yang amat tradisional, untuk menciptakan Jazz  tradisional.

Demikian juga kesenian lainnya, seperti Mocoan yang telah lenyap. Kesenian ini sebenarnya memiliki tingkat acculturasi yang sangat tinggi . Bagaimana mungkin Surat Yusuf, salah satu surat dalam kitab suci Al Qur’an dibaca dengan  nada bacaan lontar agama Hindu. Jika kesenian ini lenyap atau malah perobah menjadi Mocoan Pacul Gowang, maka sebuah master piece acculturasi telah lenyap dari Nusantara, Ibarat barang antique pecah terlempar . Dan kita tidak tahu lagi dimana mencarinya.

Kesenian Rengganis , juga memiliki unsur lokal yang sangat indah . Misalnya peran Umar Maya , yang tidak ada pada kesenian yang bercerita tentang pengislaman di Persia di bumi Nusantara maupun Melayu . Umar maya adalah tokoh ciptaan local Blambangan ,yang sangat energik .Kesenian Rengganis memang memiliki kelemahan , yaitu pakaian yang menggunakan pakaian wayang. Tetapi hal itu pasti sangat mudah dirubah dengan kreativitas yang tinggi seniman dan budayawan Banyuwangi.

Dampak terhadap masyarakat;

·        Merubah Mind set masyarakat tentang Pariwisata

Dengan adanya Festival Maulid , maka masyarakat akan memahami bahwa  Banyuwangi memiliki ragam content yang ber macam macam , tidak hanya berbau carnival yang penuh glamour ( Banyuwangi Ethnic Carnival )  , ataupun  carnival  tradisional  ( Carnival Kuwung) , tetapi juga ada daya tarik wisata yang muncul dari tradisi keagamaan masyarakat.

·        Peluang  menarik Wisata  yang agamis.

Sulit dipungkiri wisata ziarah , adalah bagian yang amat penting saat ini. Banyak orang meyakini ,ketika Bali colapse akibat ledakan Bom di pantai Kuta, Bali ditolong oleh munculnya wisata baru yaitu wisata ziarah Wali Pitu. Wisata inilah yang  mengisi Bali saat ,tidak dikunjungi oleh wisata asing. Dampaknya ,selain ekonomi pariwisata  tidak terjun bebas , kerukunan agama di Bali cepat pulih.

Peluang Pariwisata Agamis , di Banyuwangi juga sangat besar . Sayang ini luput dari perhatian pemerintah . Holl Habib Hadi misalnya telah masuk kalender Nasional Holl Para Habib. Penulis pernah mendapatkan selebaran Holl tersebut di Singapore. Dan peminat  ziarah Holl tersebut sangat besar.

·        Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Perayaan Maulid nabi yang menggunakan  telur sebagai  bahan utama mestinya mampu digunakan untuk meningkatkan peternakan ayam atau binatang lainnya. Di Amerika Serikat perayaan Hallowen juga menjadi ajang perlombaan buah selo terbesar di Amerika Serikat. Dengan Maulid Nabi mungkin bisa dibangun kecintaan beternak ayam sehingga ayam dari Banyuwangi dikenal sebagai ayam yang hyginis.

Belanja barang pada Perayaan Maulid Nabi, yang content localnya sangat besar, juga seharusnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat

 

Waktu pelaksanaan yang flexible ;

Perayaan Maulid Nabi, menggunakan kalender Bulan ( Qomariyah), sedang bangsa Indonesia menggunakan aktivitas berdasar kaleber Matahari ( Syamsiyah). Selain itu waktu pelaksanaan Maulid Nabi di Banyuwangi , tidak harus tepat pada hariMaulid Nabi,tetapi berlangsung sebulan penuh di bulan Maulid,  sehingga membuka peluang untuk mengatur jadwal Maulid dengan melihat kalender kegiatan masyarakat.

Semoga saran sederhana ini bermanfaat .Amiiiin.

Daftar Pustaka

1.        Prof Dr Edi Sedyowati , Prof Dr. Sri Hastanto ,Dir Jen Niali Budaya Seni dan Film ;Traditional Music of the Archipelago  Volume 7 Banyuwangi

2.     DR Abdullah bin Manshur “ Tarjamah Maulid Barjanji “Bandung , Husaini

3.      Djamaludin Latief : Barzanji , Ujung Pandang 21 Juli 1980 . Suara Karya.

4.      Karen Amstrong “ Muhammad Prophet For Our Time”, Bandung .Mizan April 2007

5.      Karen Amstrong “ Muhammad Sang Nabi Sebuah Biografi Kritis “ Surabaya,Risalah Gusti 2001

6.      Muhammad Haekal ( terjemah Ali Audah )” Sejarah Hidup Muhammad “Jakarta ,Pustaka Jaya.

7.      Ali,Maulvi Muhamamad MA LLB ( Tarjamah boso Jawi R.NG.Djajasugita sarta M Mufti Syarif ) Qur’an Suci Djarwa Djawi , Jakarta 1959.

8.      Annemarie Schimmel(Sapardi Djoko Damono, Achadiati Ikram , Si Chasanah Buchari, Mitia Muzhar) “Dimensi Mistik Dalam Islam “Jakarta , Pustaka Fidaus 2003

 

 

 


[1]Through Account of Ambon , dan babad Demak via Dr.Purwadi M.Hum, Dra Enis Niken M.Hum. Dakwah wali Songo, Shaida Yogjakarta 2007.107

[2] Babad Demak

[3] Yang dimaksud Wali  Pitu Bali adalah;

1.        R.Mas Sepuh

2.        Habib Umar Maulana Yusuf

3.        Habib Ali bin Abu Bakar Umar bin Abu Bakar Al Khamid

4.        Habib Ali bin Zaenal Abidin Al Idrus

5.        Syech Maulana Yusuf Al Magribi

6.        Habib Ali bin Umar Bafaqih

7.        Syech Abdul Qodir Muhammad

R. Mas Sepuh adalah putra P.Pati II dengan putri kerajaan Bali Mengwi . Sedang  Habib Abdurachman  bil Faqih , dilahirkan dan dibesarkan dan menuntut pelajaran agama di Banyuwangi, tetapi kemudian setelah mendapat dukungan penuh dari H. Sanusi Kemasan , untuk berhaji dan belajar agama di Mekah, kemudian hijrah ke Loloan Bali dan menjadi penyebar agama Islam di Bali.

 

 

INGGRISAN , AUSTRALIA dan RUNTUHNYA KERAJAAN BLAMBANGAN

•25 November 2013 • 2 Komentar

Penyerahan Java Oosthoek oleh Pakubuwana II ke VOC

Mataram setelah wafatnya Sultan Agung , selalu diliputi perebutan tahta yang tidak pernah kunjung selesai. Dan Belanda memainkan peranan liciknya, yaitu membantu siapa yang memberikan imbalan yang besar.[1]Demikian juga ketika  masa Pakubuwana II, terjadi pemberontakan yang meluluh lantakakan ibu kota Kartasura dan memakzulkan Pakubuwana II ,Pakubuwana II meminta bantuan VOC ,dengan perjanjian yang sangat berat yaitu menggadaikan kedaulatan Mataram pada VOC  selama belum melunasi hutang biaya perang  .Pada tahun 1743 ibukota Kartasura dapat direbut VOC dari tangan pemberontak ,dan Pakubuwana II diangkat kembali menjadi raja Mataram .Untuk membayar biaya perang maka Pakubuwana II menyerahkan Java Ousthoek ( Malang, Pasuruan ,  Probolinggo, Blambangan, Madura   ). Penyerahan kawasan ini menurut( DR. Sri Margana . Perebutan Hegemoni Blambangan  41). berdasarkan klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya jauh dari realitas politik aktual. Pada tahun 1625 , Sultan Agung memang menginvasi ( mengirim ) expedisi militer ke Jawa Timur dan Blambangan, melibatkan 30 ribu prajurit tetapi tidak dapat menaklukkan Blambangan , meskipun menawan 5000 penduduk Blambangan . Hal in sesuai dengan pernyataan Sultan Agung yang dikutip Sir Stanford Raffless .

·        Thomas  Stanford Raffles mengutip pernyataan Sultan Agung bahwa , masih ada dua kerajaan yang paling berbahaya belum terkalahkan yaitu Sumedang dan Blambangan..[2]

Peta kekuasaan Sultan Agung

Wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram dalam masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645)

Pada tahun 1636 Sultan Agung mengirim Pangeran Selarong (saudara seayah Sultan Agung, putra Panembahan Hanyakrawati dan

Dan setelah penyerbuan itu , pengganti Sultan Agung,tidak memiliki kendali terhadap Jawa Timur,  dan terjebak dalam perebutan dalam kekuasaan.Jawa Timur terus melakukan perlawanan, terutama terhadap penjajahan Belanda.

Demikian juga setelah menyerahkan Java Ousthook, Mataram ternyata tidak pernah reda dari perebutan kekuasaan.P.Mangkubumi ,memberontak  dan berlangsung selama 10 tahun . Baru pada masa Pakubuwanna III terselesaikan dengan  Perjanjian Giyanti tgl 13 Februari 1755 . Mataram dibagi  menjadi dua yaitu  Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogjakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Ngayogjakarta bergelar  Sultan Hamengkubuwono I . Tetapi pada tahun 1757, perpecahan kembali terjadi antara R. Mas Said ( Pangeran Sambernyawa ) dengan Pakubuwono III, VOC dan Hamengkubuwono I. Akhirnya ditanda tangani perjanjian Salatiga  , Mataram dipecah lagi . R.Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan , Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Surakarta .

Inggris dan Nusantara .

Perebutan perdagangan rempah rempah  di Nusantara antara Belanda dan Inggris,tidak pernah surut . Kekalahan Inggris di pulau Banda  dan tertutupnya laut Jawa bagi Inggris tidak menyurutkan ambisi Inggris menguasai Nusantara. Menurut Mr. Farquhar( Mr Farquhar adalah orang yang paling mengerti dan paling mengenal secara mendalam sumber daya kepulauan timur) , Sumatera dan Borneo memiliki kekayaan sama dengan Brazilia[3] . Dan posisi  Jawa  di benua Asia (China  dan Hindia) sangat strategis seperti Mesir dan Sicilia di selatan Eropa[4] .Setelah Inggris berhasil  membangun pijakan di Bengkulu,[5]  maka Inggris pun  membangun  Garrison ( kompleks Militer)  , yaitu benteng Malborough dan juga membangun faktory pada tahun 1685 .[6]Benteng Malborough, benteng terbesar kedua di Asia . Sesuai catatan ,[7]benteng tersebut menyerupai sebuah kota kecil, dihuni oleh para petinggi  atau perwira senior  tentara Inggris dan pegawai sipil bersama keluarganya dan  dilengkapi pencatatan perkawinan, pembaptisan dan kematian penduduk.

Setelah menguasai Bengkulu maka  Inggrispun meluaskan hubungan dagangnya dengan Blambangan .

Hubungan  dagang Inggris dan Blambangan.

Blambangan memiliki arti yang strategis bagi Inggris dalam perebutan perdagangan rempah melawan Belanda di Nusantara karena  Blambangan adalah kerajaan merdeka terbebas dari cengkeraman penjajah Belanda. Blambangan diuntungkan kuatnya perasaan anti penjajahan di Jawa Timur, (adipati Malang, Keturunan Untung Suropati  . Malang sepenuhnya dibawah kendali keturunan Singosari , sementara Pasuruan dan Probolinggo sepenuhnya dibawah kendali  keturunan  Untung  Suropati). Blambangan menikmati keamanan  .Disamping itu Blambangan juga memiliki  benteng alam berupa gunung gunung Semeru , Bromo , Pegunungan Hyang , dan Gunung Raung dan Ijen, menjadikan Blambangan negara yang aman tentram , sehingga mencapai masa kejayaan sejak masa Tawangalun II sampai Pangeran Pati III..[8]

Hubungan pedagang Inggris dengan  Blambangan sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1600,ketika  pelabuhan Ulu Pampang di Blambangan menjadi tumpuan para pedagang Nusantara  , karena  VOC memonopoli laut Jawa  setelah menerima kekuasaan pantai utara  yang diserahkan  oleh Amangkurat II VOC sangat menindas dan meminta biaya yang sangat berat bagi pedagang yang melewati laut tersebut. Pedagang Nusantara yang telah lama memiliki hubungan dengan kerajaan Melayu,China, dan India , akhirnya  memilih lewat lautan Hindia dan menjadikan Ulu Pampang sebagai pelabuhan persinggahan. Maka Ulupampang menjadi pelabuhan yang ramai . Ini terbukti  sejak awal tahun 1600an Ulupampang mampu mengekspor , sarang burung walet seharga f 4000 , bahan lilin 10 pikul , dan beras 600 ton setiap tahun.[9]

Betapa pentingnya Blambangan dalam kaitannya dengan Inggris ,terbukti kerajaan Blambangan telah tercantum  dalam  peta pelayaran dunia  yang  dibuat Inggris tahun 1629 ( National  Library Singapore ).

Hubungan dagang Inggris dengan Blambangan  menjadi lebih baik  pada masa Susuhunan Tawangalun  ( 1655 sd 1690).Dan ketika  Inggris  menguasai Bengkulu  1685 hubungan dagang Inggris dengan Blambangan  semakin baik. Kehadiran pedagang Inggris di Blambangan  menjadi sekali tiap enam bulan [10] Tentu saja hal ini  , menimbulkan kekawatiran  VOC  sehingga VOC mengirim utusan Jeremias van Vliet menghadap susuhunan Tawangalun pada tahun 1690. Tapi permintaan hubungan ini tidak ada kelanjutannya . Setelah penolakan terhadap  utusan Belanda tersebut ,pedagang  Inggris semakin sering mengunjungi Ulupampang untuk mengambil perbekalan melanjutkan perjalanan ke Timur menuju Pasir dan Banjarmasin.

Pembangunan  Inggrisan di Blambangan

Pada tahun 1760 Inggris ,merobah  motivasi  hubungannya dengan Blambangan , kalau awalnya hanya sebagai tempat persinggahan maka pada tahun 1760 , Ulu Pampang /Blambangan mulai dilirik sebagai tempat berpijak. Pada tahun 1765 , konsul EIC merekomendasikan beberapa pelabuhan yang cukup tepat untuk  pendirian perwakilan perdagangan EIC , termasuk di Blambangan[11]. Setelah itu yaitu tahun 1766 ,kehadiran kapal  Inggris semakin sering . Sebelumnya hanya sekitar 6 bulan sekali , maka mulai tahun 1766 hampir setiap bulan , bahkan kadang kadang dua kali setiap bulan [12]

DR Sri Margana dalam bukunya Perebutan Hegemoni Blambangan menulis , pada bulan Agustus 1766 tiga kapal besar Inggris  diikuti lima kapal belas chialoup, dan dua puluh lima pecalang dan seratus kapal yang lebih kecil , membawa pelaut bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles[13] .  Tidak dijelaskan apa yang dilakukan oleh armada besar ini. Dalam buku  History Of JavaThomas Stanford Raffless menulis bahwa seorang berkebangsaan Inggris ,  Mr.Yesse ,mulai membangun barak militer dan kantor dagang di Blambangan  yang kemudian kita kenal sebagai Inggrisan.Tentang pembangunan itu  dinilai   sangat tepat. Karena kedudukan Banyuwangi ,sedemikian baiknya  sehingga Banyuwangi  disamakan kedudukannya dengan Pinang di Malaya[14].Dukungan dari pemerintah Blambangan juga sangat membantu.Selain itu , Stanford Raffless,juga memuji keberhasilan pemerintahan Blambangan .

Tetapi dalam pandangan VOC ,ramainya pelabuhan Ulu Pampang , dengan kedatangan kapal Inggris dan kapal pedagang Nusantara ,dianggap adanya kekacauan di Selat Bali,karena banyak kapal dagang illegal   [15]. Maka  VOC tidak dapat lagi menunda penyerbuan Java Oesthook.

Pembumi Hangusan Java Oesthook dan Blambangan

Seperti ditulis diatas,meskipun Pakubuwana II  telah penyerahan Java Ousthoek pada VOC  pada 1743, tetapi VOC tidak mampu menguasai Java Oosthoek , karena perebutan kekuasaan yang terjadi di Mataram. Serta sangat kuatnya pertahanan di Java Ooosthoek, dan kuatnya sikap anti penjajahan

Baru   setelah perjanjian Giyanti 1755, ketika VOC mendapat dana besar dari Mataram , pada tahun 1757 persiapan menggempur Java Ousthoek telah dimulai. Persiapan penyerangan pada Java Oostoek tidaklah mudah, karena  VOC memerlukan kekuatan tempur yang sangat besar untuk menghadapi kekuatan adipati Malang ,keturunan Untung Suropati  dan Blambangan.

Tetapi setelah Inggris membangun barak militer dan kantor dagang di Blambangan tahun 1766 , VOC tidak dapat lagi menunda lagi  penyerbuan Java Ousthook.

Pada tahun 1767 VOC membentuk pasukan  tempur  dari  Mataram, Surabaya, dan Madura , Belanda mengadopsi Strategy  Tumpes Kelor dari Mataram yang telah dipraktekan pada keturunan Sunan Giri  , yaitu membunuh habis sampai keakar akarnya [16]

Penyerbuan pertama  dipimpin  Erdwiyn Blanke terdiri atas 25 buah kapal besar dan puluhan kapal kecil , memuat 335 serdadu Eropa, dan 3000 laskar Madura, Mataram, Pasuruan,.Setelah menumpas keturunan Suropati dan adipati Malang  pasukan ini membumi hanguskan Panarukan pada tanggal 27 Pebruari 1767. dan merebut Banyualit pada 31Maret 1767  ( NTM 63). Dan Blambanganpun jatuh ketangan VOC, dan membumi hanguskan dan meluluh lantakan ibu nagari Kota Lateng.

Ternyata meskipun VOC telah mengerahkan kekuatan tempur  yang sangat besar , kemudian menguasai Blambangan dengan cepat , serta membangun benteng di Banyualit,tetapi satu tahun kemudian timbul pemberontakan Wong Agung Wilis.

Dan   untuk memadamkan pemberontakan ini sekali lagi VOC mendatangkan bantuan pasukan  yang tidak kalah besarnya dari yang pertama . Bantuan ini dipimpin A.Groen  membawa 13 kapal yang memuat 302 orang serdadu Eropa, 1000 orang laskar Madura, 400 orang dari Surabaya, 1700 laskar Lumajang.

Ternyata serangan dari Banyualit, dalam benak orang Blambangan adalah serangan yang sangat licik.Banyualit adalah  tempat suci  untuk melarung abu ngaben dan benda peribadatan .Karena itu perang melawan Belanda adalah perang suci  .Blambangan  kalah lagi  dan Wong Agung Wilis tertangkap , kemudian dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768.  Tetapi pertempuran secara sporadis tetap berlangsung di seluruh Java Oesthook

Penemuan Australia dan hancurnya kerajaan Blambangan.

Tahun 1770 Eropa digemparkan penemuan  benua baru oleh James Cook yaitu benua Australia. [17] Penemuan ini tentu saja semakin mempertegas pentingnya Blambangan , dalam support logistik dan persinggahan kapal kapal Inggris menuju Australia.Maka pantaslah Inggris berusaha sekuat menguasai kembali Blambangan.

Pada akhir 1770  wong Agung Wilis dapat meloloskan diri dari Banda  , dan tinggal di Bali [18] , sehingga  wong Agung Wilis ,dapat dinyatakan satu satunya tahanan VOC  yang dapat meloloskan diri  .Tidak lama setelah Wong Agung Wilis , tinggal di Bali, pada tahun 1771 muncul pemberontakan Pangeran Rempeg Jagapati  seorang pimpinan perang  Wong Agung Wilis. Pangeran Rempeg segera mendapat dukungan dari para pejuang yang bertempur bersama Wong Agung Wilis.Belanda  menyebut Pangeran Rempeg Jagapati  sebagai Pseduo Wilis, karena para pejoang yang mendukung Pangeran Rempeg Jagapati sebagai titisan dari Wong Agung Wilis. Yang membuktikan betapa masih kuatnya pengaruh wong Agung Wilis [19].

Perang ini adalah perang yang sangat besar  , ini terbukti VOC menambah pasukan tempur VOC pada tgl 14 Desember 1771.Pasukan tempur ini terdiri pasukan  meriam Belanda dipimpin oleh Kapten Vaandrig Schaar dan Cornet Tinne seorang perwira tamatan Akademi Perancis yang terbaik didunia ,serta 2000 laskar Madura, dibawah pimpinan Alap Alap , seorang Madura .

Tanpa mengurangi jiwa Perlawanan yang  begitu heibat serta dukungan penuh dari pedagang Bugis, Bali , Melayu , yang muak dengan monopoli perdagangan Belanda, dan China  pelarian pemberontakan China di Batavia , sulit ditolak adanya keterlibatan Inggris dalam perang ini.Apalagi dalam pertempuran itu  VOC dapat dipukul mundur dan Kapten Vandrig Schaar dan Cornet Tinne  terbunuh [20].dan VOC kemudian menghentikan penyerbuan selama 11 bulan . Dan baru pada tgl 1 Oktober 1772  mendatangkan lagi sekitar 5000 laskar termasuk beberapa serdadu Eropa untuk menggempur pemberontak[21]

Hal ini menjadi semakin jelas , ketika para pejoang  Blambangan yang terpukul mundur , membangun pertahanan di Nusa Barong pada tahun 1773 dengan persenjataan yang sangat canggih yaitu memiliki  8 kapal  dagang, 8 pucuk meriam , dan 100 pucuk senapan dan menampung 3000 penduduk[22] . Sehingga pelayaran di lautan Hindia masih dalam cengkeraman Blambangan

Catatan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk  menaklukan Blambangan  sebanyak  80 ton emas ,juga menunjukan perang ini adalah perang yang besar dan penting .[23] ( Penulis berpendapat bahwa jumlah biaya tersebut adalah total biaya yang dikeluarkan oleh VOC , sejak dimulai perang melawan , adipati Malang , keturunan Untung Suropati , sampai Perang Blambangan tuntas).Perang ini menurut DR. Sri Margana  adalah perang tersadis sepanjang sejarah, sementara para  sejarahwan dan budayawan Banyuwangi menyebut Puputan Bayu. Dengan berakhirnya perlawanan ini, maka Kerajaan Blambangan lenyap dari sejarah. Kerajaan Blambangan dibelah menjadi dua , Blambangan Barat  dan Blambangan Timur dengan  ibu kota Ulu Pampang . Tetapi kemudian bupati pertama Blambangan Timur mas Alit memindahkan ibu kotanya ke Banyuwangi.

Perlawanan terhadap Belanda tidak pernah surut, sehingga VOC melakukan dislocating system , sampai tahun 1811. Penduduk Blambangan yang  pada tahun 1750  ,berjumlah 80ribu , pada tahun 1811 tinggal 8 ribu.                     From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000 [24]  Sebuah pernyataan yang menggemparkan dan sampai saat ini menjadi perbincangan International [25]

Tapi dilupakan di Banyuwangi.

[1] Putra Sultan Agung ,Amangkurat I ( 1646 sd 1677) adalah raja Tiran ( DR. Sri Margana PHB 37  dan Trilogi Genduk DUKU JB . Mangunwijaya ) .Hampir seluruh adipati memberontak .Salah satu pemberontakan yang terkenal adalah pemberontakan Trunojoyo. Walaupun Amangkurat I meminta bantuan VOC , namun Trunojoyo dapat menguasai keraton Mataram dan memaksa Amangkurat mengungsi dan mati di Tegalarum (1677).Putranya Amangkurat II, terlibat perebutan kekuasaan dengan Pangeran Puger.Amangkurat II , meminta bantuan VOC , sehingga mampu mengalahkan Pangeran Puger. Dan Amangkurat II ,menyerahkan pantai utara Jawa ke VOC. Ketika Amangkurat III memerintah maka  Pangeran  Puger / Mas Drajat melakukan pemberontakan . Kali ini VOC mendukung Pangeran Puger sehingga dapat merebut tahta dari Amankurat III. Amangkurat III , melarikan diri ke Jawa Timur berlindung pada  Adipati Untung Suropati. Pangeran Puger kemudian menjadi raja Mataram dengan gelar Pakubuwana I. Dan Amangkurat III membentuk pemerintahan di pengasingan.Meskipun pada akhirnya pasukan VOC dan  Mataram mampu menangkap  Amangkurat III dan membuang ke Sri Langka dan membunuh Untung Suropati, tetapi Jawa Timur tetap dikendalikan keturunan Untung Suropati yang mendapat dukungan dari keturunan/pengikut  Amangkurat III.

[2] Thomas Stanford Rafless  Hystori of Java  509

[3] History of Java 140

[4] ( History of Java 101) .

[5] Alaan Harfield (1995): Bencolen : A history of the Honourable East India Company’s , Garrison  on the west coast Sumatra ( 1685 -1825).

[6] ( Firdaus Burhan (1988) Bengkulu  Dalam Sejarah )

[7] pada British Library and India Office Collections ,[7] pada tahun 1790

[8] Drs I Made Sudjana M A. Nagari Tawon Madu 35.

[9] Drs I.Made Sudjana MA .Nagari Tawon Madu  22

[10] Drs I Made Sudjana   Nagari Tawon Madu  61

[11] DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49

[12]Ibid 61

[13] DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49

[14] Thomas Stanford Raffless History of Java 144

[15] Ibid 62

[16]   Margana 98

[17] Richards Tropical Encyclopedia ,The Richards Company Inc New York , volume 5.543.

[18] .Drs. I Made Sudjana M A, Nagari Tawon Madu  68)

[19] Penulis telah mengecek informasi keberadaan makam Wong Agung Wilis di pura langgar Bangli.

[20] Ibid  79)

[21] Ibid 80

[22] Ibid 84

[23] J.K.J. de Jonge .1883 mengutip  surat Gubernur Jenderal Reiner de Klerk kepada pemimpin VOC tertanggal 31 Desember 1781,

[24] Sir Thomas Stanford Rafless.Hystory of Java   68

[25] Kumar , Ann” Javanesse   Histiographie in and of the colonial periode, a case study . Dalam Anthony Reid and David Maar (eds) Perception of the past in Southeast Asia,Kualalumpur 1979,187206  via  I Made Sudjana M A Nagari tawon Madu  dan makalah DR .Sri Margana

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka .

1.      Sri Margana disertasi dalam program DR ,Leiden University “Java ‘s Last Frontier : The Struggle for Hegemony of Blambangan, c.1763-1813.

2.      DR. Sri Margana , Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan  Pustaka Ifada 2012

3.      C. Behan Mc Cullagh , Logic of History, Perspektif Posmodernisme , Lilin Persada Pers , Yogjakarta 2010

4.      Drs I Made Sudjana MA, Nagari Tawon Madu , Larasan Sejarah  2001

5.      Thomas Stanford Raffles. The History of Java, Narasi. Yogjakarta 2008

6.      William H.Frederick , Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia ,Sebelum dan sesudah Revolusi , LP3ES, Oktober 1984

7.      Mann , John, sejarahwan Amerika spesialis dinasti Mongol : Ku Bilai Khan .

8.      Prof .DR. Drs. I Ketut Riana S.U. Kakawin Desa Warnnana uthawi  Nagara Krtagama , Masa Keemasan Majapahit, KOMPAS , Jakarta September 2009.

9.      Robin Tatu ,Babad Buleleng I Gusti Putu Jelantik Dalam Konteks Sejarah

10.  DR. Hasan Djafar , Mas Akhir Majapahit , Komunitas Bambu 2012

11.  Irwan Djoko Nugroho , Majapahit Peradaban Maritim , Suluh Nuswantara Bakti, November 2011

12.  Supratikno Rahardjo, Peradaban Jawa Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir, Komonitas Bambu 2011.

13.  Prof DR.M . Bambang Pranowo , Memahami Islam Jawa,INSEP, Alvabet Oktober 2009.

14.  DR. Purwadi M.Hum dan Drs Niken H. M.Hum . Dakwah Wali Songo. Shaida Yogjakarta 2007

15.  Drs Wiji Saksono, MengIslamkan Tanah Jawa .MIZAN Januari 1995.

16.  Prof DR. Edi Sedyawati, Prof DR. Sri Hastanto , Musik Tradisi Nusantara , Traditional Music of the Archipelago  volume 7.  Dit Jen Nilai Budaya Seni Film , Dept Kebudayaan dan Pariwisata  , 2007

17.  Hasan Ali , Sekilas Puputan Bayu , Pemda Banyuwangi  2006. 

18.  Seno  Gumira Ajidarma , Nagabumi,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta  2009.

19.  Hasnan Singodimayan , berbagai artikel

20.  Makalah , Seminar hari Jadi Banyuwangi

21.  Berbagai sumber dari Majalah , Harian

 


Legenda Kebo Keboan Blambangan

•3 September 2013 • 5 Komentar

 

Ritual Kebo Keboan

Ritual Kebo-keboan adalah prosesi upacara di desa desa  Banyuwangi ,dan dalam perayaan tersebut para pelaku berdandan   seperti kerbau dan berperi laku seperti kerbau . Dalam prosesi itu dipergelarkan fungsi kerbau dalam membantu petani ,dalam membajak sawah. Tempat membajak sawah tidak harus disawah, tetapi bisa di jalan desa atau ditanah lapang yang sudah diairi lebih dahulu, tergantung kesepakatan para pemangku desa. Prosesi ini dilaksanakan pada bulan Suro, antara tanggal satu atau sepuluh, tetapi pada akhir akhir ini disesuaikan dengan hari libur nasional.Desa desa penyelenggara ritual Kebo Keboan pada masa sampai dengan tahun 50an  kebanyakan terletak dalam cakupan bekas bekas istana terakhir kerajaan Blambangan, yaitu Bayu ,Macan Putih, Kota Lateng,( Golden Triangle ibu nagari terakhir Blambangan), karena pada daerah inilah sebenarnya tradisi dan adat istiadat, peradaban Blambangan, masih tersimpan rapi ibarat harta pusaka yang sangat bernilai. Desa itu adalah Aliyan, Alasmalang ( Wonorekso), Gladak, Lemahbang dewo, Watukebo, Tambong, Bubuk , dll.Ritual ini semula menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi leluhur, oleh karena itu pembiayaannya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat desa.Tetapi mengingat tingkat kesejahteraan masyarakat , serta pengaruh budaya modern yang pragmatis, maka sejak tahun 60an penyelenggara Kebo Keboan di Banyuwangi mulai berkurang, dan hilang pada masa Orde Baru. Setelah reformasi tradisi Kebo Keboan , muncul kembali didesa Alasmalang, berkat usaha Seniman Budayawan Sahuni, menggandeng salah satu TV Swasta untuk menghidupkan tradisi tersebut . Sejak itulah penyelenggaraan Kebo Keboan , mendapat dukungan sponsor .

Adakah prosesi itu berkaitan dengan peradaban masa Kerajaan Blambangan??

Jika kita menanyakan pada para pemangku adat didesa tersebut tentang asal usul ritual Kebo Keboan, mereka pasti hanya menjawab bahwa mereka melaksanakan itu karena para sesepuh mereka telah melaksanakan ritual itu, dan mereka mengikuti acara  ritual itu, sebagai kepatuhan kepada adat yang telah berlaku, dan berharap agar tidak ada musibah di desa mereka.

Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar ,karena desa desa penyelenggara itu, masyarakatnya telah menjadi muslim, yang taat. Dalam khasanah peradaban Islam tentu  tidak ada ritual seperti itu. Pada sisi lain , desa penyelenggara Kebo Keboan merupakan desa desa kuno  ( desa desa yang telah ada sejak pada abad ke 17)[1] Mungkinkah penyelenggaraan Kebo Keboan memiliki  kaitan pada masa kuno kerajaan Blambangan ? 

Dibawah ini , daftar nama desa dan  nama Lurah pada abad 17 sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu, dan catatan sensus penduduk oleh VOC seperti ditulis Dr( Leiden) Sri Margana dalam Java Last Frontier , masih sama dengan nama yg biasa digunakan pada masa Singosari,
Dhadhap (Kidang Wulung),= Dadapan
Rewah-Sanji (Kidang Wulung )                                                                                                 Suba/Kuwu (Kidang Wulung), =Sobo
Songgon (Ki Sapi Gemarang), = Songgon
Tulah (Ki Lempu Putih), =
Kadhu (Ki Sidamarga), =
Derwana (Ki Kendit Mimang),=Derwono
Mumbul (Ki Rujak Sentul),=
Tembelang (Ki Lembupasangan), =Tembelang
Bareng (Ki Kuda Kedhapan),=Bareng
Balungbang (Ki Sumur Gumuling), =Belumbang
Lemahbang (Ki Suranata),= Lemahbang
Gitik (Ki Rujak Watu),= Gitik
Banglor (Ki Suragati),=
Labancina (Ki Rujak Sinte),=Labancina
Kabat (Ki Pandholan),= Kabat
Kapongpongan (Ki Kamengan),=Popongan
Welaran ( Ki Jeladri),=Welaran ( Banyuwangi  Jln Panderejo ?)
Tambong (Ki Reksa), = Tambong
Bayalangun (Ki Sukanandi), =Boyolangu
Desa Penataban (Ki Singadulan),= Penataban
Majarata (Ki Maesandanu),=Mojoroto
Cungking (Ki Jangkrik Suthil),= Cungking
Jelun (Ki Lembu Singa),= Jelun
Banjar (Ki Bakul).=
Desa Pegambuiran (Ki Serandil),=Gambiran ?
Ngandong (Ki Seja),= Andong
Cendana (Ki Kebo Waleri),=
Kebakan (Ki Kebo Waluratu),=
Cekar (Ki Gundol), =
Gagenteng (Ki Kudha Serati),= Genteng
Kadhal (Ki Jaran Sukah),=
Sembulung (Ki Gagak Sitra),= Sembulungan
Jajar (Ki Gajah Anguli), =Jajag
Benculuk (Ki Macan Jingga),Benculuk
Pelancahan (Ki Butangerik)=
Keradenan (Ki Jala Sutra),=Keradenan
Gelintang (Ki Maesagethuk), =
Grajagan (Ki Caranggesing).= Grajagan
Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan),=
Lalerangan (Ki Menjangan Kanin),=Larangan , sekarang bagian dusun Alasmalng
Mamelik (Ki Surya), = Melik
Papencan (Ki Bantheng Kanin),=
Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan),=
Repuwan (Ki Butānguri),=
Rerampan (Ki Kidang Bunto),=Rampan
Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).=Singolatren
Jongnila (Ki Gagakngalup)=
Konsul (Ki Maesasura).=
Bubuk (Ki Marga-Supana),= Gubuk
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=Gebang
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=
Gambor (Ki Bajuldahadhi),=Gambor
Gembelang (Ki Butakorean),=
Muncar (Ki Genok),=Muncar
Bama (Ki Baluran),= Bomo
Geladhag (Ki Margorupit), Gladag
Susuhan ( Ki Tambakboyo),=Susukan
Ngalian (Ki Kidang-Garingsing)=Alian
Tamansari (Ki Gajah Metha),=Tamansari
Danasuke (Ki Kebowadhuk),=Donosuko
Kalisuca (Ki Jaransari).

Penistaan ( Character Assasination)  penguasa terhadap rakyat Blambangan.

Untuk mengetahui ini maka tentu kita harus melacak tentang sejarah kerajaan Blambangan. Dalam masyarakat Banyuwangi maupun masyarakat Solo dan Yogya ( Mataram ke 2), kerajaan Blambangan dipersepsikan sebagai kerajaan kecil diujung timur pulau Jawa ,diperintah prabu Menakjinggo, seorang  raja  yang angkuh , culas, dan tak tahu diri karena ingin mempersunting /memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu, padahal tidak ada kepantasan secuilpun yang dimiliki prabu Menakjinggo, rupanya begitu jelek, suaranya tidak menarik Versi lain menggambarkan Menakjinggo adalah raja para raksasa.Sungguh penggambaran yang amat sempurna tentang kejelekan manusia.Radio Republik Indonesia Yogyakarta malah menyajikan Ketoprak Mataram ,pada tahun 1960an malahan menyajikan cerita Damarwulan Menakjinggo dengan versi seperti diatas.
Menurut DR ( Leiden) Sri Margana cerita Damarwulan dan Prabu Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda / Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian (Operate) oleh Mangkunegara IV (1853 sd 1881). Kemudian dipopulerkan di Banyuwangi oleh penguasa Banyuwangi yang masih berdarah Mataram pada masa penjajahan VOC. ( Tempo )

Brandes ,sejarahwan Belanda (DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan .Pustaka Ifada .2012). dan Professor Slamet Mulyana berpendapat  kisah Damarwulan dan Menakjinggo mendapat inspirasi dari Perang Paregreg  yang terjadi setelah prabu Hayamwuruk lengser keprabon.
Prof Slamet Mulyana  menulis bahwa penulis Serat Kanda dan Serat Damarwulan adalah  sastrawan Mataram yang hanya mengetahui kisah Perang Paregreg ( Perang yang terjadi berulang kali antara Bhree Wirabhumi ( Menakjinggo ) raja Blambangan dan Wikramawardhana dan Dewi Suhita  raja Majapahit , tetapi tidak mengetahui fakta sejarahnya)

Dengan demikian cerita ini  merupakan sebuah rekayasa yang sistimatis ,untuk memperlemah keberadaan masyarakat Blambangan dan menghapus ingatan orang Blambangan terhadap  sejarah masa lalunya .Melalui  penggambaran itu maka dicapai dua sasaran , penguasa ingin mengesankan pada  rakyat Blambangan, bahwa penguasa ( Belanda dan Bupati yang diangkat Belanda) adalah pembebas dari raja  Culas, yang tak tahu diri .

Lebih aneh lagi  dalam Babad Blambangan yang ditulis pada abad ke 19 dari penulis Bali dan juga Babad Tanah Jawi  (Brandes via DR. Sri Margana .Perebutan Hegemoni Blambangan 2012.35)menulis bahwa Menakjinggo adalah anjing yang dipungut oleh Ajar Gunturgeni yang dihadiahi Blambangan oleh Prabu Brawijaya. Karena menginginkan kehadiran seorang putra , maka dia bertapa dan merubah namanya menjadi Ajar Pamengger. Berkat permintaan yang kuat dalam bertapa, maka anjingnya berubah menjadi manusia , namun wajahnya tetap seperti anjing. Cerita inipun diabadikan dalam wayang Krucil tradisi Mangkunegaran ( DR.Sri Margana .Perebutan Hegemoni Blambangan .2012.30).  Padahal cerita ini (  Damarwulan ) ini  tidak dikenal di Bali, dan tlatah pesisir Jawa, dan Sumatera , tempat kebudayaan pesisr mendapat tempat pada abad ke 16 dan 17. Pada daerah itu cerita Panji lebih populer.( DR Purwadi  M.Hum, dan Enis Niken H.M.Hum. DA’WAH WALISONGO Panji Pustaka Yogyakarta 2007.89).
Maka   dapat ditebak maksud penguasa antek Belanda  pada saat itu adalah mengadu domba  orang Blambangan dengan Bali . DR ( Leiden) Sri Margana dalam wawancaranya yang dimuat majalah Tempo mengemukakan bahwa cerita  tentang Damarwulan ,Menakjinggo merupakan Sinisme dan deligimitasi raja Blambangan. Mataram /Surakarta ingin menunjukan keperkasaannnya ( Power full) di Blambangan.

Kerajaan Blambangan.

DR Sri Margana yang  mengambil Doktor di Universitas Leiden , Belanda dengan disertasi  “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ dalam Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September. Pendapat itu membuka fakta baru tentang kerajaan Blambangan sebagai berikut;

1.      Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.

2.      Kerajaan Blambangan , dalam mempertahankan existensinya, mampu bergerak dengan mobilitas yang sangat tinggi, terbukti kerajaan Blambangan telah memindahkan ibukota  kerajaan sampai 6 (enam) kali.(Lumajang, Panarukan , Kedawung /Jember, Macan Putih, Ulupampang,Lateng/Banyuwangi)

3.      Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga  dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665

4.      Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan  yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati  sebanyak 270 orang.

5.      Perang Pangeran Jagapati/Puputan Bayu   adalah perang yang tersadis dalam sejarah perang di Indonesia. Tubuh dan kepala para prajurit yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng.Lumbung padi dibakar, sehingga rakyat kelaparan dan disusul merebaknya wabah penyakit.

6.      DR. Sri Margana juga menyampaikan, ada mitos yang berkembang di Mataram saat itu ( sekitar abad 18 ) , bahwa prajurit Blambangan kebal terhadap senjata. Oleh karena itu dijadikan percobaan untuk menguji senjata Jika keris maupun tombak dapat membunuh prajurit Blambangan, maka senjata tersebut dinyatakan sakti dan layak dipakai perang.

7.      Daya tahan kerajaan Blambangan , terutama karena keandalan rakyatnya dan strategy perangnya.

Dengan demikian Blambangan  adalah negeri besar .

Selain sebagai kerajaan besar kerajaan Blambangan juga memiliki kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa kuno , hal ini terbukti ditemukannya patung Budha di Jember pada abad ke 7 ( Supratikno Rahardjo . Peradaban Jawa . Komonitas Bambu 2002 .316) . Namun demikian kerajaan Blambangan mulai terlacak sejarahnya pada masa Singosari dibawah Prabu Wisnuwardhan .Dalam mewujudkan  ambisi besarnya  raja Wisnu Wardhana mendeklarasikan doktri  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa.  Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan  , yaitu menyatukan seluruh pulau Jawa dalam satu kekuasaan .Maka untuk mendukung ambisinya tersebut dibentuklah kadipataen dan salah satunya adalah  kadipaten Lamajang dengan Narariya KIRANA seperti tersebut dalam prasasti Mula Malurung yang bertahun 1225.  Cita 2 tersebut didasarkan setelah keberhasilan Wisnuwardhana menyatukan kembali Daha dan Singhasari. Keberhasilan tersebut oleh  Kertanegara (putra Wisnuwardhana diyakini  merupakan bukti bahwa kutukan Mpu Bharada sudah tawar. Prasasti Mahaksobhya yang diterbitkan Kertanagara raja Singhasari tahun 1289 menyebutkan kekuatan sabda  Mpu Bharada membelah Kahuripan menjadi dua bahagian Daha dan Janggala atas  perintah prabu Airlangga untuk membelah Kahuripan menjadi dua bahagian , dan mengutuk siapapun yang berusaha menyatukan kedua negara tersebut  telah tawar  .
Tawarnya kutukan Mpu Baradah membuat Kertannegara ,  mendeklarasikan doktrin Pamalayu yaitu  tekad Singosari untuk tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.        Doktrine ini  oleh DR. Moch Yamin maupun John Mann (sejarahwan Amerika)  sebagai cikal bakal  doktrine Nusantara atau  Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kekuasaan Singosari yang menjangkau tanah Pemalayu , akhirnya mengusik Ku Bilai Khan (cucu Jengkis Khan)  dari dinasty Yuan yang ingin menguasai seluruh daratan Asia dan kepulauan sekitarnya termasuk Jepang dan Nusantara. Akhirnya terjadilah perang dahsyat antara Kertanegara dengan Ku Bilai Khan .Kemenangan Ku Bilai Khan tidak berlangsung lama , karena kemudian tentara Ku bilaiKhan dikalahkan oleh persekutuan antara R.Wijaya  dengan Arya Wiraraja .Kemenangan ini  diabadikan dalam Prasasti  Gunung Butak,  (1294), menyebutkan adanya perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam perintisan dan pembentukan kerajaan Majapahit bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan   atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru ( Jember , Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai Nararya.( Prasasti Kudadu 1294).

Dengan demikian kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang amat luas mencakup 10 ribu kilometer. Dalam perjalanan sejarahnya , kerajaan ini adalah bagian yang merdeka dari Majapahit dalam konsep pemerintahan Majapahit yang dikenal Mitra ika Satata. Dalam disertasi DR . Sri Margana  maupun Drs I Made Sudjana M A ( Nagari Tawon Madu) , di Leiden University , bahwa kerajaan Blambangan tetap exist sampai tahun 1768. Dengan demikian ketika Majapahit runtuh pada tahun 1529 , kerajaan Blambangan masih tetap berdiri sebagai kerajaan Hindu, malahan mencapai keemasan pada masa prabu Tawangalun 2 , dengan cakupan wilayah tetap seperti masa Arya Wiraraja, yaitu 10 ribu kilometer. Namun demikian pada masa itu sebagian rakyat Blambangan telah masuk Islam sebagai hasil da’wah Sunan Giri yang memiliki darah biru Blambangan , dan pada masa Pangeran Pati 2 telah masuk pada para pejabat keraton .

Gunung Suci Hindu berada di Blambangan

Kerajaan Blambangan selain kerajaan yang sangat besar mencapai luas 10 ribu kilometer, dua kali provinsi Bali  juga  memiliki Gunung suci ummat Hindu di Jawa sejak masa Majapahit yaitu Gunung Semeru . Seperti tertulis dalam Negara Krtagama . Raja  Rajasa Nagara / Hayamwuruk diandaikan adalah titisan Hyang Giri Natha yang berstana di puncak Gunung Semeru . ( Negara krtagama Prof Dr DrsI Ketut Riana S.U ..hal 31).                                                                     Dalam keyakinan Hindu, kerbau  adalah Sang Hyang Nandini  tunggangan /hewan kesenangan  Dewi Durga Mahisasuramardani, permaisuri Dewa Siva/ Sang Hyang Giri Nata  , salah satu dari pemimpin para Dewa yang diagungkan oleh ummat Hindu yang bersemayam di gunung Semeru. Dalam kitab kitab Purana, salah satu kitab tentang ajaran Hindu ,  Dewi Durga Mahisasuramardini, digambarkan  bertangan delapan bersikap Tribhangga, empat tangan kanan memegang cakra berapi, sara,sara,serta seekor kerbau, dan empat  tangan kiri masing masing memegang  sangkha,pasa, dan pasa lagi serta rambut asura. Pada tangan kanan adalah lambang kebajikan yaitu  penguasa tanaman dan kesuburan terdapat  lambang  seekor kerbau atau Sang Hyang Nandini , dan tangan kiri sebagai lambang  angkara murka  pembinasa Asura dan menguasai berbagai penyakit menular.[1]Meskipun Sang Hyang Nandini dimulyakan tetapi tidak ada satu prosesi yang dilakukan untuk nya, baik pada masa Hindu Kuno maupun Hindu saat ini.

Salah satu sumber terkuno yang menyebut adanya pemuliaan  kepada KERBAU tertulis dalam Negara Krtagama  yang dilakukan dalam arak arakan adalah kitab Negara. Dalam kitab itu ditulis bahwa apabila ada perajaan besar di ibukota Majapahit, maka para  wakil  penguasa dari empat penjuru mata angin  yang ikut dalam upacara itu dan masing mengibarkan  lambang  lambang tanda kebesarannya. Dan   penguasa yang menggunakan Lambang Kerbau adalah  Baginda Raja Manahun./ mertua Bhree Wirabhuni Nararya Blambangan .Inilah kutipan selengkapanya dari Negara Krtagama.

 Tanda tanda kebesaran ;bait 71.[2]

  • Semua kereta Baginda Raja Pajang bergambar lukisan matahari yang indah
  • Adapun kereta baginda raja Lasem semua bergambar lembu putih gemerlapan.
  • Baginda Raja Daha keretanya bercirikan Adaha Kusuma Mas mengkilat,
  • Terutama pula Baginda Raja Jiwana semua keretanya bercirikan gringsing –lobeng luwih(merah berhias lukisan mas tirai dan tabirnya)

Macam persembahan :Bait 256.[3]

  • Baginda Raja Paguhan yang pertama mempersembahkan sesaji santapan yang amat lezat,
  • Baginda Paguhan juga membawa kain kain yang halus serta sirih tersusun bagai pohon pohonan
  • Baginda Raja Matahun mempersembahkan arca lembu putih seperti Nandini
  • Lembu itu mengeluarkan uang dan makanan dari mulutnya tak putus putus sangat mengagumkan. 

Raja Matahun  adalah  ayah  permaisuri adipati Majapahit Kedaton Wetan Bhree Wirabhumi,[4] dengan demikian patut diduga bahwa kerajaan ini  berada dalam barisan raja Matahun yang memuliakan Sang Hyang Nandini .    Pemulian ini tentu sangat berkaitan dengan daerah Lamajang Tigang Juru yang sangat gemah ripah loh jinawi. Oleh karena itu kemudian daerah ini disebut Balumbun.Dari kata Balumbun[5] yang berarti daerah memiliki banyak lumbung , muncul kata Blambangan.  Maka wajarlah kerajaan Blambangan yang subur dan makmur itu menggunakan lambang Kerbau.

Bukankah lambang Kesuburan itu Dewi Sri?

Jika dalam tulisan diatas disebutkan bahwa Kerbau adalah lambang kebaikan dari Dewi Durga Mahisasumardani tetapi mengapa dalam perayaan Kebo Keboan atau dalam upacara slametan sawah  wong Blambangan lebih mengaitkan dengan dewi Sri? Dalam ajaran Hindu kuno, yang tercantum dalam kitab Purana , yang berkembang di India  ( Jambudwipa) dewi Durga Mahisasuramardani, permaisuri Dewa Siva, memiliki dua sisi yaitu kebaikan dan kejahatan. Tetapi dalam pola pikir dan dasar kepercayaan  dalam masyarakat Jawa/ Nusantara atau Javadwipa/ Swarnadwipa, kebaikan dan keburukan tidak mungkin bersatu. Oleh karena itu Dewi Durga akhirnya menjadi lambang keburukan dan dikenal sebutan Bhatari Durga, sedang lambang kesuburan adalah Dewi Shri Laksmi  permaisuri Dewa Wisnu .

Pemisahan itu menjadi lebih jelas dan tegas  pada zaman Raja Erlangga  (1020 -1042) dari Kahuripan/Singosari , yang melakukan revolusi pemikiran keagamaan dan revolusi pertanian.  Pada masa beliau , masyarakat Hindu Jawa berpindah dari menyembah Siva  menyembah Dewa Wisnu dan pada masa beliau dilakukan pembangunan pertanian secara besar besaran ,yaitu memperbesar aliran sungai Brantas dengan membangun bendungan/tanggul  di kedua tepinya, serta merubah tanah rawa di muara brantas menjadi tanah pertanian yang subur. Dengan karya beliau ini ,maka Brantas dapat dilayari sampai jauh kedalaman dan pertanian berkembang pesat. Keberhasilan beliau membangun kerajaan yang aman makmur , gemah ripah loh jinawi, beliau ditahbiskan sebagai titisan /jelmanaan dewa Wisnu di Bumi, yang digambarkan dalam patung Garuda Wisnu.Oleh karena itu  permaisuri  Dewa Wisnu , Sri Laksmi juga mulai diagungkan dan sekaligus mengambil peran sisi baik Dewi Durga Mahisasuramardini, yaitu dewi pertanian , dewi  kesuburan dan kemakmuran.  [6].

Ketika masa Sanggramawijaya ( para raja Keturunan Ken Arok dan Ken Dedes  memerintah kerajaan Singosari, Majapahit, dan  Blambangan)’ penyembahan terhadap Wisnu tidak dilakukan lagi . Pada masa itu , ummat Hindu menyembah kembali Dewa Siva.Namun karena wangsa ini masih mengaitkan dengan darah Erlangga ( Wangsa Isana) , maka pengagungan terhadap Sri Laksmi tetap berjalan, maka terjadilah symbiose, lambang kesuburan pertanian di lambangkan dua simbol yaitu Sang Hyang Nandini ( KEBO) dan Dewi Shri . Maka dalam perayaan kebesaran Kerajaan Blambangan kedua lambang digunakan berdampingan, oleh karena itu dapat difahami sebenarnya  perayaan Kebo Keboan adalah pernyataan  Blambangan adalah kerajaan yang Subur Makmur .

Sunan Giripun membangun  di Kebo Mas

Dengan uraian diatas jelaslah bahwa perayaan Kebo Keboan jauh dari pengertian ritual keagamaan, karena sudah tidak berkaitan lagi dengan upacara keagamaan,melainkan lambang kebesaran Blambangan.

Sebagai Lambang Kerajaan , maka lambang Kerbau sangat penting untuk jati diri wong Blambangan. Maka tidak heran Sunan Giri , yang  keturunan darah biru Blambangan . Beliau adalah putra  dewi Sekar Dalu  , putri Bhre Pangembangan , cucu Bhree Wirabhumi , cicit prabu Rajasa Negara ( Hayam Wuruk ),( Wangsa Sanggramawijaya, Wangsa Isyana Singosari , Wangsa Isyana Kediri , dari putri mahkota Airlangga yaitu  Sanggramawijaya /Dewi Kili Suci )dengan  Maulana IskaK atau Syech Wali Lanang ( Lelaning Jagad ) , guru para wali , yang memiliki garis keturunan langsung dari Rasullulah,  memulai kegiatan keagamaan, dengan  membangun pesantren disatu desa yang kemudian dijuluki Kebo Mas. [7]

Maka seharusnya difahami bahwa perayaan Kebo Kebo an, didesa desa dalam kawasan Golden Triangle Istana Blambangan, adalah pesan penting dari para leluhur Blambangan bahwa wong Blambangan mempunyai sejarah yang panjang, jelas dan membanggakan .Maka tidak aneh , karena bangganya leluhur Blambangan terhadap jati dirinya , maka kerajaan ini tetap exist sampai tahun 1771, menjadi kerajaan Jawa terakhir yang tunduk terhadap VOC. Maka pernyataan bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun dijajah Belanda tidak berlaku untuk Blambangan. Dan perang besar inipun diakhiri dengan Puputan Bayu. Perang tersadis sepanjang sejarah Nusantara menurut Dr. Sri Margana .  Maka tidak heran penulis sejarah bangsa Belanda Scholte dan Sir Stanford Rafflees, yang mengetahui dengan detail sejarah  suku ini dengan hormat tetap menyebut suku ini sebagai SUKU BLAMBANGAN,suku pemberani , [8].                                                                           

 


[1] Seno  Gumira Ajidarma , Nagabumi,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta  2009. 106  dan Hariani Santiko Bathari Durga  1992, h.1

[2] Prof. Dr Drs I Ketut Riana.SU Nagara Krtagama, Kompas Media Nusantara, Jakarta,2009,  126

[3] Seni Gumbira Ajidarma  ibid256

[4] Seno Gumbira ibid 66

[5] Pigeaud via Darusuparta, 1984:12-13

[6] Seno Gumira Ajidarma 0p cit 220

[7] Dr.Purwadi M.Hum, Dra Enis Niken M.Hum  Dakwah Wali Songo Panji Pustaka 2007.

[8] Scholte (1927:146)


KOPI, dari Yaman,ke Guyana,ke Nusantara, dengan darah dan air mata.

•10 Juni 2013 • 2 Komentar

scan0010

Banyuwangiku Indah, kopiku berkwalitas

Jika anda ingin mendapatkan pengalaman yang sensasional cobalah lakukan  dari Jember ke Banyuwangi. Perjalanan sensasional bisa anda lakukan lewat naik kereta api maupun naik mobil. Jika naik kereta api anda akan  melewati  dua terowongan terpanjang di Indonesia . Bayangkan setelah beberapa menit kita terjebak dalam gelap , kemudian tiba tiba  muncul lembah penuh perkebunan kopi sungguh sulit dibayangkan  betapa menakjubkan. Sayang anda tidak dapat menukmati sepuasnya karena kereta api tidak berhenti ditengah perjalanan bukan? Pilihan kedua adalah naik mobil, anda akan menemui jalan berkelok kelok diantara jurang /lembah dan dinding gunung terjal …..Woooo….di Lembah Lembah yang dalam itulah pohon kopi ditanam . Kopi ditempat ini pernah menduduki posisi terhormat  didunia  dan telah diperjual belikan di London tahun 1815  .Kareana kurang perawatan pada tahun terakhir telah merosot menjadi nomer 4. Tapi keindahan dan pesona tetap sangat menawan. Dan akan lebih menawan apabila perjalanan dilakukan   di bulan Desember, ketika kopi lagi berbunga, dan harum bunganya terbawa angin, menyelimuti seluruh alam , apalagi ketika matahari sepenggalah ….wooo alangkah indahnya….

Imposible ke Gleenmoore ,Gleen Levi, Gleenfalloch naik kereta api dari Banyuwangi

Begitu indahnya , pemandangan di Lembah ini, sampai sampai orang Scotland menghadiahkan nama kotanya kepada tanah ini. Tidak tanggung tanggung , tiga sekaligus , yaitu Gleenmore  , Gleenlevi, Gleenfalloch  ( Gleen artinya Lembah , Falloch adalah mysteri binatang didanau Lochness). Inilah tempat didunia ,satu satunya yang memiliki tiga nama Scotland terindah. Jadi lakukan perjalanan kesana …..apalagi ketika anda  dimabuk /menghadapi masalah asmara.Anak saya pernah bercerita kepada temanya  orang Inggris di Singapore , bahwa dia telah seratus kali melakukan perjalanan overland  dari Banyuwangi ke Gleenmore…….Orang Inggris itu ….tertawa terbahak bahak , dan bilang IMPOSSIBLE …..dan dia katakan apakah kamu orang ajaib seperti Harry Potter …..kamu harus terbang 10 jam ke London dulu baru bisa ke Gleenmore…..Anak saya menjawab , tidak perlu . Saya cuma terbang ke Surabaya , dan naik mobil selama 6 jam , maka akan sampai ke Gleenmore. Tahun 2010 orang Inggris ini telah sampai di Gleenmore , Banyuwangi ….wooo wonderfuul…

Asmara dan Kopi

Kini Indonesia menduduki tempat ke tiga sebagai producer kopi didunia setelah Brazil dan Vietnam .                                                               Kopi sampai saat ini tak dapat dipisahkan dengan asmara sampai saat ini. Lihat anak muda memadu asmara di tempat tempat minum kopi. Sementara yang tua membicarakan kisah kisah asmara di Kopithiam atau kedai kedai kopi.Memang hanya dengan asmara  Brazilia mampu menjadi  penghasil kopi terbesar didunia atau menguasai sepertiga produksi kopi didunia setelah Perancis pada abad ke 17. Ya asmaralah yang membuat Brazil menjadi panghasil kopi terbesar didunia.

Penyebaran kopi ,penuh cucuran darah dan air mata, dalam kisah duka , dan sesekali cinta.

Pada saat itu Coffe house mulai terlihat di kota kota besar Eropa, dan di LONDON pertama kali dibuka  tahun 1652.Coffe house menjadi tempat yang bergengsi, tempat orang yang berpengaruh  bertemu, berbincang bincang . Tidak salah kiranya kalau orang mengatakan  Assuransi Lloyd’s yang terkenal itu memulai usahanya dari sebuah Coffe house.

Kopi didatangkan ke Eropa dari Yaman , di jazirah Arabia. Begitu menggiurkan hasil perdagangan kopi, maka Negara Eropa berebut menguasai perdagangan kopi.Kemashuran cita rasa kopi juga , mampu mendongkrak kesejahteraan rakyat Yaman , sekaligus mengambil peranan besar dalam perdagangan Kopi. Mereka yang tidak dapat menguasai perdagangan kopi dari  Yaman berusaha mengembangkan di tanah tanah jajahan. Banyak usaha yang dijalankan  untuk dapat mengalihkan penanaman kopi dari tanah asalnya, tetapi banyak yang gagal, hanya Perancis yang berhasil mengembangkan penanaman kopi di Guyana, di Amerika Selatan. Guyana menjadi satu satunya Negara yang mengeksport kopi keseluruh Amerika Selatan. Kebun kopi dijaga dengan amat ketat, mereka yang tertangkap membawa ranting kopi keluar perkebunan , atau membawa buah kopi yang masak , akan dihukum dengan amat berat. Kopi telah menjadi sumber pundi pundi Perancis,sehingga tidak sedikit Negara di Amerika Selatan , yang berusaha merebut perkebunan kopi di Guyana. Salah satunya  adalah Brazil.Pertempuran merebut Guyana dari tangan Perancis telah dilakukan beberapa kali.

Lelah dengan cara kekerasan , Brazil mencoba cara yang diplomatis dan asmara.

Seorang perwira militer yang gagah dan ganteng , diangkat sebagai konsuler Brazil di Guyana dan ditugaskan untuk mendapatkan pohon kopi  dengan segala cara.  Dia tidak melakukan spionase untuk mengetahui kekuatan  Perancis di Guyana , untuk kemudian menyusun strategy untuk menyerang Guyana dengan kekuatan militer penuh, tetapi dia sedang melakukan siasat tebar asmara, ke semua dara jelita dan nyonya Perancis di Guyana. Maka asmarapun menemui sasaran yang dituju, yaitu isteri pemimpin Perancis di Guyana. Ketika asmara sedang berkobar, maka apapun yang diminta pasti diberikan.Bunga kopi yang harum semerbakpun menjadi pembicaraan, maka disampaikan rasa cinta yang berkobar dari sang perwira, rasanya tidak pantas sang perwira hanya memberi hadiah hadiah permata kepada  isteri Pemimpin Perancis di Guyana , sang pujaan hati. Dia bercita cita ingin  memberikan bouquet (kembang petetan ) yang terindah didunia kepada pujaan hati, yaitu bouquet (kembang petetan) yang tersusun dari ranting pohon kopi yang penuh dengan bunga kopi yang harumnya semerbak di dunia. Rupanya asmara telah melupakan bahaya, maka istri sang pemimpinpun memberikan secarik rekomendasi agar perwira Brazil sang pujaan hati dapat memetik pohon kopi sesuka hati, agar tersusun bouquet yang indah berseri dan harum mewangi.

Ketika pohon kopi telah dipetik tak terbilang,hanya sebagian pohon kopi untuk bouquet yang yang indah . Buah kopi diganti  permata indah berwarna merah , betapa bahagianya mendapat hadiah yang mewah. Istri pemimpin yang terpesona dengan hadiah itu terlena dengan kopi yang sebagaian besar telah diselundupkan ke Brazil.Perwira itupun pulang , ke Brazil , untuk menyampaikan hasil tipuan yang gemilang. Maka akhirnya Brazil menjadi penghasil kopi terbesar didunia, 1/3 dari hasil kopi didunia . Dan sungguh cerita yang memukau tetapi juga mencederai cinta . ( sumber DEAN’S BIG  BOOK  OF ANSWERS)

Bunga kopi

bunga kopi

Kopi masuk Indonesia

Buku Thomas Stanford Raffless , Hystory of Java  bercerita tentang masuknya kopi ke Indonesia. Kopi mulai ditanam ditanah Pasundan pada zaman Gubernur Daendels.Banyak orang salah mengerti tentang Daendels. Daendels dalam sejarah disebut salah satu Gubernur Belanda. Benar tetapi ada fakta yang disembunyikan, yaitu Belanda pada saat itu dijajah Perancis dibawah daulat Napoleon Bonaparte. jadi Daendels sebenarnya bukan Gubernur Belanda tetapi dia Gubernur Prancis. Daendels adalah orang Belanda yang loyal pada Perancis, dan ketika Belanda dibebaskan Inggris dari Perancis , kelompok yang loyal pada Napoleon Bonaparte ini memisahkan diri dari Belanda dan mendirikan Kerajaan Belgia( 1830) Itulah fakta sejarah yang tertulis di sejarah buku Eropa , tetapi menjadi kabur di Indonesia.

Sebagai Gubernur Perancis ( Negeri yang menguasai dan memonopoli Kopi didunia ), maka Daendels  mulai  membuka perkebunan  Kopi di tanah Parahyangan. Seperti di Guyana maka tanaman kopi di tanah Parahyangan  dijaga dengan  ketat  . Seseorang yang diketahui membawa batang kopi atau hewan peliharaan yang memakan pohon kopi, hukumanya sangat berat. Hewannya dibunuh , dan pemiliknya disiksa dan  tidak jarang pemiliknyapun dibunuh. Sangat kejam. Tanaman Kopi di Parahyangan berhasil dengan baik dan kopi Parahyangan mengisi pasar Eropa. Hasil perkebunan inilah yang dianggap  memperkuat logistik Perancis yang berambisi menguasai Eropa dan Afrika. Bantuan Logistik dari Jawa ke Perancis harus dipatahkan . Ketika Daendels ditarik ke Eropa untuk membantu perang di Eropa.

Kopi menarik Inggris menguasai Nusantara.

Berita keberhasilan Daendels menanam kopi di Indonesia , tentu telah menyebar dengan luas dan cepat di jalur perdagangan Eropa, atau dari cerita cerita orang Yaman yang berdagang kopi dengan Inggris.Tentu hal ini sangat menghawatirkan Inggris yang saat itu sedang berperang melawan Perancis. Keberhasilan penanaman  kopi di Indonesia tentu berbahaya bagi Inggris, karena dapat memperkuat logistik dan pundi pundi Daendels untuk menyokong pendanaan perang Perancis. Tapi rupanya Nopoleon mulai kewalahan menghadapi perang di Eropah, oleh karena itu segera menarik Daendels ke Eropah.

Inggris melihat kelemahan itu. Maka kekuatan Inggris di India menggempur Jawa. Dan Jawa dapat ditaklukan dalam hitungan hari . Maka Raffless pun diangkat menjadi Letnan Gubernur di Nusantara. Raffless bergegas menyebarkan luaskan tanaman kopi dari Sumatera  sampai Ke Banyuwangi

Kopi INDONESIA  dipasarkan di London dan Eropa n Australia

Pelabuhan Banyuwangi menjadi pelabuhan export hasil perkebunan yang sangat ramai . Tahun 1814 Napoleon kalah di Waterloo oleh tentara gabungan Inggris dan Prusia. Dan Inggrispun mengembalikan Nusantara ke Belanda . Stanford Raffles menolak pengembalian ini, maka dia didemosi menjadi gubernur Bengkulu dan Banyuwangi berkedudukan di Bengkulu. Karena keyakinannya bahwa menguasai Nusantara , sangat penting untuk membangun Inggris raya , maka Stanford Raffless  bertekad menguasai jalur perdagangan yang menghubungkan Nusantara dengan negeri lain, maka Rafflesspun  membeli Singapore dari sultan Johor .  Dan  Singaporepun dengan cepat berkembang menjadi pelabuhan antara dari Nusantara dan negeri negeri lain. Sekali lagi pemerintah Inggris menekan  Raffless untuk  segera menyerahkan Bengkulu dan Banyuwangi . Tapi Raffless tetap menolak( mungkin karena Kopi?). Akhirnya tercapai kesepakatan , Bengkulu dan Banyuwangi ditukar dengan kebebasan pelayaran kapal Inggris diseluruh Nusantara terutama jalur perdagangan ke Australia . Dan Raffless dengan berlinang air mata meninggalkan Bengkulu dan Banyuwangi .

Kopi dan Perang Padri.

Perang Padri terjadi karena munculnya pertentangan kaum Ulama ( Kaum Padri) dengan kaum adat, yang sudah beragama Islam tetapi masih melakukan perjudian, nyabung ayam, madat, minuman keras, serta hukum adat yang berdasarkan matriarkat, serta longgarnya ritual formal agama Islam. Kaum adat yang kebanyakan para bangsawan menolak ajakan tersebut . Maka terjadilah Perang Pertama dari tahun 1803 sd 1825.

Ketika Nusantara beralih ke tangan Perancis dengan Gubernur Jendral Daendels, terjadilah perundingan damai. Meskipun perundingan gagal , meskipun suasana sangat panas tetapi Perang dapat dihindarkan. Tetapi saat Daendels meninggalkan Indonesia dan Inggris menyerbu Nusantara , maka Perangpun tak terhindar. Pada masa Raffless, perang telah dimenangkan Kaum Padri. Dan dimulailah penanaman Kopi di Sumatera termasuk di Minangkabau,.dan  Rafless tahun 1818 mengunjungi Pagaruyung…

Ketika Rafless meninggalkan Nusantara , dan mulai membangun Singapura, dan Belanda mulai kembali memegang kendali kekuasaan, mulai melirik perdagangan Kopi yang sangat menguntungkan , dan mulai merapat dengan kaum adat , dan mengobarkan Perang dengan janji memberikan bantuan. Keterlibatan Belanda makin memperkeruh keadaan .Karena perdagangan Kopi dikuasai Kaum Padri,maka semua serbuan Belanda dipatahkan. Disamping itu di Jawa muncul Perang Diponegoro tahun 1825 ,maka Belandapun mengajukan perdamaian.

Selama genjatan senjata , Tuanku Imam Bonjol ,Pemimpin Kaum Paderi, merangkul kaum adat sehingga tercapai perdamaian “Plakat Puncak Pato” yang mewujudkan konsensus Adat Basandi  Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.

Setelah Perang Diponegoro usai, akal licik Belanda untuk menguasai perdagangan KOPI, mengobarkan kembali Perang Padri. Dan akhirnya mengalahkan kaum Padri dengan tipu daya licik, seperti yang dilakukan pada Pangeran Diponegoro.

 Terowongan bukti ketakutan dan pemerasan  Belanda pada rakyat Blambangan.

Tahun 1817 Belanda pun kembali menguasai Jawa dalam keadaan miskin dan telah menjadi negara gagal.Para Loyalis Napoleon Bonaparte melakukan pemberontakan untuk memisahkan diri dari Belanda dan pada tahun 1830 berdirilah kerajaan Belgia dan Luxemberg. Dari tiga jajahan Belanda di dunia yang tersisa , yaitu Suriname , Madagaskar, hanya Nusantaralah paling memiliki potensi yang menjajikan yaitu perkebunan yang telah dirintis oleh Daendels ,dan Raffless. Apalagi penguasa Jawa sangat lemah ,dan hanya berpikir kedudukannya. Jika Belgia , dan Luxemberg memberontak, penguasa Jawa tunduk sepenuhnya pada Belanda. Dengan kekuasaaan yan tak terbatas Belanda kemudian menetapkan cuultur stelsel . Memerintahkan rakyat menanam tanaman perkebunan , di seluruh Jawa, dengan kerja rodi, jangankan upah, makanpun harus dipenuhi  sendiri. Penduduk Jawa tidak mampu menahan penderitaan , maka meletuslah Perang Diponegoro, perang terbesar selama masa penjajahan dan diperkirakan 200 ribu  tewas dalam siksaan Belanda.Perang Diponegoro menggema ke seluruh penjuru Jawa dan tidak mudah dipadamkan walau P.Diponegoro telah ditangkap dan dibuang ke Makasar.

Setelah Perang Diponegoro, Belanda dengan leluasa memeras bangsa Indonesia tanpa perlawanan. Kerja rodi dpergiat untuk membangun infrastruktur untuk menguras bumi Nusantara. Ke daerah perkebunan dibangun jalan raya dan kereta api.Kalo perlu menembus gunung. Tahun 1885 dibangun terowongan Rowokele Kebumen. Keberhasilan pembangunan Rowokele mendorong Belanda membangun terowongan Garakan dan Garakan pada tahun 1901 1902.. Betapa besar potensi Banyuwangi terlihat dari tekad Belanda menembus gunung Raung  dengan membuat terowongan Garakan panjang 90 m dan Mrawan sepanjang 980m serta  sebelas jembatan diantara jurang yang kedalamannya sampai 63 m.

Pembangunan terowongan ini juga mengisyaratkan ketakutan Belanda pada rakyat Blambangan dan untuk Banyuwangi harus diisolasi ,diperas sampai tinggal tulang belulang  dan diterlantarkan. Pelabuhan Banyuwangi diperkecil fungsinya . Export hasil perkebunan dipindahkan ke Surabaya. Kantor perkebunan  didirikan di Jember. Banyuwangipun terlunta. lunta . Tidak seperti didaerah Nusantara lainnya, daerah perkebunan di Banyuwangi sangat merana. Kalibaru, Gleenmore, Gleenlevis, Gleenfalloch, tidak tersentuh dari hasil kekayaan alamnya. Justru Jember yang berada di balik gunung Raung menikmati hasinya, begitu juga Surabaya. Jadi jika dibandingkan harta yang diambil dari Banyuwangi oleh Belanda dibandingkan dengan warisan Belanda di Banyuwangi ibarat menebar garam di air laut . Bayangkan tidak satu sekolah menengah  didirikan di Banyuwangi selama pada masa penjajahan Belanda.SD hanya ada di Banyuwangi . Terjadi pembodohan total

Legenda Selat Bali ( Selat antara Jawa dan Bali)

•6 Maret 2013 • 2 Komentar

 

Selat Bali tahun 1923 ketika  Kapal Pengungsi Jerman “Wismar”
berlabuh di Boom Banyuwangi
Perang : Kapal Pengungsi Jerman "Wismar"

 

Benarkah Jawa dan Bali , terbelah  pada masa Jaya Kediri  ( abad ke 9

Di Bali berkembang sebuah legenda atau mithos bahwa Bali dan Jawa sampai  masa kerajaan Kediri  adalah satu daratan yang utuh. Dan terbelah setelah masa zaman Kediri  diceritakan dalam legenda berikut.
Pada masa jaya Kerajaan Daha ( Kediri) , adalah seorang pendeta  sakti   , karena keluasan ilmunya . Pendeta itu   bernama Mpu  Sidhimantra  . Sebagai seorang  yang sakti , beliau memiliki sahabat dari seluruh machluk yang ada di bumi , dan antara lain seekor naga yang sangat sakti  bernama Naga Basukuh yang menetap digoa dekat Pura Besakih. Begitu akrabnya kedua machluk ini , sehingga terjalin persaudaraan yang amat mendalam. Sebagai seorang pendeta sakti, maka pada bulan purnama sang pandita selalu mengunjungi  kawan akrabnya naga Basukih. Pendeta selalu membawa semua makanan dan buah yang lezat di Jawa . Karena indahnya persahabatan maka Naga Basukih tidak segan segan menghadiahkan harta benda yang tersimpan didalam guanya yaitu emas dan mutu manikam.
Mpu Siddhimantra mempunyai putra yang sangat disayang yaitu Manik Angkeran . Manik Angkeran sebagai layaknya pemuda masa itu memiliki kegemaran berjudi.  Tetapi rupanya kegemaran Manik Angkeran telah merusak daya pikirnya. Sehingga berjudi telah menjadi kebiasaan yang berbahaya. Harta miliknya telah habis . Setelah itu diapun tidak segan meminta bantuan ayahnya untuk berjudi. Suatu saat Manik Angkeran  , kalah berjudi, dan harta pemberian orang tuanyapun telah ludes, tapi apa daya , dia tidak mungkin meminta uang pada ayahnya karena  Pendeta Sidhimantara sakit. Sudah sepekan dia tidak berjudi , betapa malunya dia terhadap kawan kawannya karena ternyata anak pendeta sakti yang kaya akan harta itu juga kehabisan modal untuk berjudi. Maka pikirannyapun mulai dirasuki pikiran tidak benar. Dia tahu benar bahwa ayahnya setiap bulan purnama mengunjungi kawannya Naga Basukih, dan setiap pulang dari Bali selalu membawa emas dan mutu manikam.Maka ketika mengetahui ayahnya tidak mungkin pergi ke Bali karena sakit, Manik Angkeranpun mencuri kesempatan itu . Dia membawa semua yang biasa dibawa ayahnya , lebih dari itu Manik Angkeran juga membawa Genta  sang Mpu. Ketika sampai di mulut gua di dekat Pura  Besakih maka Manik Angkeran membunyikan genta nya. Maka keluarlah sang Naga Basukih. Sang Naga sempar tekejut , karena yang datang bukan Mpu Sidhimantra , namun Manik Angkeran segera menjelaskan bahwa dia adalah putra Mpu Siddhimantra, dan memberikan bukti bahwa dia diutus ayahnya untuk sowan. Sebagai wakil ayahnya maka dia diperbolehkan membawa Genta.
Seperti biasa setelah waktu berpamitan, sang Naga Basukih pun memberikan oleh oleh untuk Mpu, berupa emas dan mutu manikam.Tetapi begitu melihat ekor sang Naga dipenuhi hiasan emas dan mutu manikam , maka pikiran jahatnya muncul. Kalo seluruh harta pemberian Naga Basukih ini kuberikan pada bapakku, maka tentu dia hanya akan mendapat bagian yang kecil. Maka tanpa berpikir panjang Manik Angkeran memotong ekor Naga Basukih ,dan kemudian melesat melarikan diri. Namun Naga Basukih sangat sakti, dalam rasa kesakitan yang amat sangat , dia kemudian menyemburkan api dari mulutnya, maka terbakarlah Manik Angkeran menjadi abu.
Sementara di Daha mpu Siddhimantra , kebingungan karena selain gentanya hilang juga Manik Angkeran tidak pulang pulang. Maka pikiran sang Mpu pun , yakin putranya sedang dalam masalah besar, maka sang Mpu menemui sahabatnya Naga Basukih. Betapa terkejutnya sang Mpu mendengar pengaduan sahabatnya tentang tingkah laku putranya. Sang Mpu memohon maaf , dan berjanji akan menyatukan kembali ekor sang Naga, dan akhirnya sang Nagapun berjanji akan menghidupkan putranya. Betapa bahagianya sang Mpu . Sang Mpupun segera menyambung kembali ekor Naga Basukih  dan sang nagapun menghidupkan kembali  Manik Angkeran .  Maka sang Mpu pun , memerintahkan putranya untuk mengabdi pada Pura Besakih sebagai pemangku  (orang suci) serta menjadi sahabat Naga Basukih.
Meskipun Manik Angkeran telah menjadi sadar dan berjanji untuk mengabdi pada Pura Besakih, tetapi sang Mpu masih khawatir dengan kawan kawannya penjudi dari Daha, yang akan datang ke bali mempengaruhi putranya , maka  sang Mpu menorehkan tongkatnya di Blambangan ( Banyuwangi) , maka terjadilah belahan yang sangat besar , dan seketika air laut dari Samodera Hindia mengisi belahan itu  yang kita kenal kemudian Selat Bali. . Maka agama Hindupun menyebar keseluruh Bali, dan oleh karena itu , untuk menghormati  jasa  Manik angkeran,  para pemangku ( orang suci) Pura Besakih harus memiliki trah Manik Ngakeran.
Cerita diatas paling tidak menyiratkan dua hal ;
1.    Bahwa orang Bali memiliki hubungan yang erat dengan masa jaya Kediri. Karena penyebar agama Hindu di bali adalah trah Manik Angkeran yang berasal dari Kediri
2.    Bahwa  orang suci Hindu telah melakukan perjalanan ke Bali ketika Bali adalah bagian daratan di Jawa.

Benarkah Selat Bali terbentuk pada masa Kediri (abad ke 10) . Kenapa legenda tersebut sama dengan legenda penyebaran Hindu ke Nusantara.....Ada apa ya ..Baca Legenda Selat Bali (Selat antara Jawa dan Bali di .http://padangulan.wordpress.com ....

Legenda  diatas sangat mirip dengan legenda atau mithologi penyebaran agama Hindu ke Nusantara.  Dalam legenda itu diceritakan adalah  seorang  pendeta suci murid Siwa ( Agastya) yang melanglang buana untuk menyebarkan agama Hindu . Maka sampailah beliau di Ujung benua Asia. Sebagai seorang pendeta suci , ketika pandangannya tertuju kelaut lepas, beliau dapat memandang gugusan kepulauan yang sangat indah , penuh daya tarik spiritual yang mengagumkan . Kepulauan itu adalah Nusantara. ( Swarnadwipa) .Dalam wangsitnya kepulauan itulah yang akan menjadi pusat spiritual dunia , dan tempat berpijak untuk menyebarkan agama Hindu keseluruh Jagat Raya.
Karena itu beliau sangat ingin mencapai kepulauan itu. Namun lautan telah menghalanginya.  Maka Sang pendetapun bertiwikrama , bersemedi memuja Siwa untuk mendapatkan petunjuk guna mencapai Nusantara.  Setelah bersemedi  maka datanglah kekuatan rohani untuk menghirup air lautan. Dan sang pendetapun menghirup air lautan , sehingga air laut yang membatasi  Nusantara dan Asia kering , dan pendeta suci Agastya  berjalan menuju Nusantara.  Dan di Nusantarapun pada abad ke tujuh berdiri kerajaan besar Hindu dari wangsa Sanjaya yang mendirikan candi megah Prambanan.  Dan pendeta a suci Agastya , diabadikan dalam patung Rsi Kumbhayoni yang perutnya buncit ( karena minum air).Archa Kumbhayoni tersimpan di Museum Gajah Jakarta.
Kemiripan cerita itu adalah penyebaran agama Hindu , dilaksanakan hanya melalui daratan . Tidak pernah menyeberang lautan. Penyebaran agama Hindu ke Nusantara, malah merupakan keajaiban , karena Sri Langka yang sangat dekat dengan kerajaan besar Hindu Tamil di India,malah beragama Budha.

Konsepsi Hindu tentang dunia.

Dalam kajian  ilmiah ternyata bentuk benua Asia termasuk Kepulauan Nusantara termasuk  Bali dan Jawa telah terpisah sejak sebelum Masehi  malah diperkirakan sekitar lima juta tahun yang lalu . Tetapi dalam legenda tadi terdapat keajaiban sehingga Asia dan Nusantara  dihubungkan oleh daratan , begitu juga  Jawa dan Bali masih menjadi satu.   Adakah alasan dibalik semua legenda tadi
Menurut DR.  Agus  Aris Munandar dalam makalahnya KEMARITIMAN MAJAPAHIT  BERDASARKAN DATA YANG TERSEDIA  dalam diskusi ROAD TO BOROBUDUR WRITERS DAN CULTURAL FESTIVAL 2013, Jum’at  1 Maret 2013  menyamaikan    Konsepsual Religius  agama Hindu tentang Jagat Raya  , sebagai berikut;
1.    Konsepsi Keagamaan: Ajaran Hindu menyatakan bahwa daratan adalah tempat penting , tempat itu dinamakan Jambhudwipa,sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan kerajaan yang bercorak Hinduismedi Jawa lebih mementingkan In Ward Looking. Dan tidak memperhatikan daerah daerah di luar Jambhudwipa.
2.    Dalam konsep Makrokosmos Hinduisme menyatakan bahwa ditengah Jambhudwipa terdapat gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta Axis Mundi antara tiga dunia ( Bhurloka , Bhuwarloka, dan Swarloka ). Bhurloka adalah bagian kaki gunung , tempat tinggal manusia, ditengah Bhuwarloka , tempat tinggal para orang suci dan para pertapa, sedang Swarloka di puncak Mahameru  terdapat sorga ,istana istana bersemayamnya para dewa ( Sudarsana). Dalam konsep ini daerah tepian pantai , laut dan lautan dianggapa derah nista dan kotor, tempat tinggal roh roh jahat, para raksasa, dan machluk rendah lainnya. Oleh karena  itu perhatian ke laut , pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas  yang disenangi oleh pemeluk agama Hindu
3.    Terdapat mitos Agastya yang menyatakan adanya larangan bagi para pendeta Hindu untuk menyeberangi lautan.
Apakah konsepsi itu , yang kemudian melahirkan legenda tersebut ?
Namun kedua cerita tersebut harus diakui betapa luar biasanya rasa seni manusia Nusantara.

BANYUALIT ( Blambangan ) ,BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN.

•13 Februari 2013 • 1 Komentar

 

[a 17th-century painting]

Dalam buku Perebutan Hegemoni Blambangan DR .Sri Margana menulis:
•    Penyerahan kawasan ini ( Java Ooesthoek yaitu Malang ,Probolinggo , Pasuruan , Blambangan , berdasarkan  klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya   jauh dari realitas politik aktual. (  41)
•    Banyualit banjir darah pada 31 Maret  1768

 

Penyerahan Java Oosthoek  dari Pakubuwana II ke VOC
Sultan Pakubuwana II ,baru berumur 15 tahun ketika diangkat menjadi Sultan Mataram( 1726 -1749) . Dia adalah putra Amangkurat III, menggantikan Amangkurat IV ( 1719 -1726). Karena masih muda dan kurang mampu dalam pemerintahan , Mataram terus  dilanda perebutan kekuasaan . Malahan pada tahun 1742 , pemberontak berhasil merebut ibukota Mataram Kartasura .Kartasura dalam keadaan hancur  luluh lantak , dan Pakubuwana II, kemudian diasingkan . Untuk merebut kembali tahtanya Pakubuwana meminta bantuan VOC dan VOC menyodorkan sebuah perjanjian yang sangat memberatkan Mataram , yaitu menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC , selama Mataram belum mampu melunasi hutang biaya perang.   Pada tahun 1743 VOC dapat menumpas pemberontak dan mendudukan kembali Pakubuwana II sebagai Sultan Mataram. Untuk melunasi hutang hutang biaya perang itulah Pakubuwana II antara lain menyerahkan Java Ooosthoek (Pasuruan , Malang, Probolinggo, Blambangan ).
DR. Sri Margana menyebut  penyerahan kawasan ini ,  berdasarkan klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya jauh dari realitas politik aktual.(Perebutan Hegemoni Blambangan  41)  Karena pada saat itu Pasruan, Malang , Probolinggo masih dikuasai oleh keturunan Untung Suropati yang tidak pernah tunduk pada kekuasaan Mataram demikian juaga Blambangan tidak pernah ditundukan oleh Mataram dan malahan  pada 1736 sampai dengan 1762 mengalami masa Kertayoga , dalam keadaan aman  makmur tentrem , kertaraharja.  ( Drs I Made Sudjana M A. Nagari Tawon Madu 35. Maka menarik untuk mengetahui sejarah Kesultanan Mataram
Kesultanan Mataram sampai Pakubuwana II
Kesultanan Mataram berasal dari suatu daerah  Kesultanan Pajang  yang disebut Bumi Mentaok  yang dihadiahkan Sultan Pajang Hadiwijaya kepada   Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam perang mengalahkan Arya Penangsang.Tahun 1584  ketika Ki Ageng Pemanahan meninggal . Sultan Pajang mengangkat putra Ki Ageng Pemanahan , Sutawijaya  yang juga putra angkatnya sebagai adipati dengan gelar “Senapati Ing Ngalaga.
Tahun 1587 , Sutawijaya memberontak pada Sultan Hadiwijaya. Ketika pasukan Pajang akan menggempur Sutawijaya , pasukan Sultan Hadiwijaya dihadang letusan gunung Merapi. Sutawijaya selamat.Sejak itu Bumi Mentaok memisahkan diri dari kesultanan Pajang , dan mendirikan kerajaan Mataram.Meskipun sebagian besar para Wali Sanga  menolak berdirinya kerajaan Mataram , berkat persetujuan Sunan Giri , kesultanan Mataram bisa berdiri.  (DR.Purwadi  Da’wah Wali Sanga) .Sutawijaya kemudian bergelar “ Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama” atau lebih dikenal Panembahan Senopati.  Tahun 1601, Panembahan Senopati wafat, kemudian digantikan  Panembahan Hanyakrawati.  Tahun 1613, Panembahan Hanyakrawati wafat digantikan putranya Pangeran Haryo Martopuro. Karena sering sakit kemudian digantikan oleh kakaknya R.Mas Rangsang. Pada tahun 1625 , Mas Rangsang menginvasi ( mengirim ) expedisi militer ke Jawa Timur , melibatkan 30 ribu prajurit. Sultan mampu menguasai sebagian besar Jawa Timur dan Madura, tetapi tidak  menaklukan kedaton Giri . Penyerbuan ke Blambangan juga kurang berhasil meskipun , Sultan Agung membawa 5000 penduduk Blambangan ke Mataram. Orang Blambangan yang dikenal sakti ( digdaya ) dijadikan percobaan senjata . Apabila senjata itu dapat melukai wong Blambangan , maka senjata itu lulus sebagai senjata sakti . Wong Blambangan juga menjadi umpan  dalam penyerangan ke Batavia pada tahun 1628 – 1629 .
Bahwa Blambangan belum dikuasai Sultan Agung , sesuai dengan pernyataan Sultan Agung yang dikutip Sir Stanford Raffless .
Thomas  Stanford Raffles mengutip pernyataan Sultan Agung bahwa , masih ada dua kerajaan yang paling berbahaya belum terkalahkan yaitu Sumedang dan Blambangan..    Thomas Stanford Rafless  Hystori of Java  509
Peta kekuasaan Sultan Agung dari Wikipedia .

Setelah menaklukan sebagian Jawa Timur dan Madura , R. Mas Rangsang menggunakan gelar “Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurachman.
Setelah menguasai sebagaian Jawa Timur dan Madura, Sultan Agung  berkoalisi dengan Kesultanan Cirebon dan Banten menyerbu VOC di Batavia. Sayang penyerbuan  mengalami kegagalan. Tetapi Mataram tetap kokoh berdiri , dan Sultan Agung meneruskan perlawanannya kepada VOC. Pada tahun 1636 sampai dengan 1640 , Sultan Agung sekali lagi menyerang Jawa Timur dan Blambangan . Penyerangan ini menurut DR .Sri Margana lebih menyerupai perampokan daripada pendudukan ( Perebutan Hegemoni Blambangan .40).  Tahun1646 Sultan Agung wafat dengan penuh kewibawaan dan digantikan putranya , dan bergelar Amangkurat I.( 1646 sd 1677).                     Berbeda dengan Sultan Agung , putra yang menggantikannya , dikenal sebagai raja TIRAN ( DR. Sri Margana . PHB 37  dan Trilogi Genduk DUKU JB . Mangunwijaya) sehingga  banyak penguasa bawahannya yang bangkit melawan raja Tiran ini.Salah satu pemberontakan yang terkenal dipimpin  Trunojoyo.  Walaupun Amangkurat I meminta bantuan VOC , namun Trunojoyo dapat menguasai keraton Mataram dan memaksa Amangkurat mengungsi dan mati di Tegalarum (1677).Sejak Amangkurat I , Mataram selalu dirundung perebutan kekuasaan yang tidak pernah berhenti .
Sebagai pengganti  diangkat  putranya sebagai Amangkurat II, karena dalam pengasingan maka kekuasaan dipegang Pangeran Puger. Pangeran Puger mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga . Tetapi Amangkurat II( 1680 – 1703) dengan bantuan VOC menurunkan Pangeran Puger. Bantuan VOC ini menurut WS Rendra dalam satu diskusi yang digagas REPUBLIKA , harus dibayar mahal, yaitu menyerahkan kewenangan maritim pantai utara Jawa ke VOC, maka sejak itulah kekuatan Maritim Jawa hancur . Disisi lain  ketidak puasan di internal juga tidak bisa diatasi dan pemberontakan tetap berlangsung.. Ketika Amangkurat II wafat dan kekuasaan diserahkan pada putranya Amangkurat III (1703).Sekali lagi Pangeran  Puger / Mas Drajat melakukan pemberontakan . Kali ini VOC mendukung Pangeran Puger sehingga dapat merebut tahta dari Amangkurat III , dan  Amangkurat III  melarikan diri ke Jawa Timur berlindung pada Adipati Untung . Pada tahun 1704  dengan bantuan VOC Pangeran Puger , diangkat sebagai Paku Buwono I  dan memburu  Amangkurat III di Jawa Timur.. Tahun 1708 , Sultan Amangkurat III ditangkap , dan dibuang ke Ceylon.  Pada tahun 1719 Pakubuwono I meninggal dan digantikan putranya dengan gelar Amangkurat IV. Putra Amangkurat III, melakukan pemberontakan .Dan dapat merebut tahta , kemudian naik tahta dengan gelar Pakubuwana II.( 1723).Pada masa Pakubuwana II, pemberontakan muncul kembali malah pemberontak dapat memakzulkan Pakubuwana II . Pakubuwana II kemudian meminta bantuan VOC , dan VOC menekan dengan perjanjian yang sangat berat ( menggadaikan kedaulatan Mataram pada VOC  selama belum melunasi hutang biaya perang ).
Pada 1743. Ibukota Kartasura dapat direbut dari tangan pemberontak dalam   keadaan luluh lantak .Karena itulah kemudian Pakubuwana II menyerahkan Java Oosthoek ( Pasuruan , Malang, Probolinggo, dan sebagian Lumajang) pada VOC. Dan
Masa penyerahan Java Oosthoek  sampai dengan Perjanjian Salatiga.
Setelah penyerahan Java Oosthoek ,  ternyata tidak serta merta membuat VOC mampu merebut daerah tersebut ,karena kuatnya kedudukan keturunan Untung Suropati  di Pasuruan , Malang , Probolinggo . Di pihak lain  Blambangan malah membangun hubungan dengan Inggris.
Disamping itu ternyata VOC tidak mampu membuat Mataram reda dari perebutan kekuasaan, walaupun VOC mengendalikan seluruh kekuasaan Mataram. Raja Mataram diangkat dan digaji oleh VOC. Kekacauan politik  , terus berlangsung . Setelah pengangkatan kembali  Pakubuwana II  oleh VOC ,P.Mangkubumi memberontak kembali  dan berlangsung selama 10 tahun sampai masa  Pakubuwanna III . Kemudian ditanda tangani  Perjanjian Giyanti pada tgl 13 Februari 1755 dan  Mataram terbelah menjadi dua yaitu  Kasunanan Surakarta. Dan Kesultanan Ngayogjakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Ngayogjakarta bergelar  Sultan Hamengkubuwono I Setiap penyelesaian peperangan , selalu mempertajam kuku kekuasaan VOC menancap tajam .Tetapi pada tahun 1757, perpecahan kembali terjadi antara R. Mas Said ( Pangeran Sambernyawa ) dengan Pakubuwono III, VOC, dan Hamengkubuwono I. Akhirnya ditanda tangani perjanjian Salatiga  , Mataram dipecah lagi . R.Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan , Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Surakarta .
Dengan demikian ,menjadi jelas pernyataan DR. Sri Margana , bahwa Mataram tidak pernah  menguasai Malang , Probolinggo , Blambangan

Pertahanan yang kuat keturunan Untung Suropati dan Blambangan.
Setelah perjanjian Salatiga 1757,  VOC mendapat dana yang cukup besar dari Mataram , persiapan menggempur Java Oostoek dimulai Ternyata persiapan penyerangan pada Java Oostoek tidaklah mudah, karena  VOC memerlukan kekuatan tempur yang sangat besar untuk menghadapi kekuatan keturunan Untung Suropati dan Blambangan yang sangat kuat.
Keturunan Untung Suropati tentu sangat menyesalkan penyerahan Java Oosthoek oleh Pakubuwana II kepada Belanda, karena ayahanda Amangkurat III , ditolong dan dilindungi oleh Suropati. Ibarat kebaikan dibalas dengan penghianatan. Karena itu keturunan Untung Suropati segera memperkuat diri.
Sementara itu  Blambangan memanfaatkan meningkatkan hubungan dengan Inggris , karena Inggris telah  terusir dari Banten ( 1600) , Jakarta, Banda (1625)maka hubungan  Blambangan dengan  Inggris sejak tahun 1600 , telah maju dengan pesat.Dan Inggris mulai menjadikan Blambangan sebagai pijakan untuk menguasai Sumatera dan Borneo.( Stanford Raffless , History of Java.140).Karena Inggris telah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Blambangan  sejak tahun 1600, maka Inggris  hanya membutuhkan pijakan di Sumatera. Semula Inggris ,berkeinginan mengikat perjanjian dengan Sultanah Aceh Zaqiyat ud din Inayat Shah, tetapi Sultanah menolak. Kemudian Inggris menghubungi kedatuan Baros dan Pariaman. Baros dan Pariaman dapat menerima tawaran tersebut , karena  VOC yang dikenal ganas  juga mulai melirik  Pariaman.Tetapi dua hari menjelang keberangkatan armada Inggris ke Pariaman , Kedatuan Bengkulu juga mengirimkan utusan ke Inggris  ,meminta Inggris dapat melindungi Bengkulu dari  penjajahan VOC . ( Untuk diingat kalau VOC  menekankan kekuasaan, sedang EIC ( Inggris) menekankan hubungan dagang. Maka Inggrispun membangun pijakan di Bengkulu. ( Alaan Harfield (1995): Bencolen : A history of the Honourable East India Company’s , Garrison  on the west coast Sumatra ( 1685 -1825). Pada tahun 1685  utusan Inggris  disambut Orang kaya Lela, dan Patih Setia raja Muda. Hubungan dagang kemudian dilanjutkan pembangunan  Garrison ( kompleks Militer)  berupa benteng , yaitu benteng Malborough dan juga membangun faktory.  ( Firdaus Burhan (1988) Bengkulu  Dalam Sejarah ).

Berita  VOC tentang  Blambangan penuh kebohongan,

Hubungan  antara VOC dengan Blambangan rupanya sejak awal telah menimbulkan ketidak senangan VOC. Kapal VOC yang singgah di Panarukan pada tanggal  17 Januari 1959 , dan berada disana selama tiga bulan tidak mendapatkan apapun.  Karena perlakuan itu kemudian VOC mengarang cerita , bahwa Blambangan dikepung pasukan Pasuruan.Dan karena itu Blambangan minta bantuan kepada Gel Gel , dan Gel Gel mengirim pasukan 20.OOO  ke Panarukan. ( Jarig Cornellis Molema , De eerste schipvart der Hollanders naar Oost Indie 1595 1597 via DR. Sri Margana , Perebutan Hegemoni Blambangn 162).Padahal berdasar sejarah Kerajaan Gel Gel , masa jaya Gel Gel dibawah  Watu renggong telah berakhir pada tahun 1550.Dan setelah itu Gel Gel merosot dan methamorphosis menjadi Klungkung. Dan Gel Gel bukanlah kerajaan Maritim . Perahu Bali pada saat itu hanya mampu memuat maximal 15 orang. Jadi tidak mungkin Gel Gel mengirim 1500 kapal , untuk tentara dan logistik. Hal ini juga tidak dipercaya oleh Drs I Made Sudjana  Nagari Tawon Madu 27).
Tetapi rupanya laporan resmi tersebut rupanya perlu ditambah fitnah yang lebih besar lagi oleh seorang  anggota armada pertama Belanda  ( Frank der does ) menulis dalam Journal 2 April 1595 sd 13 Juni 1597  dia diberitahu  oleh seorang bangsawan Blambangan bahwa bupati Pasuruan melamar putri raja Blambangan ( pada saat itu Thomas Cavendish  berada di Blambangan ) . Sang raja menerima lamaran tersebut namun setelah malam pertama ,sang putri Blambangan dibunuh oleh suaminya . Pembunuhan itu terjadi karena sang putri tidak mau masuk Islam . Berita ini juga tidak berdasar karena Thomas cavendish  ( Thomas Candish menurut I Made Sudjana MA) yang berada di Blambangan tidak pernah menulis kejadian tersebut.Menurut I Made Sudjana , Thomas Candish , penjelajah Inggris  membawa kapal dagang Preety dan Wilhems singgah di Blambangan,   selama dua minggu tinggal di Blambangan, membeli logistik , kemudian berlayar melanjutkan perjalanan ke timur.  (Drs I.Made Sudajana . Nagari Tawon Madu23)
Juga ketika VOC mengirim utusan Jeremias van Vliet menghadap susuhunan Tawangalun pada tahun 1690, untuk menjalin hubungan dengan VOC untuk membendung pengaruh Inggris yang semakin kuat ,  permintaan hubungan ini tidak ada kelanjutannya . Maka  VOC memutar balikkan fakta bahwa selat Bali rusuh dan penuh kekacauan  (Drs I Made Sudjana  Nagari Tawon Madu 62). Ternyata pernyataan itu harus ditafsirkan bahwa Ulu Pampang telah menjadi tempat yang paling sering dikunjungi kapal kapal Inggris untuk melanjutkan perjalanannya ke Timur menuju Pasir dan Banjarmasin ( Borneo)( I Made Sudjana M A , Nagari tawon Madu 60) dan tempat berkumpul pedagang Nusantara bagian Timur untuk meneruskan hubungan dagang dengan kerajaan Melayu , China  dan India.
Mereka memilih lewat lautan Hindia dan menjadikan Ulu Pampang sebagai pelabuhan persinggahan. Maka Ulupampang menjadi pelabuhan yang ramai karena menjadi  pertemuan pedagang Nusantara dan Inggris . Ini terbukti  sejak awal tahun 1600an Ulupampang mampu mengekspor , sarang burung walet seharga f 4000 , bahan lilin 10 pikul , dan beras 600 ton setiap tahun.  ( Drs I.Made Sudjana MA .Nagari Tawon Madu  22) .
Pantaslah hal itu   telah merobah  motivasi Inggris, kalau awalnya hanya sebagai tempat persinggahan maka pada tahun 1760 , Ulu Pampang /Blambangan mulai dilirik sebagai tempat berpijak. Pada tahun 1765 , konsul EIC merekomendasikan beberapa pelabuhan yang cukup tepat untuk  pendirian perwakilan perdagangan EIC , termasuk di Blambangan( DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49). Setelah itu yaitu tahun 1766 ,kehadiran kapal  Inggris semakin sering . Sebelumnya hanya sekitar 6 bulan sekali , maka mulai tahun 1766 hampir setiap bulan , bahkan kadang kadang dua kali setiap bulan , ( Drs I Made Sudjana  MA. Negara Tawon Madu 61) . Dan  pada bulan Agustus 1766 tiga kapal besar Inggris  diikuti lima kapal belas chialoup, dan dua puluh lima pecalang dan seratus kapal yang lebih kecil , membawa pelaut bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles ( DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49).  Tidak dijelaskan apa yang dilakukan oleh armada yang sangat besar ini. Tetapi Thomas Stanford Raffless menjelaskan bahwa setelah itu ,seorang berkebangsaan Inggris ,  Mr.Yesse ,mulai membangun pemukiman di Blambangan . Pemukiman itu dinilai   sangat tepat. Demikian baiknya tempat itu sehingga tempat tersebut disamakan kedudukannya dengan Pinang di Malaya.(Thomas Stanford Raffless History of Java 144).Dukungan dari pemerintah Blambangan juga sangat membantu.Selain itu , Stanford Raffless,juga memuji keberhasilan pemerintahan Blambangan . Thomas Stanford Raffless menyesalkan kegagalan pembangunan pemukiman itu, dan mengemukakan analisa bahwa kegagalan pembangunan tersebut karena pemukiman tersebut semata mata disebabkan dikhususkan untuk militer, tanpa ada pedagang profesional atau pedagang petualang yang disertakan di pemukiman tersebut. (Ho J.148)

Strategy Tumpes Kelor/Membunuh musuh sampai habis
Pembangunan pemukiman militer inilah yang memacu penyerbuan VOC ke Java Ooosthoek.Karena dengan demikian Inggris telah memiliki dua Garisson ( Kompleks Militer), satu di Bengkulu , benteng Malborough dan satu lagi di Blambangan ( diduga Inggrisan). Maka  pada tahun 1767 setelah mendapat kepastian bantuan dari Mataram, Madura ( Panembahan Cakraningrat IV),Surabaya,  maka  dibangunlah expedisi yang sangat besar untuk menggempur  keturunan Untung Suropati dan  Blambangan .
Dalam menggempur Untung Suropati , Belanda mengadopsi Strategy  Tumpes Kelor dari Mataram , yaitu membunuh habis sampai keakar akarnya seluruh keturunan Untung Suropati (  Margana 98). Rupanya pola pikiran inilah yang berlanjut dalam penyerbuan ke Blambangan.
Setelah VOC menggempur lebih dahulu keturunan Untung Suropati dan melakukan Tumpes Kelor ( membunuh sampai habis), kemudian VOC dan sekutunya melanjutkan menyerang  Blambangan. Penyerbuan ini dipimpin dipimpin Erdwiyn Blanke terdiri atas 25 buah kapal besar dan puluhan kapal kecil , yang memuat 335 serdadu Eropa, dan 3000 laskar madura, mataram, Pasuruan, menggempur Panarukan pada tanggal 27 Pebruari 1767. Setelah Panarukan bumi hangus armada Erdwiyn Blanke melaju ke Banyualit  Pemilihan Banyualit ( sekarang Blimbingasari) karena pantai ini berada di tengah kekuatan Blambangan , yaitu Toyo Arum , Kota Lateng dan Ulupampang. Banyualit menjadi ajang pertempuran armada Blambangan dilaut maupun didarat.  Blambangan kalah dalam technology dan strategy , sehingga Banyualit banjir darah. Dan jatuh ketangan VOC pada 31Maret 1767( NTM63).

VOC sekali lagi menyusun berita kebohongan yang luar biasa .

Berdasar  Surat Resmi Kapten Blanke pada Gubernur Johannes VOS 31 Maret 1767 folio 131 136  via Perebutan Hegemoni Blambangan . DR . Sri margana 64).Menyatakan bahwa di Banyualit , VOC tidak mengalami perlawanan sama sekali.  Karena orang Blambangan telah muak dengan Bali ,dan kedatangan VOC digunakan oleh orang Blambangan berontak pada orang Bali. Ketika VOC memasuki kota, mereka melihat pemandangan yang mengerikan. Terjadi pembantaian besar besaran terhadap orang Bali . Kepala manusia tersebar dimana mana, sebagian besar orang Bali. Tetapi rupanya pasukan Belanda tidak puas , dan memburu orang Bali  yang masih bersembunyi di hutan Belantara.

Adakah fakta 2 yang mendukung orang Bali menguasai Blambangan .

Pernyataan Blanke  bahwa Blambangan dikuasai orang 2 Bali tidak memiliki fakta fakta yang kuat  . Berdasarkan penelitian bahwa terhadap kerajaan Mengwi dan Buleleng didapat fakta sebagai berikut;
•    Kerajaan Mengwi mengalami   masa Jaya  ketika I Gusti Agung Ngurah Made Agung 1627 sd 1650.Pada masa ini adalah masa Tawangalun I , pelabuhan Ulu Pampang berkembang dengan cepat , kemudian mengantarkan ke masa jaya Tawangalun II. Setelah I Gusti Agung Ngurah Made Agung , Mengwipun menurun.( Sejarah kerajaan Mengwi), yang memungkinkan Buleleng berdiri pada tahun 1660.
•    Kerajaan  Buleleng mengalami masa Jaya pada I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) dalam babad Buleleng diceritakan mengusai Blambangan.( juga Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 15991680. Kayu Mas Agung 1995).Padahal pada masa ini Blambangan berada pada masa jaya dibawah Tawangalun II.Masa yang berdasarkan hasil penelitian DR. Sri Margana adalah masa jaya kerajaan Blambangan.Setelah masa itu Buleleng itu menurun malah dikuasai Mengwi .
Dari fakta itu jelas VOC telah melakukan kebohongan sejarah . Mengwi maupun Buleleng sudah tidak memiliki kekuatan apapun pada tahun 1767, malahan mereka saling bertempur satu dengan yang lain. Buleleng dan Mengwi adalah kerajaan agrarish, yang tidak memiliki kekuatan maritim. Mengwi dekat Denpasar, maupun Buleleng dekat Singaraja  sangat tidak mungkin mengerahkan armada laut, dengan kapal yang hanya bermuatan 15 orang perkapal, mengarungi arus Samudra Hindia yang ganas.
Dengan demikian , sebenarnya Kapten Blanke dengan satuan armada yang sangat besar, telah melakukan pembantaian terhadap prajurit Blambangan. Surat yang dibuatnya hanyalah  cuci tangan dan mengadu domba orang Blambangan dengan orang Bali.
Dan apa gunanya kalo VOC mendapat dukungan rakyat Blambangan , VOC membangun benteng di Banyualit
Pendirian Benteng  dan banjir darah  ke dua di Banyualit.

Untuk mempertahankan kedudukannya di Blambangan , VOC membangun benteng di Banyualit .Pembangunan benteng ini menambah kesengsaraan rakyat Blambangan . Ribuan penduduk Blambangan dipekerjakan untuk secepatnya menyelesaikan Benteng tersebut tanpa mendapat upah , dan makan . Setelah itu VOC juga membangun benteng di Ulu Pampang.  Penderitaan rakyat Blambangan tak terkirakan . Para petinggi Blambangan diwajibkan menyerahkan dua ekor kerbau, dan menyerahkan uang sebesar 3.5 gulden . ( I Made Sudjana MA . Nagari Tawon Madu .67 )

Benteng ini cukup besar , dalam kondisi yang sangat kritis Van Rijcke menggambarkan bahwa Benteng Banyualit didapat 78  sakit, 59 meninggal. Untuk mempertahankan benteng  Van Rijcke dibutuhkan  bantuan pasukan setidaknya 100 orang Eropa, dan 2000 prajurit pribumi  juga dibutuhkan dua meriam yang baik, dan 20 koyang beras dan daging sapi untuk orang orang yang sakit , lebih banyak tepung dan spek (asinan daging babi ) bagi mereka yang sehat dan juga uang tunai.  ( Kondisi tentara Kompeni di Banyualit ,folio 30 VOC 3248 Surat dinas dari Gubernur Johannes Vos pada gubernur Jendral Petrus Albertus van der Parra  21 Maret 1768 , via DR . Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 127).

Dengan melihat kondisi Benteng Banyualit , dapat diduga Benteng ini hampir sebesar benteng Malborough yang dibangun Inggris di Bengkulu.Yaitu benteng Inggris kedua yang terbesar di Asia.
Disisi lain perjoangan yang  dipimpin Wong Agung Wilis mendapat dukungan yang besar dari rakyat dan para bangsawan Blambangan pedagang Bugis, Melayu, Bali , Lombok , China . Maka pada  Maret 1768  ,setahun setelah VOC menduduki Banyualit dan Ulupampang  pasukan Wong Agung Wilis bangkit dan menyerbu benteng  Banyualit .  Sekali lagi Banyualit menjadi daerah pertempuran dahsyat .  Menghadapi serangan Wong Agung Wilis yang amat dahsyat  VOC mendatangkan bantuan dari Surabaya. Bantuan dipimpin A.Groen  membawa 13 kapal yang memuat 302 orang serdadu Eropa, 1000 orang laskar Madura, 400 orang dari Surabaya, 1700 laskar Lumajang. Benar pasukan Blambangan  kalah dan Wong Agung Wilis tertangkap , kemudian dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768. ( NTm 68).Ternyata Wong Agung Wilis dapat melepaskan diri dari Banda dan memimpin perlawanan dari Bali. Dan  semangat pertempuran Banyualit tidak pernah padam dihati  rakyat Blambangan dan  menghilhami pemberontakan P.Rempeg Jagapati , yang terkenal dengan PUPUTAN Bayu.

Banyualit digantikan Blimbingsari.

Rakyat Banyuwangi saat ini hanya mengenal Blimbingsari .  Bekas benteng VOC yang memakan ribuan  pekerja rakyat Blambangan pun hilang dari bumi , begitu juga  sejarah pertempurannya, yang menyebabkan banjir darah telah terlupakan.
Belanda begitu rapi menghapus jejaknya. Tetapi cerita kepahlawanan tidak pernah luntur dari ingatan leluhur . Walaupun jejak benteng telah dihapuskan , catatan sejarah diputar balikkan, tetapi secara pasti leluhur Blambangan masih mampu mewariskan . Seperti dikatakan Leonardo  Da Vinci , pelukis , filsafat, budayawan , scienties besar mengucapkan; Fakta sejarah tak akan pernah mati walau diabaikan.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.