
Dalam menyambut reuni emas SMA N I BANYUWANGI, mengenang masa lalu ibarat minum secangkir teh manis dipagi hari, menyenangkan, membuat pikiran dan akan melayang jauh. Ternyata banyak hal yang dapat kenang dalam reuni emas ini.
Tulisan ini, bukanlah tulisan orang yg mengenal dengan baik tentang SMA kita , apalagi ditulis setelah 47 tahun . Oleh karena itu jika kurang berkenan mohon dilengkapi, sehingga menjadi semacam Wikipedia.Jadi tulisan ini semacam trigger gituuuuuuuuuuu
Terlalu Jauh
Ketika saya klas 3 SMP rasanya SMA Negeri Banyuwangi, kurang dibicarakan di lingkungan kelas saya. Ya memang melanjutkan ke SMA masih merupakan pilihan yang berat, karena ekonomi pada saat itu sangat berat, dan apa yang didapat setelah SMA nanti tidak jelas dan apalagi nasib pegawai pada saat itu tidak menentu. Guru SD saya, menceri takan gajinya selalu terlambat dibayar sehingga timbul anekdot, gajinya dibayar tgl 35. Di samping itu letak SMA Negeri sangat jauh.dan pada jalan menanjak. Sisi lain mungkin karena usia SMA yang masih baru, bagi orang tertentu lebih baik menyekolahkan anaknya ke sekolah sekolah agama atau ke Yogja. Saya sendiri bingung menentukan akan sekolah kemana? Ibu saya sangat menginginkan saya melanjutkan sekolah, dan ketika itu ibu menyarankan saya menemui sahabat ayah seorang Tionghoa, yang sudah seperti keluarga sendiri yaitu Tanusudibyo, bapak Hary Tanusudibyo , owner RCTI . Ketika saya ketemu beliau , dia meminta saya sekolah di Surabaya, dan dia mendaftarkan saya kesekolah swasta yg bagus di Surabaya. Tetapi kemudian ibu saya meminta saya sekolah di SMA Banyuwangi ,dengan iming2 sepeda motor Zundapp. Tentu saya senang bersekolah di Banyuwangi , selain dapat sepeda motor Zundapp, saya bisa dekat dengan pacar saya………………
SMA Negeri, yang multi cultural dan plural
Mengenang SMA Negeri I Banyuwangi , 47 tahun yang lalu , adalah sekolah yang banyak memiliki kekhasan. Sekolah SMA Negeri Banyuwangi , adalah satu satunya sekolah yang ada di kabupaten Banyuwangi, dan mungkin belahan barat dari Bali pada saat itu Pemerintah memang luar biasa pemikirannya, sekolahnya berada di Banyuwangi tetapi Kepala Sekolahnya dari Bali yaitu Bpk I. Made Rempet.
SMA Negeri, pada saat itu boleh disebut sekolah yang multi cultural dan plural, siswa terdiri ber macam macam suku ( Jawa, Osing , Bali , Madura ,Sumatra, Banjardll)dan suku bangsa yaitu Tionghoa, Arab, India, Pakistan. Siswa siswa dari Bali cukup banyak saat itu. Demikian juga dengan guru yang mengajar, ada yang keturunan Arab (Pak.Hadi Balilah, Pak.Abdullah Assegaf) dan keturunan Tionghoa (Pak. Lauw Shie Hing).Saya merasakan betapa besar pengaruh multi cultural dan plural itu pada suasana pemikiran saya saat ini. Saya dengan gampang bergaul dengan bangsa lain, dan dengan enak memcernak pemikiran mereka. Apalagi wajah saya yang lebih cenderung Mongolid meskipun saya asli Jawa . Kalo saya berada di luar Indonesia, orang mengira bahwa saya sebagai Tionghoa daripada Philipino( Begitulah sangkaan orang luar kepada orang Indonesia, mudah mudahan sekarang tidak lagi).
Ada pengalaman lucu waktu saya di Singapore, ketika seorang sales perfume di toko serba ada menawari perfume , dan saya katakan, tawarkan pada istri saya dan saya tunjuk tempat istri saya , maka setiap wanita Chinese dihampiri dan ditanya apakah istri saya, tentu saja mengatakan tidak……dan ketika saya menghampiri istri saya , yang ternyata istri saya ARAB…dia sangat surprise dan tertawa terpingkal pingkal
Sekolah Diatas Bukit dan Betis yang gede gede dan Kuur Ketekuk
Seperti saya ceritakan diatas bahwa sekolah SMA terletak jauh diluar kota dengan jalan menanjak. Tidak seperti saat ini, banyak kendaraan bermotor yang siap mengantar siswa ke SMA Negeri, pada saat itu, hanya ada pilihan , jalan kaki atau naik sepeda. Meskipun saya memiliki sepeda motor , tetapi sering ada tangan yang usil ,jadi saya lebih memilih bersepeda. Maka dapat dipastikan setelah tiga tahun bersepeda betis saya dan siswa SMA membesar dan berotot.
Saya sendiri tidak habis berpikir , bagaimana mungkin bersepeda sejauh itu dengan jalan menanjak dapat kita jalani. Yang lebih hebat lagi , tentu kalo ada siswa SMA yg pacaran, sepeda beriringan berdua naik menanjak keatas, alaaaa mak begitu heibat mereka menyesuaikan irama genjotan sepedahnya. Dan ada lagi siswa siswa dari barisan Kereta api, begitu turun dari setasiun kereta api , dia melesat berjalan kaki ………luar biasa. Kalo yang ini mestinya sampai di sekolah sudah basah kuyup…….tetapi nggak bau tu.
Kalau sudah sampai di sekolah sungguh luar biasa nikmatnya, kita bisa melihat ketimur melihat laut pantai Banyuwangi dan pulau Bali.
Sekolah pada saat itu, meskipun sangat serius, tetapi banyak jam pelajaran yang kosong …tetapi bukan karena dedikasi pak dan bu .guru yang kurang , tetapi memang beliau sangat sibuk ,rapat2.
Sulit membandingkan dedikasi guru pada saat itu , dengan dedikasi pegawai pada saat ini, hidup serba kekurangan, gaji diterima tgl 35, artinya terlambat dan malahan mungkin dirapel untuk 3 bulan, sedang pekerjaan sampingan tidak ada. Sungguh luar biasa.
Kami sangat menghormati beliau, demikian juga para ibu bapak kami sepenuhnya menyerahkan kepada bapak dan ibu guru…..tanpa reserve. Tidak seperti sekarang guru sering diprotes.
Banyak kenangan indah dengan guru guru, mulai dari Pak Seno dan Pak Basuki yang bibirnya biru karena tak pernah berhenti merokok, atau pak Yitno dengan definisi Eindah ( maksudnya Indah) atau mengenang Pak.Rempet mengajar , yang sampai waktu tertentu kadang muncul dalam mimpi saya.
Jika besok ada pelajaran Pak.Rempet saya semalam suntuk menyiapkan diri belajar pelajaran beliau, tetapi begitu masuk kelas , yang muncul hanya doa, mudah2an tidak disuruh kedepan……sebab kalau disuruh kedepan dan tidak bisa, alaaaa maak, langsung kaki disepak , sambil teriak toloooollllllll.
Tetapi Alhamdulillah saya selalu selamat dan sampai saat ini saya masih canggih menghitung angka apalagi uang.
Kalau banyak pelajaran kosong, selain pulang kerumah biasanya ke boom, terutama untuk anak 2 yang kost, melihat kapal kopra dari Buton atau langsung ke Gilimanuk cari Siwalan. Kecuali Ho ( Budi Mranata) yang pergi menyebrangi hutan bakau di Kali asin…..nekat.
Kalau pulang sekolah, karena jalan menurun, biasanya bebas memilih, lewat Wisma Rini atau rumah sakit Blambangan.
Dan untuk kawan 2 yang lewat rumah sakit biasanya suka usil…….begitu lewat didepan penjara , serentak meneriakkan Kuuur Ketekuk(meniru suara burung perkutut )mengganggu penjaga yang menjaga diatas menara. ( Meskipun sebenarnya kebiasaan yang sama dilakukan anak 2anak S.T.N)
Saya jarang sekali lewat disana, tetapi suatu ketika saya lewat disana , rupanya penjaga penjara sudah bersiap siap membalas……begitu siswa SMA berteriak Kuuuur Ketekuuk maka batupun berhamburan dan kami tunggang langgang berlari……Kenangan manis yang akan kubawa sampai mati
Menghasilkan tokok Nasional dan Internasional
Dengan pendidikan yang lebih cenderung egaliter , pada masa yang sulit, serta menempuh perjalanan yang jauh dan menanjak , rupanya tanpa disadari telah mendidik siswanya menjadi tangguh, dalam menghadapi gempuran zaman. Bayangkan sekolah yang baru berdiri, untuk anak di ujung pulau Jawa ini, tanpa disangka sejak mulai alumni pertamanya telah menghasilkan tokoh Nasional maupun International. Sebut saja Brigjen Abdul Kahfi , mantan Wagub DKI, Laksamana muda M.Rusdi Maksum .mantan Waka Bakin, Boedi Mranata ( Baca Boedi Mranata putra Banyuwangi yang Sukses,) Ir Arief Yahya (oleh Koran Republika ditokohkan sebagai tokoh yang berpengaruh di Jawa Timur) dan pada saat diangkat sebagai Direktur Telkom, menjadi Direktur termuda dari seluruh BUMN , dan satu dari dua orang Indonesia yang tamatan sekolah bergengsi didunia dalam bidang Telekominikasi yaitu University of Surrey , United Kingdom .dan Ir Azam Azman ( anggota DPR RI)dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan dalam tulisan ini.
Penulis berusaha menulis otobiographi beliau, namun saat ini baru Boedi Mranata Phd Hamburg University yang bersedia.Mudah mudahan pada saatnya kelak beliau bersedia ditulis biographinya untuk motivasi generasi muda.
SELAMAT BERREUNI EMAS SAUDARAKU, DAN INDONESIA SANGAT MENANTIKAN GORESAN EMAS DARI ALUMNI SMA NEGERI I BANYUWANGI


GURU KITA, PAHLAWAN TANPA TANDA JASA…………………
Komentar Terakhir