puisi PUISI bU Sutarjianto ( Pecinta Blambangan dari Banten)

Ini sajak ibu Sutarjianto isteri mantan Walikota Jakarta Barat, bpk Sutarjianto (wong Blambangan). Meskipun beliau jalmi Banten cintanya pada Blambangan Ruar Biasa

sample_pic_01.jpg

Balada cinta lancing Blambangan seorang Man Narman

Lancing desa Keradenan melintas batas hendak babad alas di Ulupangpang,
gesit bak Wong Agung menyatukan rakyat
Diangkasa beriak kesiur arum banyu selepas perang Bayu
meski masih ada ganda sisa Kuruseta. Gagah langkah namun tak beraji tak berwatak
sontak dadak kesemsem mesem
meripat sipit lesung pipi perawan cungking
ampuh kena tuah ruh leluhur wadon gandrung Semi ,
terpana awak bersukma kaju bergayut keloyongan pada siang terang,
memagut malam mata tak bisa pejam. Menelan peraman poh matang rembulan bahkan menyantap sayur klentang lintang
tetap tak mampu lelap
sukma terharu biru setegukan wisa ular perindu.
Mimpi tanpa pulas bisa seri2an,
seolah sedia berkawin colong
sampai mandi hanyut di arus kali Setail. Man Narman tak kuat membebat gairat, menahan linglung tempurung bingung. Nekat malam itu, ya harus malam itu
saat tawang terawang bulan berpenampang dadar kuning
dia maju gandrung babak kedua,
Paju mabuk mangan racun gadung ,
kena gendam jaran goyang selendang melayang,
coba menjerat tarik belikat saling mendekat.
Dikipas ganda mistis dan tembang kembang peciring
api mumbul keubun kempul mulai ngebul Bukan sendiri, maju bareng ngerepeni berkali kali,
kian degup kendang meletup dalam suara gong
kerongga iga tertutup tekak sesak, seiring tepuk panjak kendang dan kethuk mengetuk hasrat memeluk sombong
pinggang meliuk ditengah kalang seru bayang kepayang menjilat kilatan ilat ilatan
pada punggung langsat terbuka kuning mengkilat,
penuh gugup tangan hampir menyusup ke balik getar mangkuk tengkurap, beruntung dikudang halang paman kluncing kepojok.
Olokan seakan jagung garing meledak nyaring diliput harum bedak mangir semilir tetes butir basah diwajah tambah gairah ,
masih memagut seakan mabuk serbat sesat
penuh siasat laku terlarang.
Namun niat terhalang pagar hormat pada tiara omprok emas pendita suci penuh misteri.
Masih malam itu bulan mulai gagap merayap
bahkan kala bersentuh lepas, dan lepas lagi,
Segugus bintang paju berkunang kuning terjerembab disudut panggung.
bak waktu melarut,
langit tenang dikejauhan perahu melarung dayung
tiba saat seblang subuh dini menembang sekar jenang,
merintih lirih mengiris sisa2 kelam dan kekejaman
dengan sendok daun pisang dalam campuran rujak ramonan doa,
asa dan jerit tangisan.
Man Narman kelilipan percikan parfum banyu arum.
perih amat sangat berebes mili pedih akankah segera berpisah,
adakah sepincuk sego tempong bekal sarapan jika rindu menggebu ,
adakah kopi Kali baru perasan pupur pemerah wajah untuk pengantar jenang jika terkenang .
Kemana lelatu oncor penambang gunung ijen terkesiap saat sekejap bertatap, Diam tak bersambut, diam bungkam seribu ruas meriang .
suara suara mendenging lalu lalang angan Man Narman diteras Blambangan sepanjang lurung tak beracuh. sepanjang lintasan pelabuhan boom ramai sendiri,
Angin seakan gumam kena werak punya laku.
Alun alun mematung dituangi curah cerah yang mencorong,
namun lancing Blambangan rela menyimpankan percik tekad agar tak redup mendingin.
Tak mungkin memadam padam, yakin akan ada saat gairat melesat naik kejagat,
dipelataran cita2 dan cinta mekar pasti menjadi

TRI LOGY GANDRUNG TEMU

Babak Satu

Gadis kecil Temu Misti disiang angkasa panas tanpa angin memanjat keatas pohon mahoni.

Sayup suara ruh ruh penasaran gemertak dipadang Arak2,

diantara daun2  gemersik dihutan Blauran,

diantara gaung angklung paglak, di sawah ditebing  menguning

Tak terasa berkesiur sapaan mantra

,sontak bibir merapat seakan direkat sejumput pulut  kayu santen

Dan  burung gagak berputar ditujuh atap ,

menebar waswas ada waras cemas terampas.

Tiba2 rasa lapar  terenggut  hilang  tak berimba,

dahaga hanyut tak bermuara.

Berhitung bulan dan tahun terpapar diatas tikar tak berdaya

Apa kata yang bertanya awak lunglit hanya tertinggal belulang bersaput kulit.

Apa tanya serangga dan serentang sarang laba2 temani kembang plonco

terlentang menjadi sulaman kloso

Lewati musim pancaroba ditahun kelima

gerimis idu Mbah Kar adalah penawar obat bagi yang terkapar.

Temu bangun jenggirat sehat

Mendadak kerahang makan sego janganan

semego melahap sekuali kolak radio dan rujak soto

Kemaruk pecel pitik wak Purwadi

Sudah takdir  kuntum mawar mekar ranum dipetik, ditilik Mbah Ti’ah

sekonyong  suaranya merdu sendiri,gemulai menari .

Sulur pada telapak tangan dan seluruh pembuluh ditubuh

pertanda Jebeng manis  diramal dan dirapal  jadi gandrung terkenal.

Babak dua

Tiba pada titi mangsa meniti pelangi dibilah lengkung ombak Plengkung,

Temu Misti menebar pesona serekah wangi bunga menur,

pipi berkilap Prawan Sunti, menari indah bagai Sri Tanjung memuja gusti .

Saat sampur dilempar  para pemaju mabuk khilap, menubruk angin kearah kalap.

Seiring tembang  jaran goyang , panggung gegar gempa menahan gairah gejolak terhalang

Bintang bintang berkelip pada kerdip godaan  dan jatuh berkunang kunang dimata pemaju termakan sawi beracun

.Satu suntuk setusuk malam Temu mampu tanpa berkedip, bergandrung  lincah jinjit berkelit.

Mampu menggiring malam dan burung hantu meratap nyaring. Larut kelam  selegam pasir hitam Pantai Ketapang.

Diatas panggung panjak kluncing lupa antara eling

Babak Tiga

Adalah nama  Gandrung Temu mengantar hari keteras tenar.

Kembang kehidupan mengantar ketangga pelaminan.

Relakah cunduk mentul diajak gumul dibalik hangatnya kemul?

Meski hanya seusia  api oncor nelayan  pencari ikan.

Sekali lagi ikhlas  omprok emas bertukar dandang suasa mas kawin cinta.

Cukup dua katanya membebat janji dan terjeruji ditengah rumah, entah istri sholehah, entahpun kurang istikomah

Balik kanan bubar jalan sepi bergandeng sunyi.

Balik kiri tempik sorai puja dan ramai puji .

Namun dijalan  lurus tak bersimpang, fatamorgana kilasan   bayang terang, memperdaya  yang tak berdaya dan selalu berbaik sangka. Cakram dan rekaman Senandung senja mencengkram sihir dunia .

Silau gemerlap diganda berganda.

Menangguk ribu dolar sebatas khabar, mestikah menahan duka membelai sabar?

Pada penghujung kota arah ke Watu dodol berapa pokok asem terban tak ada ganti, kelompok burung bondol telah jauh pergi. Gandrung Temu setia menunggu pengganti.

Seni tak berbatas uluran nafas.

Mengabdi ditapal batas agar seni tak terlindas roda menderas,

damba budaya tak  terhanyut surut dan kandas.

Sang Maestro salin raksukan menjadi Sayu Wiwit , panglima terdepan

 

Rindu hitam seorang Lancing Blambangan

bUAT adik Sumono Abdulhamid …..Pentas Kebo Keboan di Taman Mini Indonesia

1) Rindunya Supiie, asli dusun Krajan, rindu purba terpendam dalam danaunhijau kelam, terendam dibawah busukan daun tarum kedalon hitam. Ruh tersekap ratusan tahun bangkit pecah di Watu Kebo .Dosa apa kupikul seberat singkal yang kuhela? Tanduk kembar menancap dibilik hati bagai dibidik lading belati, rambut gimbal legam seribu lintah mengisap berdarah darah. Ragaku disandera dalam gelap lumbung duka cita. Inikah mata walang nyawang memperpanjang edar petang, kantuk terbujuk mejauh kearah ufuk, ada teriakan yang berujar kantru2 hing bisa turu , ruas2 buku lelah diharu biru guguk pungguk, berkeping harapan hilir mudik pada alunan lamunan, dilangit bulan sabit menyayat retina menderas tuba.

2) Awal segala kejadian bermula pada musim tanam di Alasmalang, Man Piie sambang sambung ikatan tradisi Blambangan. Angkasa cerah penuh rangkaian pala gumantung berseling pala kependem dan kesipir, jajan dan jenang berkelir pawai kepesta helat khalayak ramai ,ider bumi kebukit selusin tumpeng. Aku tak mungkin tersesat dipanggung pesta agung . Ragaku rela tersurup ruh kebo keboan. Salin rupa berpupur arang sepasang tanduk mencuat garang. Berlari bersama singkal dan deras pecutan, riang berkubang bersama lintah dan cacing tanah. Dewi Sri menabur berkah.
3) Awal semua kepedihan bermula dari bunyi2 keramaian, sontak menghentak siul halilintar terlontar ,Sang Dewa Nandi mengerang tegang, gadis dayang paling terdepan panik diburu hunjaman cium coretan hitam, dipagut tanduk bagai belut membelit. Separuh pingsan badannya mejadi ringan, kabut pedut memeluknya kerimbun pepohonan, tak berjejak tak bertapak ditelan hilang sang dayang tanpa pamitan.
4)Sontak bau belerang merayap turun, gendam siluman menawan perawan manis lenyap menyelinap, senyap, angin gemetar. Upacara menjelang tuntas pawang menabur tepung tawar, menyiak keramaian menutup layar. 4) Duh gusti naas aku kebo paling cemeng disengat tawon endas ,greges selebarawak golong koming noring papane awuawuan panas. Lakon Sri mulih sudah menancap jejer,namun genjer belum ditanam gedokan banjir airmata. Hidupku tak lagi pulih. Rindu sehitam getih getah karetan enjangget ditenggorokan. Kerbau jantan kena tampikan kesemsem kembang petetan. Duh pengeran,kasmaran kedanan mlebu metu alas ke alas. Selayak gila menyusur semua tepi segara. Tinggi dipaglak sawah kutabuh angklung mengundang gandrung andung2 ketapal linglung kebatas bingung. Kemana dicari tak bernama disela sela seluruh desa. Kemana kupanjat gunung berbekal sisa harumnya punggung lengo arum tanjung. Kemana semua lembah harus kurambah jika tak sempat sepatah gesah. 5) Tercatat musim berjalan jauh dan angkuh, kasih tak terengkuh, ruh melenguh menahan luruh, panjang siang mengedar terang dari ladang terbentang hingga sawah hamparan. Kubujuk remang senja agar membuka rahasia. Hanya mimpi menumpuk dipelupuk pagi dini tanpa janji2. Kalbu nista diseret hantu nestapa, sisa raga separuh nyawa bersayap lompati jendela, menyasar sekitar alam putri tidur, rumput2 liar ,kepak sayap belalang dan waktu berjalan dalam detik langkah ke detak jam berdentang. Selintas bayang samar tubuh miang kuning langsat ,desir hasrat menggelinjang. Kata dan ratap kehilangan arti harus ada, kalimat atau mantra kehilangan makna mesti ada. Tanpa ada kaberadaannya. Duhai kalbuku remukan amuk hasrat tak berbalasan. Alangkah rela padamkan saja sembur nafasku, hingga rindu hitam pupus tenggelam .Biar pelik balikan sekejap detik perjumpaan , biar ganjil tampilkan secuil pertemuan. Duh Gusti rela semua kutukar dengan akhir kehidupan bahkan peluk kematian.

 

~ oleh sumono pada 11 Januari 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: