MISTERY GANDRUNG BANYUWANGI

(adakah hubungannya wajah Mongolid dengan Cheng Ho,Ming,Sun Go Kong)

Gandrung thn 1920

Dengarlah dia menyanyikan gendingnya, “Cengkir Gading”dan menggerakan kipasnya,

lalu rakyat Blambangan yang dewasa dan masih anak-anak mengalir ke suatu tempat dan

di luar kesadaran mereka riwayat yang telah lampau diproyeksikan kembali,

irama yang gembira dari tarian Ciwa di Chidambaram, tariannya si Gandri di Cungking,

pusat dari segala-galanya, yakni dalam hati manusia. (Gandroeng Van Banjoewangi, John Scholte, 1927)

Seperti saya tulis , pada tulisan Siapakah leluhur orang Banyuwangi/Apakah wangsa Arya leluhur orang Banyuwangi, bahwa saya terkejut ketika dalam pementasan karya tari bapak Dedy Luthan pada Maret 1990”Kadung Dadi Gandrung Wis “, membawa para penabuh /nayaga dan gandrung dari Cungking yang berwajah mongolid, padahal yang diperkenalkan ayah, mbak perempuan , Kakek Lilir ( mbak lanang), orang Blambangan lebih berwajah Arya, maka dalam tulisan ini saya ingin mencapaikan hasil pelacakan saya mengenai rumpun Mongolid tersebut..

Apakah ada hubungan Cungking Banyuwangi dengan China
Dalam catatan sejarah , rumpun Mongolid telah datang ke Swarnadwipa sejak sebelum abad ke 7( Prof DR. Slamet Mulyana; Negara Kertagama dan Tafsir Sejarahnya ) kemudian disusul penyerbuan Kubilai Khan ke Singosari, adanya hubungan yang erat pada masa Sriwijaya ,dan kunjungan resmi utusan dynasti Ming ( Laksamana Cheng Ho) pada masa Majapahit, dan tentu imigrasi besar2an pada masa penjajahaan Belanda.
Tetapi masuknya rumpun Mongolid /China ke Blambangan secara besar2an, dimulai dari keterlibatan armada Cheng Ho dalam perang Paregreg dan zaman penjajahan Belanda dan Inggris.
Pada zaman penjajahan Belanda rumpun China di satukan dalam satu daerah yang kemudian kita kenal dengan Pecinan. Karena desa Cungking berada diluar Pecinan maka saya kemudian mengkonsentrasikan pada kedatangan armada Laksamana Cheng Ho.
Armada raksasa Laksamana Cheng Ho adalah armada muhibah Dynasti Ming keseluruh Asia, tepi timur Afrika , untuk misi diplomatik dan perdagangan sekaligus mengabarkan tentang direbutnya kekuasaan dari Mongol oleh Dynasti Ming.
Pada saat armada raksasa ini sampai di wilayah kerajaan Majapahit, Majapahit telah mengalami Sandya Kala/ mulai melemah, dan mulai bermunculan kerajaan2 kecil di Swarna Bumi dan,kerajaan Blambangan muncul sebagai kekuatan baru di Swarnadwipa . Dengan adanya perkembangan tersebut armada Cheng Ho di pecah menjadi dua, satu tetap menuju Majapahit (Kedaton Kulon) ,satu lagi menuju Blambangan ( Majapahit kedaton wetan).
Ketika armada Cheng Ho menuju Blambangan , amarah Majapahit tersulut, Majapahit berprasangka Laksamana Cheng Ho mendukung Blambangan untuk menghancurkan Majapahit ( Prasangka tersebut sangat wajar karena ketika R.Wijaya mendirikan Majapahit telah menghancurkan  Jayakatwang dengan menggunakan tentara Ku Bilai Khan /Tartar (Negara Krtagama)
Oleh karena itu Wikramawardana yang telah mengambil alih kekuasaan dari istrinya Kusumwardhani segera mengirim kekuatan tempur ke Blambangan dipimpin Bhre Narapati. Dalam penyergapan pada armada Laksamana Cheng Ho yang menuju Blambangann, pasukan Majapahit telah membunuh lebih dari setengah utusan dari armada Cheng Ho ,dan sisanya melarikan diri ke hutan hutan di Banyuwangi. (Diperkirakan jumlahnnya 300 orang)Oleh karena itu saya berpendapat sisa armada Laksamana Cheng Ho yang melarikan diri kepedalaman Blambangan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal wajah Mongolid orang Cungking. (Karena tindakannya ini, akhirnya Majapahit harus menelan pil pahit,, Majapahit harus membayar denda dan upeti yang sangat besar pada Dynasty Ming dan karena kesalahan memenggal kepala Bhree Wirabhumi raja Blambangan ( putra dari selir Hayamwuruk jelmaan Dewa Siwa ), maka kepala Bhree Narapatipun di penggal.( Cerita lengkapnya di  Apakah wangsa Arya leluhur orang Banyuwangi http://padangulan .wordpress)

Sayu Gringsing


S0FYAN subari , penari dan koreografer  , yang telah menari di Perancis

Mengapa Cungking.?

Chungking di Main land China bagian Selatan saat ini adalah salah satu kota modern di China dan dari kota Chung King ini pula kemudian ras Mongolid dari main land dikenal sebagai bangsa China .
Chung King didirikan oleh dynasti Ming pada abad ke 14 masehi ,merupakan ibukota kerajaan untuk menggantikan ibukota yang biasanya berada di belahan utara , sebagai usaha untuk menghindari serangan pasukan Mongol.
Sebagai kerajaan baru yang maju pesat, dynasti Ming mengirim misi muhibah raksasa yang dipimpin Laksamana Cheng Ho, maka sudah sewajarnya rombongan armada tsb menyatakan dirinya sebagai orang Chung King karena sebutan China belum muncul. Maka sisa armada Laksamana Cheng Ho yang menetap di pedalaman Banyuwangi kemudian membangun desa Cungking.
Orang Blambangan menerima dengan baik kehadiran mereka, karena mereka setidaknya pernah bersama orang Blambangan melawan gempuran Majapahit.

Kehadiran dan keterlibatan mereka di Banyuwangi diungkap oleh resident Belanda Van Wiekerman , diabad ke delapan belas, yang dalam sebuah suratnya mengemukakan keberadaan bekas istana Tawangalun. Istana Tawangalun  menurut dia dibangun  oleh arsitektur China, memiliki panjang 4.5km,tinggi 12 kaki, tebal 6 kaki dan peranan mereka juga nampak dalam perang dahsyat Wong Agung Wilis ( sedang dipersiapkanTulisan” AKHIR PERANG DAHSYAT WONG AGUNG WILIS , APAKAH PUPUTAN BAYU. ATAU DESOLATING SYSTEM ATAU GENOCIDE”?

Mystery Gandrung Cungking Banyuwangi.

Pakaian Gandrung
Pakaian Gandrung, diambil dari koleksi teman dari Belanda dengan nama alias Prijambodo Prajitno di www.djawatempodoeloe.multiply.com

Gandrung tidak mungkin dipisahkan dengan Cungking, karena didesa inilah asal mula Gandrung di Banyuwangi.Oleh karena itu sangat menarik mempelajari kehadiran Gandrung desa Cungking ini.Keberadaan Gandrung banyak menarik perhatian sejarahwan maupun budayawan dan beliau memberikan hypothesa asal mula gandrung, ada yang menyatakan berasal dari pertunjukan di zaman Majapahit, ada yang menyatakan berasal dari ritual Seblang , ada yang membahas dari namanya dll.
Ketika saya mempelajari Gandrung saya mendapatkan fakta fakta yang menggelitik untuk dicarikan rujukan yang memadai.Inilah fakta tersebut.
1.Sebuah buku yang diterbitkan Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang diprakarsai Dir.Jen Prof DR Edi Sedyawati, dan Pelaksana Prof DR Sri Hastanto mengiringi volume 7 Tradisi Musik Nusantara khusus tentang Gandrung Banyuwangi menulis sbb;
• Walaupun kini telah banyak berubah ,namun sisa sisa wajah ritual itu masih sering terlihat. Misalnya dengan gerak tari yang “aneh”.Kadang kadang gerak demikian tidak sesuai dengan dandanan dan kecantikan serta, karakteristik penari.(hal 66)
• Ketika sedang menghias diri sendiri…..ditulis sbb: Itu semua dilakukan dengan ikhlas dan riang gembira,jauh dari sikap manja yang sering dilakukan oleh para artis……Ketika ditanya tentang sikap tersebut mereka menjawab:INI ADALAH IBADAH( hal 68)
2. Seniman dan Koreografer Nasional Deddy Luthan , dalam booklet Kadung dadi Gandrung Wis suatu pembahasan yang komfrehensif , menolak asal usul gandrung dari Seblang , dan menyatakan pembahasan yang ada sekarang tidak menyentuh essensi keberadaan Gandrung. Disamping itu beliau mengungkapkan bahwa kesenian Gandrung penuh mystery dan banyak sekali yang berunsur ritual.dan Inilah petikan tulisan beliau.
• Sewaktu melagukan puisi delapan bait, baik dibabak pertama maupun babak Seblang .Gandrung tidak menari sebagaimana layaknya namun yang disuguhkan berupa” pantomin” serta hanya diiringi oleh alat musik pembawa melodi ,seperti biola……..dan ketika biola belum digunakan ,….melodi tersebut didendangkan melalui mulut.( tahun 1939) hal 14
• Pada umumnya para pengamat kesenian ini pendapatnya tidak jauh berbeda dengan Joh Scholte ( penulis Belanda yang menulis “ Gandroeng Van Banyuwangi)bahwa sastra ( Syair)yang dibawa gandrung bersifat erotik………Mengomentari pendapat ini,beliau menulis bahwa hal tersebut tidak benar …bagaimana bisa mengatakan tergolong erotis mengingat untuk bisa mengerti maksudnya (Syair yg dinyanyikan dalam Seblang )saja sedemikian sulit”(hal 17). Bapak Dedy Luthan mencoba memberi contoh bagaimana sulitnya memahami dan menterjemahkan Sekar Jenang (nyanyian dalam Seblang) .Penulis juga mencoba melacaknya , syair yang dinyanyikan Gandrung pada saat Seblang dengan menggunakan Kamus Bahasa Osing ,karya Hasan Ali, tetapi hasilnyapun sama………artinya sulit memahami syair tersebut. Pada hal 19 beliau menanggapi penulis yang menyatakan nyanyian pada babak kedua(Paju) tidak mengarah dan tidak berbobot. Beliau membantah .Pada hal pada masa lampau pantun pantun yang memadati gending yang diminta pemaju sangat besar artinya untuk memberi ; pengarahan ,peringatan,nasehat yang menyangkut kegiatan sehari hari pada masyarakat, baik mengenai cinta kasih, rumah tangga, pertanian, pendidikan, agama dsbnya.
3.Pakaian gandrung yang formal yang disertai mahkota menurut penulis juga menimbulkan pertanyaan besar ,mengingat pakaian semacam itu juga tidak ditemui pada penari penghibur sepert Ronggeng ,Tayub, Legong Bali, atau tari hiburan lainnya di Nusantara, , juga tidak memperlihatkan pengaruh Bali /Jawa seperti pada umumnya kesenian yang ada di Banyuwangi..
Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin sebuah budaya rural /pedalaman mengenal pakaian se formal dan sebagus itu ?

Gandrung dan kebudayaan yang dibawa armada Cheng Ho                                                                                                                                                                                                Ketika saya training ke Jepang, saya melihat gerakan yang dilakukan oleh bhiksu di Kuil2 Budha ternyata sama dengan yang saya lihat pada tarian gandrung sepuh ( patah2, atau pantomin) dalam pementasan Bpk Dedy Luthan maupun , yaitu gerakan mengangkat tangan setinggi muka, sambil menunduk, dan menekukan lutut kaki dengan mengucapkan Ami Tabha.Begitu juga saya melihat gerakan itu di Korea, Hong Kong ,Malaysia, dan juga saya temui pada tetangga anak saya di Singapore seorang penganut Budha yang saleh .Oleh karena itu saya melacak gerakan tersebut pada khasanah Budhis apalagi setelah ditemukan penemuan patung Budha di gumuk Tingkil Banyuwangi.

Ternyata pada Dynasti Ming., agama Budha berkembang sangat pesat.
Dan pada masa ini ditulis karya sastra yang monumental/besar “Shi Yu” oleh Pujangga Wu Cheng , sebuah novel yang menceritakan perjalanan Bhiksu Budha Thon Sam Chong mencari kitab suci Budha . Novel ini memberi inspirasi dan motivasi kepada bangsa China sejak karya itu ditulis maupun sampai saat ini dimanapun bangsa China berada.
Oleh karena itu karya pujangga Wu Cheng . “Shi You” , dapat dipastikan menjadi mantera atau trigger yang sangat kuat pada armada Laksamana Cheng Ho dalam melakukan muhibah yang spektakular itu, mereka tidak saja mengerti dan menghayati novel tersebut, tetapi mereka juga mengagumi dan mengabadikan karya sastra tersebut.
Dalam pustaka modern novel tersebut dikenal dengan “Journey to the west”, sedang orang China saat ini mengenalnya sebagai Sun Go Kong/ Cerita Monyet yang Lincah.
Sayang dalam cerita yang berkembang sekarang ini justru peran Bhiksu Tong/ Thon Sang Chong kurang diperhatikan. , dan yang diperhatikan malah Sun Go Kong (Monyet Lincah itu), padahal monyet ,babi dll yang mengiringi perjalanan bhiksu Thon Sang Chong, sebenarnya hanya visualisasi /fable dari watak yang dimiliki manusia.
Tetapi rupanya rombongan armada Laksamana Cheng Ho, yang tertinggal di Cungking Banyuwangi, tetap mempertahankan dengan sekuat hati inti cerita tsb , dengan mempertahankan peran utama bhiksu Thon, dalam drama tari yang indah meskipun menghadapi gempuran zaman, dalam bentuk transformasi budaya yaitu “ Gandrung ‘” Banyuwangi.
Inilah persamaan Gandrung Banyuwangi dan karya sastra pujangga Wu Cheng “ Shi Yu’
1. Pakaian yang digunakan sangat mirip dengan pakaian Bhiksu tingkat tinggi yang memimpin upacara. Pakaian itu tentu mengalami anomaly dan distorsi maupun penyesuaian. Tetapi ciri pakaian Bhiksu China / pakaian drama China masih nampak jelas.
2. Gandrung , dan novel” SHI YU” , keduanya terdiri tiga babak.

Pada babak pertama Biksu Thong melakukan sembah berpamitan kepada seluruh ummat dan penguasa untuk minta restu melakukan perjalanan, yang antara lain dilakukan dengan mengangkat tangan setinggi muka dan menekukan kaki sambil mengucapkan syair pujian, sedang gandrung pada Jejer juga melakukan gerakan pantomin/patah adengan suasana khusyuk yang hanya diiringi melody dengan syair yang masih sulit dipahami , kecuali lagu pembukaan “Pada Nonton”.

Pada babak kedua novel “ Shi Yu” , menceritakan bhiksu Thong mendapat ,serangan, gangguan mulai dari musuh , perampok ganas yang tidak menginginkan suksesnya perjalanan tersebut,tetapi bhiksu Thong tetap mengajak mereka pada jalan kebaikan ,sedang dalam Gandrung ,babak kedua Paju adalah kesempatan para penonton memamerkan kemampuan silat baik kepada Gandrung maupun antara penonton dengan penonton disertai syair nasehat dan pengarahan .Hanya pada zaman Belanda babak ini terjadi distorsi dan anomaly, gerak pertempuran menjadi gerak rayuan dan syair nasehat dan pengarahan menjadi syair erotis . Hal ini bisa dipahami karena di Cungking/Glagah pada zaman Belanda menjadi tempat tahanan /celong para pemberontak/ preman /bajingan yang berasal dari seluruh Indonesia, dan ketika itu mereka menganggap kesenian gandrung (Gandrung Lanang)sebagai tarian hiburan dan lebih parah lagi ketika pejabat Belanda(1895) memaksa mbak Midah perias gandrung,untuk menampilkan putrinya Semi sebagai gandrung yang menghibur ,(era gandrung perempuan) .

Pada babak ketiga novel “Shi Yu” bhiksu Tong telah menemukan Kitab Suci/SUTERA Budha dan mulai membacakan syair SUTERA kepada ummatnya, sedang pada Gandrung, babak ketiga /Seblang, dilantunkan syair yang mendayu, mengharu biru, tanpa iringan musik, membuat suasana syahdu,sehingga gandrung, pemanjak/niyogo dan menonton duduk tafakur.( mbak perempuan selalu mengajak saya menonton babak ini, beiau duduk menangis tersedu sedu….dan menerangkanbahwa dia sedang mohon ampun pada Yang Maha Kuasa).

Inilah salah satu kutipan lagu SEKAR JENANG pada buku repertoirnya.

Sekar sekar Jenang  .Maondang dadari kuning

Temuruno ageng alit .Kaulo nyuwun Sepuro

Layar layar kumendung .Ombak umbul ring segoro

Segorone tuan Agung .Tumenggung numpak kereto

Lilir liliro kantun.Sang kantun liliro putro

Sapanen dayoh riko.Mbok srungkubo milu tomo

Lilir lilir gile.Sabuk cinde ring gurise

Kakang kakang ngeliliro.Sawah bondo ring seloko

Terjemahan bebas dari penulis

Kuletakan bunga persembahan.Ketika purnama  sedang penuh

Duhai saudaraku .Dengarlah permohonan maaf saya

Ketika fajar pagi menembus awan.Ombak dilautan bergelombang tenang

Lautan menampakkan kebesarannnya.Layaknya seorang pembesar naik kereta

Janganlah  pernah berputus asa.Dikaulah yang mampu membangkitkan

Kembangkan tanganmu , menerima kebaikan.Pegang teguh ,keutamaan

Bangkit bangkitlah segera.Berita kemegahan telah Nampak

Duhai saudaraku bangkitlah.Kemakmuran adalah harapan kita.

Karena itu pantaslah seorang seniman nasional Bpk Dedy Luthan kesulitan menerjemahkan maksudnya yang dikandung dalam syair di Seblang,karena ini adalah bahasa kitab suci Budha./Sutera. Maka jelaslah sudah makna kata kata penari Gandrung Cungking, ketika diwawancara pejabat Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film,bahwa menari Gandrung ini adalah IBADAH. Dia akan tetap melakukan walau hal itu tanpa merubah nasibnya dari himpitan hidup dan tiada penghargaan dari khalayak.Meskipun dia tidak mengerti syair tsb , tetapi nilai nilai akan tetap mengalir dalam hatinya, dan terwariskan .

Kesimpulan.
1.Berdasarkan argument tersebut diatas , saya berhypotesa bahwa penduduk Cungking Banyuwangi, adalah sisa 2 prajurit yang mengiringi Laksamana Cheng Ho, yang terjebak dalam perang Paregreg, dan tidak dapat kembali ke Chung King, kemudian menetap di Banyuwangi. Sebagai bagian utusan muhibah Dynasti Ming, sebuah kerajaan yang besar mereka tetap memelihara kebudayaannnya yang berasal dari novel monumental pujangga Wu Cheng “ Shi Yu” dalam bentuk drama tari tunggal “ Gandrung”.
Drama tari ini tetap dipertahankan walau mendapat gempuran budaya dari ,orang yang ditahan/dicelong Belanda didaerah Glagah, maupun penjajah Belanda yang tidak memahami tari gandrung. Karena image yang jelek ini penduduk Banyuwangi juga melakukan hal yang sama .
Tetapi karena kesenian Gandrung adalah bagian dari sejarah orang Cungking, dan nilai kehidupannya maka kesenian tersebut tetap exist sampai saat ini. Maka benarlah theory tentang Kebudayaan/ Kesenian yang menyatakan bahwa kesenian yang mempunyai nilai hystoris dan menyangkut nilai , akan tetap exist walau dunia telah berubah dan tidak ada seorang penontonpun yang melihatnya.
2.Dengan dua tulisan ( Apakah wangsa Arya leluhur orang Banyuwangi dan tulisan ini) ,maka di Banyuwangi ada dua suku penduduk asli yang masih terlacak sumbernya. Orang Cungking yang berasal sisa armada Laksamana Cheng Ho dan orang asli Blambangan.( sedang dipersiapkan tulisan” Transformasi orang asli Blambangan menjadi orang Banyuwangi , study kasus desa Alasmalang)

~ oleh sumono pada 20 Juni 2010.

27 Tanggapan to “MISTERY GANDRUNG BANYUWANGI”

  1. Hasan Sentot ‘Hansen’ commented on his note ”

    “Kesuwun Kang SAH, bek ilmu thok isine. Iki buru ilmiah,”

    Reply to this email to comment on this note.

    To see the comment thread, follow the link below:
    http://www.facebook.com/n/?note.php&note_id=96990497037&comments&mid=28825fdG6db2ae9fGb1ed2aG12&n_m=sumono_ah%40yahoo.co.id

    Thanks,
    The Facebook Team

  2. Ini coment DR. Boedi Mranata dalam pembicaraan telepon

    •Nama Cungking , sesuai dengan yang saya terima para orang tua ( Karena kakek saya tinggal di Cungking), berasal dari komunitas yang tinggal disana yang memiliki kuncung/kuncir di wingking. Jumlah mereka cukup banyak , mereka telah tinggal disana , mungkin sejak ratusan tahun.
    •Tentang Gandrung, sesuai yang saya tahu, sebelum mengadakan pertunjukan dia melakukan ritual khusus, mengingat Gandrung harus menari semalam suntuk ,dan tidak diperbolehkan meninggalkan panggung untuk keperluan apapun termasuk buang hajat kecil.
    •Saya juga tidak pernah melihat pertujukan Seblang di Cungking.
    .Penari gandrung selalu turun temurun.

    • Dik Budi , memang telah menjadi tradisi orang China menggunakan KUNCIR…….perjoangan untuk menghilangkan kuncir ini….dimulai sejak pergerakan DR. Sun Yat Sen…..illustrasi perjoangan para pencetus gerakan modern ini …..bisa dibaca di BUMI Manusia karangan Pramudya Ananta Toer.

  3. Byek,, gak tau ngawur apa tidak spertinya analisa di atas ada benarnya,, biksu Tong juga pakai omprok/mahkota,, tapi mengapa pake’ kaos kaki y penarinya,,he
    dan saya tidak menampik bahwa nom alias paklek ibu saya,, saya panggilny anang,, bermata sipit mongoloid ,, saya pun juga sipit,,he

    • Endane ngawur dik……pakai study literatuur paran. Rong minggu yang lalu , saya dan anak cucu saya ke Hongkong , macao, kowlon dan Bangkok….dan paling seneng ngunjungi bangunan kuno artinya klenteng…..ternyata anak saya terkejut (umur 35 tahun) lagu pujian budha dikira lagu Banyuwangi……walaupun di Dysneyland Hong Kong , kadung sampeyan ke Adventure Land ….juga akan mendengar patrol Banyuwangi

      • The seven voyages ( admiral Cheng HO )are as listed.

        1st Voyage 1405-1407 Champa, JAVA, Palembang, Malacca, Aru, Sumatra, Lambri, Ceylon, Kollam, Cochin, Calicut

        2nd Voyage 1407-1409 Champa, JAVA, Siam, Cochin, Ceylon

        3rd Voyage 1409-1411 Champa, JAVA, Malacca, Sumatra, Ceylon, Quilon, Cochin, Calicut, Siam, Lambri, Kaya, Coimbatore, Puttanpur

        4th Voyage 1413-1415 Champa, JAVA, Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Cochin, Calicut, Kayal, Pahang, Kelantan, Aru, Lambri, Hormuz, Maldives, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden, Muscat, Dhufar

        5th Voyage 1416-1419 Champa, Pahang, Java, Malacca, Sumatra, Lambri, Ceylon, Sharwayn, Cochin, Calicut, Hormuz, Maldives, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden

        6th Voyage 1421-1422 Hormuz, East Africa, countries of the Arabian Peninsula

        7th Voyage 1430-1433 Champa, JAVA.Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Calicut, Hormuz… (17 politics in total)

  4. Matur ksuwun man, kulo tumut kopas teng blog kulo malih, mugi saghet mbantu bocah nom-noman using hang tasik déréng semerep soal sejyarah kiyambek,termasuk koyo kulo nikai.. matur suwun nggih..?!

  5. Dalam bukunya ” Tionghoa dalam pusaran Politik” Benny G.Setiono, mengutip tulisan Prof Kong YUanzhi “Muslim Tionghoa Cheng Ho, Mystery Perjalanan Muhibah di Nusantara ” …….sxpedisi ini telah menjadikan Laksamana Cheng Ho di puja puja dan pada tahun 1431 diberi gelar Sam Po Tay Jin/Sam po kong/Sam Po Toa lang/Sam Po Bo ……DEWA TIGA PUSAKA yaitu BUDHA DHARMASANGHA… INI BERHUBUNGAN DENGAN AGAMA BUDHA, SEBAB DALAM ROMBONGAN CHENG HO IKUT PULA TIGA PUSAKA BUDHA YAITU BUDHA, BIKSU ,DAN KITAB SUCI BUDHA.(hal 30)

    Pada hal 33, Benny G.Setiono, menulis….tentang legenda Wang JingHong pembantu utama Cheng Ho , yang terpaksa ditinggal di Semarang karena sakit…..telah mengajarkan mengolah tanah ( Bertani) disamping berdagang emas….dan dihal 42…Peralatan membajak sawah yang dikenal LU KU di Jawa ,adalah peralatan yang diperkenalkan oleh rombongan armada Cheng Ho di Jawa….dan kata LU KU adalah bahasa HOKkian yang diadaptasi orang Jawa…..cerita ini persis dengan legenda mbah Cungking….seorang sakti yang memiliki kepandaian bertani, sawahnya subur dan tumbuh cepat….dan di Cungking masih terpelihara kandang kebo mbah cungking , dengan peninggalan endog kebo….dan kebo di Baluran diyakini sebagai keturunan kebo mbah Cung King.

  6. SIR STANFORD RAFFLES , LETNAN JENDRAL , GUBERNUR nUSANTARA, menulis dalam bukunya HYSTORY OF JAVA , sebuah buku yang diakui sebagai masterpiece sejarah Jawa menulis, pada hal 395 , bahwa di Banyuwangi ditenmukan patung dewa dewa yang amat menakjubkan yang tidak ada padanannya di Jawa maupun Bali.

  7. semuanya ada benarnya……coba kita laki2nya pakai jubah…di kepala kita pakai mahkota gandrung Banyuwangi……( kayak laksamana ceng ho….hehehehehe…..

  8. Cungking nopo cangkring, pecinan nopo pasinan? lek Cungking kaleh pecinan niku teng pundi Pak?

  9. Cungking dik ….di jln Brawijaya ada jln ke Barat dekat setasiun Karang Asem. Pecinan dekat setasiun lama atau Karangrejo.

  10. tulisan yang bagus, terima kasih

  11. Byek… Apik temenan tulisan riko kang ksuwun yo kang..

  12. tapi kadung hang arane “gandrung ono unsur erotise” iku mageh samar2 tah salah kang?isun mung masteka’en baen,

    • Semua dimulai dari Dasar Dasar Berpikir ( Mind Set), sejak kecil ayah saya meyakinkan saya ada peradaban besar di Blambangan ,dan dalam hal Gandrung saya mengalami sentuhan rochani dari nenek saya ketika setiap fajar nonton Seblang dan melihat nenek dan penonton wanita menangis dan laki laki merenung….kemudian membaca buku buku yang menulis tentang adanya muatan ritual , juga ketemu para sesepuh yang melakukan ritual itu……kemudian membandingkan dengan buku cerita klasik dinasty Ming, Journey to the West, mengunjungi kuil2 Budhist, dan mempraktekan lagu gandrung untuk relaksasi…….malahan pernah saya praktekan langsung dengan Gandrung Temu waktu tampil sebagai Maestro di Taman Ismail Marzuki ( Tapi gandrung Temu tidak tahu ), saya minta gandrung Temu menyanyikan lagu sesuai masalah yang saya hadapi , saya posisikan Gandrung Temu seperti layaknya seorang yang berwibawa yang sedang mencerahkan hidup saya …….yang terjadi Sahuni seniman /budayawan Banyuwangi , pak Abdul Kahpi, Pak Sutarjianto, heran bagaimana mungkin saya menari dengan baik dan santun , satu lagu penuh, dan saya turun dari panggung dengan perasaan plong ,cerah , seger……sampai ada komentar, batuk ono cemengnya , tapi kari apik maju gandrung …..hehehe

  13. bek..mungguo katah tiang bwi hang peduli ambi sjarah kados ndiko,nawi tambyah sae nawi nggeh..? kulo antani tulisane male Kang..SEMANGAT MAJU TERUS ,NGGALI SEJARAH BELAMBANGAN..

  14. jadi kepengen studi kasus disana juga gan,😀

  15. banyuwangi is the best deh,,,,

  16. Istimewa pak tulisan anda..salut atas budaya berbagi nya..hehehe…mungkin ada contact yg bisa saya hubungi untuk sekedar bertanya2 soal gandrung dan informasi tentang buku yang mengkaji tentang gandrung, soalnya skripsi saya ngambil tema estetika gandrung…mohon infonya bapak…trimakasih

    • Mohon maaf baru bisa membalas.Dua tokoh yang sangat intens menekuni gandrung telah meninggal yaitu bapak Fatrah Abbal Banyuwangi dan DR Deddy Luthan Jakarta. Saya sarankan coba menghubungi pak Sumitro sanggar Jinggo Putih Gladak Rogojampi. Mohon maaf tulisan saya ini memunculkan hipothesa baru…..karena methode pendekatannya berbeda. …saya mencoba membedah dari helicopter view baru masuk ke focus bahasan. Itu yang selalu saya lakukan sebagai diaspora Banyuwangi ….setelah melakukan perjalanan ke berbagai daerah dan negara. Menulis dari sudut pandang yang berbeda….menggunakan sumber yang berbeda….. Ternyata Blambangan sebagai bagian Majapahit sangat besar dan harum namanya. Dan kerajaan ini tetap exist ketika Majapahit runtuh…. Bagian kerajaan Majapahit yang disebut Andalan Baginda (Negara Krtagama). Diakui sebagai kerajaan tersendiri oleh Kaisar Ming…sebagai Majapahit Kedaton Wetan. (1406). Diakui sebagai mulia dan agung (1515 Summa Oriental Tome Pires)…Memiliki hubungan yang luas dengan Portugal dan The Great Britain. Para diasporanya memiliki peranan yang sangat besar dalam sejarah ( Sunan Giri ). Dang Hyang Nirartha di Bali. Ki Lanang Dangiran….di Surabaya. Dan VOC harus mengirimkan kekuatan yang sangat besar untuk mengalahkan dalam perang tersadis sepanjang sejarah….dan semua artefak dihancurkan sampai sejarahnya gelap…hitam pekat….tapi toch masih bertahan dengan kesederhaan……Saya berpendapat pasti ada peradaban besar yang jadi fondasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: