Kebo Keboan Banyuwangi kaitannya dengan Blambangan

 Sumono Abdulhamid



Ritual Kebo Keboan

Ritual Kebo-keboan adalah prosesi upacara di desa desa  Banyuwangi ,dan dalam perayaan tersebut para pelaku berdandan   seperti kerbau dan berperi laku seperti kerbau . Dalam prosesi itu dipergelarkan fungsi kerbau dalam membantu petani ,dalam membajak sawah. Tempat membajak sawah tidak harus disawah, tetapi bisa di jalan desa atau ditanah lapang yang sudah diairi lebih dahulu, tergantung kesepakatan para pemangku desa. Prosesi ini dilaksanakan pada bulan Suro, antara tanggal satu atau sepuluh, tetapi pada akhir akhir ini disesuaikan dengan hari libur nasional.Desa desa penyelenggara ritual Kebo Keboan pada masa sampai dengan tahun 50an  kebanyakan terletak dalam cakupan bekas bekas istana terakhir kerajaan Blambangan, yaitu Bayu ,Macan Putih, Kota Lateng,( Golden Triangle ibu nagari terakhir Blambangan), karena pada daerah inilah sebenarnya tradisi dan adat istiadat, peradaban Blambangan, masih tersimpan rapi ibarat harta pusaka yang sangat bernilai. Desa itu adalah Aliyan, Alasmalang ( Wonorekso), Gladak, Lemahbang dewo, Watukebo, Tambong, Bubuk , dll.Ritual ini semula menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi leluhur, oleh karena itu pembiayaannya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat desa.Tetapi mengingat tingkat kesejahteraan masyarakat , serta pengaruh budaya modern yang pragmatis, maka sejak tahun 60an penyelenggara Kebo Keboan di Banyuwangi mulai berkurang, dan hilang pada masa Orde Baru. Setelah reformasi tradisi Kebo Keboan , muncul kembali didesa Alasmalang, berkat usaha Seniman Budayawan Sahuni, menggandeng salah satu TV Swasta untuk menghidupkan tradisi tersebut . Sejak itulah penyelenggaraan Kebo Keboan , mendapat dukungan sponsor .

Adakah prosesi itu berkaitan dengan peradaban masa Kerajaan Blambangan??

Jika kita menanyakan pada para pemangku adat didesa tersebut tentang asal usul ritual Kebo Keboan, mereka pasti hanya menjawab bahwa mereka melaksanakan itu karena para sesepuh mereka telah melaksanakan ritual itu, dan mereka mengikuti acara  ritual itu, sebagai kepatuhan kepada adat yang telah berlaku, dan berharap agar tidak ada musibah di desa mereka.

Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar ,karena desa desa penyelenggara itu, masyarakatnya telah menjadi muslim, yang taat. Dalam khasanah peradaban Islam tentu  tidak ada ritual seperti itu. Pada sisi lain , desa penyelenggara Kebo Keboan merupakan desa desa kuno  ( desa desa yang telah ada sejak pada abad ke 17)[1] Mungkinkah penyelenggaraan Kebo Keboan memiliki  kaitan pada masa kuno kerajaan Blambangan ? 

Dibawah ini , daftar nama desa dan  nama Lurah pada abad 17 sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu, dan catatan sensus penduduk oleh VOC seperti ditulis Dr( Leiden) Sri Margana dalam Java Last Frontier , masih sama dengan nama yg biasa digunakan pada masa Singosari,
Dhadhap (Kidang Wulung),= Dadapan
Rewah-Sanji (Kidang Wulung )                                                                                                 Suba/Kuwu (Kidang Wulung), =Sobo
Songgon (Ki Sapi Gemarang), = Songgon
Tulah (Ki Lempu Putih), =
Kadhu (Ki Sidamarga), =
Derwana (Ki Kendit Mimang),=Derwono
Mumbul (Ki Rujak Sentul),=
Tembelang (Ki Lembupasangan), =Tembelang
Bareng (Ki Kuda Kedhapan),=Bareng
Balungbang (Ki Sumur Gumuling), =Belumbang
Lemahbang (Ki Suranata),= Lemahbang
Gitik (Ki Rujak Watu),= Gitik
Banglor (Ki Suragati),=
Labancina (Ki Rujak Sinte),=Labancina
Kabat (Ki Pandholan),= Kabat
Kapongpongan (Ki Kamengan),=Popongan
Welaran ( Ki Jeladri),=Welaran ( Banyuwangi  Jln Panderejo ?)
Tambong (Ki Reksa), = Tambong
Bayalangun (Ki Sukanandi), =Boyolangu
Desa Penataban (Ki Singadulan),= Penataban
Majarata (Ki Maesandanu),=Mojoroto
Cungking (Ki Jangkrik Suthil),= Cungking
Jelun (Ki Lembu Singa),= Jelun
Banjar (Ki Bakul).=
Desa Pegambuiran (Ki Serandil),=Gambiran ?
Ngandong (Ki Seja),= Andong
Cendana (Ki Kebo Waleri),=
Kebakan (Ki Kebo Waluratu),=
Cekar (Ki Gundol), =
Gagenteng (Ki Kudha Serati),= Genteng
Kadhal (Ki Jaran Sukah),=
Sembulung (Ki Gagak Sitra),= Sembulungan
Jajar (Ki Gajah Anguli), =Jajag
Benculuk (Ki Macan Jingga),Benculuk
Pelancahan (Ki Butangerik)=
Keradenan (Ki Jala Sutra),=Keradenan
Gelintang (Ki Maesagethuk), =
Grajagan (Ki Caranggesing).= Grajagan
Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan),=
Lalerangan (Ki Menjangan Kanin),=Larangan , sekarang bagian dusun Alasmalng
Mamelik (Ki Surya), = Melik
Papencan (Ki Bantheng Kanin),=
Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan),=
Repuwan (Ki Butānguri),=
Rerampan (Ki Kidang Bunto),=Rampan
Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).=Singolatren
Jongnila (Ki Gagakngalup)=
Konsul (Ki Maesasura).=
Bubuk (Ki Marga-Supana),= Gubuk
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=Gebang
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=
Gambor (Ki Bajuldahadhi),=Gambor
Gembelang (Ki Butakorean),=
Muncar (Ki Genok),=Muncar
Bama (Ki Baluran),= Bomo
Geladhag (Ki Margorupit), Gladag
Susuhan ( Ki Tambakboyo),=Susukan
Ngalian (Ki Kidang-Garingsing)=Alian
Tamansari (Ki Gajah Metha),=Tamansari
Danasuke (Ki Kebowadhuk),=Donosuko
Kalisuca (Ki Jaransari).

Penistaan ( Character Assasination)  penguasa terhadap rakyat Blambangan.

Untuk mengetahui ini maka tentu kita harus melacak tentang sejarah kerajaan Blambangan. Dalam masyarakat Banyuwangi maupun masyarakat Solo dan Yogya ( Mataram ke 2), kerajaan Blambangan dipersepsikan sebagai kerajaan kecil diujung timur pulau Jawa ,diperintah prabu Menakjinggo, seorang  raja  yang angkuh , culas, dan tak tahu diri karena ingin mempersunting /memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu, padahal tidak ada kepantasan secuilpun yang dimiliki prabu Menakjinggo, rupanya begitu jelek, suaranya tidak menarik Versi lain menggambarkan Menakjinggo adalah raja para raksasa.Sungguh penggambaran yang amat sempurna tentang kejelekan manusia.Radio Republik Indonesia Yogyakarta malah menyajikan Ketoprak Mataram ,pada tahun 1960an malahan menyajikan cerita Damarwulan Menakjinggo dengan versi seperti diatas.
Menurut DR ( Leiden) Sri Margana cerita Damarwulan dan Prabu Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda / Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian (Operate) oleh Mangkunegara IV (1853 sd 1881). Kemudian dipopulerkan di Banyuwangi oleh penguasa Banyuwangi yang masih berdarah Mataram pada masa penjajahan VOC. ( Tempo )

Brandes ,sejarahwan Belanda (DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan .Pustaka Ifada .2012). dan Professor Slamet Mulyana berpendapat  kisah Damarwulan dan Menakjinggo mendapat inspirasi dari Perang Paregreg  yang terjadi setelah prabu Hayamwuruk lengser keprabon.
Prof Slamet Mulyana  menulis bahwa penulis Serat Kanda dan Serat Damarwulan adalah  sastrawan Mataram yang hanya mengetahui kisah Perang Paregreg ( Perang yang terjadi berulang kali antara Bhree Wirabhumi ( Menakjinggo ) raja Blambangan dan Wikramawardhana dan Dewi Suhita  raja Majapahit , tetapi tidak mengetahui fakta sejarahnya)

Dengan demikian cerita ini  merupakan sebuah rekayasa yang sistimatis ,untuk memperlemah keberadaan masyarakat Blambangan dan menghapus ingatan orang Blambangan terhadap  sejarah masa lalunya .Melalui  penggambaran itu maka dicapai dua sasaran , penguasa ingin mengesankan pada  rakyat Blambangan, bahwa penguasa ( Belanda dan Bupati yang diangkat Belanda) adalah pembebas dari raja  Culas, yang tak tahu diri .

Lebih aneh lagi  dalam Babad Blambangan yang ditulis pada abad ke 19 dari penulis Bali dan juga Babad Tanah Jawi  (Brandes via DR. Sri Margana .Perebutan Hegemoni Blambangan 2012.35)menulis bahwa Menakjinggo adalah anjing yang dipungut oleh Ajar Gunturgeni yang dihadiahi Blambangan oleh Prabu Brawijaya. Karena menginginkan kehadiran seorang putra , maka dia bertapa dan merubah namanya menjadi Ajar Pamengger. Berkat permintaan yang kuat dalam bertapa, maka anjingnya berubah menjadi manusia , namun wajahnya tetap seperti anjing. Cerita inipun diabadikan dalam wayang Krucil tradisi Mangkunegaran ( DR.Sri Margana .Perebutan Hegemoni Blambangan .2012.30).  Padahal cerita ini (  Damarwulan ) ini  tidak dikenal di Bali, dan tlatah pesisir Jawa, dan Sumatera , tempat kebudayaan pesisr mendapat tempat pada abad ke 16 dan 17. Pada daerah itu cerita Panji lebih populer.( DR Purwadi  M.Hum, dan Enis Niken H.M.Hum. DA’WAH WALISONGO Panji Pustaka Yogyakarta 2007.89).
Maka   dapat ditebak maksud penguasa antek Belanda  pada saat itu adalah mengadu domba  orang Blambangan dengan Bali . DR ( Leiden) Sri Margana dalam wawancaranya yang dimuat majalah Tempo mengemukakan bahwa cerita  tentang Damarwulan ,Menakjinggo merupakan Sinisme dan deligimitasi raja Blambangan. Mataram /Surakarta ingin menunjukan keperkasaannnya ( Power full) di Blambangan.

Kerajaan Blambangan.

DR Sri Margana yang  mengambil Doktor di Universitas Leiden , Belanda dengan disertasi  “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ dalam Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September. Pendapat itu membuka fakta baru tentang kerajaan Blambangan sebagai berikut;

1.      Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.

2.      Kerajaan Blambangan , dalam mempertahankan existensinya, mampu bergerak dengan mobilitas yang sangat tinggi, terbukti kerajaan Blambangan telah memindahkan ibukota  kerajaan sampai 6 (enam) kali.(Lumajang, Panarukan , Kedawung /Jember, Macan Putih, Ulupampang,Lateng/Banyuwangi)

3.      Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga  dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665

4.      Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan  yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati  sebanyak 270 orang.

5.      Perang Pangeran Jagapati/Puputan Bayu   adalah perang yang tersadis dalam sejarah perang di Indonesia. Tubuh dan kepala para prajurit yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng.Lumbung padi dibakar, sehingga rakyat kelaparan dan disusul merebaknya wabah penyakit.

6.      DR. Sri Margana juga menyampaikan, ada mitos yang berkembang di Mataram saat itu ( sekitar abad 18 ) , bahwa prajurit Blambangan kebal terhadap senjata. Oleh karena itu dijadikan percobaan untuk menguji senjata Jika keris maupun tombak dapat membunuh prajurit Blambangan, maka senjata tersebut dinyatakan sakti dan layak dipakai perang.

7.      Daya tahan kerajaan Blambangan , terutama karena keandalan rakyatnya dan strategy perangnya.

Dengan demikian Blambangan  adalah negeri besar .

Selain sebagai kerajaan besar kerajaan Blambangan juga memiliki kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa kuno , hal ini terbukti ditemukannya patung Budha di Jember pada abad ke 7 ( Supratikno Rahardjo . Peradaban Jawa . Komonitas Bambu 2002 .316) . Namun demikian kerajaan Blambangan mulai terlacak sejarahnya pada masa Singosari dibawah Prabu Wisnuwardhan .Dalam mewujudkan  ambisi besarnya  raja Wisnu Wardhana mendeklarasikan doktri  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa.  Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan  , yaitu menyatukan seluruh pulau Jawa dalam satu kekuasaan .Maka untuk mendukung ambisinya tersebut dibentuklah kadipataen dan salah satunya adalah  kadipaten Lamajang dengan Narariya KIRANA seperti tersebut dalam prasasti Mula Malurung yang bertahun 1225.  Cita 2 tersebut didasarkan setelah keberhasilan Wisnuwardhana menyatukan kembali Daha dan Singhasari. Keberhasilan tersebut oleh  Kertanegara (putra Wisnuwardhana diyakini  merupakan bukti bahwa kutukan Mpu Bharada sudah tawar. Prasasti Mahaksobhya yang diterbitkan Kertanagara raja Singhasari tahun 1289 menyebutkan kekuatan sabda  Mpu Bharada membelah Kahuripan menjadi dua bahagian Daha dan Janggala atas  perintah prabu Airlangga untuk membelah Kahuripan menjadi dua bahagian , dan mengutuk siapapun yang berusaha menyatukan kedua negara tersebut  telah tawar  .
Tawarnya kutukan Mpu Baradah membuat Kertannegara ,  mendeklarasikan doktrin Pamalayu yaitu  tekad Singosari untuk tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.        Doktrine ini  oleh DR. Moch Yamin maupun John Mann (sejarahwan Amerika)  sebagai cikal bakal  doktrine Nusantara atau  Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kekuasaan Singosari yang menjangkau tanah Pemalayu , akhirnya mengusik Ku Bilai Khan (cucu Jengkis Khan)  dari dinasty Yuan yang ingin menguasai seluruh daratan Asia dan kepulauan sekitarnya termasuk Jepang dan Nusantara. Akhirnya terjadilah perang dahsyat antara Kertanegara dengan Ku Bilai Khan .Kemenangan Ku Bilai Khan tidak berlangsung lama , karena kemudian tentara Ku bilaiKhan dikalahkan oleh persekutuan antara R.Wijaya  dengan Arya Wiraraja .Kemenangan ini  diabadikan dalam Prasasti  Gunung Butak,  (1294), menyebutkan adanya perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam perintisan dan pembentukan kerajaan Majapahit bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan   atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru ( Jember , Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai Nararya.( Prasasti Kudadu 1294).

Dengan demikian kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang amat luas mencakup 10 ribu kilometer. Dalam perjalanan sejarahnya , kerajaan ini adalah bagian yang merdeka dari Majapahit dalam konsep pemerintahan Majapahit yang dikenal Mitra ika Satata. Dalam disertasi DR . Sri Margana  maupun Drs I Made Sudjana M A ( Nagari Tawon Madu) , di Leiden University , bahwa kerajaan Blambangan tetap exist sampai tahun 1768. Dengan demikian ketika Majapahit runtuh pada tahun 1529 , kerajaan Blambangan masih tetap berdiri sebagai kerajaan Hindu, malahan mencapai keemasan pada masa prabu Tawangalun 2 , dengan cakupan wilayah tetap seperti masa Arya Wiraraja, yaitu 10 ribu kilometer. Namun demikian pada masa itu sebagian rakyat Blambangan telah masuk Islam sebagai hasil da’wah Sunan Giri yang memiliki darah biru Blambangan , dan pada masa Pangeran Pati 2 telah masuk pada para pejabat keraton .

Gunung Suci Hindu berada di Blambangan

Kerajaan Blambangan selain kerajaan yang sangat besar mencapai luas 10 ribu kilometer, dua kali provinsi Bali  juga  memiliki Gunung suci ummat Hindu di Jawa sejak masa Majapahit yaitu Gunung Semeru . Seperti tertulis dalam Negara Krtagama . Raja  Rajasa Nagara / Hayamwuruk diandaikan adalah titisan Hyang Giri Natha yang berstana di puncak Gunung Semeru . ( Negara krtagama Prof Dr DrsI Ketut Riana S.U ..hal 31).                                                                     Dalam keyakinan Hindu, kerbau  adalah Sang Hyang Nandini  tunggangan /hewan kesenangan  Dewi Durga Mahisasuramardani, permaisuri Dewa Siva/ Sang Hyang Giri Nata  , salah satu dari pemimpin para Dewa yang diagungkan oleh ummat Hindu yang bersemayam di gunung Semeru. Dalam kitab kitab Purana, salah satu kitab tentang ajaran Hindu ,  Dewi Durga Mahisasuramardini, digambarkan  bertangan delapan bersikap Tribhangga, empat tangan kanan memegang cakra berapi, sara,sara,serta seekor kerbau, dan empat  tangan kiri masing masing memegang  sangkha,pasa, dan pasa lagi serta rambut asura. Pada tangan kanan adalah lambang kebajikan yaitu  penguasa tanaman dan kesuburan terdapat  lambang  seekor kerbau atau Sang Hyang Nandini , dan tangan kiri sebagai lambang  angkara murka  pembinasa Asura dan menguasai berbagai penyakit menular.[1]Meskipun Sang Hyang Nandini dimulyakan tetapi tidak ada satu prosesi yang dilakukan untuk nya, baik pada masa Hindu Kuno maupun Hindu saat ini.

Salah satu sumber terkuno yang menyebut adanya pemuliaan  kepada KERBAU tertulis dalam Negara Krtagama  yang dilakukan dalam arak arakan adalah kitab Negara. Dalam kitab itu ditulis bahwa apabila ada perajaan besar di ibukota Majapahit, maka para  wakil  penguasa dari empat penjuru mata angin  yang ikut dalam upacara itu dan masing mengibarkan  lambang  lambang tanda kebesarannya. Dan   penguasa yang menggunakan Lambang Kerbau adalah  Baginda Raja Manahun./ mertua Bhree Wirabhuni Nararya Blambangan .Inilah kutipan selengkapanya dari Negara Krtagama.

 Tanda tanda kebesaran ;bait 71.[2]

  • Semua kereta Baginda Raja Pajang bergambar lukisan matahari yang indah
  • Adapun kereta baginda raja Lasem semua bergambar lembu putih gemerlapan.
  • Baginda Raja Daha keretanya bercirikan Adaha Kusuma Mas mengkilat,
  • Terutama pula Baginda Raja Jiwana semua keretanya bercirikan gringsing –lobeng luwih(merah berhias lukisan mas tirai dan tabirnya)

Macam persembahan :Bait 256.[3]

  • Baginda Raja Paguhan yang pertama mempersembahkan sesaji santapan yang amat lezat,
  • Baginda Paguhan juga membawa kain kain yang halus serta sirih tersusun bagai pohon pohonan
  • Baginda Raja Matahun mempersembahkan arca lembu putih seperti Nandini
  • Lembu itu mengeluarkan uang dan makanan dari mulutnya tak putus putus sangat mengagumkan. 

Raja Matahun  adalah  ayah  permaisuri adipati Majapahit Kedaton Wetan Bhree Wirabhumi,[4] dengan demikian patut diduga bahwa kerajaan ini  berada dalam barisan raja Matahun yang memuliakan Sang Hyang Nandini .    Pemulian ini tentu sangat berkaitan dengan daerah Lamajang Tigang Juru yang sangat gemah ripah loh jinawi. Oleh karena itu kemudian daerah ini disebut Balumbun.Dari kata Balumbun[5] yang berarti daerah memiliki banyak lumbung , muncul kata Blambangan.  Maka wajarlah kerajaan Blambangan yang subur dan makmur itu menggunakan lambang Kerbau.

Bukankah lambang Kesuburan itu Dewi Sri?

Jika dalam tulisan diatas disebutkan bahwa Kerbau adalah lambang kebaikan dari Dewi Durga Mahisasumardani tetapi mengapa dalam perayaan Kebo Keboan atau dalam upacara slametan sawah  wong Blambangan lebih mengaitkan dengan dewi Sri? Dalam ajaran Hindu kuno, yang tercantum dalam kitab Purana , yang berkembang di India  ( Jambudwipa) dewi Durga Mahisasuramardani, permaisuri Dewa Siva, memiliki dua sisi yaitu kebaikan dan kejahatan. Tetapi dalam pola pikir dan dasar kepercayaan  dalam masyarakat Jawa/ Nusantara atau Javadwipa/ Swarnadwipa, kebaikan dan keburukan tidak mungkin bersatu. Oleh karena itu Dewi Durga akhirnya menjadi lambang keburukan dan dikenal sebutan Bhatari Durga, sedang lambang kesuburan adalah Dewi Shri Laksmi  permaisuri Dewa Wisnu .

Pemisahan itu menjadi lebih jelas dan tegas  pada zaman Raja Erlangga  (1020 -1042) dari Kahuripan/Singosari , yang melakukan revolusi pemikiran keagamaan dan revolusi pertanian.  Pada masa beliau , masyarakat Hindu Jawa berpindah dari menyembah Siva  menyembah Dewa Wisnu dan pada masa beliau dilakukan pembangunan pertanian secara besar besaran ,yaitu memperbesar aliran sungai Brantas dengan membangun bendungan/tanggul  di kedua tepinya, serta merubah tanah rawa di muara brantas menjadi tanah pertanian yang subur. Dengan karya beliau ini ,maka Brantas dapat dilayari sampai jauh kedalaman dan pertanian berkembang pesat. Keberhasilan beliau membangun kerajaan yang aman makmur , gemah ripah loh jinawi, beliau ditahbiskan sebagai titisan /jelmanaan dewa Wisnu di Bumi, yang digambarkan dalam patung Garuda Wisnu.Oleh karena itu  permaisuri  Dewa Wisnu , Sri Laksmi juga mulai diagungkan dan sekaligus mengambil peran sisi baik Dewi Durga Mahisasuramardini, yaitu dewi pertanian , dewi  kesuburan dan kemakmuran.  [6].

Ketika masa Sanggramawijaya ( para raja Keturunan Ken Arok dan Ken Dedes  memerintah kerajaan Singosari, Majapahit, dan  Blambangan)’ penyembahan terhadap Wisnu tidak dilakukan lagi . Pada masa itu , ummat Hindu menyembah kembali Dewa Siva.Namun karena wangsa ini masih mengaitkan dengan darah Erlangga ( Wangsa Isana) , maka pengagungan terhadap Sri Laksmi tetap berjalan, maka terjadilah symbiose, lambang kesuburan pertanian di lambangkan dua simbol yaitu Sang Hyang Nandini ( KEBO) dan Dewi Shri . Maka dalam perayaan kebesaran Kerajaan Blambangan kedua lambang digunakan berdampingan, oleh karena itu dapat difahami sebenarnya  perayaan Kebo Keboan adalah pernyataan  Blambangan adalah kerajaan yang Subur Makmur .

Sunan Giripun membangun  di Kebo Mas

Dengan uraian diatas jelaslah bahwa perayaan Kebo Keboan jauh dari pengertian ritual keagamaan, karena sudah tidak berkaitan lagi dengan upacara keagamaan,melainkan lambang kebesaran Blambangan.

Sebagai Lambang Kerajaan , maka lambang Kerbau sangat penting untuk jati diri wong Blambangan. Maka tidak heran Sunan Giri , yang  keturunan darah biru Blambangan . Beliau adalah putra  dewi Sekar Dalu  , putri Bhre Pangembangan , cucu Bhree Wirabhumi , cicit prabu Rajasa Negara ( Hayam Wuruk ),( Wangsa Sanggramawijaya, Wangsa Isyana Singosari , Wangsa Isyana Kediri , dari putri mahkota Airlangga yaitu  Sanggramawijaya /Dewi Kili Suci )dengan  Maulana IskaK atau Syech Wali Lanang ( Lelaning Jagad ) , guru para wali , yang memiliki garis keturunan langsung dari Rasullulah,  memulai kegiatan keagamaan, dengan  membangun pesantren disatu desa yang kemudian dijuluki Kebo Mas. [7]

Maka seharusnya difahami bahwa perayaan Kebo Kebo an, didesa desa dalam kawasan Golden Triangle Istana Blambangan, adalah pesan penting dari para leluhur Blambangan bahwa wong Blambangan mempunyai sejarah yang panjang, jelas dan membanggakan .Maka tidak aneh , karena bangganya leluhur Blambangan terhadap jati dirinya , maka kerajaan ini tetap exist sampai tahun 1771, menjadi kerajaan Jawa terakhir yang tunduk terhadap VOC. Maka pernyataan bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun dijajah Belanda tidak berlaku untuk Blambangan. Dan perang besar inipun diakhiri dengan Puputan Bayu. Perang tersadis sepanjang sejarah Nusantara menurut Dr. Sri Margana .  Maka tidak heran penulis sejarah bangsa Belanda Scholte dan Sir Stanford Rafflees, yang mengetahui dengan detail sejarah  suku ini dengan hormat tetap menyebut suku ini sebagai SUKU BLAMBANGAN,suku pemberani , [8].                                                                           

 


[1] Seno  Gumira Ajidarma , Nagabumi,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta  2009. 106  dan Hariani Santiko Bathari Durga  1992, h.1

[2] Prof. Dr Drs I Ketut Riana.SU Nagara Krtagama, Kompas Media Nusantara, Jakarta,2009,  126

[3] Seni Gumbira Ajidarma  ibid256

[4] Seno Gumbira ibid 66

[5] Pigeaud via Darusuparta, 1984:12-13

[6] Seno Gumira Ajidarma 0p cit 220

[7] Dr.Purwadi M.Hum, Dra Enis Niken M.Hum  Dakwah Wali Songo Panji Pustaka 2007.

[8] Scholte (1927:146)


~ oleh sumono pada 3 September 2013.

7 Tanggapan to “Kebo Keboan Banyuwangi kaitannya dengan Blambangan”

  1. Saya bukan keturunan namun sangat senang dengan terungkapnya fakta sejarah yang benar,saya mau tahu sejarah untung suropati tlg jawabannya

    • Mas Yazid matur nuwun . Terus terang saya hanya mengetahui sedikit tentang pahlawan Nasional Untung Suropati. Juga serba sedikit kaitannya dengan Perang Blambangan. Mudah mudahan bermanfaat,
      Untung Suropati
      Untung Suropati terlahir Surawiroaji ,lahir di Bali 1660 . Sejarhnya menjadi legendaris karena seorang anak rakyat jelata , yang mampu mengobrak abrik VOC dan membunuh Kapten Tack dan akhirnya menjadi Tumenggung Pasuruan /tanah perdikan dengan gelar Tumenggung Wiranegara..Pada September 1703 pasukan VOC dibantu pasukan Kartasura , Madura, Surabaya menyerbu Pasuruan dan menewaskan Untung Suropati ( usia 45 tahun) dan ditetapkan sebagai pahlawan Nasional .Putra Untung Surapati , R.Pengantin , R.Surapati< R. Suradilaga meneruskan perjoangannnya .
      Penyerahan Java Oosthoek dari Pakubuwana II ke VOC
      Sultan Pakubuwana II ,baru berumur 15 tahun ketika diangkat menjadi Sultan Mataram( 1726 -1749) . Dia adalah putra Amangkurat III, menggantikan Amangkurat IV ( 1719 -1726). Karena masih muda dan kurang mampu dalam pemerintahan , Mataram terus dilanda perebutan kekuasaan . Malahan pada tahun 1742 , pemberontak berhasil merebut ibukota Mataram Kartasura .Kartasura dalam keadaan hancur luluh lantak , dan Pakubuwana II, kemudian diasingkan . Untuk merebut kembali tahtanya Pakubuwana meminta bantuan VOC dan VOC menyodorkan sebuah perjanjian yang sangat memberatkan Mataram , yaitu menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC , selama Mataram belum mampu melunasi hutang biaya perang. Pada tahun 1743 VOC dapat menumpas pemberontak dan mendudukan kembali Pakubuwana II sebagai Sultan Mataram. Untuk melunasi hutang hutang biaya perang itulah Pakubuwana II antara lain menyerahkan Java Ooosthoek (Pasuruan , Malang, Probolinggo, Blambangan ).
      DR. Sri Margana menyebut penyerahan kawasan ini , berdasarkan klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya jauh dari realitas politik aktual.(Perebutan Hegemoni Blambangan 41) Karena pada saat itu Pasruan, Malang , Probolinggo masih dikuasai oleh keturunan Untung Suropati yang tidak pernah tunduk pada kekuasaan Mataram demikian juaga Blambangan tidak pernah ditundukan oleh Mataram dan malahan pada 1736 sampai dengan 1762 mengalami masa Kertayoga , dalam keadaan aman makmur tentrem , kertaraharja. ( Drs I Made Sudjana M A. Nagari Tawon Madu 35
      Pertahanan yang kuat keturunan Untung Suropati dan Blambangan.
      Setelah perjanjian Salatiga 1757, VOC mendapat dana yang cukup besar dari Mataram , persiapan menggempur Java Oostoek dimulai Ternyata persiapan penyerangan pada Java Oostoek tidaklah mudah, karena VOC memerlukan kekuatan tempur yang sangat besar untuk menghadapi kekuatan keturunan Untung Suropati dan Blambangan yang sangat kuat.
      Keturunan Untung Suropati tentu sangat menyesalkan penyerahan Java Oosthoek oleh Pakubuwana II kepada Belanda, karena ayahanda Amangkurat III , ditolong dan dilindungi oleh Suropati. Ibarat kebaikan dibalas dengan penghianatan. Karena itu keturunan Untung Suropati segera memperkuat diri
      Strategy Tumpes Kelor/Membunuh musuh sampai habis.
      Dalam menggempur Untung Suropati , Belanda mengadopsi Strategy Tumpes Kelor dari Mataram , yaitu membunuh habis sampai keakar akarnya seluruh keturunan Untung Suropati ( Margana 98). Maka pasukan Blambangan yang dipimpin Baswi yang membantu keturunan Suropati terpaksa mundur teratur kearah Jember, meskipun demikian Baswi dapat merebut beberapa meriam dan puluhan senapan VOC.
      Singomanjuruh menjadi Singojuruh.
      VOC kemudian melanjutkan penyerbuannya ke Blambangan , dan mereqruit tentara Untung Suropati yang dipimpin pengawal bupati Malang , Singomanjuruh . Singomanjuruh kemudian membelot mendukung Blambangan dan bertempur di Mandala Timur.

      Di Mandala Timur, pimpinan perang , Singomanjuruh veteran perang Malang, memimpin perang dengan heroik bertempur sampai titik darh penghabisan dan gugur. Pada tempat gugurnya dipersembahkan namanya, Singomanjuruh, tetapi kemudian kita mengenalnya SINGOJURUH
      Perang ini menurut DR. Sri Margana adalah perang tersadis sepanjang sejarah. Di Blambangan VOC juga menjalankan Tumpas Kelor dan membunuh 90% penduduk Blambangan . Sisa itulah yang menjadi penduduk Blambangan sekarang tinggal di Banyuwangi

  2. Suwun pak…,mau tanya sekali lagi tentang sunan giri,menurut cerita yang pernah saya baca beliau anak angkat nyai sekar dalu yang di temukan di lautan bukan anak kandungtolong kejelasannya.

    • Matur nuwun.Seperti yang saya tulis dalam blog ini , bahwa Sunan Giri adalah putra Dewi Sekar Dalu dengan Maulana /Syech Ishak, Wali Lanang ( Lelaning Jagad ) , guru pada wali….judulnya SUNAN GIRI ,PUTRA BLAMBANGAN , PAUS ( KHALIFATUL Mu’minin )INDONESIA

  3. […] Kebo Keboan merupakan desa desa kuno  ( desa desa yang telah ada sejak pada abad ke 17)[1] Mungkinkah penyelenggaraan Kebo Keboan memiliki  kaitan pada masa kuno kerajaan Blambangan […]

  4. Semoga artikel Ini Bermanfaat Untuk Adik-Adik Penerus Bangsa, Jangan Lupakan Sejarah Kita Sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: