BANYUWANGI MAULID FESTIVAL! Mengapa tidak!

 (Sumono Abdulhamid)


Pendahuluan

Pariwisata ,Tradisi, Sosialisasi dan Infrastruktur.

Pariwisata adalah ladang yang sangat menggiurkan, dan malahan menjadi primadona untuk meningkatkan devisa atau pendapatan negara maupun pendapatan daerah.Negara negara didunia baik maju maupunberkembang berebut porsi Pariwisata. Demikian juga daerah daerah di negara itu berlomba lomba menjadikan daerahnya tujuan wisata . Perebutan rezeki Pariwisata di Asia Tenggara termasuk yang sangat keras. Oleh karena itu menjadikan menjadikan negara/daerah sebagai  tujuan Pariwisata pada  masa sekarang, dengan hanya menyerahkan pada proses alami adalah sebuah kenistaaan ( tidak masuk akal) .

Rezeki Pariwisata ditangguh dengan berbagai cara ,mulai  dengan carnival , atau perayaan yang meriah atau pesta tradisional, ritual ,penyajian alam yang indah , suasana damai . Artinya rezeki Pariwisata bisa muncul dalam setiap unggulan destinasi wisata itu sendiri , yang difahami oleh masyarakatnya .

Pariwisata tidak hanya menyangkut tersedia destinasi unggulan pariwisata tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur yang amat complex, dan  juga  menyangkut rekayasa promosi. Pada daerah rural jauh lebih complex lagi, karena dihadapkan pada tradisi, adat istiadat dan keyakinan. Tidak mudah merubahnya. Tourist datang tidak saja membawa uang, tetapi juga membawa adat, kebiasaan,yang mungkin malah sangat bertentangan dengan tradisi, adat istiadat dan keyakinan. Tourist dari negara Eropa dan Negara modern Timur Jauh, tentu sangat menikmati matahari tropis, menghangatkan tubuh disinar matahari pagi dengan hanya memakai bikini? Apakah hal ini bisa diterima. Mereka tentu juga menyenangi wine  ( ada ratusan jenis Wine) yang membuat badan terasa segar. Padahal masyarakat kita , memiliki keyakinan bahwa anggur adalah  memabukkan dan itu  haram. ? Perlu waktu untuk menjelaskan ini. Perlu sosialisasi tahap demi tahap dan perencanaan yang matang . Jangan mengharap  ada pariwisata yang instant. Jangan hanya berpikir  pariwisata pasti  mendatangkan harta dan dana, tetapi yang munculkan masalah, atau kerusuhan horizontal.

Demikian juga infrastruktur harus mendukung.Betapa significantnya pengaruh infrastruktur terhadap pariwisata ,sebagai ilustrasi sbb: Waktu tempuh perjalanan dengan pesawat dari Jakarta ke Banyuwangi , empat kali  lipat waktu tempuh  dari Jakarta ke  Singapore , empat kali lipat perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta ,atau Surakarta, atau tiga kali lipat dari Jakarta ke Denpaser Bali. Belum lagi dihitung dari aspek biaya , perjalanan ke Banyuwangi jauh lebih besar dari biayanya dari Jakarta  ke Singapore , Jogyakarta, Surakarta, atau Bali sekalipun.

Belum lagi pilihan orang kota pada budaya urban, seperti mall, permainan, atau game.

Perencanaan Pariwisata bukan hanya sekedar perencanaan  Bupati saat ini, tetapi menyangkut jangka panjang dan harus jelas road mapnya. Jangan sampai langkah Bupati sekarang dihentikan oleh Bupati mendatang. Oleh karena itu Perencanaan Pariwisata harus mengikutkan semua lapisan masyarakat, difahami, dihayati,  dan menjadi milik semua masyarakat sehingga  siapapun bupatinya harus committed , karena dia akan berhadapan dengan masyarakat apabila menghentikan.

Mendatangkan Wisatawan bukanlah kerja tunggal satu dinas. Satu dinas bekerja dengan kegiatan yang luar biasa, pengiriman duta kesenian ke Jakarta, Carnival yang bertubi  tubi, Carnival Agustus, Carnival Oktober ( BEC), Carnival Nopember , Carnival Desember , sementara lalu lintas kacau, kota kumuh,sampah tidak dibersihkan, spanduk iklan pejabat/ pimpinan bertebaran tak karuan sepanjang jalan,jalan tak terawat ( tidak mesti hot mix,  saya masih melewati jalan sirtu di USA, Inggris, dan Australia, tetapi terpelihara dengan baik.Saya masih melihat tiang listrik dari kayu di USA, tetapi terpelihara dengan baik). Jadi  yang paling mendasar adalah kesiapan masyarakat dalam menerima budaya asing , tetapi tetap teguh dalam menjaga nilai nilai , dan tradisi nya. Maka basis Pariwisata adalah kesiapan masyarakat .

Beragam  atraksi budaya dan event berbasis potensi alam  , mulai dari carnival etnik , sport  tourism, sampai jazz pantai telah digelar sejak tiga tahun yang lalu di Banyuwangi , dan telah memberi dampak positip terhadap perkembangan pariwisata , maupun  perkembangan seni budaya, sport, kesenian itu sendiri. Tidak kalah pentingnya , adalah perkembangan  dalam pembangunan , dan kesejahterraan masyarakat .

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas , menegaskan tekadnya  bahwa “ Banyuwangi akan terus menggali dan mengembangkan potensi wisata yang ada ,agar sektor ini bisa memberi kontribusi signifikan bagi pembangunan ekonomi daerah , terutama dalam upaya menciptakan lapangan kerja baru, mengentaskan kemiskinan dan mempersempit kesenjangan pembangunan spasial . Tentu saja  pengembangan pariwisata yang kami lakukan berbasis pada pelestarian warisan budaya dan lingkungan .( Press Release dalam Press Conference , tgl 2 September di Jakarta).

Menggaris bawahi tekad tersebut , tulisan ini dibuat mempertimbangkan  tradisi  Maulid Nabi sebagai usaha membangkitkan tekad ummat untuk membangun Banyuwangi, untuk memberikan kontribusi lebih besar pada pembangunan bangsa Indonesia.

Tradisi dan kebangkitan  bangsa.                 

Jika kita memperhatikan percaturan dunia, maka kita melihat negara negara maju adalah negara  yang menjunjung tinggi potensi sumber daya manusia melalui pelestarian tradisinya ( Jepang ,Korea, China , Malaysia dll).Sementara negara negara yang hanya  memperhatikan sumber daya manusia tetapi tidak ada kepedulian terhadap pelestarian tradisi terjerembab dalam pola konsumerisme tinggi , dari luar nampak maju, modern , tetapi menumpuk hutang yang sangat besar.itu 

Pengalaman itu menunjukan betapa pentingnya  membangkitkan budaya lokal sebagai sarana untuk membangkitkanpembangunan di Banyuwangi. Oleh karena itulah , betapa pentingnya  mewujudkan Banyuwangi Islamic / Maulid Festival yang berbasis pada peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi yang dirayakan secara gegap gempita oleh masyarakat Banyuwangi  . Tradisi Maulud Nabi dengan menggunakan endog endogan , adalah tradisi para wali yang pernah semarak pada masa para wali. Dan tradisi itu telah bertahan di Banyuwangi  sejak ratusan  tahun , sementara ditempat lain telah lenyap.Dengan mengemas perayaan itu menjadi lebih terstruktur  dengan kreativitas  yang cukup saya yakin perayaan Endog Endogan  dan digabungkan dengan atraksi kesenian yang berbasis Islam lainnyanya , seperti Kuntulan , Burdah , Rengganis , Festival anak Yatim maka Banyuwangi Maulid  Festival akan diminati dan didukung masyarakat serta menjadi genuin Banyuwangi , karena tidak ada ditempat lain .

Disamping itu Maulid Nabi terbukti pernah mampu membangkitkan rasa cinta yang luar biasa pada agama dan negeri pada masa pemerintahan Salahuddin Al Ayyubi , ketika ummat Islam mempertahankan Bitul Maqdis dari serbuan para sekutu Eropa. Tetapi dengan Maulid juga akhirnya dicapai perdamaian yang terhormat.

Di Nusantara, Wali Sanga  juga menggunakan sebagai alat da’wah , sehingga Islam diterima dalam penuh kedamaian , mengalir seperti air.

Blambangan negeri Spiritual/Agamis

Banyuwangi Maulid Festival memiliki potensi keberhasilan yang tinggi   , karena  perayaan endog endogan dalam Maulid Nabi masih tetap semarak sampai saat ini ,juga memiliki pijakan yang sangat kuat dalam budaya wong Banyuwangi yang memiliki spirit religius sangat tinggi.Spirit ini tetap bertahan walau masyarakat Banyuwangi digempur dengan issue Komunis dan Santet , serta budaya konsumerisme. Spirit Religius  masyarakat Banyuwangi memiliki garis sejarah yang jelas dengan kerajaan Blambangan yang telah berdiri  bersamaan dengan kerajaan Majapahit  .( Prasasti Kudadu 1925) .Dan kerajaan ini tetap terus exist ketika Majapahit runtuh pada tahun 1529 dan hidup berdampingan dengan kerajaan Islam  sampai tahun 1773.

Seperti diketahui sejak masa zaman kerajaan Hindu , Blambangan yang meliputi daerah Lumajang , Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi , adalah tempat para pertapa karena di kerajaan ini terdapat gunung suci agama Hindu di Jawa seperti tersebut dalam prasasti Ranukombolo , di tepi Danau Ranu Kumbolo ,lereng gunung Semeru.Prasasti mencatat  Raja Kameswara dari Kediri  melakukan ritual suci di gunung Semeru. Demikian juga dicatat dalam Negara Krtagama karangan Mpu Prapanca abad ke 14  bahwa Gunung Semeru adalah Gunung tempat Dewa Siwa, dewa dari segala dewa bersemayam  , sehingga juga menjadi bagian yang dikunjungi Raja Rajasa Nagara /Prabu Hayamwuruk dalam melakukan ritual suci.

Demikian juga ketika Islam mulai pertama kali menyebar di Jawa , Blambangan melahirkan putra terbaiknya yaitu Sunan Giri . Sunan Giri adalah  seorang pemimpin para Wali Sanga setelah Sunan Ampel wafat., seorang Kalifah di Bumi Nusantara( 1443 sd 1506)[1].Sebagai Khalifah beliaulah yang menentukan sah tidaknya , seorang Sultan  diakui pemimpin kerajaan Islam di Nusantara . Hal ini berlaku juga untuk Sultan Agung di Mataram .                           

Karena itulah utusan Blambangan mendapat kehormatan dalam peresmian mesjid Demak[2].

Disamping Sunan Giri sebagai bagian penting dari Wali Sanga, kita juga mengenal putra terbaik Blambangan sebagai bagian Wali Pitu di Bali , yaitu R. Mas Sepuh dan Habib Abdurachman bil Faqih , [3]  maka semakin kukuhlah sebutan Blambangan sebagai Negeri Para Wali.

Potensi Kesenian Islam  di Banyuwangi

Dengan adanya Banyuwangi Maulid Festival, maka  kesenian Islam di Banyuwangi ,akna bangkit lebih semarak. Ini penting karena selama ini yang paling menonjol dalam kemeriahan Banyuwangi , adalah Gandrung dan Angklung. Padahal Banyuwangi memiliki kesenian yang sangat beragam , dimana semua kesenian yang bersumber dari agama agama besar membangun acculturasi yang indah. Kesenian Kuntulan misalnya , meskipun bersumber dari peradaban Islam ,tetapi hentakan pukulan dan ritme , tidak sama dengan kesenian Islam  yang ada di Indonesia maupun tanah Melayu. Kuntulan adalah kesenian Islam yang memiliki warna peradaban kuno Majapahit, dengan hentakan yang indah berithme. Para penabuh musik Kuntulan sangat pas menggunakan pakaian tradisional, yang tidak mungkin dipakai oleh pemusik  rebana lainnya.

Karena itulah seniman Nasional Innisisri memilih musik Kuntulan untuk mendapatkan hentakan rebana yang amat tradisional, untuk menciptakan Jazz  tradisional.

Demikian juga kesenian lainnya, seperti Mocoan yang telah lenyap. Kesenian ini sebenarnya memiliki tingkat acculturasi yang sangat tinggi . Bagaimana mungkin Surat Yusuf, salah satu surat dalam kitab suci Al Qur’an dibaca dengan  nada bacaan lontar agama Hindu. Jika kesenian ini lenyap atau malah perobah menjadi Mocoan Pacul Gowang, maka sebuah master piece acculturasi telah lenyap dari Nusantara, Ibarat barang antique pecah terlempar . Dan kita tidak tahu lagi dimana mencarinya.

Kesenian Rengganis , juga memiliki unsur lokal yang sangat indah . Misalnya peran Umar Maya , yang tidak ada pada kesenian yang bercerita tentang pengislaman di Persia di bumi Nusantara maupun Melayu . Umar maya adalah tokoh ciptaan local Blambangan ,yang sangat energik .Kesenian Rengganis memang memiliki kelemahan , yaitu pakaian yang menggunakan pakaian wayang. Tetapi hal itu pasti sangat mudah dirubah dengan kreativitas yang tinggi seniman dan budayawan Banyuwangi.

Dampak terhadap masyarakat;

·        Merubah Mind set masyarakat tentang Pariwisata

Dengan adanya Festival Maulid , maka masyarakat akan memahami bahwa  Banyuwangi memiliki ragam content yang ber macam macam , tidak hanya berbau carnival yang penuh glamour ( Banyuwangi Ethnic Carnival )  , ataupun  carnival  tradisional  ( Carnival Kuwung) , tetapi juga ada daya tarik wisata yang muncul dari tradisi keagamaan masyarakat.

·        Peluang  menarik Wisata  yang agamis.

Sulit dipungkiri wisata ziarah , adalah bagian yang amat penting saat ini. Banyak orang meyakini ,ketika Bali colapse akibat ledakan Bom di pantai Kuta, Bali ditolong oleh munculnya wisata baru yaitu wisata ziarah Wali Pitu. Wisata inilah yang  mengisi Bali saat ,tidak dikunjungi oleh wisata asing. Dampaknya ,selain ekonomi pariwisata  tidak terjun bebas , kerukunan agama di Bali cepat pulih.

Peluang Pariwisata Agamis , di Banyuwangi juga sangat besar . Sayang ini luput dari perhatian pemerintah . Holl Habib Hadi misalnya telah masuk kalender Nasional Holl Para Habib. Penulis pernah mendapatkan selebaran Holl tersebut di Singapore. Dan peminat  ziarah Holl tersebut sangat besar.

·        Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Perayaan Maulid nabi yang menggunakan  telur sebagai  bahan utama mestinya mampu digunakan untuk meningkatkan peternakan ayam atau binatang lainnya. Di Amerika Serikat perayaan Hallowen juga menjadi ajang perlombaan buah selo terbesar di Amerika Serikat. Dengan Maulid Nabi mungkin bisa dibangun kecintaan beternak ayam sehingga ayam dari Banyuwangi dikenal sebagai ayam yang hyginis.

Belanja barang pada Perayaan Maulid Nabi, yang content localnya sangat besar, juga seharusnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat

 

Waktu pelaksanaan yang flexible ;

Perayaan Maulid Nabi, menggunakan kalender Bulan ( Qomariyah), sedang bangsa Indonesia menggunakan aktivitas berdasar kaleber Matahari ( Syamsiyah). Selain itu waktu pelaksanaan Maulid Nabi di Banyuwangi , tidak harus tepat pada hariMaulid Nabi,tetapi berlangsung sebulan penuh di bulan Maulid,  sehingga membuka peluang untuk mengatur jadwal Maulid dengan melihat kalender kegiatan masyarakat.

Semoga saran sederhana ini bermanfaat .Amiiiin.

Daftar Pustaka

1.        Prof Dr Edi Sedyowati , Prof Dr. Sri Hastanto ,Dir Jen Niali Budaya Seni dan Film ;Traditional Music of the Archipelago  Volume 7 Banyuwangi

2.     DR Abdullah bin Manshur “ Tarjamah Maulid Barjanji “Bandung , Husaini

3.      Djamaludin Latief : Barzanji , Ujung Pandang 21 Juli 1980 . Suara Karya.

4.      Karen Amstrong “ Muhammad Prophet For Our Time”, Bandung .Mizan April 2007

5.      Karen Amstrong “ Muhammad Sang Nabi Sebuah Biografi Kritis “ Surabaya,Risalah Gusti 2001

6.      Muhammad Haekal ( terjemah Ali Audah )” Sejarah Hidup Muhammad “Jakarta ,Pustaka Jaya.

7.      Ali,Maulvi Muhamamad MA LLB ( Tarjamah boso Jawi R.NG.Djajasugita sarta M Mufti Syarif ) Qur’an Suci Djarwa Djawi , Jakarta 1959.

8.      Annemarie Schimmel(Sapardi Djoko Damono, Achadiati Ikram , Si Chasanah Buchari, Mitia Muzhar) “Dimensi Mistik Dalam Islam “Jakarta , Pustaka Fidaus 2003

 

 

 


[1]Through Account of Ambon , dan babad Demak via Dr.Purwadi M.Hum, Dra Enis Niken M.Hum. Dakwah wali Songo, Shaida Yogjakarta 2007.107

[2] Babad Demak

[3] Yang dimaksud Wali  Pitu Bali adalah;

1.        R.Mas Sepuh

2.        Habib Umar Maulana Yusuf

3.        Habib Ali bin Abu Bakar Umar bin Abu Bakar Al Khamid

4.        Habib Ali bin Zaenal Abidin Al Idrus

5.        Syech Maulana Yusuf Al Magribi

6.        Habib Ali bin Umar Bafaqih

7.        Syech Abdul Qodir Muhammad

R. Mas Sepuh adalah putra P.Pati II dengan putri kerajaan Bali Mengwi . Sedang  Habib Abdurachman  bil Faqih , dilahirkan dan dibesarkan dan menuntut pelajaran agama di Banyuwangi, tetapi kemudian setelah mendapat dukungan penuh dari H. Sanusi Kemasan , untuk berhaji dan belajar agama di Mekah, kemudian hijrah ke Loloan Bali dan menjadi penyebar agama Islam di Bali.

 

 

~ oleh sumono pada 27 November 2013.

4 Tanggapan to “BANYUWANGI MAULID FESTIVAL! Mengapa tidak!”

  1. yahud pokoke

  2. Pak Sum, Assalamualaikum, kulo dukung rencana ndiko hang menurut kulo leres lan mantab , pertanyaan nya..nopo gagasan niki sampun nate dibeto teng pemda ( malah kadung saged langsung teng bupati ) dados onten follow up lan sageto di wujudaken dados agenda pemda..
    kesuwun,
    Arief Bali

    • Dik Arief ,Wass.wr.wb .Alhamdulillah sudah baik secara tutur maupun tulisan baik pada Kadis Pariwisata maupun Staff Bupati . Dan belum ada jawaban …..malahan ada staff Pem Da lain yang menelepon dan akan merealisasikan ini . Ya monggo , demi syiar agama Islam …..mudah2an beliau berhasil ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: