KI LANANG DANGIRAN PUTRA BLAMBANGAN

(Sumono  Abdulhamid)

Ki Lanang Dangiran Putra Blambangan ,
“Dari darah beliau telah lahir para bupati di tanah Jawa , dan juga R.Ajeng Kartini”

Siapakah Ki Lanang Dangiran .

Kedawung ibu nagari Blambangan (1598 _1659)
Kedawung sekarang termasuk daerah Puger , adalah ibu nagari ketiga Lumajang Tigang Juru / Majapahit Kedaton Wetan / Blambangan .
Ibu nagari pertama adalah Lumajang yang mulai dibangun Arya Wiraraja setelah mendapat tanah segar semangka Majapahit dari R.Wijaya ( Prasasti Kudadu 1293.Pada masa Bhree Wirabhumi dibangun istana yang megah KOTA RENON  seluas 6 ha , dan dikelilingi bentang yang kuat , lebar minimal 2 m ,tinggi minimal 4 m , dikelilingi sungai Bondoyudho. atau parit lebar 2 m , dalam minimal 2 m. Kemakmuran Blambangan( Blambangan berasal dari Balumbungan sebutan dari Prapancha dalam Negara Krtagama yang berarti, negeri banyak lumbung ./makmur )
yang berada dilereng gunung Semeru ,pada masa pemerintahan Bhree Wirabhumi , telah mengundang decak kagum Laksamana Cheng Ho , menyebabkan Kaisar dinasty Ming , CH’eng- Tsu  menyetujui saran Cheng Ho untuk mengakui kedaulatan negeri ini , sehingga disebut. Majapahit Kedaton Wetan . Tetapi  rupanya Kemakmuran juga  mengundang iri dan hasrat untuk menaklukan Blambangan sehingga harus memindahkan ibu nagarinya ke Panarukan.
Panarukan sebenarnya kota yang dipersiapkan oleh raja Hayamwuruk untuk mengendalikan wilayah timur(dalam Negara Krtagama.  , diceritakan Hayamwuruk , sangat bahagia melihat perkembangan.kota ini , sehingga melakukan tari suka cita di Candi Jago ).  Sehingga kepindahan ke wilayah ini , tidaklah terlalu mengalami kesulitan . Panarukan berkembang menjadi kota bandar yang besar.  apalagi ketika Majapahit Kedaton Kulon mulai memindahkan  ibu kotanya dari tepi sungai Brantas  ke pedalaman , dan mengurangi aktivitas di pelabuhan  Surabaya , maka Panarukan menjadi pelabuhan besar  satu satunya diselat Madura.
Pada saat itu , Portugis telah menguasi tanah Melayu dan Maluku , sehingga Portugis memerlukan logistik untuk mendukung kebutuhannya . Sementara pantai utara Jawa dikuasai Sultan yang beragama Islam yang sangat bermusuhan dengan Portugis. Usaha Portugis menjalin hubungan dengan Pasundan telah digagalkan oleh Sultan Fatahilah ,maka satu satunya hubungan yang terbuka adalah Blambangan . Blambangan dapat berhubungan dengan baik karena salah satu putra Blambangan , adalah Sunan Giri yang amat disegani dan menjadi pemimpin para Wali Sanga, sehingga Blambangan mampu menjalin hubungan baik dengan Sultan Islam dipantai Utara , dan juga dengan Portugis yang membutuhkan perbekalan .
Tentang Panarukan penjelajah Portugis Jonno de Barros, Decada IV,buku I,bab 7 (Portugies),menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca /Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka. Prof DR . Moch Yamin malah menafsirkan tentang berita sebagai adanya perjanjian antara Blambangan dan Portugis dan menandai sebagai telah runtuhnya Majapahit .
Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam , dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam ( Negeri Tawon Madu .22)
Sekali lagi , kemakmuran mengundang iri dan hasrat kerajaaan lain untuk menaklukan Blambangan  . Sunan Giri mampu mencegah penyerbuan Sultan Trenggono terhadap Blambangan , tetapi para pelaut Bugis dan Maluku tidak senang dengan hubungan baik Blambangan dengan Portugis . Keramaian Pasuruan semakin surut ,apalagi ketika Portugis mulai menemukan Amerika .
Sepinya ibu nagari Blambangan Panarukan serta letusan Gunung Raung yang sangat dahsyat  pada tahun 1586 dan 1597 menyebabkan tanah runtuh di Bondowoso , Situbondo ,  dengan korban ribuan jiwa,  akhirnya mendorong pemindahan ibu nagari ke Kedawung , tanah subur di pedalaman tetapi masih dekat dengan laut ( Samudra Hindia) pada tahun 1598..
Di ibu nagari yang baru ini muncullah dinasti Tawangalun , yang membawa negeri Blambangan berjaya kembali sampai tahun 1665.
Dalam masa jaya di Kedawung , Blambangan mampu menahan serangan Sultan Agung pada tahun 1635 yang mengirim 30000 orang laskar dan menyerang Puger dan Penarukan .. Sultan Agung menawan 5000 orang Blambangan diangkut ke Mataram . Tetapi secara perlahan dan pasti Blambangan bangkit kembali . Dan pada tahun 1647 Mataram menggempur lagi Blambangan dibawah pimpinan Tumenggung Wiraguna . Serbuan ini gagal ketika Tumenggung Wiraguna terbunuh . Gagal menaklukan Blambangan Mataram melakukan perampokan besar besaran  ( Nagari Tawon Madu 28 n Perebutan Hegemoni Blambangan ). Di balik kepedihan dan kehancuran ini , sebagian penduduk Blambangan melarikan ke arah barat dan sebagian lagi mulai membangun pemukiman baru di Bayu , daerah Banyuwangi juga ke Bali.

Ki Lanang Dangiran .
Mereka yang ketimur kemudian membangun ibu nagari di Bayu , kemudian Macan Putih , dan Kota Lateng . Sedang yang kearah barat , terwakili dengan sejarah Ki Lanang Dangiran .
Adalah Prabu Tawangalun  memiliki putra putri 5 orang .Salah satu putranya  Pangeran Lanang Dangiran  yang  sejak  kecil menyenangi olah ruh ( spiritual),  sangat senang melakukan tapa brata dan pada usia 18 tahun bertapa dilaut dan menghanyutkan dirinya diatas sebuah papan kayu yang disebut.  beronjong (alat penangkap ikan), tanpa makan atau minum.
Sang pertapa muda yang berbulan bulan di ombang ambingkan gelombang karena khusyuknya ,tidak menyadari seluruh badannya telah dilekati oleh karang, keong serta karang-karang (remis) .
Arus  laut dan gelombang membawa beliau sampai ke laut Jawa . Ketika laut Jawa dilanda  taufan , maka gelombang besar melemparkan pertapa muda itu ke pantai Sedayu , Lamongan .
Dipantai Sedayu beliau ditemukan ,oleh  Kyai  Kendil Wesi , untuk kemudian dirawat dan disadarkan sehingga  menjadi sehat seperti sediakala.
Karena badannya  penuh benjolan yang  dilekati remis, seperti  jagung terbakar maka beliau mendapat julukan  “Brondong”
Pangeran Lanang Dangiran /Brondong kemudian menceritakan asal-usulnya kepada Kiyahi Kendil Wesi bahwa beliau  adalah putra Sunan Tawangalun /Menak Kedawung raja Blambangan.
.Betapa bahagianya Kyai Kendil Wesi karena dia dapat menolong saudaranya sendiri karena  Kyai Kendil Wesi juga berasal dari keturunan  raja-raja  Blambangan dari garis  Menak Soemandi.
Menak Soemandi mempunyai putra bernama Menak Gandru, Menak Gandru mempunyai putra bernama Menak Werdati, Menak Werdati mempunyai putra bernama Menak Lumpat alias Sunan Rebut Payung, Menak Lumpat mempunyai putra bernama Pangeran Kedawung alias Sunan Tawang Alun / Pangeran Kedawung ayah dari Pangeran Lanang Dangiran. Sehingga pangeran Lanang Dangiran meiliki leluhur yang sama . Apalagi kalau hal itu ditelusuri sampai raja raja di Majapahit.
Kareana itu Lanang Dangiran /Brondong kemudian dijadikan putra  Kyai  Kendil Wesi.
Kyai Kendil.Wesi kemudian mengajarkan Islam. Pangeran Lanang Dangiran/ Brondong sebagai anak asuh Kyai Kendil Wesi , menjadi santri yang tekun , mengaji dan menjalankan syariat Islam  sehingga pengetahuan agamanya sangat luas .  Sebagai santri  yang luas pengetahuan agamanya , keteguhan imannya ,keluhuran budinya serta kesucian hatinya, dia menjadi ustadz yang sangat dihormati dan terkenal .
Maka tidak salah beliau mendapat perhatian KI Bimotjili dan kemudian menjodohkan dengan putrinya.
Ki Bimotjili adalah salah putra Pangeran Kebumen , Bupati Semarang yang  adalah menantu  Hadiwijaya  (Djoko Tingkir) pendiri Mataram yang diangkat dan disyahkan oleh Sunan Giri putra Blambangan
.
Setelah diambil mantu oleh Kyai Bimotjili , Ki Lanang Dangiran memohon izin untuk memperdalam ilmunya  berguru kepada Sunan Giri ( Sunan Giri Prapen ) yang memiliki darah Blambangan . Sebagai keluarga besar Blambangan , Ki Lanang Dangiran disambut gembira oleh Sunan Giri Prapen . Beliau ditempatkan di timur sungai Pegirian , dukuh Boto Putih dekat Ampel, yang saat itu telah berkembang sebagai pusat pendidikan Islam , yang dibangun sejak masa Sunan Ampel . Ki Lanang Dangiran dengan cepat dapat menguasai ilmu ilmu yang diajarkan,sehingga beliau sangat dihormati dan dimuliakan sehingga dipercaya menjadi ulama ditempat tersebut .
Sebagai ulama , beliau mempersiapkan putra putrinya menjadi panutan .
Beliau memiliki 5 putri dan 2  orang putra yang bernama Honggodjoyo dan Honggowongso . Maka tidak heran apabila Honggodjoyo dan Honggowongso menjadi anak muda yang memiliki character pemimpin.

Masa kebesaran Wong Blambangan

Karena itu tidak mengherankan ketika patih Surabaya , Pangeran Pekik mangkat  putra Ki Lanang Dangiran  Honggowongso ditetapkan menjadi Bupati  di Surabaya ke 11 dengan gelar Djangrono 1 Th.1670-1678, oleh Sunan Amangkurat  (Mataram-Kartosuro);
sedangkan adiknya  Honggodjoyo diangkat sebagai bupati  di Pasuruan.(1678_1686)
Jika di daerah barat , wong Blambangan mendapat kedudukan yang terhormat sebagai Patih dan bupati , demikian pula yang pergi ke arah timur .
Sunan Tawangalun 2 ( 1655 _1690), juga berhasil membawa kerajaan Blambangan mencapai kejayaan . Beliau membangun istana di Macan Putih . Selain menggiatkan pertanian , beliau membangun pelabuhan besar Ulu Pampang /Muncar yang sangat ramai. Export Blambangan meliputi sarang burung, beras, dan hasil hutan.  Pelabuhan Ulupampang setiap tahun mengexport sarang burung seharga  empat ribu found sterling, 1 ton bahan lilin, dan 600 ton beras, dan hasil hutan lainnya. Ulupampang  dipenuhi perahu besar milik kerajaan, perahu besar bangsa China, dan Bugis.  Selain perahu tersebut, pelabuhan Ulupampang , setiap setengah tahun disinggahi kapal Inggris yang berlayar ke Australia untuk membeli perbekalan . Tercatat yang mengunjungi Ulupampang adalah Francis Drake , dengan membawa kapal The Paca  berbobot 70 ton, dan The Swan berbobot 50 ton.Juga Thomas Candish telah tinggal selama dua minggu di Ulupampang , dengan membawa kapal “Pretty” dan” Wilhems (24.61)

R.Ajeng Kartini berdarah Kyai Lanang Dangiran

Kiprah keturunan Ki Lanang Dangiran , di daerah barat , kita ketahui banyak menduduki jabatan penting
Dari darah Honggodjoyo, lahir mas Tumenggung Tjondronegoro  kemudian diangkat menjadi Bupati Sidoarjo
Bila ditelusuri lebih jauh maka dari keturunan Tumenggung Tjondronegoro cucu  Ki Lanang Dangiran kita dapati
1. Kiai Tumenggung Tjokronegoro, Bupati Kesepuhan Surabaya. 1763 – 1783.
2.  Kiai Tumenggung Djojonegoro, Bupati Probolinggo.
3. Kiai Tumenggung Tjondronegoro, Bupati Lamongan 1808 – 1812 kemudian pindah ke Pati 1812 – 1830.Dari darah beliau lahirlah  Raden Ajeng Kartini ).

Dengan demikian dari darah R. Ajeng Kartini mengalir  darah Ki Lanang Dangiran , putra Sunan Tawangalun , raja Blambangan
Kiyahi Brondong (pangeran Lanang Dangiran) wafat pada tahun 1638 dalam usia + 70 tahun  dan dikebumikan  di Botoputih Surabaya

References:
1.Rd Panji H. Bambang Kuntjoro. on Tuesday, July 17, 2012 at 9:44pmhttps://www​.facebook.com

2.majapahit2010: SILSILAH KETURUNAN ( versi : 1 – 4 )majapahit2010.blogspot.com.

3, DR Purwadi , Dra Enis Niken H.M Hum , Dakwah Wali Songo ,Shaida Yogjakart.2007.

4.DRS I Made Sudjana M A” Negeri Tawon Madu” Larasan Sejarah .Denpasar 2001.

5.DR (Leiden ) Sri Margana “.Perebutan Hegemoni Blambangan”,Pustaka Ifada .Yogyakarta 2012

6. DR, Hasan DJafar ” Mas Akhir Majapahit ” Komunitas Bambu . Jakarta . Desember 2012

7.Umar Hasyim ” Sunan Giri” Menara Kudus .Kudus

8.Widji Saksono ” Mengislamkan Tanah Jawa” .Mizan . Bandung 1995

9.Prof DR. M Bambang Pranowo ” Memahami Islam Jawa” Pustaka Alvabet dan INSEP. Jakarta 2009

10.Supratikno Rahardjo “Peradaban Jawa” Komunitas Bambu 2011

11. Editor Komarudin Hidayat dan Ahmad Gaus AF “Menjadi Indonesia” Mizan dan Yayasan Festival Istiqlal, Bandung. 2006m

~ oleh sumono pada 25 Juni 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: