BAHASA bLAMBANGAN MENGHADAPI TANTANGAN zAMAN

Pembahasan ini berusaha menjawab pertanyaan

  • Mungkinkah  bahasa dari suatu kerajaan yang jelas geneologynya (asal usul wangsanya), berperadaban tinggi (pada abad 16 diakui lebih tinggi dari Mataram), makmur,terpelihara selama 500 tahun, hanya mewariskan  sebuah bahasa yang egaliter , campur aduk  antara bahasa strata tinggi dan bahasa rakyat????.
  • Mengapa bahasa Blambangan tidak sama dengan  bahasa Madura, Jawa, Bali, Palembang , Banten , Cirebon ,yang serumpun yaitu bahasa yang digunakan pada zaman Majapahit.
  • Jika sejatinya bahasa ini adalah bahasa yang egaliter , maka dari manakah asal jiwa seni ,lagu yang indah,syair yang elitis, yang anggun, itu?
  • Mengapa bahasa ini mampu menjadi lingua franca Kabupaten Banyuwangi.  Sehingga  para pendatang dari seluruh Nusantara, bangsa Tionghoa, Arab, India dll) menggunakan bahasa ini .

 

Pendahuluan.

Para sarjana yang genius telah dapat membuktikan adanya Blambangan, mereka  telah membantah bahwa Blambangan hanya legenda , hanya bersandar pada babad  atau karena  tidak ditemukan  bukti artefak di Banyuwangi.                  Pandangan  sempit  ini telah  dibantah dengan cara pandang  yang komprenhensif,  tidak terbatas pada artefak yang ada di Banyuwangi dan babad  saja, tetapi  melacak  jauh ke sumber terpercaya   dari artefak yang ada diluar Banyuwangi ,tulisan para  mpu pada masa Majapahit, babad  para wali, penulis dari manca negara pada abad 14,15,16 dan sumber sumber  di Leiden University. Dari fakta fakta itu , tidak saja terbukti adanya kerajaaan Blambangan tetapi juga membuktikan bahwa Blambangan adalah  sebuah kerajaan yang telah ada sejak masa Singosari  yang makmur. dan pada abad ke 16 dan 17 , memiliki peradaban yang lebih tinggi dari Mataram, dan bertahan 200 tahun  lebih lama dari Majapahit  dan kerajaan paling akhir yang dapat ditaklukan oleh VOC.                                                                                                                                                              Rajanya yaitu Bhree Wirabhumi  / Menakjinggo  yang digambarkan sebagai raja yang culas dan buruk rupa mirip raksasa , ternyata adalah anak laki laki tunggal Prabu hayamwuruk  , yang telah dipersiapkan menjadi Bhumi ( putra Mahkota 0adalah seorang yang gagak perkasa, berwibawa, dan  kepemipinannya diakui oleh Kerajaan Ming China. Muhibah armada besar yang dipimpin Laksamana  Cheng Ho dari kerajaan Ming, yang melakukan perjalanan tujuh kali ke seluruh negara di Asia, diperkirakan lebih dari satukali menyinggahi Blambangan.        Buyut Bhre Wirabhumi , dari perkawinan cucunya  Dewi Sekar Dalu dengan Maulana Iskak, yaitu Sunan Giri adalah Sunan yang kharismatis,adalah  Paus /King maker raja Islam di Nusantara dan Melayu, pemimpin para wali sesudah Maulana Malik Ibrahim.  Demikian juga Prabu Tawangalun yang berkedudukan di Macan Putih ( Banyuwangi) telah membawa Blambangan mencapai puncak kemakmuran, dan sangat berwibawa  dan sangat dihormati oleh raja Hindu Bali, Sunda ,maupun Islam.

Selain pemimpinnya  yang sangat berwibawa , prajurit Blambangan juga dikenal sangat pemberani.Ketika pasukan gabungan VOC dan Mataram menyerbu dan menghancurkan Blambangan , ternyata mereka tidak mampu menggeser setapakpun wong Blambangan dari Golden Triangle  Nagari (pusat pemerintahan) Blambangan terakhir  yaitu  Bayu , Macan Putih , Kota Lateng.

Keteguhan wong Blambangan menjaga Nagari , dan adat istiadat itu, telah melestarikan  budaya  Blambangan  dan menjadikan  bahasa Blambangan menjadi lingua franca  Banyuwangi. Tetapi berbanding terbalik dengan kesenianya yang  penuh warna , anggun, dan genuin, bahasa Blambangan adalah bahasa yang egaliter, kata katanya terdiri dari serapan bahasa Kawi, Jawa, Bali, Madura,tidak memiliki unggah ungguh.

Menjadi pertanyaan besar mengapa  bahasa Blambangan , memiliki struktur yang aneh dibanding dengan bahasa serumpun( Kawi) yang berlaku di Bali, Madura, Jawa,Cirebon, Banten?

Bahasa adalah  buah tertinggi dari peradaban dan sangat dipengaruhi oleh Hystories& demographies, Geneologis /Silsilah Dinasty , Agama,System Kepemimpinan,  ,Tata Pemerintahan .

Maka untuk  mengetahui sejatinya /existensi bahasa Blambangan  , kita  akan menganalisa /larasan dari aspek itu. Apakah ada faktor faktor yang mendukung terbentuknya bahasa  egaliter dan tanpa unggah ungguh itu ?.

Hystories& Demographies, Negara  Beradab  yang  kaya.

Negeri ini sebenarnya tidak bisa dipisahkan dengan Majapahit, karena seperti tercantum dalam Prasasti  Gunung Butak,  (1294), menyebutkan adanya perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit dengan Arya Wiraraja  seorang adipati Singosari yang telah banyak membantu  perintisan dan pembentukan kerajaan Majapahit bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Dan  kemudian diangkat secara resmi sebagai adipati pertama[1] Wilayah Lumajang,dan Tigang Juru (Jember,Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) dikenal dengan   Majapahit Kedaton Wetan,dan bagian barat dikenal sebagai  Majapahit Kedaton Kulon. Kedua bagian Majapahit  memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Dan sejarah mencatat  ketika kedua sanak kadang ini bersatu maka Majapahit mencapai kejayaan , dan ketika terbelah maka suramlah Majapahit.

Majapahit Kedaton Wetan adalah sebuah kerajaan yang makmur menjadi pusat perbekalan Majapahit , dalam Nagara Krtagama , karya monumental Mpu Prapancha  sumber terpercaya karena  menjadi references utama dari Bagawan Sejarah Jawa Pigeaud, yang melahirkan Magnum Opus ( Karya Monumental) The Hystori Of Java in 14th century ,  pada  bait 99 ;

  • Pira teki lawas nira patukangan…..
  • Para mantri ri Bali ri Madura dhatang,
  • ri Balumbungan andelanika karuhun …..
  • sayawa ksiti  wetanumarkapupul……

Selama beliau (Prabu Hayamwuruk) hadir di Patukangan…..para menteri dari Bali dari Madura datang …. dari Balumbungan merupakan andalan Baginda Dimana seluruh daerah timur berkumpul menghadap. [2]

Balumbungan adalah Blambangan.

Bait 256.  Tentang kemakmuran mertua  Bhree Wirabhumi.

  • Sri natheng matahun tapel nira sita wresadha hanamamindha nandini’
  • Yekametwakenartha bhojana mijil saka ri tutukupurwwatan pegat.

Baginda Matahun mempersembahkan arca lembu putih seperti nandhini Lembu itu mengeluarkan uang dan makanan dari mulutnya tak putus putus sangat mengagumkan

Keberadaan Blambangan sebagai negara yang beradab dan makmur  juga terdapat pada  prasasti didaerah Kediri dan  Lumajang, catatan perjalanan musafir China, catatan perjalanan pedagang dan penguasa Portugal Tome Pires dalam bukunya yang terkenal “Summa Oriental “dan malahan banyak  bukti  merupakan catatan para pembesar Kompeni yang disimpan dengan baik oleh sarjana yang profesional di Leiden University.

Kemakmuran Blambangan ditunjang dua kekuatan ekonomi yaitu kekuatan agraris dan kekuatan Maritim yaitu adanya  pelabuhan perdagangan , Panarukan dan Ulupampang

Tentang Panarukan.                                                                                                                               Jonno de Barros, Decada IV,buku I,bab 7 (Portugies). Yang menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca /Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka.Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam , dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam[3]

Tentang Ulupampang.                                                                                                             Blambangan juga memiliki pelabuhan Ulupampang /Muncar yang sangat ramai. Export Blambangan meliputi sarang burung, beras, dan hasil hutan. Sejak tahun 1600 Pelabuhan Ulupampang setiap tahun mengexport sarang burung seharga  empat ribu found sterling, 1 ton bahan lilin, dan 600 ton beras, dan hasil hutan lainnya. Ulupampang  dipenuhi perahu besar milik kerajaan, perahu besar bangsa China, dan Bugis.  Selain perahu tersebut, pelabuhan Ulupampang , setiap setengah tahun disinggahi kapal Inggris yang berlayar ke Australia untuk membeli perbekalan sejak tahun 1696. Tercatat yang mengunjungi Ulupampang adalah Francis Drake , dengan membawa kapal The Paca  berbobot 70 ton, dan The Swan berbobot 50 ton.Juga Thomas Candish telah tinggal selama dua minggu di Ulupampang , dengan membawa kapal “Pretty” dan” Wilhems[4]

Dan pada abad ke 17 ,dibawah pimpinan Prabu Tawangalun Blambangan mencapai tingkat kemakmuran ,dan kejayaan . Istana Macan Putih memiliki luas 4.5 ha, dan istrinya mencapai 400 orang.Maka pantaslah seorang sejarawan menulis bahwa Blambangan pada saat itu lebih beradab dari Mataram.[5]

Begitu perkasanya Blambangan , sehingga mampu bertahan  selama 500 tahun atau 200 tahun lebih lama dari Kerajaan Majapahit.  Dan karena itu Blambangan menjadi Negeri terakhir yang dapat ditundukan VOC, dengan mengerahkan  dukungan Mataram dan Madura dan sebagian Jawa Timur.

Geneologis dynasti Majapahit Kedaton  Wetan

Dalam rangka membangun Majapahit yang Jaya, prabu Hayamwuruk , raja Agung Majapahit, memperistri putri Majapahit Kedaton Wetan. Dari perkawinan ini , lahirlah putra tunggal Hayam Wuruk , yaitu Bhree Wirabhumi, yang kemudian diangkat menjadi adipati Blambangan [6] .Dengan demikian Bhree Wirabhumi secara  Geneologis  adalah   Wangsa Sanggramawijaya, penerus wangsa Isyana. Dan wangsa Isyana adalah penerus  wangsa Sanjaya, kelompok Arya yang pertama kali datang ke Jawadwipa abad ke 7.                                                                      Untuk menjaga darah birunya, prabu Hayamwuruk  menyandingkan Bhree Wirabhumi  dengan putri adik kandung nya yaitu  Bhree Lasem yang menikah dengan adipati Matahun

Tentang  pribadi ini , kita akan mengutip sumber yang sangat terpercaya yaitu Negara Krtagama .

  • Tekwan wrdhya weke narendra sangumungwing wira bhumyang dhiri.
  • Sang sri Nagara wardhani prahita rajni kanyakanopama.

Adapun putra baginda raja yang bertahta di Wira Bhumi, dan permaisurinya  Sang Sri Nagara Wardhani( putri Bhree Lasem) seorang maharani molek tak bertara.[7]

Tentang Bhree Lasem ( adik Hayamwuruk)

  • Wwanten tari haji ri wilwatika rajni’
  • Sang munggwing lasemanaruga ring kahayan.                                    ( Ada Adinda Baginda raja  di Wilwatika ( Majapahit)’

Yang bermukim di Lasem sangat terkenal kecantikannya)[8]

Tentang  Bhree Matahun ( suami Bhree Lasem)

  • Penan sri nara natha kapwa ta huwus labdha bhiseka prabhu,
  • Sang natheng matahun priya nrpati sing rajyeng lasem susrama,

Ipar baginda raja , semua telah bertahta menjadi raja’

Raja Matahun suami Rani Lasem seorang pemberani’[9]

Geneologis yang dihormati inilah yang menurunkan raja Blambangan.

Larasan dari aspek Agama

Blambangn dicatat sebagai kerajaan Hindu yang terhormat  dan dihormati karena di kawasan ini terletak gunung yang disucikan oleh penganut Hindu  yaitu G. Semeru :

Kemuliaan Beliau ( Prabu Hayamwuruk) disejajarkan dengan Sang Hyang Adhi Guru , diyakini bersemayam di puncak gunung Semeru , yang dianggap dewanya semua dewa serta amat gaib dialam ini ,bahkan menguasai alam jagat raya. [10]

Gunung Semeru adalah  padanan Mahameru di India, yaitu tempat bersemayam para dewa Hindu. Maka tidak heran Blambangan  menjadi tempat bertapa para pandita.
Dari teks Bujangga Manik yang ditulis sekitar abad ke-16, kita dapat memperoleh sebuah nama daerah sebagai tempat bertapanya kaum agamawan Hindu, yakni “Balungbungan” yang, bila merujuk teks naskah tersebut, terletak di ujung timur Pulau Jawa . Balungbungan  adalah Blambangan.               

Pada abad ke-16, ketika kerajaan-kerajaan di Jawa telah bercorak Islam, hanya ada dua kerajaan yang berpegang teguh pada coraknya yang Hindu, yakni Sunda-Pajajaran dan Blambangan. Dan pada abad ke   17 Blambangan  dipimpin raja Hindu yang sangat disegani yaitu PrabuTawangalun dan mencapai tingkat kemakmuran dan kejayaan dan ketika wafat  upacara  Ngabennya diakui  terbesar dalam sejarah Hindu di Jawa dan  diikuti Sati 200 istri, dari 400 isterinya

Meskipun demikian  , Blambangan memiliki kedudukan yang amat terhormat dari kerajaan Islam .Islam telah menyebar di Blambangan pada abad ke 15 dan perpindahan agama dari Hindu ke Islam , berjalan dengan damai dan mulus. Tidak ada satu buktipun yang menyatakan terjadi perpindahan paksa  dari Hindu ke Islam. Sebuah buku yang terkenal mendelegimitasi Sunan Giri dan sinis terhadap penyebaran agama Islam di Jawa, yaitu Serat Darmagandul[11], mengakui Blambangan adalah tanah perdamaian Prabu Brawijaya dan Sunan Kalijaga. Bahwa ada yang menyatakan agama Islam disebarkan oleh penguasa Mataram , sesuatu yang tidak berdasar , Islam di Blambangan memiliki ciri yang sangat berbeda dengan Islam Mataram. Islam Blambangan adalah Islam para wali /Sunan Giri.

Dari fakta diatas jelaslah bahwa wong  Blambangan adalah  ras yang sangat religius. Agama apapun yang diyakini akan diimani secara penuh, dan tetap tetap menghormati keyakinan yang berbeda (pluralis)

Larasan dari aspek Kepemimpinan.

Perhatian yang besar Hayamwuruk,pada  kepemimpinan Blambangan  selain  menjaga darah birunya, dan Hayamwuruk  mempercayakan  pendampingan   Bhre Wirabhumi  pada  mertuanya ( Bhree Matahun) seorang adipati yang ahli dalam politik dan pemberani, menjadikan  Bhree Wirabhumi ,menjadi  pemimpin yang disegani . Maka ketika Hayamwuruk wafat , dan tahta Majapahit direbut oleh Wikramawardhana (menantu Hayamwuruk), Bhree Wirabhumi memisahkan diri dan membangun Blambangan. Dari Kepemimpinannya Blambangan akhirnya sejajar dengan Majapahit  Kulon  sehingga  menjadi negara yang berwibawa dan mendapat pengakuan  dinasty Ming di China.                                                                                                                   Lebih dari itu Bhre Wirabhumi  juga menurunkan pemimpin berwibawa pada zamannya. Seorang cicitnya , Sunan Giri,yaitu  putra  hasil perkawinan  cucunya Dewi Sekar Dalu dengan Syech Awalul Islam Maulana Iskah yang dibuang ke Gersik telah menjadi pemimpin di Gersik  dan  diakui sebagai Khalifatullah tanah Nusantara ( Paus Nusantara dan Melayu)  , pemimpin para wali setelah wafatnya Maulana Malik Ibrahim.

Ini membuktikan orang Blambangan tidak saja berjaya ketika menjadi pemimpin  didaerahnya, ketika berada diluar Blambanganpun ,putra Blambangan  mampu menduduki tempat tertinggi dan terhormat. Beliau tidak saja berhasil menunjukan kemampuannya sebagai pemimpin agama  tetapi  juga sebagai  pendidik  yang berwibawa .Beliau mengajarkan Nilai yang agung sebagai bekal hidup.

Pada olah batin selain dengan tirakat dan puasa, juga nampak menetapkan nilai yang harus dianut oleh santrinya yaitu;

  • Gusti iku bagusing ati; Gusti iku dumunung ana  atining manungsa kang becik.
  • (Tuhan adalah hati yang suci; Tuhan itu berada pada hati yang suci)
  • Sing sapa nyumurupi dating Pangeran iku ateges nyumurupi awake  dhewe. Dene kang durung mikani awake dhewe durung mikani dating Pangeran.
  • (Mengetahui zat Tuhan berarti mengenal dirinya sendiri.Dan barang siapa belum mengenal dirinya sendiri , berarti belum mengerti zat Tuhan

Pada  olah budi dilaksanakan dengan pendidikan character,melalui nilai nilai,

  • Kahanan donya ora langgeng , mula aja ngegungake kesugihan lan drajatira , awit samangsa  ana wolak waliking zaman ora ngisin isini.
  • (Keadaan dunia ini tidak abadi, oleh karena itu jangan menngagung agungkan kekayaan dan derajatmu , sebab bila sewaktu waktu terjadi perubahan keadaan Anda tidak akan menderita aib./Profesional)
  • Kahanan kang ana iki suwe mesthi ngalami   owah gingsir , mula aja lali marang sapadha padhaning tumitah.
  • (Keadaan yang ada tidak lama pasti mengalami perubahan , oleh karena itu jangan melupakan sesama hidup./ Caring)

Demikian juga pola kepemimpinan Hindu yang Patron Clients pada  masa  Prabu Tawangalun, dipertegas dengan menetapkan  empat syarat Kepemimpinan yaitu Kaloka , Prawira, Wicaksana, dan Bahasa.                                                                              Memaknai  syarat Kepemimpinan itu ,menunjukan betapa luar biasa visi Prabu Tawangalun, karena sangat valid dan terukur dan masih tetap relevant sampai saat ini.(Saya akan menulis larasan khusus dengan membandingkan dengan syarat kepemimpinan Modern). Apalagi dalam persyaratan tersebut ditetapkan juga Bahasa. Dalam pengertian yang luas Bahasa berarti tidak hanya menguasai bahasa  asli tetapi juga penguasan bahasa perdagangan saat itu, antara lain Melayu dan bahasa pedagang ( Inggris) tetapi juga berarti kemampuan Interpersonal / berkomonikasi dengan baik. Dengan pengertian itu maka semestinya seorang pemimpin selain menguasai bahasa dengan baik harus memiliki sikap yang menyenangkan dalam berkominikasi, santun dalam berbicara. Itulah sebabnya pada  masa Tawangalun kerajaan Blambangan , memiliki hubungan yang luas dengan kerajaan Islam Demak, Melayu, Portugal , Inggris, Bengkolen , dan Bali.

Larasan Tata Pemerintahan.

Drs I Made Sudjana  MA dalam bukunya Negeri Tawon Madu,memaparkan  Struktur Pemerintahan Blambangan sebagai berikut.

  • Wilayah kerajaan dibagi dua  yaitu

1.Nagari /pemerintah pusat

2.Jawi Kuta/pemerintah pusat

  • Nagari/Pemerintah Pusat memiliki institusi

Patih Tengen  dan Patik Kiwa ( Sebutan ini masih berlaku di Malaysia yaitu Menteri Kanan dan Menteri Kiri)

Patih Tengen memiliki institusi dua level yaitu Patinggi, Jagalatri.

Patih Kiwa hanya memiliki satu institusi Patih

Tetapi Patih Kiwa lah yang mengatur daerah Jawi Kuta.

Patih Kiwa bertanggung jawab pada Jagabela/ Prajurit.

Pada aspek Pemerintahan Daerah memiliki garis operasioanal ,pada Bekel Agung, Patih, Patinggi.[12]

Larasan dari aspek kebahasaan.

Saat ini muncul anggapan bahwa bahasa Blambangan , adalah bahasa ngoko yang kasar dan tidak memiliki Kromo, hal itu tidak benar , sebagai bukti bahasa yang digunakan pada Babad Tawangalun , yang menjadi kajian Pigeaud, menggunakan bahasa Jawa kuno yang mirip dengan bahasa kromo;

“Wong Agung Wilis wahu mantuk saking Bali ika rawuh ing Belambangan sampun kajungjung mangke linggihnya maring kumpeni sireki dados Pangeran Belambangan.” ( Babad Tawangalun canto viii hlm, 55 ,56 , dalam Winarsih Arifin Babad Blambangan  hal 87 via DR. Sri Margana  : Perebutan hegemoni Blambangan, 116).

 

Dengan paparan ini jelas sudah bahwa bahasa Blambangan memiliki tingkatan bahasa. Bahwa kromo yang digunakan wong Blambangan bukanlah hanya dari bahasa Besiki yang digunakan kalangan pesantren.

Kesimpulan larasan Hystories & Demographies, Geneologies, Agama,Leadership, Tata pemerintahan.Kebahasaan.

Dari seluruh aspek pembahasan diatas dengan jelas tidak ada satu celahpun yang memungkinkan bahasa Blambangan tidak memiliki Strata,/unggah ungguh/ toto kromo  karena semua hasil larasan mengharuskan adanya lingua franca yang memiliki Strata dan tata bahasa yang baik seperti bahasa serumpun yang digunakan pada zaman Majapahit, yaitu Jawa, Madura, Bali, Cirebon , Banten.   Dan lebih dari itu bahasa Blambangan mestinya memiliki kosa kata yang sangat sempurna karena digunakan dalam ritual agama, hubungan luar negeri, maritim, tata pemerintahan. Atau sama dengan bahasa Sunda , karena dua kerajaan inilah, yang paling akhir menjadi negeri Islam.

Tetapi mengapa bahasa Blambangan tidak memiliki Strata dan menjadi bahasa yang egaliter? Itulah yang harus kita temukan.

Memperhatikan sejarah Nusantara, tidak ada  bukti yang bisa menguatkan bahwa perpindahan agama dari Hindu ke Islam ( contoh Jawa, Madura, Minang ) yang menyebabkan rusaknya bahasa. Begitu juga hapusnya kerajaan? Maka menjadi pertanyaan besar , apa yang menyebabkan hancurnya Bahasa Blambangan.

Genocida dan hancurnya Bahasa Blambangan.

Peristiwa terbesar yang mengarahnya  pada penyebab hancurnya bahasa Blambangan adalah peristiwa genocida  wong Blambangan  seperti disampaikan oleh Stanford Raffles dan Anderson  ;

  • From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000[13]
  • Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya[14]
  • Anderson melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.[15]

Pembunuhan ini memang sangat kejam.Dengan logika sederhana ,kita dapat membayangkan kekejaman pembunuhan ini.Dengan jumlah sejumlah  80.000, dan yang dibunuh sekurang kurangnya 60.000 atau setidaknya 90% , maka pembunuhan ini, tidak saja dilakukan pada para pria , tetapi juga kaum wanita, dan bayi bayi[16].

Data Statistik yang dikemukan Raffles  dalam Hystori of Java  ( 618) membenarkan kekejaman  pembunuhan itu . Jumlah penduduk  pada thn1815( saat Raffles memerintah) , Pria  4463 , dan Perempuan 4410. Jumlah desa 140 . Raffles juga menjelaskan bahwa tiap desa  dihuni antara 30kel sampai 60 kel , dan malahan ada desa yang hanya diisi kurang dari 10 keluarga.                                                Dari fakta itu , kita dapat memperoleh gambaran sebagai berikut:

  • Adanya jumlah penduduk pria lebih banyak dari perempuan, membuktikan betapa brutalnya pembunuhan ini, apalagi jika dikaitkan dengan kecantikan gadis Blambangan.( Dalam Babad Wilis diceritakan pimpinan VOC meminta hadiah 9 (sembilan) wanita Blambangan untuk syarat bertemu dengan P.Pati) . Pada perang sekejam apapun  diakhir perang jumlah wanita lebih besar dari pria, apalagi dalam kondisi terserang wabah  penyakit[17]
  • Tidak adanya  jumlah penduduk di Nagari. Ini membuktikan para petinggi Blambangan tersapu habis dari tanah Blambangan. Fakta ini menguatkan hilangnya pengguna bahasa kromo Blambangan , dan berarti hilangnya bahasa kromo dari Blambangan.
  • Fakta penduduk yang masih ada,  tinggal di desa desa tinggal didesa terpencar , memperkuat bahasa merekalah yang sebenarnya kita gunakan saat ini.

Tulisan Novi Anoegrjekti dosen sejarah UI memperkuat bukti bukti itu.

  • Pengangkatan Bupati pertama, R. Wiroguno (Mas Alit) tahun 1773 oleh pemerintah kolonial Belanda mempertegas marjinalisasi itu. Mas Alit adalah tokoh pribumi yang dihadirkan dari Madura dan ia merepresentasikan Jawa atau Madura. Naskah Resolusi 7 Desember 1773 pasal pertama menjelaskan bahwa Mas Alit sebagai Bupati diberi wewenang penuh untuk mengatur Banyuwangi bahkan secara mandiri (tunggal) tanpa pejabat lain yang diangkat sebagai wali. Dalam naskah itu pula dijelaskan bahwa untuk mengisi dua patih yang selalu membantu Mas Alit, pemerintah Belanda maupun Mas Alit sendiri hanya memperkenankan salah satu diisi oleh keturunan Blambangan asli, patih pertama (tertua). Bawa Laksana, seorang keturunan Blambangan asli (wong Using), ditunjuk untuk menduduki jabatan itu dengan alasan ia setia dan loyal. Masa-masa pemerintahan sesudah Mas Alit, posisi komunitas Using tetap tidak berubah dan jataban orang nomor satu di Banyuwangi selalu diduduki oleh keturunan Mas Alit. Dalam perkembangan selanjutnya, keturunan Mas Alit ini menjadi kelompok priyayi tersendiri di Banyuwangi yang kurang apresiasi terhadap Using dan keusingan.[18]

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa  bahasa Blambangan yang exist saat ini, bukan bahasa yang utuh. Tetapi bahasa yang telah kehilangan stratanya karena Genocida, yang menghabiskan para priyayi , pria,wanita dan anak anak Blambangan.Dengan hilangnya para priyayi dari struktur masyarakat Blambangan, dan tiada perhatian dari pemerintahan kolonial  Belanda, telah menghapus bahasa kromo inggil dari khasanah bahasa Blambnagan.    Fakta ini juga membuktikan bahwa Genocida telah benar benar fakta sejarah.

Kesimpulan akhir  dan Harapan.

  • Berdasarkan tinjauan peradaban , dari faktor histories & demographies, Geneologies/Silsilah, Agama, Leadership, Tata pemerintahan telah terbukti bahwa bahasa Blambangan  , seperti rumpun bahasa kawi lainnya ( Madura, Jawa, Bali), memiliki tata krama, unggah ungguh .
  • Lebih dari itu kosa kata bahasa Blambangan seharusnya lebih sempurna, karena Blambangan adalah tanah suci orang Hindu, memiliki masa jayanya yang lebih panjang dari Majapahit, adanya perpindahan agama yang amat damai, dan negeri terakhir yang dapat ditaklukan VOC.Oleh karena itu setidaknya sama dengan bahasa Sunda.

 

  • Hilangnya bahasa kromo dari khasanah bahasa Blambangan ,karena adanya Genocida yang membunuh para priyayi,pria, wanita dan anak yang mencapai 90% penduduk Blambangan, yang diteruskan dengan marjinalisasi wong Blambangan, baik oleh VOC maupun Bupati Kolonial.
  • Bahasa Blambangan yang kita gunakan adalah bahasa kaum petani yang tersisa di negeri Blambangan , dari sisa sisa Genocida.
  • Para petani ini, telah dapat menduduki kembali Golden Triangle Nagari Blambangan ( Bayu, Macan Putih, Kota Lateng). Pada posisi dipusat Nagari ,keyakinan yang teguh, dan memiliki  kekuatan ekonomi yang kuat, para wong Blambangan yang termajinalisasi oleh  Bupati Kolonial  telah mampu mempertahankan bahasa Blambangan sebagai bahasa kebudayaan , dan lingua franca.
  • Maka menjadi keharusan untuk wong Blambangan mempertahankan bahasa ini, dengan sikap yang sama dengan leluhur kita yaitu sepenuhnya Mandiri.

[1] Lekkerkerker, 1923:220

[2] Prof DR Drs I Ketut Riana S.U Nagara Krtagama ,Kompas  2009

[3] Drs I Wayan Sudjana . Negeri Tawon Madu 22

[4] Ibid 24,61

[5] Dr.Puwadi M.Hum,Dra Enis Niken H.M.Hum 2007. 110 via Kamajaya 1992:98

[6] Ibid .73

[7] Ibid Bait 16

[8] Ibid Bait 12

[9] Ibid Bait 14

[10]Ibid 31

[11] Serat Darmagandul, Kalamwadi , terbit pertama kali tahun 1830,dicetak kembali th 1990 .Dahara Prize.. Tokoh Antagonis Darmo Gandul, Nurul Huda ,Pura Pustaka , Jogya 5 Juli 2005.

[12] Ibid 119

[13] Thomas Stanford Raffles , Hystory of Java,68

[14] Epp 1849 247

[15] Bosch, via Anderson 1982 75 ,76

[16] Pada jumlah penduduk 80000, biasanya 25% ( 20.000)terdiri dari pria dan  25 % ( 20.000) terdiri dari wanita , dan 50% anak ( laki laki dan perempuan.

[17] Beberapa sarjana mengatakan bahwa merosotnya penduduk Blambangan karena perang saudara dan atau adanya wabah penyakit.

[18] Novi Anoegrajekti , Wong Using :Sejarah Perlawanan dan Pewaris Menakjinggo. Desantara 04-03-2008

~ oleh sumono pada 23 September 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: