*DR Boedi Mranata putra Banyuwangi yang succes.(Alumni SMAN Banyuwangi)

DR.Boedi Mranata dengan Pangeran Charles

DR.Boedi Mranata dengan Pangeran Charles

DR. Boedi Mranata Putra Banyuwangi yang Succes.

(summa cum laude di Hamburg University, Patron Birdlife yang mendampingi Pangeran Charles di Indonesia)

                  ( REUNI EMAS SMAN I BANYUWANGI  24 SEPTEMBER 2009)

Aku mengenal Oen Ho sebagai kawan sekelas isteriku (mantan Pacarku). Kepergiannya ke Jerman , setelah tamat SMA Negeri  Banyuwangi th. 1969, sempat menjadi pembicaraan kami. Setelah itu, kami sibuk dengan aktivitas masing-masing, sampai kira-kira 10 tahun yang lalu, Ho mengundang kami ke villanya di Carita. Ternyata Ho yang saya temui saat itu, adalah DR. Boedi Mranata , pakar wallet di majalah Trubus.  Rubrik Trubus yang saya gemari. Setelah saya pension, kami bertemu kembali. Saya berpikir, bahwa seandainya ada tulisan tentang perjoangan bapak-bapak kita dari Banyuwangi yang sukses, alangkah besar dampaknya pada generasi muda. Maka saya mulailah, tulisan itu, dengan DR. Boedi Mranata, yang dengan sepenuh hati menerima keluarga kami, menceritakan masa-masa lalu dan data-data secara terbuka. Inilah kisah itu.

————————————————————————-

Buku Dr. Karl May, yang bercerita tentang petualangan  Old Shutterhand dan kawan Indiannya Winnetou berjoang membela kebajikan suku-suku  Indian di Amerika, rupanya sangat mempengaruhi jiwanya untuk selalu ingin tahu tentang dunia diluar Banyuwangi, serta selalu mencoba berpetualang.

Pernah suatu ketika di SMA kelas 1, dia bersama beberapa teman mendaki kawah Ijen yang terkenal itu lewat jalur dari desa Licin. Pendakian memakan waktu seharian, menginap dipuncak Ijen dan pulang esok harinya. Ada teman yang menangis karena kelelahan, sebagian lagi sakit perut karena meminum air kali, ada juga seorang teman yang meloncat dan terkilir kakinya karena mendengar suara harimau mengaum dibelakangannya. Perjalanan tersebut banyak rintangan dan sangat melelahkan, Tapi seminggu kemudian mereka sudah saling mengejek dan tertawa sepuasnya.

Dilain kesempatan dia bersama kawan-kawannya, mencari jalan yang tidak biasa menuju pelabuhan Banyuwangi. (tempat rekreasi yang paling popular pada saat itu). Jika orang- orang melewati jalan raya menuju pelabuhan Banyuwangi, Boedi dan kawan-kawannya lebih memilih melintasi rawa-rawa bakau .

Satu-satunya yang dipikirkan hanyalah  bahwa dia dan kawan-kawan pasti akan sampai ke pantai kalau melewati hutan bakau tersebut. Dia tidak pernah berpikir berapa dalamnya rawa-rawa bakau atau bahaya apa yang mengancam dalam rawa.

Saat bercerita pengalaman melewati rawa-rawa bakau itu, Boedi sangat menikmati pengalaman ini, dan  tertawanyapun meledak, apalagi saat mengenang ketika sampai ditengah rawa ternyata kedalaman rawa telah melewati  perut, sementara lumpur rawa semakin pekat melekat dikaki. Kawan-kawannya ketakutan, dan dia yang kebingungan karena tidak pernah menyangka keadaan akan separah itu. Dia berusaha meyakinkan kawan kawannya, sementara Boedi sendiri tidak yakin apakah dia dapat melintasi rawa bakau itu……….

Belum lagi mencapai tepi pantai, dia sudah mendengar teriakan orang-orang agar dia berhati-hati karena dirawa itu banyak buaya. Tawanyapun semakin keras, mengenang tingkah laku kawan- kawannya berusaha secepat mungkin mencapai pantai dengan muka yang pucat pasi.

Setelah kejadian-kejadian itupun dia heran, mengapa cerita yang menakutkan itu, menjadi sangat indah kalau diceritakan kembali, menjadi inspirasi cerita jenaka….. sama seperti keherannannya, ketika dia pergi ke Surabaya. Disana orang menganggap Banyuwangi kuno, sementara selama ini dia beranggapan orang Banyuwangi adalah orang kota, yang lebih modern dari orang Srono ?(kota kecamatan di Banyuwangi)

Diapun berpikir apa yang terjadi kalau saya pergi ke Jakarta, apakah orang Jakarta akan menganggap orang Surabaya kuno. Rupanya pikiran untuk mengetahui dunia lain telah merasuk dalam tulang sumsumnya.

Oleh karena itu dia berusaha sepenuh hati untuk pergi ke Jakarta agar dapat membuktikan anggapannya itu. Maka ketika dia sampai di Jakarta dan ternyata apa yang disangkakan adalah betul, maka diapun berpikir keras apa yang terjadi kalau dia keluar negeri, apakah orang Jakarta menjadi kuno……

Kelihatannya didunia ini banyak hal-hal yang sangat menarik yang harus kita lihat dan rasakan. Hidup ini hanya sekali dan sayang kalau itu dilewatkan. Maka Boedi pun berketetapan hati untuk pergi keluar negeri, setelah tamat SMA…….Pokoknya keluar negeri.

Ketika hal itu dia sampaikan ke orang tuanya, ibunya tidak habis pikir, apa yang terjadi pada anak ini………. Apa dia tidak berpikir kalau dia sakit, berobatnya bagaimana………siapa yang merawat. Bagaimana makannya……Tetapi keinginan Boedi sudah tak terbendung, dia harus keluar negeri. Dan setiap saat dia kemukakan cita-cita itu kepada ayahnya. Karena tidak kuat menahan emosinya, ayahpun menghardiknya;” Baik akan saya kirim kemanapun kamu mau, semua akan disiapkan semampu saya, kalau kurang cari sendiri kekurangannya, dan jangan pulang sebelum berhasil. Kamu adalah laki laki, dan yang namanya laki laki pantang menyerah sebelum berhasil. Kalau tidak berhasil lebih baik mati disana saja.

Boedi tidak menyangka ayahnya akan sekeras itu sikapnya, dan dia tahu apa yang akan terjadi kalau mundur, setelah keputusan ayahnya diambil.. Kini  hanya ada satu tekad untuk menerima tantangan itu, pergi sekolah keluar negeri, apapun yang terjadi, seperti yargon pada saat itu  sangat terkenal ; rawe rawe rantas, malang malang putung – Never give up!…….….. Sejak saat itu melalui sanak famili dan rekan-rekannya di Surabaya, Boedi mencari informasi untuk sekolah diluar negeri dan pada akhirnya  Boedi pun memberanikan diri mengambil keputusan untuk sekolah di Jerman. Dia menyadari bekal bahasa Jermannya yang hanya seadanya, sesuatu yang didapat dari guru bahasa Jerman di SMA Negeri Banyuwangi pada waktu itu  Pak Law Shie Hing. Tetapi dia yakin bekal itu sudah cukup daripada tidak tahu sama sekali.

Ketika saya tanyakan pengalaman tentang saat pertama dia di Jerman, dia hanya tertawa terbahak,dan dia katakan semua pengalaman itu pasti sama untuk semua orang yang pertama kali pergi keluar negeri seperti dia. Susah mas……..

Dan dia ingat tentang cara berpikir orang antara satu kota dengan kota yang lain. Dugaannya bahwa orang Jerman pasti menganggap orang Jakarta kuno, seperti yang dia duga sebelumnya ternyata benar.

Melihat kenyataan itu  akhirnya dia sampai pada wisdom thinking, bahwa tiap orang, tiap bangsa mempunyai  pola pemikiran sendiri. Mereka merasa benar dan bangga dengan pemikiran itu. Kita sepatutnya juga harus berpikir seperti itu agar kita  bahagia dengan pemikiran kita, dan nilai budaya yang kita miliki, sebab itulah yang paling cocok untuk kita.Tetapi kita juga harus memahami cara berpikir mereka, bertoleransi dengan tanpa merubah pola pikir dan budaya kita..

Seteguh itukah dia berpendirian, selama di Jerman.?

Rupanya bertahan pada pendirian, dan teguh memegang nilai-nilai bijaksana dari Timur tidaklah mudah.

Ketika prestasinya semakin  baik di Universitas Hamburg, diapun semakin dikenal kawan-kawannya. Maka kehidupan remaja Jerman mulai menyerap di tubuhnya.Pergi dansa dimalam hari, dan pulang di larut malam, adalah suatu yang biasa. Sebelumnya kuliah dan belajar menjadi utama sekarang kuliah menjadi no 34, artinya semau gue.  Akibatnya prestasi kuliahnya  menurun dratis.

Dia mulai sadar jika kebiasan ini berlarut-larut, akan berakibat buruk bagi dirinya. Oleh karena itu dia mulai mencoba menghindar kebiasaan orang modern itu, tetapi kawan- kawannya selalu menjemputnya untuk pergi dimalam hari, dan dia tidak dapat menolak, sehingga kehidupan itu semakin menggerogoti prestasinya.

Ketika  terbayang betapa kecewa orang tuanya, betapa  malunya dia, apalagi jika sebagai lelaki pulang tanpa hasil yang dijanjikan….maka tanpa pikir panjang dia mengambil anak kunci pintu kamarnya, kemudian dia lempar kuncinya keatas lemari supaya susah mencarinya. Ketika kawan-kawannya menjemput, dan mereka tahu Boedi membuang kunci pintunya, maka kawannya pun meninggalkan dia, dan dia  tidak ada pilihan lain kecuali terkurung dalam kamar dan belajar.

Peristiwa itu menyadarkan dirinya, bahwa hanya dia yang dapat melakukan untuk kebaikan dirinya. Lama kelamaan teman-temannya  malas ngajak dia keluar malam sebab kuncinya susah dicari.

Benarlah kata orang bijak , “dia yang keras terhadap dirinya, maka kehidupan akan menyapanya dengan kemudahan”.

Dia mengambil bidang Biologi meskipun mendapatkan tempat di Fakultas Kedokteran. Banyak teman-temannya mencemooh dia sebab memilih biologi. Sedangkan waktu itu biologi bidang yang tidak diminati. Menurut dia Indonesia butuh sarjana Biologi yang waktu itu masih langka. Sedangkan yang sekolah kedokteran sudah banyak.

Prestasinya semakin baik, diapun lulus master dengan Summa cum Laude,   salah satu lulusan yang terbaik di almamaternya. Kemudian dia meneruskan ke  programe Doktor. dan  lulus sebagai orang Indonesia yang pertama mendapatkan gelar Doktor Biologi bagian perikanan di Jerman. Dia sekarang sudah berhasil, sebagai seorang laki-laki yang memenuhi janjinya, dan mulai menapak karirnya di Jerman. Menikmati hidup yang layak dan menunda untuk pulang ke Indonesia. Sampai suatu saat dia mendengar berita di TV ada pesawat tempur Amerika yang seharga 30 juta USD jatuh waktu latihan. Alangkah mahalnya pesawat itu. Jika dia kerja dengan gaji 5.000 USD/bulan, berarti dia harus kerja selama 500 th. Bayangkan kerja terus menerus 500 th tanpa biaya makan, minum baru dapat membeli pesawat naas tersebut. Itu yang menyadarkan dia bahwa dengan gaji 5.000 USD ( yang dia anggap sudah hebat ), ternyata relative tidak berharga dengan harga pesawat itu. Ini yang memutuskan dia segera pulang ke Indonesia, berbuat sesuatu untuk masyarakat dan ingin membuktikan ke diri sendiri bahwa dia lebih berharga dari pesawat tersebut.

Maka pulanglah Boedi tahun 1984, dengan tekadnya seperti saat dia berangkat ke Jerman dulu. Rawe rawe rantas, malang malang putung. Di Indonesia saat itu, dia sebagai Doktor ahli perikanan dan sebagai Direktur sekaligus dari 4 perusahaan perikanan terpadu ( Grup Fega ) namanyapun cepat berkibar. Dia sering diminta sebagai pembicara di seminar-seminar. Grup Fega adalah perusahaan perikanan besar yang bergerak di Budidaya udang terpadu dan sangat terkenal waktu itu. Setelah bisnis udang menyurut, dia mulai aktif di bisnis budidaya dan ekspor wallet.  Kini  apa yang di cita-citakan di Jerman dulu, telah menjadi kenyataan..Dua orang anaknya (putra dan putri) telah menyelesaikan S satunya  di Babson College, Boston sekolah bisnis terkenal di Amerika Serikat. Sementara si bungsu prestasinya  di Jakarta International Scholl sangat membanggakan.

Kesuksesannya saat ini bukanlah sukses untuk dia pribadi tetapi juga  bermanfaat kepada masyarakat, karena DR. Boedi Mranata juga bergiat di kegiatan masyarakat local, national dan International. Salah satunya dia menjadi Patron Birdlife Indonesia sebagai bagian Birdlife Internatioanal yang berkedudukan di Cambridge, Inggris. Organisasi international ini memiliki anggota di lebih dari 100 negara. Kegiatannya untuk melindungi kehidupan burung-burung liar dan penyelamatan lingkungn. Sebagai patron dari Birdlife Indonesia, diapun  ikut aktif mengelola hutan seluas 100.000 Ha di Jambi        ( sebagai pembanding luas Jakarta 60.000 Ha ) untuk di restorasi yang dalam waktu 30 tahun mendatang akan menjadi hutan belantara kembali. Prince Charles adalah salah satu tokoh dunia yang membantu suksesnya proyek Restorasi Hutan Harapan di Jambi. Oleh karenanya Boedi sudah beberapa kali bertemu beliau. Waktu Prince Charles berkunjung ke Indonesia November 2008 yang lalu, beliau sengaja menyempatkan waktu meninjau hutan tersebut. Sebagai pihak pengundang, Boedi ikut menyertai Prince Charles ke Hutan Harapan dan ikut Presidential Lecture di Istana Negara  dengan bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  Sebuah kehormatan yang luar biasa..

Selamat dik Boedi ,


8 Tanggapan to “*DR Boedi Mranata putra Banyuwangi yang succes.(Alumni SMAN Banyuwangi)”

  1. wah saya turut bangga kepada bapak yang satu ini….ternyata sman 1 glagah (saat ini) punya alumni yang sangat hebat seperti pak boedi semoga semangat beliau dalam belajar dapat saya tiru juga bagi adek2 smansagawangi generasi baru yang sekarang…juga untuk kang sah….terimakasih banyak lewat blog panjenengan mutiara ilmu bisa kita dapat…..guud :))

  2. wah jadi bangga dengan sekolah saya dulu…….ternyata banyak orang terkenalnya……^^
    pantas aj mulai dari ibu paman dan saya sendiri alumni sman 1 glagah tercinta…………….rupanya mereka tidak salah pilih

    • Benar di SMA kita banyak sekali orang terkenalnya….sekarang tambah lagi….Agung Kuswandono….Dirjen Bea Cukai termuda sepanjang sejarah RI. Dan Arief Yahya Dir UT P.T Telkom Indonesia, BUMN terbesar yang go publik, dengan saham go Internatioanal, dan BLUE CHIP

  3. Sangat inspiratif pak bagi kita-kita yang studi dan bekerja di luar negeri. Saya heran, begitu banyak yang memimpikan untuk bekerja di luar negeri, tetapi justru ada 1001 kesempatan di Indonesia…
    terimakasih pak…dan salam buat bapak Boedi…

    • Aaaaamiiiin

    • Terima kasih dan salam kembali. Tapi jika kesempatan ada diluar negeri tidak mengapa kan…..Profesional kita terutama di Perminyakan , Geologiest Indonesia menduduki 70 % Peyronas ….karena gajinya berlipat lipat….begitu juga Drilling…..mereka tetap Nasionalist kok.

  4. Sangat membanggakan prestasi yang dicapai pak Boedi Mranata,tidak hanya bagi Penduduk Banyuwangi tapi bagi bangsa Indonesia karena mempunyai putera bangsa seperti pak Boedi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: