Legenda Selat Bali ( Selat antara Jawa dan Bali)

 

Selat Bali tahun 1923 ketika  Kapal Pengungsi Jerman “Wismar”
berlabuh di Boom Banyuwangi
Perang : Kapal Pengungsi Jerman "Wismar"

 

Benarkah Jawa dan Bali , terbelah  pada masa Jaya Kediri  ( abad ke 9

Di Bali berkembang sebuah legenda atau mithos bahwa Bali dan Jawa sampai  masa kerajaan Kediri  adalah satu daratan yang utuh. Dan terbelah setelah masa zaman Kediri  diceritakan dalam legenda berikut.
Pada masa jaya Kerajaan Daha ( Kediri) , adalah seorang pendeta  sakti   , karena keluasan ilmunya . Pendeta itu   bernama Mpu  Sidhimantra  . Sebagai seorang  yang sakti , beliau memiliki sahabat dari seluruh machluk yang ada di bumi , dan antara lain seekor naga yang sangat sakti  bernama Naga Basukuh yang menetap digoa dekat Pura Besakih. Begitu akrabnya kedua machluk ini , sehingga terjalin persaudaraan yang amat mendalam. Sebagai seorang pendeta sakti, maka pada bulan purnama sang pandita selalu mengunjungi  kawan akrabnya naga Basukih. Pendeta selalu membawa semua makanan dan buah yang lezat di Jawa . Karena indahnya persahabatan maka Naga Basukih tidak segan segan menghadiahkan harta benda yang tersimpan didalam guanya yaitu emas dan mutu manikam.
Mpu Siddhimantra mempunyai putra yang sangat disayang yaitu Manik Angkeran . Manik Angkeran sebagai layaknya pemuda masa itu memiliki kegemaran berjudi.  Tetapi rupanya kegemaran Manik Angkeran telah merusak daya pikirnya. Sehingga berjudi telah menjadi kebiasaan yang berbahaya. Harta miliknya telah habis . Setelah itu diapun tidak segan meminta bantuan ayahnya untuk berjudi. Suatu saat Manik Angkeran  , kalah berjudi, dan harta pemberian orang tuanyapun telah ludes, tapi apa daya , dia tidak mungkin meminta uang pada ayahnya karena  Pendeta Sidhimantara sakit. Sudah sepekan dia tidak berjudi , betapa malunya dia terhadap kawan kawannya karena ternyata anak pendeta sakti yang kaya akan harta itu juga kehabisan modal untuk berjudi. Maka pikirannyapun mulai dirasuki pikiran tidak benar. Dia tahu benar bahwa ayahnya setiap bulan purnama mengunjungi kawannya Naga Basukih, dan setiap pulang dari Bali selalu membawa emas dan mutu manikam.Maka ketika mengetahui ayahnya tidak mungkin pergi ke Bali karena sakit, Manik Angkeranpun mencuri kesempatan itu . Dia membawa semua yang biasa dibawa ayahnya , lebih dari itu Manik Angkeran juga membawa Genta  sang Mpu. Ketika sampai di mulut gua di dekat Pura  Besakih maka Manik Angkeran membunyikan genta nya. Maka keluarlah sang Naga Basukih. Sang Naga sempar tekejut , karena yang datang bukan Mpu Sidhimantra , namun Manik Angkeran segera menjelaskan bahwa dia adalah putra Mpu Siddhimantra, dan memberikan bukti bahwa dia diutus ayahnya untuk sowan. Sebagai wakil ayahnya maka dia diperbolehkan membawa Genta.
Seperti biasa setelah waktu berpamitan, sang Naga Basukih pun memberikan oleh oleh untuk Mpu, berupa emas dan mutu manikam.Tetapi begitu melihat ekor sang Naga dipenuhi hiasan emas dan mutu manikam , maka pikiran jahatnya muncul. Kalo seluruh harta pemberian Naga Basukih ini kuberikan pada bapakku, maka tentu dia hanya akan mendapat bagian yang kecil. Maka tanpa berpikir panjang Manik Angkeran memotong ekor Naga Basukih ,dan kemudian melesat melarikan diri. Namun Naga Basukih sangat sakti, dalam rasa kesakitan yang amat sangat , dia kemudian menyemburkan api dari mulutnya, maka terbakarlah Manik Angkeran menjadi abu.
Sementara di Daha mpu Siddhimantra , kebingungan karena selain gentanya hilang juga Manik Angkeran tidak pulang pulang. Maka pikiran sang Mpu pun , yakin putranya sedang dalam masalah besar, maka sang Mpu menemui sahabatnya Naga Basukih. Betapa terkejutnya sang Mpu mendengar pengaduan sahabatnya tentang tingkah laku putranya. Sang Mpu memohon maaf , dan berjanji akan menyatukan kembali ekor sang Naga, dan akhirnya sang Nagapun berjanji akan menghidupkan putranya. Betapa bahagianya sang Mpu . Sang Mpupun segera menyambung kembali ekor Naga Basukih  dan sang nagapun menghidupkan kembali  Manik Angkeran .  Maka sang Mpu pun , memerintahkan putranya untuk mengabdi pada Pura Besakih sebagai pemangku  (orang suci) serta menjadi sahabat Naga Basukih.
Meskipun Manik Angkeran telah menjadi sadar dan berjanji untuk mengabdi pada Pura Besakih, tetapi sang Mpu masih khawatir dengan kawan kawannya penjudi dari Daha, yang akan datang ke bali mempengaruhi putranya , maka  sang Mpu menorehkan tongkatnya di Blambangan ( Banyuwangi) , maka terjadilah belahan yang sangat besar , dan seketika air laut dari Samodera Hindia mengisi belahan itu  yang kita kenal kemudian Selat Bali. . Maka agama Hindupun menyebar keseluruh Bali, dan oleh karena itu , untuk menghormati  jasa  Manik angkeran,  para pemangku ( orang suci) Pura Besakih harus memiliki trah Manik Ngakeran.
Cerita diatas paling tidak menyiratkan dua hal ;
1.    Bahwa orang Bali memiliki hubungan yang erat dengan masa jaya Kediri. Karena penyebar agama Hindu di bali adalah trah Manik Angkeran yang berasal dari Kediri
2.    Bahwa  orang suci Hindu telah melakukan perjalanan ke Bali ketika Bali adalah bagian daratan di Jawa.

Benarkah Selat Bali terbentuk pada masa Kediri (abad ke 10) . Kenapa legenda tersebut sama dengan legenda penyebaran Hindu ke Nusantara.....Ada apa ya ..Baca Legenda Selat Bali (Selat antara Jawa dan Bali di .https://padangulan.wordpress.com ....

Legenda  diatas sangat mirip dengan legenda atau mithologi penyebaran agama Hindu ke Nusantara.  Dalam legenda itu diceritakan adalah  seorang  pendeta suci murid Siwa ( Agastya) yang melanglang buana untuk menyebarkan agama Hindu . Maka sampailah beliau di Ujung benua Asia. Sebagai seorang pendeta suci , ketika pandangannya tertuju kelaut lepas, beliau dapat memandang gugusan kepulauan yang sangat indah , penuh daya tarik spiritual yang mengagumkan . Kepulauan itu adalah Nusantara. ( Swarnadwipa) .Dalam wangsitnya kepulauan itulah yang akan menjadi pusat spiritual dunia , dan tempat berpijak untuk menyebarkan agama Hindu keseluruh Jagat Raya.
Karena itu beliau sangat ingin mencapai kepulauan itu. Namun lautan telah menghalanginya.  Maka Sang pendetapun bertiwikrama , bersemedi memuja Siwa untuk mendapatkan petunjuk guna mencapai Nusantara.  Setelah bersemedi  maka datanglah kekuatan rohani untuk menghirup air lautan. Dan sang pendetapun menghirup air lautan , sehingga air laut yang membatasi  Nusantara dan Asia kering , dan pendeta suci Agastya  berjalan menuju Nusantara.  Dan di Nusantarapun pada abad ke tujuh berdiri kerajaan besar Hindu dari wangsa Sanjaya yang mendirikan candi megah Prambanan.  Dan pendeta a suci Agastya , diabadikan dalam patung Rsi Kumbhayoni yang perutnya buncit ( karena minum air).Archa Kumbhayoni tersimpan di Museum Gajah Jakarta.
Kemiripan cerita itu adalah penyebaran agama Hindu , dilaksanakan hanya melalui daratan . Tidak pernah menyeberang lautan. Penyebaran agama Hindu ke Nusantara, malah merupakan keajaiban , karena Sri Langka yang sangat dekat dengan kerajaan besar Hindu Tamil di India,malah beragama Budha.

Konsepsi Hindu tentang dunia.

Dalam kajian  ilmiah ternyata bentuk benua Asia termasuk Kepulauan Nusantara termasuk  Bali dan Jawa telah terpisah sejak sebelum Masehi  malah diperkirakan sekitar lima juta tahun yang lalu . Tetapi dalam legenda tadi terdapat keajaiban sehingga Asia dan Nusantara  dihubungkan oleh daratan , begitu juga  Jawa dan Bali masih menjadi satu.   Adakah alasan dibalik semua legenda tadi
Menurut DR.  Agus  Aris Munandar dalam makalahnya KEMARITIMAN MAJAPAHIT  BERDASARKAN DATA YANG TERSEDIA  dalam diskusi ROAD TO BOROBUDUR WRITERS DAN CULTURAL FESTIVAL 2013, Jum’at  1 Maret 2013  menyamaikan    Konsepsual Religius  agama Hindu tentang Jagat Raya  , sebagai berikut;
1.    Konsepsi Keagamaan: Ajaran Hindu menyatakan bahwa daratan adalah tempat penting , tempat itu dinamakan Jambhudwipa,sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan kerajaan yang bercorak Hinduismedi Jawa lebih mementingkan In Ward Looking. Dan tidak memperhatikan daerah daerah di luar Jambhudwipa.
2.    Dalam konsep Makrokosmos Hinduisme menyatakan bahwa ditengah Jambhudwipa terdapat gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta Axis Mundi antara tiga dunia ( Bhurloka , Bhuwarloka, dan Swarloka ). Bhurloka adalah bagian kaki gunung , tempat tinggal manusia, ditengah Bhuwarloka , tempat tinggal para orang suci dan para pertapa, sedang Swarloka di puncak Mahameru  terdapat sorga ,istana istana bersemayamnya para dewa ( Sudarsana). Dalam konsep ini daerah tepian pantai , laut dan lautan dianggapa derah nista dan kotor, tempat tinggal roh roh jahat, para raksasa, dan machluk rendah lainnya. Oleh karena  itu perhatian ke laut , pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas  yang disenangi oleh pemeluk agama Hindu
3.    Terdapat mitos Agastya yang menyatakan adanya larangan bagi para pendeta Hindu untuk menyeberangi lautan.
Apakah konsepsi itu , yang kemudian melahirkan legenda tersebut ?
Namun kedua cerita tersebut harus diakui betapa luar biasanya rasa seni manusia Nusantara.

About these ads

~ oleh sumono pada 6 Maret 2013.

2 Tanggapan to “Legenda Selat Bali ( Selat antara Jawa dan Bali)”

  1. Makanya entah mengapa tulisan aksara Jawa hampir sama dengan tulisan aksara Bali :/

    • Ya benar . Selain itu juga karena sumber bahasa sama ,yaitu bahasa Kawi. Kemudian masing masing mengembangkan sendiri. Tetapi padan katanya juga masih banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: