Lelaki itu jejuluk Menak

•17 Februari 2017 • Tinggalkan sebuah Komentar

Halilintar disiang hari bolong.

Pagi yang sangat cerah. Ayamku si “mikir” mulai subuh tidak berhenti berkokoh ,dan bergerak dengan lincah diantara pepohonan di depan rumah. Langit biru sangat bersih.

Ayah sangat menikmati pagi yang indah ini, sambil menikmati air putih hangat dan ketan kesukaannya beliau memperhatikan saya dan adik bermain di pelataran rumah ber kejar2an.Kami semua sempat khawatir ketika ayah sakit sebulan yang lalu malahan sempat dirawat seminggu di Rumah Sakit.Syukurlah sejak empat hari Senin atau empat hari yang lalu ayah mulai sembuh dari sakitnya.Kami semua sangat bangga dan bahagia karena ayah telah sembuh dari sakitnya.

Selasa ayah malah membelikan layang layang bergambar elang.Memang sekarang sedang musim layang layang .Betapa bahagianya hatiku menerima hadiah ini. Ayah memang sangat memperhatikan aku malah mungkin memanjakan . Ayah ku tidak hanya seorang ayah tapi juga teman bermain dan idola hidupku dan pelindung dari kenakalanku.

Rabu kemarin malah sudah melakukan kebiasaan routinnya sholat Magrib sampai Isya dan subuh. Malah subuh biasanya pulang .Sejak Rabu kemarin malah sholat subuhnya diteruskan dengan silaturachim dulu dengan jamaah langgar  dan baru pulang ketika matahari sepenggalah .

Dan sekarang Kamis ayah sudah bersama kami lagi bermain, beliau duduk diteras dan kami berkejaran di taman dengan adik adik

•17 Februari 2017 • Tinggalkan sebuah Komentar

The internet connection appears to be offline. A simple preview is shown below.
*JEJER BANYUWANGI (Selayang pandang daerah Banyuwangi)
 
JEJER BANYUWANGI(Salayang pandang daerah BANYUWANGI) 
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa yaitu 5800 km ,berpandangan indah, penduduk ramah, potensi alam melimpah. 

Banyuwangi, terletak diujung Timur p.Jawa, dengan bagian Barat dibatasi oleh gunung yang tinggi , Raung, Ijen. Dipuncaknya berselimut awan , menutupnya puncaknya yang meruncing , tanda dari sebuah gunung yang masih aktip (VULCANO), tetapi ada juga yang tidak aktip lagi, tetapi pesonanya yang luar biasa yaitu kawah Ijen ( yang menurut Laksamana Sudomo, mantan beberapa menteri), ” TIDAK ADA PAGI SEINDAH PAGI DIKAWAH IJEN”. Gunung gunung itu membentang seperti great wall di China, yang memeluk Banyuwangi, seperti seorang ibu yang memeluk putra putrinya dengan amat mesra.Dibawahnya terhampar dengan hutan asli , perkebunan kopi, teh, coklat, karet .Dan perkebunan perkebunan itu , menjadi ajang nostalgia wisatawan dari Belanda ,Inggris. Mungkin betapa bersyukurnya dia pernah menginjak tanah yang begitu indah. 
Orang dari Scotland , malah menganugerahkan nama daerah pada lembah cantik di bawah gunung Raung, yaitu Gleenmore, Gleen fallooch, Gleenlevis. 
Datanglah pada bulan Desember, ketika hujan membasahi bumi isteri setia adipati Sidopekso,Dewi Sritanjung, alam begitu harum dengan harumnya bunga kopi yang sedang mekar, seharum tanda bakti seorang istri , yang diragukan kesetiaanya oleh suaminya. Begitulah orang orang tua kami mengabarkan keanak cucunya tentang berita asal nama Banyuwangi. Cinta adalah kesetiaan yang harumnya semerbak sampai akhir jaman. 
Sedang sebelah utara, dibatasi hutan jati dan cagar alam yang sebagian , merupakan bagian daerah Situbondo. Tetapi binatang didalamnya(banteng, merak, burung indahlainnya) tidak pernah mengenal batas daerah itu . 
Dimusim hujan , hijau menyegarkan, tetapi dimusim kemarau , kering kerontang, yang tinggal pohon jati , tegak berdiri, kokoh dan berotot, seperti serdadu yang selalu siap berjaga. 

Sedang sebelah , timur dibatasi oleh .selat Madura, selat Bali dengan pantainya yg landai, dengan pasir bersih mengkilat, dan lautnya begitu jernih ,biru,ibarat selendang tenunan termasyhur dari India yang menutupi kaki dara jelita ketika duduk bersimpuh di teras rumahnya.Di Selatan dibatasi oleh lautan Hindia yg ombaknya bergulung gulung setinggi harapan para persilancar dunia, menghentak pantai terjal, dan menghempas pantai datar. Para persilancar dunia mengenalnya sebagai G.Land.

RUMAH YG JADI HOTEL. INDAH DAN MAHAL RUMAH YG JADI HOTEL di Carment USA. INDAH DAN MAHAL

 
Mengingatkan penulis sebuah kota kecil yang indah di California ,Carment , dengan debur ombak lautan Pasifik, dengan rumah kota kecil penuh bunga, dengan harga sewa yang selangit.(Sebuah hasil rekayasa orang yang bersyukur). Sedang G.Land , sebuah tempat yang menjadi bagian dari Alas Purwo, sebuah bagian surga yang masih tersisa di bumi.Di hutan nya anda bisa menjumpai banteng , menjangan, burung merak , dan semerbak bunga hutan, tetapi jangan salah seperti penulis, mengira harum bunga hutan, ternyata harumnya macan kumbang 
Meskipun secara geographis Banyuwangi terisolir ,tetapi Banyuwangi adalah lembah yang subur dengan pertanian dan hasil laut yang melimpah, sehingga menjadi bagian yang amat penting, dalam percaturan sejarah Nusantara. Pernah menjadi bagian kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram , sesekali menjadi bagian kerajaan Bali,tetapi lebih dari itu Banyuwangi juga menarik perhatian banyak orang luar Nusantara, termasuk laksamana CHENG HO, GUBERNUR STANFFORT RAFLLES, BELANDA. 

Laksamana Cheng Ho mengenalnya sebagai lumbung pertanian dan hasil laut yang melimpah , sehingga laksamana perlu melanjutkan perjalanan ketimur, untuk menambah perbekalan logistiknya sebelum kembali Tiongkok, setelah berperang dengan kerajaan Majapahit.
Daerah yang dulu dikenal sebagai Blambangan ini adalah pemberi upeti cukup besar terhadap Majapahit ,juga pernah memberontak terhadap Majapahit ketika dibawah pemerintahan Raja Putri Tri Bhuwana Tungga Dewi ,karena perlakuan yang tidak adil .
Peristiwa besar ini telah terekam dengan baik pada hati rakyat sehingga menjadi Legenda. Disamping menjadi cerita lisan , pemberontakan ini sering diangkat dalam seni pertunjukan khas Banyuwangi.yaitu Damar Wulan.
Dalam seni Damarwulan ,Majapahit tidak mengirimkan Mahapatih Gajahmada , panglima perang yang paling mashur pada saat itu.untuk menumpas pemberontakan ini, tetapi mengirimkan seorang pemuda yang digambarkan berpenampilan seperti Arjuna dalam pewayangan yaitu raden Damarwulan
Seni pertunjukan ini sangat tragis,membuat tertawa tetapi rasa pedih luka tetap terasa ,karena mengakui kebesaran kerajaan Majapahit,yang melakukan pendekatan yang lemah lembut dan mengalahkan,tetapi tetap mengakui kepahlawanan Bhree Wirabhumi,(Menak Jinggo) .
Tragedy yang dapat menjadi pelajaran terbaik.Mengakui kekalahan tetapi tetap menjunjung kepahlawan.dan menghormati wibawa besar seorang pimpinan Begitulah kira kira pesan cerita ini .Dan ternyata cerita Damarwulan menjadi bacaan wajib sekolah di Malaysia , dalam cerita rakyat di Nusantara
Di zaman penjajahan Belanda , Banyuwangi tidak begitu menarik , karena daerah ini meskipun subur, tetapi tidak menghasilkan tanaman yang diperlukan Belanda , seperti , pala dan cengkeh

SIR STANFORD RAFLESS SIR STANFORD RAFLESS

 

Tetapi pada saat Inggris mengambil alih penjajahan Belanda di Nusantara, Gubernur Jendral Sir Stanford Raffles(1781 sampai dengan 1816) melihat potensi yang amat besar dari daerah ini,dan betapa strategisnya Banyuwangi untuk Bandar persinggahan menuju Australia, tanah harapan yang baru dibangun The Great Britain.
Maka pembangunan perkebunan karet, coklat, kopi, karet , jati , pisang, dimulai dan dilakukan secara besar besaran.
Banyuwangi tidak hanya strategis dan daerah yang amat potensial bagi The Great Britain tetapi juga sangat indah dan betapa terpesona orang The Great Britain atas keindahan alam Banyuwangi .
Sungai yang jernih ,lebar gemercik , menerjang batu batu dan kerikil yang keras dan hitam, dengan meliwati lembah dan bukit dan ditepinya tumbuh bunga bunga liar warna warni(seperti yang dilihat penulis ketika over land di Iggris) rupanya mengingatkan orang Inggris akan kampong halamannya, di Great Britain sana, maka diabadikanlah nama daerahnya , Glenmoore, Gleenfalloch, Gleenlevis,didaerah pegunungan Banyuwangi.( Glenmore asli ada West England, tetapi ada juga di Brown County di Northeastern, Winconsin, USA ,dan Queensland di Australia dan nama 2 0 lainnya didunia, lihat komentar)
Untuk keperluan pengiriman hasil Banyuwangi , Inggris membangun kantor dagang Inggris yang dikenal saat ini dengan Inggrisan,kantor pemerintahan, markas tentara, membangun pelabuhan, dan bersamaan itu pula mendatangkan bangsa 2 China, India, Maladiva, Arab, dan suku Jawa Madura ,Melayu, Bugis ke Banyuwangi. Maka Banyuwangi menjadi daerah yang multi Etnis .
Karena pembangunan yang pesat di zaman Inggris inilah, pelabuhan Banyuwangi menjadi persinggahan kapal kapal Inggris yang akan melanjutkan perjalanan ke Australia , dan pada saat yang sama mampu mengekspor hasil perkebunannya ,kopi, coklat , the ,karet dan juga pisang ke Australia.
Oleh karena itu ada versi lain yang mencatat ketika ketika Sir Stanfort Raffles harus menyerahkan kekuasaan ke Belanda., Banyuwangi dan Bengkulu tetap dipertahankan sebagai daerah kuasa Inggris karena secara de vacto Belanda tidak pernah menduduki Banyuwangi. Dan itu menjadi sangat penting ketika Raffles ditunjuk kembali menjadi Gubernur Bengkulu pada tahun 1818 sampai dengan 1819. Baru kemudian Raffles menyerahkan Bengkulu dan Banyuwangi ke Belanda , setelah BELANDA mengakui kewenangan Inggris untuk menguasai jalur laut Singapore dan membebaskan selat Malaka dari kekuasaan Belanda.
Bergaul dengan multi etnis , dibawah pemerintahan Inggris yang terbuka dan adanya sifat kemandirian orang Banyuwangi (Osing), menyebabkan orang Banyuwangi sangat terbuka, terhadap pengaruh dari luar, menyerap dengan intens pengaruh luar, tetapi tetap mempertahankan ke Banyuwangiannya(.Itulah yang membedakan orang Osing, dengan Tengger meskipun mereka berasal dari rumpun Majapahit.)
Atau sebaliknya pendatang itu terserap dalam Banyuwangi. Disangka asli Banyuwangi ternyata keturunan madura asli ,atau disangka orang Jawa padahal asli Banyuwangi
Oleh karena itu, mengapa di Banyuwangi menjadi daerah yang menarik semua Etnis.
Maka tidak saja orang Inggris , orang Chinapun merasa perlu menganugerahkan nama desanya pada desa di Banyuwangi yaitu Cungking.Seandainya dilakukan inventarisasi mungkin banyak desa di Banyuwangi punya padanan nama dengan desa desa di Jawa , Madura, Melayu, Bugis, Bali.
Penulis pernah mengira desa Alasmalang yang dikenal dengan tradisi pesta rakyat KEBO KEBOAN,suatu pesta kaum petani yang asli osing, adalah nama desa asli Banyuwangi, ternyata penulis mendapatkan padanannya nama desa itu ketika bertemu pedagang barang barang made in luar negeri di Kuta Bali. Ternyata desa nama pedagang itu adalah Alasmalang, tetapi terletak di Madura. Kelompok pendatang dari desa Alasmalang, Madura, memang dikenal menguasai perdagangan barang barang bermerk buatan luar negeri made in China.
Orang orang Banyuwangi sangat terbuka, memiliki interpersonal approach yang baik,pergaulan antar etnis yang akrab perkawinan antar bangsa., antar suku , menjadi hal yang biasa.Anda bisa mendapatkan orang Tionghoa kawin dengan Arab di Banyuwangi. (Waktu penulis bersekolah dari Sekolah Rakyat sampai SMA Negeri dari tahun 1958 sampai dengan 1967,kawan penulis terdiri Tionghoa, India, Arab,Pakistan)
Pengaruh segala budaya dicerna dengan olahan yang sempurna. Sebuah peradaban yang unik, peradaban pedalaman , tetapi mampu mengolah menyerap budaya luar dengan gemilang
Musiknya pada dasarnya sama dengan Jawa tetapi dipukul, menggunakan tempo yang cepat, dan dipukul keras seperti Bali . Musik Arab bersanding dengan gamelan jawa, gamelan bali ,musik barat sehingga membentuk jalinan rumit yang tidak ditemui dibagian musik manapun. Kegemaran akan musik , telah mengusik banyak pihak, untuk menggeluti musik Banyuwangi, dan meninggalkan kesan yang luar biasa, karena begitu cintanya orang Banyuwangi dengan musiknya, jangan coba menyanyi lagu Banyuwangi dengan nada yang tidak benar. Orang sekeliling anda akan berkerut wajahnya( Kompas).
Gandrung Seblang telah dipilih Oleh Smithsonian Folkways Institut Amerika Serikat sebagai wakil lagu rakyat dunia menjelang fajar.
Disamping itu sampai sejauh ini penulis juga belum menemukan , pandanan Angklung Caruk, sebuah pertunjukan yang mengadu kecakapan beradu lagu. Inilah suatu pertandingan yang mengadu kecakapan pemain untuk mengadu kecakapan memainkan lagu lawan, tetapi juga mengasah penonton nya untuk memahami lagu dengan benar.
Makananyapun sangat khas,bermacam mulai dari yang asli sampai yang dicampur campur, sehingga menimbulkan rasa tersendiri. Pernah kenal rujak soto, rujak petis yang dicampur soto. ooo alangkah nikmatnya.
Seorang tokoh motivator di Indonesia, pernah memberi contoh , tentang sesuatu ketidak mungkinan, tetapi menjadi terjadi, yaitu rujak soto.
Satu makanan yang kami yakini, makanan khas Banyuwangi, dan tidak kami dapati di daerah Indonesia lainnya, ternyata malah makanan orang India, dan bahannya dijual di Supermarket terkenal di Singapore, Mustafa.
Tags:
Categories:

•17 Februari 2017 • Tinggalkan sebuah Komentar

The internet connection appears to be offline. A simple preview is shown below.
*JEJER BANYUWANGI (Selayang pandang daerah Banyuwangi)
 
JEJER BANYUWANGI(Salayang pandang daerah BANYUWANGI) 
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa yaitu 5800 km ,berpandangan indah, penduduk ramah, potensi alam melimpah. 

Banyuwangi, terletak diujung Timur p.Jawa, dengan bagian Barat dibatasi oleh gunung yang tinggi , Raung, Ijen. Dipuncaknya berselimut awan , menutupnya puncaknya yang meruncing , tanda dari sebuah gunung yang masih aktip (VULCANO), tetapi ada juga yang tidak aktip lagi, tetapi pesonanya yang luar biasa yaitu kawah Ijen ( yang menurut Laksamana Sudomo, mantan beberapa menteri), ” TIDAK ADA PAGI SEINDAH PAGI DIKAWAH IJEN”. Gunung gunung itu membentang seperti great wall di China, yang memeluk Banyuwangi, seperti seorang ibu yang memeluk putra putrinya dengan amat mesra.Dibawahnya terhampar dengan hutan asli , perkebunan kopi, teh, coklat, karet .Dan perkebunan perkebunan itu , menjadi ajang nostalgia wisatawan dari Belanda ,Inggris. Mungkin betapa bersyukurnya dia pernah menginjak tanah yang begitu indah. 
Orang dari Scotland , malah menganugerahkan nama daerah pada lembah cantik di bawah gunung Raung, yaitu Gleenmore, Gleen fallooch, Gleenlevis. 
Datanglah pada bulan Desember, ketika hujan membasahi bumi isteri setia adipati Sidopekso,Dewi Sritanjung, alam begitu harum dengan harumnya bunga kopi yang sedang mekar, seharum tanda bakti seorang istri , yang diragukan kesetiaanya oleh suaminya. Begitulah orang orang tua kami mengabarkan keanak cucunya tentang berita asal nama Banyuwangi. Cinta adalah kesetiaan yang harumnya semerbak sampai akhir jaman. 
Sedang sebelah utara, dibatasi hutan jati dan cagar alam yang sebagian , merupakan bagian daerah Situbondo. Tetapi binatang didalamnya(banteng, merak, burung indahlainnya) tidak pernah mengenal batas daerah itu . 
Dimusim hujan , hijau menyegarkan, tetapi dimusim kemarau , kering kerontang, yang tinggal pohon jati , tegak berdiri, kokoh dan berotot, seperti serdadu yang selalu siap berjaga. 

Sedang sebelah , timur dibatasi oleh .selat Madura, selat Bali dengan pantainya yg landai, dengan pasir bersih mengkilat, dan lautnya begitu jernih ,biru,ibarat selendang tenunan termasyhur dari India yang menutupi kaki dara jelita ketika duduk bersimpuh di teras rumahnya.Di Selatan dibatasi oleh lautan Hindia yg ombaknya bergulung gulung setinggi harapan para persilancar dunia, menghentak pantai terjal, dan menghempas pantai datar. Para persilancar dunia mengenalnya sebagai G.Land.

RUMAH YG JADI HOTEL. INDAH DAN MAHAL RUMAH YG JADI HOTEL di Carment USA. INDAH DAN MAHAL

 
Mengingatkan penulis sebuah kota kecil yang indah di California ,Carment , dengan debur ombak lautan Pasifik, dengan rumah kota kecil penuh bunga, dengan harga sewa yang selangit.(Sebuah hasil rekayasa orang yang bersyukur). Sedang G.Land , sebuah tempat yang menjadi bagian dari Alas Purwo, sebuah bagian surga yang masih tersisa di bumi.Di hutan nya anda bisa menjumpai banteng , menjangan, burung merak , dan semerbak bunga hutan, tetapi jangan salah seperti penulis, mengira harum bunga hutan, ternyata harumnya macan kumbang 
Meskipun secara geographis Banyuwangi terisolir ,tetapi Banyuwangi adalah lembah yang subur dengan pertanian dan hasil laut yang melimpah, sehingga menjadi bagian yang amat penting, dalam percaturan sejarah Nusantara. Pernah menjadi bagian kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram , sesekali menjadi bagian kerajaan Bali,tetapi lebih dari itu Banyuwangi juga menarik perhatian banyak orang luar Nusantara, termasuk laksamana CHENG HO, GUBERNUR STANFFORT RAFLLES, BELANDA. 

Laksamana Cheng Ho mengenalnya sebagai lumbung pertanian dan hasil laut yang melimpah , sehingga laksamana perlu melanjutkan perjalanan ketimur, untuk menambah perbekalan logistiknya sebelum kembali Tiongkok, setelah berperang dengan kerajaan Majapahit.
Daerah yang dulu dikenal sebagai Blambangan ini adalah pemberi upeti cukup besar terhadap Majapahit ,juga pernah memberontak terhadap Majapahit ketika dibawah pemerintahan Raja Putri Tri Bhuwana Tungga Dewi ,karena perlakuan yang tidak adil .
Peristiwa besar ini telah terekam dengan baik pada hati rakyat sehingga menjadi Legenda. Disamping menjadi cerita lisan , pemberontakan ini sering diangkat dalam seni pertunjukan khas Banyuwangi.yaitu Damar Wulan.
Dalam seni Damarwulan ,Majapahit tidak mengirimkan Mahapatih Gajahmada , panglima perang yang paling mashur pada saat itu.untuk menumpas pemberontakan ini, tetapi mengirimkan seorang pemuda yang digambarkan berpenampilan seperti Arjuna dalam pewayangan yaitu raden Damarwulan
Seni pertunjukan ini sangat tragis,membuat tertawa tetapi rasa pedih luka tetap terasa ,karena mengakui kebesaran kerajaan Majapahit,yang melakukan pendekatan yang lemah lembut dan mengalahkan,tetapi tetap mengakui kepahlawanan Bhree Wirabhumi,(Menak Jinggo) .
Tragedy yang dapat menjadi pelajaran terbaik.Mengakui kekalahan tetapi tetap menjunjung kepahlawan.dan menghormati wibawa besar seorang pimpinan Begitulah kira kira pesan cerita ini .Dan ternyata cerita Damarwulan menjadi bacaan wajib sekolah di Malaysia , dalam cerita rakyat di Nusantara
Di zaman penjajahan Belanda , Banyuwangi tidak begitu menarik , karena daerah ini meskipun subur, tetapi tidak menghasilkan tanaman yang diperlukan Belanda , seperti , pala dan cengkeh

SIR STANFORD RAFLESS SIR STANFORD RAFLESS

 

Tetapi pada saat Inggris mengambil alih penjajahan Belanda di Nusantara, Gubernur Jendral Sir Stanford Raffles(1781 sampai dengan 1816) melihat potensi yang amat besar dari daerah ini,dan betapa strategisnya Banyuwangi untuk Bandar persinggahan menuju Australia, tanah harapan yang baru dibangun The Great Britain.
Maka pembangunan perkebunan karet, coklat, kopi, karet , jati , pisang, dimulai dan dilakukan secara besar besaran.
Banyuwangi tidak hanya strategis dan daerah yang amat potensial bagi The Great Britain tetapi juga sangat indah dan betapa terpesona orang The Great Britain atas keindahan alam Banyuwangi .
Sungai yang jernih ,lebar gemercik , menerjang batu batu dan kerikil yang keras dan hitam, dengan meliwati lembah dan bukit dan ditepinya tumbuh bunga bunga liar warna warni(seperti yang dilihat penulis ketika over land di Iggris) rupanya mengingatkan orang Inggris akan kampong halamannya, di Great Britain sana, maka diabadikanlah nama daerahnya , Glenmoore, Gleenfalloch, Gleenlevis,didaerah pegunungan Banyuwangi.( Glenmore asli ada West England, tetapi ada juga di Brown County di Northeastern, Winconsin, USA ,dan Queensland di Australia dan nama 2 0 lainnya didunia, lihat komentar)
Untuk keperluan pengiriman hasil Banyuwangi , Inggris membangun kantor dagang Inggris yang dikenal saat ini dengan Inggrisan,kantor pemerintahan, markas tentara, membangun pelabuhan, dan bersamaan itu pula mendatangkan bangsa 2 China, India, Maladiva, Arab, dan suku Jawa Madura ,Melayu, Bugis ke Banyuwangi. Maka Banyuwangi menjadi daerah yang multi Etnis .
Karena pembangunan yang pesat di zaman Inggris inilah, pelabuhan Banyuwangi menjadi persinggahan kapal kapal Inggris yang akan melanjutkan perjalanan ke Australia , dan pada saat yang sama mampu mengekspor hasil perkebunannya ,kopi, coklat , the ,karet dan juga pisang ke Australia.
Oleh karena itu ada versi lain yang mencatat ketika ketika Sir Stanfort Raffles harus menyerahkan kekuasaan ke Belanda., Banyuwangi dan Bengkulu tetap dipertahankan sebagai daerah kuasa Inggris karena secara de vacto Belanda tidak pernah menduduki Banyuwangi. Dan itu menjadi sangat penting ketika Raffles ditunjuk kembali menjadi Gubernur Bengkulu pada tahun 1818 sampai dengan 1819. Baru kemudian Raffles menyerahkan Bengkulu dan Banyuwangi ke Belanda , setelah BELANDA mengakui kewenangan Inggris untuk menguasai jalur laut Singapore dan membebaskan selat Malaka dari kekuasaan Belanda.
Bergaul dengan multi etnis , dibawah pemerintahan Inggris yang terbuka dan adanya sifat kemandirian orang Banyuwangi (Osing), menyebabkan orang Banyuwangi sangat terbuka, terhadap pengaruh dari luar, menyerap dengan intens pengaruh luar, tetapi tetap mempertahankan ke Banyuwangiannya(.Itulah yang membedakan orang Osing, dengan Tengger meskipun mereka berasal dari rumpun Majapahit.)
Atau sebaliknya pendatang itu terserap dalam Banyuwangi. Disangka asli Banyuwangi ternyata keturunan madura asli ,atau disangka orang Jawa padahal asli Banyuwangi
Oleh karena itu, mengapa di Banyuwangi menjadi daerah yang menarik semua Etnis.
Maka tidak saja orang Inggris , orang Chinapun merasa perlu menganugerahkan nama desanya pada desa di Banyuwangi yaitu Cungking.Seandainya dilakukan inventarisasi mungkin banyak desa di Banyuwangi punya padanan nama dengan desa desa di Jawa , Madura, Melayu, Bugis, Bali.
Penulis pernah mengira desa Alasmalang yang dikenal dengan tradisi pesta rakyat KEBO KEBOAN,suatu pesta kaum petani yang asli osing, adalah nama desa asli Banyuwangi, ternyata penulis mendapatkan padanannya nama desa itu ketika bertemu pedagang barang barang made in luar negeri di Kuta Bali. Ternyata desa nama pedagang itu adalah Alasmalang, tetapi terletak di Madura. Kelompok pendatang dari desa Alasmalang, Madura, memang dikenal menguasai perdagangan barang barang bermerk buatan luar negeri made in China.
Orang orang Banyuwangi sangat terbuka, memiliki interpersonal approach yang baik,pergaulan antar etnis yang akrab perkawinan antar bangsa., antar suku , menjadi hal yang biasa.Anda bisa mendapatkan orang Tionghoa kawin dengan Arab di Banyuwangi. (Waktu penulis bersekolah dari Sekolah Rakyat sampai SMA Negeri dari tahun 1958 sampai dengan 1967,kawan penulis terdiri Tionghoa, India, Arab,Pakistan)
Pengaruh segala budaya dicerna dengan olahan yang sempurna. Sebuah peradaban yang unik, peradaban pedalaman , tetapi mampu mengolah menyerap budaya luar dengan gemilang
Musiknya pada dasarnya sama dengan Jawa tetapi dipukul, menggunakan tempo yang cepat, dan dipukul keras seperti Bali . Musik Arab bersanding dengan gamelan jawa, gamelan bali ,musik barat sehingga membentuk jalinan rumit yang tidak ditemui dibagian musik manapun. Kegemaran akan musik , telah mengusik banyak pihak, untuk menggeluti musik Banyuwangi, dan meninggalkan kesan yang luar biasa, karena begitu cintanya orang Banyuwangi dengan musiknya, jangan coba menyanyi lagu Banyuwangi dengan nada yang tidak benar. Orang sekeliling anda akan berkerut wajahnya( Kompas).
Gandrung Seblang telah dipilih Oleh Smithsonian Folkways Institut Amerika Serikat sebagai wakil lagu rakyat dunia menjelang fajar.
Disamping itu sampai sejauh ini penulis juga belum menemukan , pandanan Angklung Caruk, sebuah pertunjukan yang mengadu kecakapan beradu lagu. Inilah suatu pertandingan yang mengadu kecakapan pemain untuk mengadu kecakapan memainkan lagu lawan, tetapi juga mengasah penonton nya untuk memahami lagu dengan benar.
Makananyapun sangat khas,bermacam mulai dari yang asli sampai yang dicampur campur, sehingga menimbulkan rasa tersendiri. Pernah kenal rujak soto, rujak petis yang dicampur soto. ooo alangkah nikmatnya.
Seorang tokoh motivator di Indonesia, pernah memberi contoh , tentang sesuatu ketidak mungkinan, tetapi menjadi terjadi, yaitu rujak soto.
Satu makanan yang kami yakini, makanan khas Banyuwangi, dan tidak kami dapati di daerah Indonesia lainnya, ternyata malah makanan orang India, dan bahannya dijual di Supermarket terkenal di Singapore, Mustafa.
Tags:
Categories:

KI LANANG DANGIRAN PUTRA BLAMBANGAN

•25 Juni 2014 • Tinggalkan sebuah Komentar

(Sumono  Abdulhamid)

Ki Lanang Dangiran Putra Blambangan ,
“Dari darah beliau telah lahir para bupati di tanah Jawa , dan juga R.Ajeng Kartini”

Siapakah Ki Lanang Dangiran .

Kedawung ibu nagari Blambangan (1598 _1659)
Kedawung sekarang termasuk daerah Puger , adalah ibu nagari ketiga Lumajang Tigang Juru / Majapahit Kedaton Wetan / Blambangan .
Ibu nagari pertama adalah Lumajang yang mulai dibangun Arya Wiraraja setelah mendapat tanah segar semangka Majapahit dari R.Wijaya ( Prasasti Kudadu 1293.Pada masa Bhree Wirabhumi dibangun istana yang megah KOTA RENON  seluas 6 ha , dan dikelilingi bentang yang kuat , lebar minimal 2 m ,tinggi minimal 4 m , dikelilingi sungai Bondoyudho. atau parit lebar 2 m , dalam minimal 2 m. Kemakmuran Blambangan( Blambangan berasal dari Balumbungan sebutan dari Prapancha dalam Negara Krtagama yang berarti, negeri banyak lumbung ./makmur )
yang berada dilereng gunung Semeru ,pada masa pemerintahan Bhree Wirabhumi , telah mengundang decak kagum Laksamana Cheng Ho , menyebabkan Kaisar dinasty Ming , CH’eng- Tsu  menyetujui saran Cheng Ho untuk mengakui kedaulatan negeri ini , sehingga disebut. Majapahit Kedaton Wetan . Tetapi  rupanya Kemakmuran juga  mengundang iri dan hasrat untuk menaklukan Blambangan sehingga harus memindahkan ibu nagarinya ke Panarukan.
Panarukan sebenarnya kota yang dipersiapkan oleh raja Hayamwuruk untuk mengendalikan wilayah timur(dalam Negara Krtagama.  , diceritakan Hayamwuruk , sangat bahagia melihat perkembangan.kota ini , sehingga melakukan tari suka cita di Candi Jago ).  Sehingga kepindahan ke wilayah ini , tidaklah terlalu mengalami kesulitan . Panarukan berkembang menjadi kota bandar yang besar.  apalagi ketika Majapahit Kedaton Kulon mulai memindahkan  ibu kotanya dari tepi sungai Brantas  ke pedalaman , dan mengurangi aktivitas di pelabuhan  Surabaya , maka Panarukan menjadi pelabuhan besar  satu satunya diselat Madura.
Pada saat itu , Portugis telah menguasi tanah Melayu dan Maluku , sehingga Portugis memerlukan logistik untuk mendukung kebutuhannya . Sementara pantai utara Jawa dikuasai Sultan yang beragama Islam yang sangat bermusuhan dengan Portugis. Usaha Portugis menjalin hubungan dengan Pasundan telah digagalkan oleh Sultan Fatahilah ,maka satu satunya hubungan yang terbuka adalah Blambangan . Blambangan dapat berhubungan dengan baik karena salah satu putra Blambangan , adalah Sunan Giri yang amat disegani dan menjadi pemimpin para Wali Sanga, sehingga Blambangan mampu menjalin hubungan baik dengan Sultan Islam dipantai Utara , dan juga dengan Portugis yang membutuhkan perbekalan .
Tentang Panarukan penjelajah Portugis Jonno de Barros, Decada IV,buku I,bab 7 (Portugies),menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca /Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka. Prof DR . Moch Yamin malah menafsirkan tentang berita sebagai adanya perjanjian antara Blambangan dan Portugis dan menandai sebagai telah runtuhnya Majapahit .
Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam , dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam ( Negeri Tawon Madu .22)
Sekali lagi , kemakmuran mengundang iri dan hasrat kerajaaan lain untuk menaklukan Blambangan  . Sunan Giri mampu mencegah penyerbuan Sultan Trenggono terhadap Blambangan , tetapi para pelaut Bugis dan Maluku tidak senang dengan hubungan baik Blambangan dengan Portugis . Keramaian Pasuruan semakin surut ,apalagi ketika Portugis mulai menemukan Amerika .
Sepinya ibu nagari Blambangan Panarukan serta letusan Gunung Raung yang sangat dahsyat  pada tahun 1586 dan 1597 menyebabkan tanah runtuh di Bondowoso , Situbondo ,  dengan korban ribuan jiwa,  akhirnya mendorong pemindahan ibu nagari ke Kedawung , tanah subur di pedalaman tetapi masih dekat dengan laut ( Samudra Hindia) pada tahun 1598..
Di ibu nagari yang baru ini muncullah dinasti Tawangalun , yang membawa negeri Blambangan berjaya kembali sampai tahun 1665.
Dalam masa jaya di Kedawung , Blambangan mampu menahan serangan Sultan Agung pada tahun 1635 yang mengirim 30000 orang laskar dan menyerang Puger dan Penarukan .. Sultan Agung menawan 5000 orang Blambangan diangkut ke Mataram . Tetapi secara perlahan dan pasti Blambangan bangkit kembali . Dan pada tahun 1647 Mataram menggempur lagi Blambangan dibawah pimpinan Tumenggung Wiraguna . Serbuan ini gagal ketika Tumenggung Wiraguna terbunuh . Gagal menaklukan Blambangan Mataram melakukan perampokan besar besaran  ( Nagari Tawon Madu 28 n Perebutan Hegemoni Blambangan ). Di balik kepedihan dan kehancuran ini , sebagian penduduk Blambangan melarikan ke arah barat dan sebagian lagi mulai membangun pemukiman baru di Bayu , daerah Banyuwangi juga ke Bali.

Ki Lanang Dangiran .
Mereka yang ketimur kemudian membangun ibu nagari di Bayu , kemudian Macan Putih , dan Kota Lateng . Sedang yang kearah barat , terwakili dengan sejarah Ki Lanang Dangiran .
Adalah Prabu Tawangalun  memiliki putra putri 5 orang .Salah satu putranya  Pangeran Lanang Dangiran  yang  sejak  kecil menyenangi olah ruh ( spiritual),  sangat senang melakukan tapa brata dan pada usia 18 tahun bertapa dilaut dan menghanyutkan dirinya diatas sebuah papan kayu yang disebut.  beronjong (alat penangkap ikan), tanpa makan atau minum.
Sang pertapa muda yang berbulan bulan di ombang ambingkan gelombang karena khusyuknya ,tidak menyadari seluruh badannya telah dilekati oleh karang, keong serta karang-karang (remis) .
Arus  laut dan gelombang membawa beliau sampai ke laut Jawa . Ketika laut Jawa dilanda  taufan , maka gelombang besar melemparkan pertapa muda itu ke pantai Sedayu , Lamongan .
Dipantai Sedayu beliau ditemukan ,oleh  Kyai  Kendil Wesi , untuk kemudian dirawat dan disadarkan sehingga  menjadi sehat seperti sediakala.
Karena badannya  penuh benjolan yang  dilekati remis, seperti  jagung terbakar maka beliau mendapat julukan  “Brondong”
Pangeran Lanang Dangiran /Brondong kemudian menceritakan asal-usulnya kepada Kiyahi Kendil Wesi bahwa beliau  adalah putra Sunan Tawangalun /Menak Kedawung raja Blambangan.
.Betapa bahagianya Kyai Kendil Wesi karena dia dapat menolong saudaranya sendiri karena  Kyai Kendil Wesi juga berasal dari keturunan  raja-raja  Blambangan dari garis  Menak Soemandi.
Menak Soemandi mempunyai putra bernama Menak Gandru, Menak Gandru mempunyai putra bernama Menak Werdati, Menak Werdati mempunyai putra bernama Menak Lumpat alias Sunan Rebut Payung, Menak Lumpat mempunyai putra bernama Pangeran Kedawung alias Sunan Tawang Alun / Pangeran Kedawung ayah dari Pangeran Lanang Dangiran. Sehingga pangeran Lanang Dangiran meiliki leluhur yang sama . Apalagi kalau hal itu ditelusuri sampai raja raja di Majapahit.
Kareana itu Lanang Dangiran /Brondong kemudian dijadikan putra  Kyai  Kendil Wesi.
Kyai Kendil.Wesi kemudian mengajarkan Islam. Pangeran Lanang Dangiran/ Brondong sebagai anak asuh Kyai Kendil Wesi , menjadi santri yang tekun , mengaji dan menjalankan syariat Islam  sehingga pengetahuan agamanya sangat luas .  Sebagai santri  yang luas pengetahuan agamanya , keteguhan imannya ,keluhuran budinya serta kesucian hatinya, dia menjadi ustadz yang sangat dihormati dan terkenal .
Maka tidak salah beliau mendapat perhatian KI Bimotjili dan kemudian menjodohkan dengan putrinya.
Ki Bimotjili adalah salah putra Pangeran Kebumen , Bupati Semarang yang  adalah menantu  Hadiwijaya  (Djoko Tingkir) pendiri Mataram yang diangkat dan disyahkan oleh Sunan Giri putra Blambangan
.
Setelah diambil mantu oleh Kyai Bimotjili , Ki Lanang Dangiran memohon izin untuk memperdalam ilmunya  berguru kepada Sunan Giri ( Sunan Giri Prapen ) yang memiliki darah Blambangan . Sebagai keluarga besar Blambangan , Ki Lanang Dangiran disambut gembira oleh Sunan Giri Prapen . Beliau ditempatkan di timur sungai Pegirian , dukuh Boto Putih dekat Ampel, yang saat itu telah berkembang sebagai pusat pendidikan Islam , yang dibangun sejak masa Sunan Ampel . Ki Lanang Dangiran dengan cepat dapat menguasai ilmu ilmu yang diajarkan,sehingga beliau sangat dihormati dan dimuliakan sehingga dipercaya menjadi ulama ditempat tersebut .
Sebagai ulama , beliau mempersiapkan putra putrinya menjadi panutan .
Beliau memiliki 5 putri dan 2  orang putra yang bernama Honggodjoyo dan Honggowongso . Maka tidak heran apabila Honggodjoyo dan Honggowongso menjadi anak muda yang memiliki character pemimpin.

Masa kebesaran Wong Blambangan

Karena itu tidak mengherankan ketika patih Surabaya , Pangeran Pekik mangkat  putra Ki Lanang Dangiran  Honggowongso ditetapkan menjadi Bupati  di Surabaya ke 11 dengan gelar Djangrono 1 Th.1670-1678, oleh Sunan Amangkurat  (Mataram-Kartosuro);
sedangkan adiknya  Honggodjoyo diangkat sebagai bupati  di Pasuruan.(1678_1686)
Jika di daerah barat , wong Blambangan mendapat kedudukan yang terhormat sebagai Patih dan bupati , demikian pula yang pergi ke arah timur .
Sunan Tawangalun 2 ( 1655 _1690), juga berhasil membawa kerajaan Blambangan mencapai kejayaan . Beliau membangun istana di Macan Putih . Selain menggiatkan pertanian , beliau membangun pelabuhan besar Ulu Pampang /Muncar yang sangat ramai. Export Blambangan meliputi sarang burung, beras, dan hasil hutan.  Pelabuhan Ulupampang setiap tahun mengexport sarang burung seharga  empat ribu found sterling, 1 ton bahan lilin, dan 600 ton beras, dan hasil hutan lainnya. Ulupampang  dipenuhi perahu besar milik kerajaan, perahu besar bangsa China, dan Bugis.  Selain perahu tersebut, pelabuhan Ulupampang , setiap setengah tahun disinggahi kapal Inggris yang berlayar ke Australia untuk membeli perbekalan . Tercatat yang mengunjungi Ulupampang adalah Francis Drake , dengan membawa kapal The Paca  berbobot 70 ton, dan The Swan berbobot 50 ton.Juga Thomas Candish telah tinggal selama dua minggu di Ulupampang , dengan membawa kapal “Pretty” dan” Wilhems (24.61)

R.Ajeng Kartini berdarah Kyai Lanang Dangiran

Kiprah keturunan Ki Lanang Dangiran , di daerah barat , kita ketahui banyak menduduki jabatan penting
Dari darah Honggodjoyo, lahir mas Tumenggung Tjondronegoro  kemudian diangkat menjadi Bupati Sidoarjo
Bila ditelusuri lebih jauh maka dari keturunan Tumenggung Tjondronegoro cucu  Ki Lanang Dangiran kita dapati
1. Kiai Tumenggung Tjokronegoro, Bupati Kesepuhan Surabaya. 1763 – 1783.
2.  Kiai Tumenggung Djojonegoro, Bupati Probolinggo.
3. Kiai Tumenggung Tjondronegoro, Bupati Lamongan 1808 – 1812 kemudian pindah ke Pati 1812 – 1830.Dari darah beliau lahirlah  Raden Ajeng Kartini ).

Dengan demikian dari darah R. Ajeng Kartini mengalir  darah Ki Lanang Dangiran , putra Sunan Tawangalun , raja Blambangan
Kiyahi Brondong (pangeran Lanang Dangiran) wafat pada tahun 1638 dalam usia + 70 tahun  dan dikebumikan  di Botoputih Surabaya

References:
1.Rd Panji H. Bambang Kuntjoro. on Tuesday, July 17, 2012 at 9:44pmhttps://www​.facebook.com

2.majapahit2010: SILSILAH KETURUNAN ( versi : 1 – 4 )majapahit2010.blogspot.com.

3, DR Purwadi , Dra Enis Niken H.M Hum , Dakwah Wali Songo ,Shaida Yogjakart.2007.

4.DRS I Made Sudjana M A” Negeri Tawon Madu” Larasan Sejarah .Denpasar 2001.

5.DR (Leiden ) Sri Margana “.Perebutan Hegemoni Blambangan”,Pustaka Ifada .Yogyakarta 2012

6. DR, Hasan DJafar ” Mas Akhir Majapahit ” Komunitas Bambu . Jakarta . Desember 2012

7.Umar Hasyim ” Sunan Giri” Menara Kudus .Kudus

8.Widji Saksono ” Mengislamkan Tanah Jawa” .Mizan . Bandung 1995

9.Prof DR. M Bambang Pranowo ” Memahami Islam Jawa” Pustaka Alvabet dan INSEP. Jakarta 2009

10.Supratikno Rahardjo “Peradaban Jawa” Komunitas Bambu 2011

11. Editor Komarudin Hidayat dan Ahmad Gaus AF “Menjadi Indonesia” Mizan dan Yayasan Festival Istiqlal, Bandung. 2006m

KEBUDAYAAN BANYUWANGI WARISAN MAJAPAHIT

•27 November 2013 • 4 Komentar

(S umono Abdulhamid)



Pendahuluan .

Leonardo da Vinci, ternyata tidak hanya seorang pelukis yang sangat mumpuni, tetapi juga pemikir  yang menjelajah berbagai bidang . Kedalamannya dalam sejarah terbukti dari wisdom wordnya: Masa depan kita ditentukan oleh pemahaman sejarah kita.

Padahal pemahaman kita tentang sejarah bangsa Indonesia , tidak terlepas dari propaganda Belanda yang dimulai ketika mesin cetak/penerbitan  masuk ke Indonesia  dan  dikuasai oleh Belanda , yang dikenal dengan masa Babad Londo , seperti dikemukakan William H.Frederick, Professor Jurusan Sejarah  Yale university USA  dan Soeri Suroto dosen sejarah UGM…..Secara umum abad ke 19 merupakan zaman yang “kejam” bagi pemikiran sejarah Indonesia , khususnya Jawa( 19)…..yang kemudian kita kenal “babad londo” dimana tokoh yang paling penting ( beradab) adalah Gubernur Jendral Belanda (20)[1]

Berdasarkan pendapat diatas maka sangat menarik untuk menelaah kembali tentang  Kebudayaan /kesenian Banyuwangi ,  apalagi setelah munculnya kegiatan event Banyuwangi Festival yang berlangsung cukup lama ( selama enam bulan ) dengan beragam atraksi.  Salah satu topic yang sangat menarik itu adalah tentang pengaruh kebudayaan /kesenian Bali , terhadap  kebudayaan / kesenian Banyuwangi .

Pengaruh itu menurut sahibul hikayat tertanam pada saat kerajaan Bali  menjajah Kerajaan Blambangan . Theory tentang  penjajah  menanam pengaruh terhadap peradaban , termasuk kebudayaan dan kesenian ,sulit dapat dibantah. Penjajah memiliki watak superior, oleh karena itu dapat memaksakan peradabannya menjadi peradaban anak jajahan sebagai upaya untuk  menjaga kelanggengan penjajahannya .

Salah satu faktor munculnya  hipothesa ini ,adalh karena kebudayaan / kesenian Banyuwangi memiliki ciri, warna yang sangat khusus ,terutama jika dibandingkan dengan kebudayaan /kesenian yang berkembang pada tataran tanah Jawa. Kebudayaan /kesenian Banyuwangi berbeda jauh dengan kebudayaan /keseniaan Jawa , terutama dalam nada dan ritme, yang lincah penuh gairah, seperti pendapat para ahli yang dikirim oleh Dir Jen Nilai Budaya Seni dan Film yang  menyimpulkan tentang kesenian Banyuwangi sebagai berikut : Perbedaannya dengan musik dari bagian lain di Jawa terletak pada cara memainkannya. Banyuwangi selalu menggunakan tempo yang cepat dan jalinan rumit yang tidak ditemui dibagian manapun di pulau Jawa.[2]

Maka  sangat menarik untuk melacak kebenaran  hipothesa  diatas  dengan mengajukan  tiga pertanyaan;

1.      Benarkah kerajaan kerajaan  Bali pernah  menjajah Blambangan?    

2.      Benarkah kebudayaan /kesenian Banyuwangi dipengaruhi Bali?,

3.      Adakah sumber  peradaban Blambangan, yang membuat kebudayaan/kesenian  Blambangan berbeda dengan kebudayaan/kesenian Jawa?

Penjajahan Bali di Blambangan dan fakta fakta kerajaan itu.    

Yang menarik dari pernyataan  tentang penjajahan Bali terhadap  kerajaaan Blambangan , ternyata sangat  simpang siur ,mulai dari aspek waktunya maupun siapa yang menjajahnya.

Inilah pernyataan  pernyataan itu

·         Ada sejarahwan yang menyatakan  bahwa Blambangan dijajah oleh kerajaan Gel Gel pada  tahun 1547 ketika Gel Gel dipimpin  Waturenggong

·         Ada yang menyatakan  bahwa Blambangan dijajah Buleleng  pada masa Gusti Ngurah Panji  mulai tahun 1697  sampai dengan tahun  1729 . Karena Buleleng dikalahkan Mengwi maka Blambamgan kemudian dijajah oleh  Mengwi .Ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung  ( Lekkerker  Blambangan hal  1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan  39 ) 

·         Sementara .Drs I Made Sudjana MA, menyatakanBlambangan dijajah  Mengwi pada pada tahun 1763 sampai dengan 1768. Pada tahun 1766 , Buleleng mencoba merebut Blambangan dari Mengwi namun gagal  ( Nagari Tawon Madu  hal 57 _ 68)

·         Sementara babad Buleleng  via Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 1599-1680. Kayu Mas Agung 1995) bahwa Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) diceritakan mengusai Blambangan

·         Ada yang tanpa menyebutkan tahun dan kerajaannya, hanya menyatakan kerajaan Blambangan pernah dijajah Bali, padahal di Bali memiliki kerajaan sangat banyak, dan pada masa lalu kerajaan tersebut saling berebut kekuasaan.  

 Karena ada perbedaan pendapat/interpretasi , maka untuk menjelaskan data tersebut , penulis mengikuti petunjuk Arnold J . Toynbee yang menyatakan bahwa untuk  menjelaskan suatu bagian , terlebih dahulu kita harus meninjau keseluruhan .

“in order to understand the part we must first focus our attention upon the whole , because this whole is the field of study  that is intelligible in self.[3]  Dan disamping itu mengikuti petunjuk petunjuk methode historis  ( historical methode)  bahwa dalam pengangkatan data menjadi fakta hendaklah melalui dua tingkatan kegiatan , yaitu pertama tama kita harus melakukan kritik historis ( historical critic = penilaian terhadap sumber ) yang menyelidik apakah data itu asli atau tidak akan dan bagaimana sifat serta coraknya. Sesudah itu kita melakukan interpretasi , yang akan menetapkan makna dan saling hubungannya data tersebut. Dari situlah akan dapat ditentukan apaka data sejarah itu dapat diangkat menjadi fakta sejarah atau tidak.

Fakta sejarah  dari kerajaan Gelgel  ,  Mengwi  , Buleleng  berdasar sumber  dari Bali  sebagai berikut

·         Kerajaan Gelgel

1.Dibangun oleh   Dalem Watu Renggong  1460   dan berdiri sampai 1550Kerajaan Gel Gel mengalami masa jaya pada masa Dalem WatuRenggong selama  25 tahun , kemudian setelah itu pengaruhnya memudar

2.Dalem Watu Renggong digantikan oleh   I Gusti Agung Maruti ,dan memerintah  mulai pada tahun 1551 . Selama dalam pemerintahan I Gusti Agung Maruti , kejayaan  Gel Gel semakin menurun dan kemudian terbelah menjadi beberapa kerajaan kecil , tetapi tetap  bernaung  dibawah lindunngan  kerajaan Gel Gel . Selanjutnya  Gel Gel  metamorphosis menjadi kerajaan Klungkung , yang lebih menekankan pada aspek rochani, yaitu sebagai pelindung kerajaan kecil  tersebut  yaitu Mengwi, Buleleng , Karangasem dll..

·         Kerajaan Mengwi

1.Didirikan oleh Gusti Agung Anom pada tahun 1627 . Mengalami masa jaya setelah dipimpin putranya Gusti Agung Putu  1634 ,bergelar I Gusti Agung Made Agung,

2. Mengwi seperti halnya Badung , Buleleng, Karangasem, Gianyar, Tabanan berada dibawah Klungkung.

3. Setelah I Gusti Agung Made Agung merasa kuat,  beliau berusaha berdiri sejajar dengan Klungkung dan menjadi kerajaan yang berdaulat. Pendapat lainnya mengemukakan setelah Mengwi  menaklukkan Blambanngan gelarnya menjadi I Gusti Cokorde Sakti Blambangan.

4. Setelah pemerintahan I Gusti Agung Made Agung yang berlangsung selama 25 tahun  , Mengwi terus mendapat gempuran dari Buleleng dan Badung, yang mendapat restu dari Klungkung, dan Mengwi  terus mengalami kemunduran. Pada tahun 1729  Mengwi mendapat gempuran dari Buleleng , dan meminta bantuan Blambangan  ( Pangeran Pati II). Berkat bantuan Blambangan Mengwi terhindar dari kehancuran , dan sebagai imbalan  P.Pati II dihadiahi putri Mengwi , yang dari perkawinan ini lahir Wong Agung Wilis.Tetapi kemudian runtuh karena gempuran kerajaan Badung.

·         Kerajaan  Buleleng

didirikan I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697)

Apabila kita sandingkan fakta fakta kerajaan yang ada di Bali tersebut diatas dengan fakta sejarah dari kerajaan Blambangan, maka betapa pernyataan penjajahan kerajaan Gel Gel, Buleleng , Mengwi ,jauh dari kebenaran, apalagi ditinjau dari perspektive yang lebih luas , dari aspek religius maupun luas wilayah.

 

Ketidak benaran Blambangan di jajah Gel Gel.

Seperti disebutkan diatas   bahwa Blambangan dijajah  Gel Gel pada  tahun 1547 ketika Gel Gel dipimpin  Waturenggong .

Dikisahkan pada tahun 1546, ketika Sultan Ternggono dari kerajaan Demak merencanakan menyerang Panarukan ,  Dalem Waturenggong , raja Gelgel di Bali , mendahului menyerang Blambangan pada tahun 1547 dengan mengerahkan  200.000 laskar Gelgel di bawah kyai Ularan membunuh penduduk , merampas harta, dan membunuh raja Blambangan . ( Drs I Made Sudjana MA Nagari Tawon Madu )

Pernyataan tersebut sangat tidak mungkin ;

1.Ditinjau dari sejarah Gel Gel , seperti disebutkan diatas bahwa Dalem Watu Renggong mendirikan Gel Gel pada  1460 dan memerintah 25 tahun , atau berakhir pada tahun  1485.  

2.Jika penyerangan dilakukan pada tahun 1546 maka yang mungkin menyerang adalah    I Gusti Agung Maruti . Tetapi pada saat itu Gel Gel sudah lewat masa jayanya dan malahan   pada tahun 1551  Gel Gel terbelah menjadi beberapa kerajaan kecil dan  Gel Gel  metamorphosis menjadi kerajaan Klungkung , yang lebih menekankan pada aspek rochani, yaitu sebagai pelindung kerajaan kecil itu .

3.Selain itu disebutkan bahwa penyerangan itu dilakukan dengan mengerahkan 200 ribu tentara ,untuk menaklukan Blambangan yang  ibu nagarinya  berada di Panarukan .

1.      Pertanyaannya adalah berapa jumlah penduduk Gel Gel pada saat itu ?

2.      Mungkinkah  Gel Gel mampu mengerahkan 200 ribu  pasukan ?

Jika mengikuti theory tentang besarnya kekuatan militer satu negara adalah 10 persen ,mungkinkah penduduk kerajaan Gel Gel mencapai  dua juta orang ? Sebagai perbandingan adalah catatan penduduk Blambangan yang disampaikan  oleh Stanford Rafless  pada tahun 1750 hanya 80 ribu orang .[4] Jumlah itu  ternyata diragukan oleh beberapa sejarahwan , padahal Blambangan pada saat itu mencakup daerah yang sangat luas Lamajang , Panarukan ( Situbondo ) ,Kedawung ( Jember , Bondowoso , Banyuwangi)[5]  atau seluas 10 ribu km. sebuah nagari yang amat subur , makmur dan seluas dua kali pulau Bali  jadi jauh lebih besar dari kerajaan Gel Gel yang hanya bagian dari Bali.

Dalam Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September, DR Sri Margana yang  mengambil Doktor di Universitas Leiden ,mengemukakan Blambangan pada masa Tawangalun II  sebagai berikut;

·         Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan  yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati  sebanyak 270 orang.

·         Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.

·         Kerajaan Blambangan , dalam mempertahankan existensinya, mampu bergerak dengan mobilitas yang sangat tinggi, terbukti kerajaan Blambangan telah memindahkan ibukota  kerajaan sampai 6 (enam) kali.(Lumajang, Panarukan , Kedawung /Jember, Macan Putih, Ulupampang,Lateng/Banyuwangi)

·         Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga  dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665

Andai kata kita sepakati bahwa jumlah penduduk Gel Gel sangat besar , pertanyaannya adalah  mampukah Gel Gel  mengirim  tentara 200.000 orang ke Panarukan.???            Dengan dengan kapal layar  terbesar yang dimiliki oleh orang Madura saat ini  dengan  daya tampung maximal 100 orang, maka diperlukan 2000( dua ribu kapal). Suatu hal yang sangat fantasis.  Baik dari jumlah maupun biaya yang dikeluarkan.  Sedang jumlah laskar tersebut jauh lebih besar dari laskar yang dikerahkan sahabat Umar Ibn Chatab untuk menaklukan kerajaan besar  Persia  atau  laskar yang dikerahkan oleh Jengkhis Khan  untuk menaklukan  Daulah  Abbasiyah.  Atau dibandingkan dengan ketika Ku Blai Khan raja Asia dan Eropa menyerang Singosari  , yang mengerahkan  10 ribu tentara , dengan 1000 kapal dan persiapan perak satu ton.   Padahal  kerajaan di Bali hanya bertumpu pada suwilih ( upeti dari petani),[6] dan Bali bukan tanah yang subur. Hanya dengan kerja keras dan rasa cinta yang mendalam orang Bali mampu berkehidupan .Dalam sejarah terdapat contoh dalam pertempuran Buleleng dan Mengwi menyiagakan armada 40 buah perahu mayang, pancalang , jukung . Pasukan Mengwi bergerak sejak Juni 1766, tetapi pada Juli 1766, sudah kehabisan Logistik (kelaparan) . [7]

4.Serangan itu juga mustahil karena  kerajaan Blambangan diakui sebagai negara kaya dan telah memiliki armada laut yang kuat  dengan demikian jauh lebih perkasa dari Bali.Dibawah ini kutipan keadaan Blambangan  dari abad  14 sampai abad 16. Fakta tentang kemakmuran kerajaan Blambangan juga di kemukakan oleh Jonno de Barros, Decada IV,buku I,bab 7 (Portugies). Yang menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca /Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka.Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam , dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam[8] Dibawah ini adalah peta p.Jawa dari buku Summa oriental /Tome pires. Fideida adalah Panarukan .

4.Konsep religius agama Hindu tentang Jagad raya yang merupakan agama orang Bali juga tidak memungkinkan serangan itu.                                                                                           . DR.  Agus  Aris Munandar , menulis bahwa konsep religius Hindu  tentang dunia sbb,[9] Dalam konsep Makrokosmos Hinduisme menyatakan alam  semesta( Axis Mundi )terdiri  tiga dunia yaitu Bhurloka , Bhuwarloka, dan Swarloka . Bhurloka adalah bagian kaki gunung , tempat tinggal manusia, ditengah Bhuwarloka , tempat tinggal para orang suci dan para pertapa, sedang Swarloka di puncak Mahameru  terdapat sorga , istana bersemayamnya para dewa ( Sudarsana). Dalam konsep ini daerah tepian pantai , laut dan lautan dianggap derah nista dan kotor, tempat tinggal roh roh jahat, para raksasa, dan machluk rendah lainnya.Oleh karenanya  daratan adalah tempat penting , tempat itu dinamakan Jambhudwipa,sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan kerajaan yang bercorak Hinduisme  lebih mementingkan In Ward Looking. Dan tidak memperhatikan daerah daerah di luar Jambhudwipa. Oleh karena  itu perhatian ke laut , pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas  yang disenangi oleh pemeluk agama Hindu.Juga  larangan bagi  pendeta Hindu untuk menyeberangi lautan, seperti terungkap dari  legenda tentang penyebaran agama Hindu dari India ke Nusantara , dan dari Jawa ke Bali

Dalam penyebaran agama Hindu ke Nusantara.Dikisahkan pendeta suci  Agastya harus bertiwikrama , sehingga mampu menghirup air laut yang memisahkan Asia dengan Nusantara, dan ketika  air laut  kering maka  pendeta  Agastyapun   berjalan menuju Nusantara dan menyebarkan agama Hindu di Swarnadwipa. Legenda itu  diabadikan dalam patung Rsi Kumbhayoni yang perutnya buncit ( karena minum air) .Patung itu tersimpan  di Museum Gajah Jakarta.

Dalam penyebaran Hindu dari Jawa ke Bali , diyakini pada masa kerajaan Daha Jaya , Jawa dan Bali masih satu pulau. Mpu Sidhimantra dari  Daha (Jawa) yang berperanan penting dalam penyebaran agama Hindu di Bali, terpaksa membelah Jawa dan Bali, agar putranya Manik Angkeran , berbakti kepada Naga Basukih yang menetap di Pura Besakih ( Bali).

Betapa besarnya pengaruh konsep religius Hindu tentang dunia , yang mengabaikan laut, terbukti tidak adanya gambar kapal laut di candi Hindu

Lebih dari itu Drs I Made Sudjana MA juga menolak bahwa Dalem Waturenggong menguasai Blambangan ( Nagari Tawon Madu 27)

 

Ketidak benaran penjajahan Buleleng terhadap Blambangan.                                           Seperti dikemukakan diatas  bahwa Blambangan dijajah Buleleng  pada masa Gusti Ngurah Panji  mulai tahun 1697  sampai dengan tahun  1729 . Karena Buleleng dikalahkan Mengwi maka Blambamgan kemudian dijajah oleh  Mengwi .Ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung  ( Lekkerker  Blambangan hal  1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan  39 ) 

Pernyataan tersebut tidak mungkin  ;

1.      Buleleng terletak di Singaraja . Seperti saya sebutkan diatas bahwa kerajaan  di Bali bertumpu pada pertanian ,dan tidak memiliki keahlian Maritim karena konsep religius Jagat raya  agama Hindu.

2.      Kerajaan  Buleleng didirikan  I Gusti Ngurah Panji Sakti  dan mengalami masa jaya pada (1660 sd 1697). Jadi pada tahun 1697  I Gusti Ngurah Panji Sakti telah wafat. Kemudian Buleleng tidak memiliki raja besar lagi.

3.      Jika mengacu pada tulisan  pada   babad Buleleng dan tulisan  Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 15991680. Kayu Mas Agung 1995).bahwa Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti  menguasai Blambangan pada tahun (1660 sd 1697) , maka hal itu juga tidak mungkin karena  pada masa itu  Blambangan justru berada  pada masa jaya dibawah Tawangalun II.DR Sri Margana yang  mengambil Doktor di Universitas Leiden , Belanda dengan disertasi  “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ dalam Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September, mengemukakan Blambangan pada masa Tawangalun II  seperti dikutip diatas .

 Ketidak benaran penjajahan Mengwi atas Blambangan.

Pernyataan penjajahan Mengwi terhadap Blambangan sama kacaunya dengan pernyataan penjajahan  Blambamgan  oleh Buleleng. Lekkerker menyatakan sejak tahun 1729 ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung  ( Lekkerker  Blambangan hal  1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan  39 )  Sementara .Drs I Made Sudjana MA, Blambangan dijajah  Mengwi pada pada tahun 1763 sampai dengan 1768. Pada tahun 1766 , Buleleng mencoba merebut Blambangan dari Mengwi namun gagal  ( Nagari Tawon Madu  hal 57 _ 68)

Pernyataan tersebut tidak mungkin  ;

1.      Seperti saya sebutkan diatas bahwa kerajaan  di Bali bertumpu pada pertanian ,dan tidak memiliki keahlian Maritim karena konsep religius Jagat raya  agama Hindu.

2.      Berdasar catatan sejarah Kerajaan Mengwi , didirikan  Gusti Agung Putu dan  digantikan putranya pada tahun 1634 ,bergelar I Gusti Agung Made Agung, dan pada pemerintahananya mengalami masa jaya. Raja I Gusti Agung Made Agung telah meninggal pada tahun 1659. Dan pada saat itu Kerajaan Blambangan sedang mengalami masa jaya di masa Tawangalun II

3.      Setelah pemerintahan I Gusti Agung Made Agung yang berlangsung selama 25 tahun  , Mengwi terus mendapat gempuran dari Buleleng dan Badung, yang mendapat restu dari Klungkung, dan Mengwi  terus mengalami kemunduran. Pada tahun 1729  Mengwi mendapat gempuran dari Buleleng , dan meminta bantuan Blambangan  ( Pangeran Pati II) .P.Pati mengirim 3000 JAGABELA sebanyak 3000 orang yang bersenjatakan keris emas. Dengan kekuatan tempur itu dan dukungan rakyat ,serbuan Kerajaaan Buleleng digagalkan.(45)Berkat bantuan Blambangan Mengwi terhindar dari kehancuran , dan sebagai imbalan  P.Pati II dihadiahi putri Mengwi , yang dari perkawinan ini lahir Wong Agung Wilis.

4.      Drs I Made Sudjana MA (Leiden) dengan susah payah mencari bukti , akhirnya menyimpulkan bahwa Mengwi menguasai Blambangan pada 1763 sd 1768 padahal pada masa itu Mengwi  sudah sangat lemah.

5.      Dalam riwayat penjajahan di muka bumi ini, hanya sekali ini, saya mendapatkan seorang penjajah menggunakan tempat yang dijajah .Ku Bilai Khan  , yang berasal dari stepa gurun di Mongolia  , tidak menggunakan nama Abbasiyah  atau nama dinasti di China,yang dijajahnya, dan di hancur leburkan, walaupun dia berasal dari peradaban yang lebih rendah . Demikian juga sejarah di Nusantara

 

Dengan  uraian diatas menjadi jelas bahwa penjajahan kerajaaan kerajaan Bali  tidak memiliki fakta yang benar .Bagaimana mungkin kerajaan yang terpecah belah dan saling bertempur , tidak memiliki ekonomi  yang  baik, dan tidak memiliki  industri perkapalan dan kebiasaan melaut  mampu   menyerbu  menguasai Blambangan .                                                    Adanya  kesamaan cerita, yaitu bahwa setiap masa keemasan masa raja Gelgel, Mengwi, Buleleng ,  pasti menguasai kerajaan Blambangan,karena  cerita menguasai kerajaan Blambangan menjadi simbol kebesaran raja raja Bali. Ini bisa dipahami bila kita kaitkan fungsi Babad dalam kerajaan Bali adalah sebuah naskah suci, yang menjadi bukti legalitas kerajaan Bali . ( DR.Robin Tatu meraih gelar MA. dalam program Asian Study  di University of Hawaii di kota Manoa dalam bulan Agustus 1999. sekarang  PhD dalam bidang Sejarah). Menguasai Blambangan  yang daerahnya meliputi Lumajang , Situbondo, Bondowoso , Jember , Banyuwangi , berarti memiliki G. Semeru yang terletak di Lumajang . Dan Gunung Semeru adalah tempat bersemayam Dewa Siwa ,tempat suci , orang Hindu. Jadi menguasai Blambangan adalah bagian mendapatkan Legalitas Kerajaan Bali.

Adakah pengaruh Bali pada kebudayaan /kesenian Banyuwangi ?

Jelas sudah berdasarkan kajian sejarah tidak terbukti   penjajahan  kerajaan  Gel Gel, Buleleng , Mengwi terhadap Blambangan, maka kita perlu  melacaknya melalui ragam kesenian.

Tentang ragam kesenian Banyuwangi , saya menggunakan kajian yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Nilai Budaya Seni dan Film , Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto, volume 7,Banyuwangi tahun 2002.

Ragam kesenian  Banyuwangi menurut buku tersebut adalah;

1.      Angklung Caruk

2.      Angklung Paglak

3.      Gandrung

4.      Kuntulan

5.      Gembrung (Burdah)

6.      Barong

7.      Gedhogan Lesung

8.      Patrol

Dari rincian kesenian diatas sulit mencari padanan kesenian mana yang dipengaruhi Bali.

Kesenian Kuntulan  dan Gembrung  ( Burdah )

Kesenian ini , jelas berasal dari peradaban Islam  yang berasal dari kesenian Rebana. [10]

Barong .

Dalam hal kesenian  Barong, ternyata bentuk Barong Banyuwangi berbeda dengan Barong Bali. Barong Banyuwangi bersayap sedang barong Bali tidak. Tentu aneh menyatakan Barong Banyuwangi adalah pengaruh dari kesenian Bali.Malahan Barong Banyuwangi sangat mirip dengan relief Narasingha  pada masa kerajaan Daha.

Relief Narasingha

Dengan demikian ada kemungkinan besar  bahwa Barong Blamabangan berasal dari peradaban Daha.

Gandrung

Demikian juga Gandrung , tidak ada kemiripan dengan tari Legong di Bali. Gandrung yang awalnya dipopulerkan oleh  penari laki laki , pada awalnya terdiri atas tiga babak , yaitu babak  Jejer,  Paju dan Seblang . Gandrung  bukanlah tari hiburan seperti  Legong , maupun  Tandak, Tayub, Ronggeng.

Dedy Luthan menulis  bahwa gandrung pada dasarnya penuh pesan moral dan penarinya meyakini menjadi gandrung adalah panggilan Jiwa, semacam ritual.

“Para gandrung pada masa lampau begitu teguh mempertahankan cara yang demikian( melagukan  secara penuh ,SEBLANG LOKENTO, SEKAR JENANG, KEMBANG PEPE, SONDRENG SONDRENG dan KEMBANG PIRMA), sehingga walaupun puisi puisi tersebut tidak pernah ditulis namun hingga dewasa ini sebagian besar dari puisi puisi masih diingat dan dinyanyikan oleh orang tua terutama yang ada di pedesaaan, pada hal puisi puisi tersebut merupakan puisi yang amat tinggi dengan bahasa yang sulit dimengerti.”

Disamping itu beliau mengungkapkan bahwa kesenian Gandrung penuh mystery dan banyak sekali yang berunsur ritual.dan Inilah petikan tulisan beliau.
• Sewaktu melagukan puisi delapan bait, baik dibabak pertama maupun babak Seblang Gandrung tidak menari sebagaimana layaknya namun yang disuguhkan berupa” pantomin” serta hanya diiringi oleh alat musik pembawa melodi,seperti biola……..dan ketika biola belum digunakan ,….melodi tersebut didendangkan melalui mulut.( tahun 1939) hal 14
[11]

 

Sebuah buku yang diterbitkan Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang diprakarsai Dir.Jen Prof DR Edi Sedyawati, dan Pelaksana Prof DR Sri Hastanto mengiringi volume 7 Tradisi Musik Nusantara khusus tentang Gandrung Banyuwangi menulis sbb;
• Walaupun kini telah banyak berubah ,namun sisa sisa wajah ritual itu masih sering terlihat. Misalnya dengan gerak tari yang “aneh”.Kadang kadang gerak demikian tidak sesuai dengan dandanan dan kecantikan serta, karakteristik penari.(hal 66)
• Ketika sedang menghias diri sendiri…..ditulis sbb: Itu semua dilakukan dengan ikhlas dan riang gembira,jauh dari sikap manja yang sering dilakukan oleh para artis……Ketika ditanya tentang sikap tersebut mereka menjawab:INI ADALAH IBADAH( hal 68)

Angklung Caruk.

 Dari kelengkapan peralatan dan corak interior , dan lagu serta ragam pertunjukan sulit dicarikan padanan dengan kesenian di Bali. Angklung Bali jauh lebih sederhana peralatannya dan interiornya, begitu juga materi permainnya ( baik Rindik maupun Bung bung).Juga kesenian angklung di daerah lainnya.  Maka sulit mengatakan Angklung caruk merupakan kesenian yang dipengaruhi oleh Bali. Theory  tentang kesenian, selalu mengatakan kesenian utama memiliki kelengkapan, ragam interior yang lebih complex dan sempurna .

Jika kita lacak pada masa lalu  , musik angklung telah ada pada relief Pendopo Agung candi Penataran.Lihat gambar dibawah.Dengan demikian  angklung Banyuwangi adalah turunan dan penyempurnaan dari zaman Majapahit.

Hiasan angklung berupa  Naga Ontorejo   adalah naga yang berkepala manusia  hiasan  khas  Banyuwangi yang tidak ditemui pada angklung lainnya  . Dalam dunia spiritual Blambangan  Naga Ontorejo atau Ontobumi dialah makhluk suci salah satu penjaga bumi , kemakmuran.

Dalam kesenian Angklung Caruk, terdapat episode, pertarungan untuk memperlihatkan kemampuan dalam olah seni yang sangat tinggi untuk menebak lagu  lawan dalam tempo hitungan detik . Lagu ini bukan lagu biasa, tetapi gabungan bunyi yang penuh mysteri.   Dan yang terlibat dalam pertarungan ini, bukan hanya nayaga Angklung,tetapi juga penonton. Dalam arti penonton mampu menilai dengan obyektive  kemahiran pemain angklung .Pada massa kecil penulis (tahun 1960an) penonton sangat disiplin dan sportif, dan  bersikap objektiv. Angklung caruk dapat mewakili watak orang Banyuwangi yang dilukiskan oleh prabu Tawangalun II , yang memiliki empat character yaitu  Kaloka (Visioner) , Prawira , Wibawa . Dalam angklung caruk adalah manifestasi dari watak Prawira, yaitu mengadu keahlian untuk mengasah watak supaya memahami nada , maka muncullah rasa berkesenian dalam kehidupan sehari hari Sehingga merasuk dalam  kehidupan  masyarakat Banyuwangi

Angklung Caruklah yang sebenarnya menurunkan kepekaan kesenian orang Banyuwangi, dan menurunkan  penghargaan yang amat besar terhadap kesenian.  Angklung Caruk adalah kesenian , yang belum penulis temukan padanannya dimanapun.

 

Ukiran patung nogo ontorejo,yang ditemukan di Singojuruh. ( Museum Blambangan )

 

Angklung  paglak ,Gedhogan Lesung , Patrol

Rasa berkesenian yang tinggi inilah kemudian menjelma dalam setiap peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Blambangan /Banyuwangi .

Maka tidak heran ketika musim panen muncul  Angklung Paglak untuk mengusir burung yang memakan padi dan menghibur para petani yang memanen padi. Sedang  ketika musim menumbuk padi , rasa kesenian orang Banyuwangi muncul dalam Gedhogan  , tidak sekedar menumbuk , tetapi juga memberi  nada dan irama yang menghibur. Begitu juga ketika menjalankan ibadah puasa, orang Banyuwangi yang memiliki rasa kesenian yang tinggi , tidak hanya berteriak membangun orang untuk bersahur , tetapi membangunkan dengan rasa seni yang tinggi , yaitu dengan musik patrol

Kesenian Damarwulan , Jaranan, Rengganis /Umar Maya

Saya sependapat dengan  para ahli yang dikirim oleh   Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film , Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto,  tahun 2002  yang tidak memasukkan  kesenian Damarwulan , Jaranan, Rengganis /Umar  Maya sebagai ragam  kesenian Banyuwangi dengan pertimbangan sebagai berikut:

Damarwulan .

Seni pertunjukan ini menggunakan costum dan gamelan Bali, oleh karena itu ada juga yang menyebut “Janger.”Cerita  dalam pertunjukan ini  adalah  tentang Menakjinggo, raja Blambangan yang memiliki cacat fisik,  pincang, dan matanya buta sebelah , dengan suara cadel dan parau serta memiliki character  angkuh , culas, dan tak tahu diri yang ingin mempersunting /memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu .

Versi lain menggambarkan Menakjinggo adalah raja para raksasa.                                                                        

Sungguh penggambaran yang amat sempurna tentang kejelekan manusia.

Selanjutnya untuk menghukum Menakjinggo yang tak tahu diri ini maka dikirimlah seorang ksatrya yang gagah perkasa dan berwajah ganteng bak arjuna, Damarwulan,sebagai Senopati  Mojopahit.  Dan ternyata sang rupawan mampu mengalahkan Menakjinggo. Berbeda dengan tampilannya yang gagak dan rupawan ternyata pemuda ini sangat keji, yaitu memenggal kepala sang Menakjinggo untuk dipersembahkan pada Ratu Kencono Wungu . Sang rupawanpun  akhirnya menikah dengan Ratu Kenconowungu dan lebih dari itu juga memperistri istri Menakjinggo.      

Jika ditinjau dari cerita yang menggambarkan keburukan raja Blambangan maka menjadi pertanyaan mengapa cerita ini begitu populer di Banyuwangi. Sebab biasanya tidak ada masyarakat yang dapat menerima jika pahlawannya digambarkan sebagai pecundang ( Orang Sri Langka menolak penggambaran Dasamuka dari kisah Ramayana , demikian juga orang Madura akan marah besar apabila Trunojoyo pahlawannya ditampilkan sebagai penghianat)

Sampai dengan tahun 1960an , seni pertunjukan Damarwulan,cukup memikat dan sering dipagelarkan dalam setiap keramaian , mulai dari pesta hajatan sampai pesta Kemerdekaan . Setelah itu mulai meredup dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat Banyuwangi.

                    

Menurut DR ( Leiden University ) Sri Margana cerita Damarwulan dan  Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda / Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian (Operate) oleh Mangkunegara IV (1853 sd 1881). Kemudian dipopulerkan di Banyuwangi oleh penguasa Banyuwangi yang masih berdarah Mataram pada masa penjajahan VOC.[12]

 

Brandes ,sejarahwan Belanda[13] dan Professor Slamet Mulyana berpendapat  kisah Damarwulan dan Menakjinggo mendapat inspirasi dari Perang Paregreg  yang terjadi setelah prabu Hayamwuruk lengser keprabon.  

Prof Slamet Mulyana  menulis bahwa penulis (sastrawan Mataram) Serat Kanda dan Serat Damarwulan hanya mengetahui kisah Perang Paregreg ( Perang yang terjadi berulang kali )antara Bhree Wirabhumi ( Menakjinggo ) raja Blambangan dan Wikramawardhana dalam memperebutkan tahta Majapahit, tetapi tidak mengetahui fakta sejarahnya.Dalam fakta sejarah Bhree Wirabhumi adalah putra satu satunya prabu Rajasa Nagara ( Hayamwuruk ) , yang telah dinobatkan sebagai Nararya Lamajang Tigang Juru /Kedaton wetan /Blambangan , sementara Wikramawardhana adalah menantu Hayamwuruk. Dari garis trah , Bhree Wirabhumi memiliki trah Sanggramawijya sementara Wikramawardhana tidak memiliki trah tersebut, dengan demikian berdasar fakta sejarah , Bhree Wirabhumi berhak untuk menjadi raja Majapahit. Tapi fakta tersebut diabaikan oleh penulis Serat Damarwulan,dan Serat Kanda dan diputar balikkan.

 

Dengan demikian cerita ini  merupakan sebuah rekayasa yang sistimatis ,untuk memperlemah keberadaan masyarakat Blambangan dan menghapus ingatan orang Blambangan terhadap  sejarah masa lalu.Melalui  penggambaran itu maka dicapai dua sasaran , penguasa ingin mengesankan pada  rakyat Blambangan, bahwa penguasa adalah sebagai pembebas dari raja  culas, yang tak tahu diri .Penggunaan  custome dan gamelan dari Bali mengesankan bahwa cerita ini berasal dari Bali sebagi bukti kuatnya pengaruh Bali atau sebagai bukti adanya penjajahan oleh Bali.Suatu usaha untuk mengadu domba orang Blambangan dan Bali dan memutar balikkan fakta sejarah.

DR ( Leiden) Sri Margana dalam wawancaranya yang dimuat majalah Tempo mengemukakan bahwa cerita  tentang Damarwulan ,Menakjinggo merupakan Sinisme dan deligimitasi raja Blambangan. Mataram /Surakarta ingin menunjukan keperkasaannnya ( Power full) di Blambangan.[14]

Pendapat DR. Sri Margana tersebut sangat tepat, dan  sesuai hasil penelitian Noevi Anoegrajekti . [15]

Sedang usaha adu domba orang Blambangan dengan orang Bali tidak berhasil karena

Damarwulan  , Menakjinggo  ini  tidak dikenal di Bali, dan tlatah pesisir Jawa, dan Sumatera , tempat kebudayaan pesisir mendapat tempat pada abad ke 16 dan 17. Pada daerah itu cerita Panji lebih populer. [16]  Pendapat ini sangat tepat pada daerah Gersik , Pesisir Utara  Jawa, Cirebon , Banten , para kyai Sepuh ,lebih meningat orang Blambangan sebagai pewaris Sunan Giri . ( Pengalaman penulis )

Jaranan dan Rengganis

Kesenian ini dibawa oleh para pendatang dari  Jawa .Dan sebagai masyarakat yang terbuka dan memiliki rasa seni yang mendalam ,maka  segala macam kesenian yang dibawa pendatang dapat berkembang dengan baik di Banyuwangi. Sementara kesenian Jaranan semakin disenangi , dan memunculkan genre baru dalam Jaranan  yaitu Jaranan Buta Sebaliknya Kesenian Rengganis  sampai tahun 50an masih cukup populer , tetapi kemudian meredup  tahun 60an, akhirnya harus tenggelam ditelan zaman. Salah satu faktor yang menyebabkan  adalah karena  pakaian dan gamelan yang digunakan dalam keseniaan ini adalah pakaian dan gamelan wayang , sedang  cerita bernuansa Islam . Tokoh Lamdahur berpakaian dan berdandan sama dengan Bima. Jadi bagi masyarakat Banyuwangi yang memiliki  rasa kesenian yang tinggi tentu tidak menarik dan membingungkan.Bagaimana mungkin cerita Islam bercustom wayang Hindu.

Peradaban Feodalisme dan  Peradaban Spiritual Hindu

Sumber Kesenian Banyuwangi.

Benar bahwa sampai tahun 2000an , Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah legenda yang ada di dongeng dongeng para sastrawan Mataram. Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah kerajaan yang dipimpin raksasa atau orang cacat sempurna yang tak tahu diri, yang ingin mempersunting ratu Majapahit. Dan karena pengaruh Belanda , fakta sejarah Blambangan lenyap dari sejarh Nasional. Tetapi  masa itu telah berlalu dengan munculnya para sejarahwan seperti Drs I Made Sudjana MA[17], Dr Sri Margana [18]yang mampu dengan gemilang mempertahankan disertasinya di Leiden University, bahwa Kerajaan Blambangangan adalah fakta sejarah

Dalam kaitannya dengan sejarah kerajaan Blambangan  ternyata Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa. Dan merupakan salah satu sendi dari ambisi besar raja Wisnu Wardhana dalam mewujudkan doktrinnya  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa.  Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan[19] , dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang. Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat Singosari. Dibawah raja Kertannegara ,Singosari tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Sayang , ambisi yang besar memperluas kerajaan, rupanya memperlemah kedudukan didalam negeri,sehingga negeri ini  dapat ditundukkan Jayakatwang dari kerajaan Gelang Gelang (Kediri).

Ketika putra  menantu Kertanegara , R.Wijaya berusaha merebut kembali Singosari dari Jayakatwang dan tentara Ku Bilai Khan  , maka R.Wijaya memohon bantuan Arya Wiraraja adipati Madura. Pasukan gabungan ini mampu mengusir  pasukan Ku Bilai Khan , maka   seperti tercantum dalam Prasasti  Gunung Butak,  (1294),  bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan sebagai  atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai  Nararya[20] .  Maka Lamajang menjadi Majapahit Kedaton Wetan dan  pusat  disebut Majapahit Kedaton  Kulon. Kedua bagian Majapahit memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Dan sejarah Majapahit ditentukan oleh hubungan  dua bagian ini. Ketika kedua sanak kadang ini bersatu maka Majapahit mencapai kejayaan , dan ketika terbelah maka suramlah Majapahit. Setelah  Majapahit runtuh pada tahun 1528 , Majapahit Kedaton Wetan /Blambangan tetap exist. [21] Kerajaan ini mampu bertahan sampai tahun 1771, dan menjadi kerajaan terakhir di Jawa  diduduki Belanda. Dengan demikian kerajaan ini berumur 500 tahun , dan telah mengalami masa jaya Majapahit, dan juga pernah mengalami masa Jaya setelah Majapahit runtuh.Kerajaan  Blambangan  menjadi bukti bahwa Kerajaan Hindu  bisa berdiri berdampingan dengan Kerajaan Islam  Giri , dan Demak .Dengan demikian kerajaan ini memiliki tradisi yang sangat kuat dan mampu menyesuaikan dengan perobahan zaman . Oleh karena itu peradabannya juga tidak gampang terkikis , apalagi selama masa ibu nagari berada di dataran Banyuwangi ( Masa Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) , kerajaan Blambangan mampu mempertahankan kemandiriannya karena perlindungan alam yang tidak mudah ditembus oleh kekuatan manapun di Jawa ( Terlindung oleh Gunung Raung dan Merapi). Pengaruh Islam diterima karena adanya hubungan darah antara Sunan Giri dengan  darah biru Blambangan . Sehingga Islam menyebar dengan penuh damai . Kedua kerajaan ini juga memiliki kesamaan visi, yaitu tidak bisa menerima pendudukan Belanda. Dan sikap egaliter dari kedua kerajaan ini menjadikan hubungan kedua kerajaan mampu duduk berdampingan. Disamping itu  baik kerajaan Hindu maupun Islam memiliki pola yang sama dalam penyebar luasan kesenian yaitu bersumber dari  ritual , sehingga tidak ada perbedaan antara kesenian di keraton maupun di desa desa . Maka kesenian sangat meresap di hati rakyat  dan teguh tak tergoyahkan .Oleh karena itu pantaslah disebut kesenian Banyuwangi adalah warisan peradaban kerajaan Blambangan yang agung , yang diterima dari peradaban agung Majapahit.

Berbeda dengan kesenian pada masa feodalisme keraton dibawah kekuasaan VOC, terjadi perbedaan yang jelas antara kesenian yang berkembang untuk raja dan bangsawan keraton. Kesenian Keraton memiliki ragam alat gamelan yang sangat complex , seperti nampak  dalam Langebdriyan, Wayang , seperti di luar kraton rakyat hanya boleh membuat kesenian yang sangat sederhana seperti Jaranan, Tandak, Kentrung.

 

Perbedaaan  kebudayaan /Kesenian Blambangan dan kebudayaan /kesenian Jawa adalah sumber /dasar dari kebudayaan tersebut .Kebudayaan Jawa berasal dari feodalisme Jawa yang terbangun pada abad ke 17 , sementara kebudayaan Blambangan terbangun dari peradaban spiritual Hindu yang terus bertahan sampai abad ke 18.[22]Berbeda dengan peradaban feodalisme ,dimana kesenian muncul dan mewakili dan dibesarkan raja , maka yang muncul adalah cerita tentang kebesaran raja rajanya, seburuk apapun raja itu . Dan lebih dari itu lawan dari raja itupun menjadi amat sangat buruk sebaik apapun fakta sejarah mencatatnya. Kesenian dipenuhi assesories yang gemerlapan, perangkat gamelan sangat sempurna. ( Langen driyan, Wayang kulit , wayang wong , ketoprak , penari yang gemulai . Masyarakat diluar keraton tidak boleh menyamai kebesaran kesenian itu , masyarakat harus  menciptakan sendiri kesenian yang amat sederhana seperti Jaran kepang atau Tayub. Lain halnya masyarakat spiritual , keraton tidak memiliki peranan. Sumber kebudayaan dan kesenian adalah ritual agama. Dari ritual agama inilah keraton dan masyarakat membangun kesenian. Kesenian keraton dan kesenian rakyat menjadi satu ,yaitu mengagungkan  Tuhan.Di ranah kesenian yang bersumber pada ritual inilah kesenian Blambangan ada. Ketika Blambangan bertransformasi menjadi pemeluk Islam yang teguh yang terjadi adalah acculturasi bukan sinkritisme.Hanya di Blambangan para pemeluk teguh ( muslim) berkesenian dari masa lalu (Hindu).Selesai bekerja mereka akan sembahyang menghadap Alloh, dan menjelang sore berlatih menabuh, magrib sembahyang lagi, petang berlatih seni lagi . Di kalangan santri yang teguh melakukan puji pujian, selowatan, barzanzi sebagai expressi kesenian.Semua berdampingan secara harmonis. Dan kesenian ritual sangat merasuk ketulang sumsum kalbu rakyat Blambangan . Kesenian menjadi bagian dari ibadah.

Darah seni mengalir deras di Banyuwangi.

Dari uraian diats terbukti sudah baik dari tinjauan sejarah maupun ragam kesenian  tidak ada penjajahan kerajaan Gel Gel, Buleleng ,Mengwi , juga tidak ada  pengaruh kebudayaan Bali . Malah kita mendapatkan bahwa kebudayaan /kesenian Banyuwangi adalah genuin /asli Banyuwangi,bersumber dari peradaban Hindu  yang sangat beragam  ,serta  adanya keterbukaan masyarakat Banyuwangi untuk menerima  kebudayaan /kesenian lain dan menyerap kesenian itu , serta kemudian memunculkan genre baru dalam berkesenian seperti nampak dalam Hadrah Kuntul, Gembrung , dan Jaranan. Ini membuktikan ada rasa berkesenian yang besar pada masyarakat Banyuwangi .  Malahan ada ungkapan   , bahwa bayi yang dilahirkan di Banyuwangi  sudah langsung dapat menabuh angklung                         Darah seni yang mengalir deras dari putra Banyuwangi tidak saja membangkitkan  kegairahan berkesenian di Banyuwangi , tetapi juga  memunculkan   seniman dan budayawan daerah yang mampu berkiprah secara Nasional dan International , dan  juga mampu menarik minat seniman/ budayawan  Nasional  dan Internasional untuk memperhatikan kesenian /kebudayaan Banyuwangi  dengan serius  . Seniman dan Koreographer  Nasional Dedy Luthan dan dosen IKJ malahan telah lima kali mementaskan karya Gandrungnya yaitu. Kadung Dadi Gandrung Wis ( 1990),Gandrung Salatun (1992), Iki buru Gandrung (1994), dan Gandrung Blambangan (1997).Gandrung Eng Tay ( 2002).

Kuntulan menginspirasi Jazzer nasional Innisrisi, dan menjadi kreasi Jazz yang memakau dalam pesta Jazz nasional,dan kemudian dipertunjukan dalam pesta Jazz International.  Seblang Gandrung  mendapat perhatian yang sangat serius dari Lembaga Kebudayaan yang sangat berwibawa Smithsonian Institute New York Amerika Serikat.                                                                 Luk Luk Lumbu karya Andang C.Y menjadi lagu yang sangat disenangi , oleh paduan suara tingkat Nasional ( ITB dan Parahyangan ) ,dan pernah unggul dalam perlombaan paduan suara international, dan sekarang  malah telah menjadi lagu pavorit pada  paduan Suara di Singapore , Hong Kong, Jepang, Korea, Jerman dan Amerika.                                                                     Tidak hanya dalam lagu , seniman Banyuwangi , mulai memperlihatkan kemampuannya  dan mulai berkiprah ditingkat nasional dan International .                                                                     Sumitro Hadi  pada tahun 1970 terpilih sebagai penari dalam resepsi Hari Kemerdekanaan di Istana negara ,kemudian melesat karirnya dalam seni tari setelah membuat pakem tari Jejer Gandrung, sehingga dapat diajarkan dengan systematik, dan setelah itu dia mengajarkan pada sekolah seni, STKW Surabaya,STSI Solo,ISI Jogyakarta,DKJ Jakarta, dan melanglang buana HongKong,Amerika Serikat,Australia, Malaysia, Finlandia .  Sahuni , seniman ini telah menata ulang Kuntulan menjadi Kundaran ,dan telah mementaskan Kundaran diberbagai kesmpatan Nasional maupun Internasional. Terakhir  pada tanggal 9,10,11 September   kesenian Kuntulan yang dipimpinnya  telah menjadi salah satu peserta dalm FESTIVAL DANAU TOBA , dan berkaloborasi dengan Balawan B atuan  Ethnic Bali,dan Percussionnya STING AMERIKA .Demikian juga   Sofyan Subahri koreografer Banyuwangi yang kreatif itu, telah mementaskan kesenian Banyuwangi pada tingkat nasional dan international,dan terakhir pementasannya di Perancis selain mendapat sambutan yang luar biasa juga mendapat pujian dari institute kesenian dan kedutaan Besar Indonesia.Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Ballada sebuah peradaban

Rasa kekaguman kita terhadap rasa berkesenian/berkebudayaan orang Banyuwangi menjadi lebih besar , karena betapa kayanya negeri ini ,hartanya dirampas oleh Belanda  dan penduduknya dibunuh  dalam satu perang yang tersadis dalam sejarah Nasional [23]  , dan kemudian dilakukan deslocating system  seperti tercantum dalam buku  Sir Thomas Stanford Raffles,History of Java  tentang adanya pembunuhan besar2an di Banyuwangi , yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1771 sampai dengan tahun 1811, hingga penduduk Banyuwangi yang pada tahun 1771 berjumlah mencapai 80.000 ribu,  pada tahun 1811  penduduk Banyuwangi tinggal 8000. Terbantai 90 % ( Hystory of Jawa , English page 68, Indonesia hal 48).

Kesadisan penjajah Belanda tidak hanya berupa siksaan fisik tetapi juga mental ,orang Banyuwangi seperti dikatakan oleh Dr  Sri Margana di legemitasi dan disiniskan dengan legenda yang memalukan tentang pemimpinnya (cerita  Menakjinggo Damarwulan ), dan dihapuskan kebesaran sejarahnya , dihancurkan leburkan istana Macan Putih untuk kemudian bahan bahannya digunakan sebagai rumah resident di Sukorejo[24].Rakyat Blambangan diadu domba dengan para pendatang, terutama Bali, kesejahteran dan pendidikannya diabaikan. Sampai tahun 60an , hanya ada satu SD di tingkat Kacamatan , dan hanya satu SMP pada tingkat Kabupaten . Dalam masa kemerdekaan , kita hanya sekejap mendapat kegairahan , kemudian sikap sinisme nerkembang lagi , melalui issue Komonis, dan terakhir Santet.

Tetapi seperti diakui oleh  Scholte (1927:146): “Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”.

Sumber Kesenian Banyuwangi.

Benar bahwa sampai tahun 2000an , Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah legenda yang ada di dongeng dongeng para sastrawan Mataram. Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah kerajaan yang dipimpin raksasa atau orang cacat sempurna yang tak tahu diri, yang ingin mempersunting ratu Majapahit. Dan karena pengaruh Belanda , fakta sejarah Blambangan lenyap dari sejarh Nasional. Tetapi  masa itu telah berlalu dengan munculnya para sejarahwan seperti Drs I Made Sudjana MA[25], Dr Sri Margana [26]yang mampu dengan gemilang mempertahankan disertasinya di Leiden University, bahwa Kerajaan Blambangangan adalah fakta sejarah

Dalam kaitannya dengan sejarah kerajaan Blambangan  ternyata Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa. Dan merupakan salah satu sendi dari ambisi besar raja Wisnu Wardhana dalam mewujudkan doktrinnya  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa.  Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan[27] , dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang. Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat Singosari. Dibawah raja Kertannegara ,Singosari tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Sayang , ambisi yang besar memperluas kerajaan, rupanya memperlemah kedudukan didalam negeri,sehingga negeri ini  dapat ditundukkan Jayakatwang dari kerajaan Gelang Gelang (Kediri).

Ketika putra  menantu Kertanegara , R.Wijaya berusaha merebut kembali Singosari dari Jayakatwang dan tentara Ku Bilai Khan  , maka R.Wijaya memohon bantuan Arya Wiraraja adipati Madura. Pasukan gabungan ini mampu mengusir  pasukan Ku Bilai Khan , maka   seperti tercantum dalam Prasasti  Gunung Butak,  (1294),  bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan sebagai  atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai  Nararya[28] .  Maka Lamajang menjadi Majapahit Kedaton Wetan dan  pusat  disebut Majapahit Kedaton  Kulon. Kedua bagian Majapahit memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Dan sejarah Majapahit ditentukan oleh hubungan  dua bagian ini. Ketika kedua sanak kadang ini bersatu maka Majapahit mencapai kejayaan , dan ketika terbelah maka suramlah Majapahit. Setelah  Majapahit runtuh pada tahun 1528 , Majapahit Kedaton Wetan /Blambangan tetap exist. Dalam wawancara dengan wartawan TEMPO  DR Sri Margana yang dimuat di Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September.2010 , antara lain mengemukakan bahwa Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga  dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan  yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati  sebanyak 270 orang.

Kerajaan ini mampu bertahan sampai tahun 1771, dan menjadi kerajaan terakhir di Jawa  diduduki Belanda. Dengan demikian kerajaan ini berumur 500 tahun , dan telah mengalami masa jaya Majapahit, dan juga pernah mengalami masa Jaya setelah Majapahit runtuh.Kerajaan  Blambangan  menjadi bukti bahwa Kerajaan Hindu  bisa berdiri berdampingan dengan Kerajaan Islam  Giri , dan Demak .Dengan demikian kerajaan ini memiliki tradisi yang sangat kuat dan mampu menyesuaikan dengan perobahan zaman . Oleh karena itu peradabannya juga tidak gampang terkikis , apalagi selama masa ibu nagari berada di dataran Banyuwangi ( Masa Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) , kerajaan Blambangan mampu mempertahankan kemandiriannya karena perlindungan alam yang tidak mudah ditembus oleh kekuatan manapun di Jawa ( Terlindung oleh Gunung Raung dan Merapi). Pengaruh Islam diterima karena adanya hubungan darah antara Sunan Giri dengan  darah biru Blambangan . Sehingga Islam menyebar dengan penuh damai . Kedua kerajaan ini juga memiliki kesamaan visi, yaitu tidak bisa menerima pendudukan Belanda. Dan sikap egaliter dari kedua kerajaan ini menjadikan hubungan kedua kerajaan mampu duduk berdampingan. Disamping itu  baik kerajaan Hindu maupun Islam memiliki pola yang sama dalam penyebar luasan kesenian yaitu bersumber dari  ritual , sehingga tidak ada perbedaan antara kesenian di keraton maupun di desa desa . Maka kesenian sangat meresap di hati rakyat  dan teguh tak tergoyahkan .Oleh karena itu pantaslah disebut kesenian Banyuwangi adalah warisan peradaban kerajaan Blambangan yang agung , yang diterima dari peradaban agung Majapahit.

Berbeda dengan kesenian pada masa feodalisme keraton dibawah kekuasaan VOC, terjadi perbedaan yang jelas antara kesenian yang berkembang untuk raja dan bangsawan keraton. Kesenian Keraton memiliki ragam alat gamelan yang sangat complex , seperti nampak  dalam Langebdriyan, Wayang , seperti di luar kraton rakyat hanya boleh membuat kesenian yang sangat sederhana seperti Jaranan, Tandak, Kentrung.

References;

1.      Sri Margana disertasi dalam program DR ,Leiden University “Java ‘s Last Frontier : The Struggle for Hegemony of Blambangan, c.1763-1813.

2.      DR. Sri Margana , Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan  Pustaka Ifada 2012

3.      C. Behan Mc Cullagh , Logic of History, Perspektif Posmodernisme , Lilin Persada Pers , Yogjakarta 2010

4.      Drs I Made Sudjana MA, Nagari Tawon Madu , Larasan Sejarah  2001

5.      Thomas Stanford Raffles. The History of Java, Narasi. Yogjakarta 2008

6.      William H.Frederick , Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia ,Sebelum dan sesudah Revolusi , LP3ES, Oktober 1984.

7.      Prof .DR. Drs. I Ketut Riana S.U. Kakawin Desa Warnnana uthawi  Nagara Krtagama , Masa Keemasan Majapahit, KOMPAS , Jakarta September 2009.

8.      Robin Tatu ,Babad Buleleng I Gusti Putu Jelantik Dalam Konteks Sejarah

9.      DR. Hasan Djafar , Mas Akhir Majapahit , Komunitas Bambu 2012

10.  Irwan Djoko Nugroho , Majapahit Peradaban Maritim , Suluh Nuswantara Bakti, November 2011

11.  Supratikno Rahardjo, Peradaban Jawa Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir, Komonitas Bambu 2011.

12.  Ninie Susanti AIRLANGGA Biografie Raja Pembaru Jawa Abad XI, Komonitas Bambu 2010.

13.  Prof DR.M . Bambang Pranowo , Memahami Islam Jawa,INSEP, Alvabet Oktober 2009.

14.  DR. Purwadi M.Hum dan Drs Niken H. M.Hum . Dakwah Wali Songo. Shaida Yogjakarta 2007

15.  Drs Wiji Saksono, MengIslamkan Tanah Jawa .MIZAN Januari 1995.

16.  Prof DR. Edi Sedyawati, Prof DR. Sri Hastanto , Musik Tradisi Nusantara , Traditional Music of the Archipelago  volume 7.  Dit Jen Nilai Budaya Seni Film , Dept Kebudayaan dan Pariwisata  , 2007

17.  Deddy Luthan , Kadung Dadi Gandrung Wis  1990.

18.  Sejarah Bali , Wikipedia dan Berbagai sumber dari Internet, tentang kerajaan di Bali.

19.  Pura Taman Ayun Mengwi

20.  Hasan Ali , Sekilas Puputan Bayu , Pemda Banyuwangi  2006.  

21.  Seno  Gumira Ajidarma , Nagabumi,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta  2009.

22.  Hasnan Singodimayan , berbagai artikel

23.  Makalah , Seminar hari Jadi Banyuwangi

24.  Berbagai sumber dari Majalah , Harian

 

 

 

 

 


[1] William H.Frederick, Professor Jurusan Sejarah , Asia Tenggara , spesialisasi Indonesia, Yale university USA lan Soeri Suroto dosen sejarah UGM.Pemahaman Sejarah Indonesia ,sebelum dan dan sesudah revolusi  LP3ES  1982..

[2] Musik Tradisi Nusantara  Volume 7. Banyuwangi  Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film , Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto,  tahun 2002. 7.

[3] Arnold Toynbee via  Pemahaman Sejarah Indonesia, William H Frederick dan Soeri Soeroto .206 )

[4] Thomas Stanford Rafless ; History of Java . hal 48 ( Edisi Indonesia ) , hal 68 ( edisi Inggris)

[5] DR. Sri Margana ; Perebutan Hegemoni  Blambangan dan Drs I Made Sudjana MA ; Nagari Tawon Madu hal 116 ,

[6]  I Made Sudjana  Nagari Tawon Madu hal 26 

[7] Ibid hal 62.

[8] Ibid hal 22

[9] DR.  Agus  Aris Munandar ,makalah KEMARITIMAN MAJAPAHIT  BERDASARKAN DATA YANG TERSEDIA  dalam diskusi ROAD TO BOROBUDUR WRITERS DAN CULTURAL FESTIVAL 2013, Jum’at  1 Maret 2013  .

[10] Musik Tradisi Nusantara  Volume 7. Banyuwangi  Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film , Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto,  tahun 2002

[11] Koreogrfer Nasional dan dosen IKJ Dedy Luthan . Karya nya ,Kadung Dadi Gandrung Wis ( 1990),Gandrung Salatun (1992), Iki buru Gandrung (1994), dan Gandrung Blambangan (1997).Gandrung Eng Tay ( 2002)

 

[12] Majalah Tempo (edisi 13 September 2010

[13] Brandes Verslag over een Babad Blambangan TBG .37(1894) via DR.Sri Margana  Perebutan Hegemoni Blambangan 29

[14] Majalah Tempo (edisi 13 September 2010)

[15]Novi Anoegrajekti / Desantara dalam  Wong Using: Sejarah Perlawanan dan Pewaris Menakjinggo

[16] Dr Purwadi M.Hum, dan Enis Niken H.M.Hum. DA’WAH WALISONGO Panji Pustaka Yogyakarta 2007.89).

[17] Nagari Tawon Madu

[18] Perebutan Hegemoni Blambangan.

[19] Prasasti Mula Malurung (1225), Anwar Hudiyono Kompas 10 Sept 2011.

[20]  (Lekkerkerker, 1923:220)

[21] Dalam wawancara dengan wartawan TEMPO  DR Sri Margana yang dimuat di Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September.2010 , antara lain mengemukakan bahwa Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.

[22] Blambangan tunduk pada VOC pada tahun 1771.

[23] Dr Sri Margana “ Perebutan Hegemoni Blambangan”

[24]Matjan Poeti.
(Verbeek n ° 666 dan 667, Rapp 1.903 p 49, 1904 p 143, Oudh.Versl, 1915, 2, hal 61…..) –

 

[25] Nagari Tawon Madu

[26] Perebutan Hegemoni Blambangan.

[27] Prasasti Mula Malurung (1225), Anwar Hudiyono Kompas 10 Sept 2011.

[28]  (Lekkerkerker, 1923:220)

BANYUWANGI MAULID FESTIVAL! Mengapa tidak!

•27 November 2013 • 4 Komentar

 (Sumono Abdulhamid)


Pendahuluan

Pariwisata ,Tradisi, Sosialisasi dan Infrastruktur.

Pariwisata adalah ladang yang sangat menggiurkan, dan malahan menjadi primadona untuk meningkatkan devisa atau pendapatan negara maupun pendapatan daerah.Negara negara didunia baik maju maupunberkembang berebut porsi Pariwisata. Demikian juga daerah daerah di negara itu berlomba lomba menjadikan daerahnya tujuan wisata . Perebutan rezeki Pariwisata di Asia Tenggara termasuk yang sangat keras. Oleh karena itu menjadikan menjadikan negara/daerah sebagai  tujuan Pariwisata pada  masa sekarang, dengan hanya menyerahkan pada proses alami adalah sebuah kenistaaan ( tidak masuk akal) .

Rezeki Pariwisata ditangguh dengan berbagai cara ,mulai  dengan carnival , atau perayaan yang meriah atau pesta tradisional, ritual ,penyajian alam yang indah , suasana damai . Artinya rezeki Pariwisata bisa muncul dalam setiap unggulan destinasi wisata itu sendiri , yang difahami oleh masyarakatnya .

Pariwisata tidak hanya menyangkut tersedia destinasi unggulan pariwisata tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur yang amat complex, dan  juga  menyangkut rekayasa promosi. Pada daerah rural jauh lebih complex lagi, karena dihadapkan pada tradisi, adat istiadat dan keyakinan. Tidak mudah merubahnya. Tourist datang tidak saja membawa uang, tetapi juga membawa adat, kebiasaan,yang mungkin malah sangat bertentangan dengan tradisi, adat istiadat dan keyakinan. Tourist dari negara Eropa dan Negara modern Timur Jauh, tentu sangat menikmati matahari tropis, menghangatkan tubuh disinar matahari pagi dengan hanya memakai bikini? Apakah hal ini bisa diterima. Mereka tentu juga menyenangi wine  ( ada ratusan jenis Wine) yang membuat badan terasa segar. Padahal masyarakat kita , memiliki keyakinan bahwa anggur adalah  memabukkan dan itu  haram. ? Perlu waktu untuk menjelaskan ini. Perlu sosialisasi tahap demi tahap dan perencanaan yang matang . Jangan mengharap  ada pariwisata yang instant. Jangan hanya berpikir  pariwisata pasti  mendatangkan harta dan dana, tetapi yang munculkan masalah, atau kerusuhan horizontal.

Demikian juga infrastruktur harus mendukung.Betapa significantnya pengaruh infrastruktur terhadap pariwisata ,sebagai ilustrasi sbb: Waktu tempuh perjalanan dengan pesawat dari Jakarta ke Banyuwangi , empat kali  lipat waktu tempuh  dari Jakarta ke  Singapore , empat kali lipat perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta ,atau Surakarta, atau tiga kali lipat dari Jakarta ke Denpaser Bali. Belum lagi dihitung dari aspek biaya , perjalanan ke Banyuwangi jauh lebih besar dari biayanya dari Jakarta  ke Singapore , Jogyakarta, Surakarta, atau Bali sekalipun.

Belum lagi pilihan orang kota pada budaya urban, seperti mall, permainan, atau game.

Perencanaan Pariwisata bukan hanya sekedar perencanaan  Bupati saat ini, tetapi menyangkut jangka panjang dan harus jelas road mapnya. Jangan sampai langkah Bupati sekarang dihentikan oleh Bupati mendatang. Oleh karena itu Perencanaan Pariwisata harus mengikutkan semua lapisan masyarakat, difahami, dihayati,  dan menjadi milik semua masyarakat sehingga  siapapun bupatinya harus committed , karena dia akan berhadapan dengan masyarakat apabila menghentikan.

Mendatangkan Wisatawan bukanlah kerja tunggal satu dinas. Satu dinas bekerja dengan kegiatan yang luar biasa, pengiriman duta kesenian ke Jakarta, Carnival yang bertubi  tubi, Carnival Agustus, Carnival Oktober ( BEC), Carnival Nopember , Carnival Desember , sementara lalu lintas kacau, kota kumuh,sampah tidak dibersihkan, spanduk iklan pejabat/ pimpinan bertebaran tak karuan sepanjang jalan,jalan tak terawat ( tidak mesti hot mix,  saya masih melewati jalan sirtu di USA, Inggris, dan Australia, tetapi terpelihara dengan baik.Saya masih melihat tiang listrik dari kayu di USA, tetapi terpelihara dengan baik). Jadi  yang paling mendasar adalah kesiapan masyarakat dalam menerima budaya asing , tetapi tetap teguh dalam menjaga nilai nilai , dan tradisi nya. Maka basis Pariwisata adalah kesiapan masyarakat .

Beragam  atraksi budaya dan event berbasis potensi alam  , mulai dari carnival etnik , sport  tourism, sampai jazz pantai telah digelar sejak tiga tahun yang lalu di Banyuwangi , dan telah memberi dampak positip terhadap perkembangan pariwisata , maupun  perkembangan seni budaya, sport, kesenian itu sendiri. Tidak kalah pentingnya , adalah perkembangan  dalam pembangunan , dan kesejahterraan masyarakat .

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas , menegaskan tekadnya  bahwa “ Banyuwangi akan terus menggali dan mengembangkan potensi wisata yang ada ,agar sektor ini bisa memberi kontribusi signifikan bagi pembangunan ekonomi daerah , terutama dalam upaya menciptakan lapangan kerja baru, mengentaskan kemiskinan dan mempersempit kesenjangan pembangunan spasial . Tentu saja  pengembangan pariwisata yang kami lakukan berbasis pada pelestarian warisan budaya dan lingkungan .( Press Release dalam Press Conference , tgl 2 September di Jakarta).

Menggaris bawahi tekad tersebut , tulisan ini dibuat mempertimbangkan  tradisi  Maulid Nabi sebagai usaha membangkitkan tekad ummat untuk membangun Banyuwangi, untuk memberikan kontribusi lebih besar pada pembangunan bangsa Indonesia.

Tradisi dan kebangkitan  bangsa.                 

Jika kita memperhatikan percaturan dunia, maka kita melihat negara negara maju adalah negara  yang menjunjung tinggi potensi sumber daya manusia melalui pelestarian tradisinya ( Jepang ,Korea, China , Malaysia dll).Sementara negara negara yang hanya  memperhatikan sumber daya manusia tetapi tidak ada kepedulian terhadap pelestarian tradisi terjerembab dalam pola konsumerisme tinggi , dari luar nampak maju, modern , tetapi menumpuk hutang yang sangat besar.itu 

Pengalaman itu menunjukan betapa pentingnya  membangkitkan budaya lokal sebagai sarana untuk membangkitkanpembangunan di Banyuwangi. Oleh karena itulah , betapa pentingnya  mewujudkan Banyuwangi Islamic / Maulid Festival yang berbasis pada peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi yang dirayakan secara gegap gempita oleh masyarakat Banyuwangi  . Tradisi Maulud Nabi dengan menggunakan endog endogan , adalah tradisi para wali yang pernah semarak pada masa para wali. Dan tradisi itu telah bertahan di Banyuwangi  sejak ratusan  tahun , sementara ditempat lain telah lenyap.Dengan mengemas perayaan itu menjadi lebih terstruktur  dengan kreativitas  yang cukup saya yakin perayaan Endog Endogan  dan digabungkan dengan atraksi kesenian yang berbasis Islam lainnyanya , seperti Kuntulan , Burdah , Rengganis , Festival anak Yatim maka Banyuwangi Maulid  Festival akan diminati dan didukung masyarakat serta menjadi genuin Banyuwangi , karena tidak ada ditempat lain .

Disamping itu Maulid Nabi terbukti pernah mampu membangkitkan rasa cinta yang luar biasa pada agama dan negeri pada masa pemerintahan Salahuddin Al Ayyubi , ketika ummat Islam mempertahankan Bitul Maqdis dari serbuan para sekutu Eropa. Tetapi dengan Maulid juga akhirnya dicapai perdamaian yang terhormat.

Di Nusantara, Wali Sanga  juga menggunakan sebagai alat da’wah , sehingga Islam diterima dalam penuh kedamaian , mengalir seperti air.

Blambangan negeri Spiritual/Agamis

Banyuwangi Maulid Festival memiliki potensi keberhasilan yang tinggi   , karena  perayaan endog endogan dalam Maulid Nabi masih tetap semarak sampai saat ini ,juga memiliki pijakan yang sangat kuat dalam budaya wong Banyuwangi yang memiliki spirit religius sangat tinggi.Spirit ini tetap bertahan walau masyarakat Banyuwangi digempur dengan issue Komunis dan Santet , serta budaya konsumerisme. Spirit Religius  masyarakat Banyuwangi memiliki garis sejarah yang jelas dengan kerajaan Blambangan yang telah berdiri  bersamaan dengan kerajaan Majapahit  .( Prasasti Kudadu 1925) .Dan kerajaan ini tetap terus exist ketika Majapahit runtuh pada tahun 1529 dan hidup berdampingan dengan kerajaan Islam  sampai tahun 1773.

Seperti diketahui sejak masa zaman kerajaan Hindu , Blambangan yang meliputi daerah Lumajang , Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi , adalah tempat para pertapa karena di kerajaan ini terdapat gunung suci agama Hindu di Jawa seperti tersebut dalam prasasti Ranukombolo , di tepi Danau Ranu Kumbolo ,lereng gunung Semeru.Prasasti mencatat  Raja Kameswara dari Kediri  melakukan ritual suci di gunung Semeru. Demikian juga dicatat dalam Negara Krtagama karangan Mpu Prapanca abad ke 14  bahwa Gunung Semeru adalah Gunung tempat Dewa Siwa, dewa dari segala dewa bersemayam  , sehingga juga menjadi bagian yang dikunjungi Raja Rajasa Nagara /Prabu Hayamwuruk dalam melakukan ritual suci.

Demikian juga ketika Islam mulai pertama kali menyebar di Jawa , Blambangan melahirkan putra terbaiknya yaitu Sunan Giri . Sunan Giri adalah  seorang pemimpin para Wali Sanga setelah Sunan Ampel wafat., seorang Kalifah di Bumi Nusantara( 1443 sd 1506)[1].Sebagai Khalifah beliaulah yang menentukan sah tidaknya , seorang Sultan  diakui pemimpin kerajaan Islam di Nusantara . Hal ini berlaku juga untuk Sultan Agung di Mataram .                           

Karena itulah utusan Blambangan mendapat kehormatan dalam peresmian mesjid Demak[2].

Disamping Sunan Giri sebagai bagian penting dari Wali Sanga, kita juga mengenal putra terbaik Blambangan sebagai bagian Wali Pitu di Bali , yaitu R. Mas Sepuh dan Habib Abdurachman bil Faqih , [3]  maka semakin kukuhlah sebutan Blambangan sebagai Negeri Para Wali.

Potensi Kesenian Islam  di Banyuwangi

Dengan adanya Banyuwangi Maulid Festival, maka  kesenian Islam di Banyuwangi ,akna bangkit lebih semarak. Ini penting karena selama ini yang paling menonjol dalam kemeriahan Banyuwangi , adalah Gandrung dan Angklung. Padahal Banyuwangi memiliki kesenian yang sangat beragam , dimana semua kesenian yang bersumber dari agama agama besar membangun acculturasi yang indah. Kesenian Kuntulan misalnya , meskipun bersumber dari peradaban Islam ,tetapi hentakan pukulan dan ritme , tidak sama dengan kesenian Islam  yang ada di Indonesia maupun tanah Melayu. Kuntulan adalah kesenian Islam yang memiliki warna peradaban kuno Majapahit, dengan hentakan yang indah berithme. Para penabuh musik Kuntulan sangat pas menggunakan pakaian tradisional, yang tidak mungkin dipakai oleh pemusik  rebana lainnya.

Karena itulah seniman Nasional Innisisri memilih musik Kuntulan untuk mendapatkan hentakan rebana yang amat tradisional, untuk menciptakan Jazz  tradisional.

Demikian juga kesenian lainnya, seperti Mocoan yang telah lenyap. Kesenian ini sebenarnya memiliki tingkat acculturasi yang sangat tinggi . Bagaimana mungkin Surat Yusuf, salah satu surat dalam kitab suci Al Qur’an dibaca dengan  nada bacaan lontar agama Hindu. Jika kesenian ini lenyap atau malah perobah menjadi Mocoan Pacul Gowang, maka sebuah master piece acculturasi telah lenyap dari Nusantara, Ibarat barang antique pecah terlempar . Dan kita tidak tahu lagi dimana mencarinya.

Kesenian Rengganis , juga memiliki unsur lokal yang sangat indah . Misalnya peran Umar Maya , yang tidak ada pada kesenian yang bercerita tentang pengislaman di Persia di bumi Nusantara maupun Melayu . Umar maya adalah tokoh ciptaan local Blambangan ,yang sangat energik .Kesenian Rengganis memang memiliki kelemahan , yaitu pakaian yang menggunakan pakaian wayang. Tetapi hal itu pasti sangat mudah dirubah dengan kreativitas yang tinggi seniman dan budayawan Banyuwangi.

Dampak terhadap masyarakat;

·        Merubah Mind set masyarakat tentang Pariwisata

Dengan adanya Festival Maulid , maka masyarakat akan memahami bahwa  Banyuwangi memiliki ragam content yang ber macam macam , tidak hanya berbau carnival yang penuh glamour ( Banyuwangi Ethnic Carnival )  , ataupun  carnival  tradisional  ( Carnival Kuwung) , tetapi juga ada daya tarik wisata yang muncul dari tradisi keagamaan masyarakat.

·        Peluang  menarik Wisata  yang agamis.

Sulit dipungkiri wisata ziarah , adalah bagian yang amat penting saat ini. Banyak orang meyakini ,ketika Bali colapse akibat ledakan Bom di pantai Kuta, Bali ditolong oleh munculnya wisata baru yaitu wisata ziarah Wali Pitu. Wisata inilah yang  mengisi Bali saat ,tidak dikunjungi oleh wisata asing. Dampaknya ,selain ekonomi pariwisata  tidak terjun bebas , kerukunan agama di Bali cepat pulih.

Peluang Pariwisata Agamis , di Banyuwangi juga sangat besar . Sayang ini luput dari perhatian pemerintah . Holl Habib Hadi misalnya telah masuk kalender Nasional Holl Para Habib. Penulis pernah mendapatkan selebaran Holl tersebut di Singapore. Dan peminat  ziarah Holl tersebut sangat besar.

·        Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Perayaan Maulid nabi yang menggunakan  telur sebagai  bahan utama mestinya mampu digunakan untuk meningkatkan peternakan ayam atau binatang lainnya. Di Amerika Serikat perayaan Hallowen juga menjadi ajang perlombaan buah selo terbesar di Amerika Serikat. Dengan Maulid Nabi mungkin bisa dibangun kecintaan beternak ayam sehingga ayam dari Banyuwangi dikenal sebagai ayam yang hyginis.

Belanja barang pada Perayaan Maulid Nabi, yang content localnya sangat besar, juga seharusnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat

 

Waktu pelaksanaan yang flexible ;

Perayaan Maulid Nabi, menggunakan kalender Bulan ( Qomariyah), sedang bangsa Indonesia menggunakan aktivitas berdasar kaleber Matahari ( Syamsiyah). Selain itu waktu pelaksanaan Maulid Nabi di Banyuwangi , tidak harus tepat pada hariMaulid Nabi,tetapi berlangsung sebulan penuh di bulan Maulid,  sehingga membuka peluang untuk mengatur jadwal Maulid dengan melihat kalender kegiatan masyarakat.

Semoga saran sederhana ini bermanfaat .Amiiiin.

Daftar Pustaka

1.        Prof Dr Edi Sedyowati , Prof Dr. Sri Hastanto ,Dir Jen Niali Budaya Seni dan Film ;Traditional Music of the Archipelago  Volume 7 Banyuwangi

2.     DR Abdullah bin Manshur “ Tarjamah Maulid Barjanji “Bandung , Husaini

3.      Djamaludin Latief : Barzanji , Ujung Pandang 21 Juli 1980 . Suara Karya.

4.      Karen Amstrong “ Muhammad Prophet For Our Time”, Bandung .Mizan April 2007

5.      Karen Amstrong “ Muhammad Sang Nabi Sebuah Biografi Kritis “ Surabaya,Risalah Gusti 2001

6.      Muhammad Haekal ( terjemah Ali Audah )” Sejarah Hidup Muhammad “Jakarta ,Pustaka Jaya.

7.      Ali,Maulvi Muhamamad MA LLB ( Tarjamah boso Jawi R.NG.Djajasugita sarta M Mufti Syarif ) Qur’an Suci Djarwa Djawi , Jakarta 1959.

8.      Annemarie Schimmel(Sapardi Djoko Damono, Achadiati Ikram , Si Chasanah Buchari, Mitia Muzhar) “Dimensi Mistik Dalam Islam “Jakarta , Pustaka Fidaus 2003

 

 

 


[1]Through Account of Ambon , dan babad Demak via Dr.Purwadi M.Hum, Dra Enis Niken M.Hum. Dakwah wali Songo, Shaida Yogjakarta 2007.107

[2] Babad Demak

[3] Yang dimaksud Wali  Pitu Bali adalah;

1.        R.Mas Sepuh

2.        Habib Umar Maulana Yusuf

3.        Habib Ali bin Abu Bakar Umar bin Abu Bakar Al Khamid

4.        Habib Ali bin Zaenal Abidin Al Idrus

5.        Syech Maulana Yusuf Al Magribi

6.        Habib Ali bin Umar Bafaqih

7.        Syech Abdul Qodir Muhammad

R. Mas Sepuh adalah putra P.Pati II dengan putri kerajaan Bali Mengwi . Sedang  Habib Abdurachman  bil Faqih , dilahirkan dan dibesarkan dan menuntut pelajaran agama di Banyuwangi, tetapi kemudian setelah mendapat dukungan penuh dari H. Sanusi Kemasan , untuk berhaji dan belajar agama di Mekah, kemudian hijrah ke Loloan Bali dan menjadi penyebar agama Islam di Bali.

 

 

INGGRISAN , AUSTRALIA dan RUNTUHNYA KERAJAAN BLAMBANGAN

•25 November 2013 • 4 Komentar

Sumono Abdulhamid



Penyerahan Java Oosthoek oleh Pakubuwana II ke VOC

Mataram setelah wafatnya Sultan Agung , selalu diliputi perebutan tahta yang tidak pernah kunjung selesai. Dan Belanda memainkan peranan liciknya, yaitu membantu siapa yang memberikan imbalan yang besar.[1]Demikian juga ketika  masa Pakubuwana II, terjadi pemberontakan yang meluluh lantakakan ibu kota Kartasura dan memakzulkan Pakubuwana II ,Pakubuwana II meminta bantuan VOC ,dengan perjanjian yang sangat berat yaitu menggadaikan kedaulatan Mataram pada VOC  selama belum melunasi hutang biaya perang  .Pada tahun 1743 ibukota Kartasura dapat direbut VOC dari tangan pemberontak ,dan Pakubuwana II diangkat kembali menjadi raja Mataram .Untuk membayar biaya perang maka Pakubuwana II menyerahkan Java Ousthoek ( Malang, Pasuruan ,  Probolinggo, Blambangan, Madura   ).                                                       bPenyerahan kawasan ini menurut( DR. Sri Margana . Perebutan Hegemoni Blambangan  41). berdasarkan klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya jauh dari realitas politik aktual. Pada tahun 1625 , Sultan Agung memang menginvasi ( mengirim ) expedisi militer ke Jawa Timur dan Blambangan, melibatkan 30 ribu prajurit tetapi tidak dapat menaklukkan Blambangan , meskipun menawan 5000 penduduk Blambangan . Hal in sesuai dengan pernyataan Sultan Agung yang dikutip Sir Stanford Raffless .

·        Thomas  Stanford Raffles mengutip pernyataan Sultan Agung bahwa , masih ada dua kerajaan yang paling berbahaya belum terkalahkan yaitu Sumedang dan Blambangan..[2]

Peta kekuasaan Sultan Agung

Wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram dalam masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645)

Pada tahun 1636 Sultan Agung mengirim Pangeran Selarong (saudara seayah Sultan Agung, putra Panembahan Hanyakrawati dan mendapat perlawanan yang keras.

Dan setelah penyerbuan itu , pengganti Sultan Agung,tidak memiliki kendali terhadap Jawa Timur karena terjebak dalam perebutan dalam kekuasaan.Dan Jawa Timur sebagai  pewaris MAJAPAHIT yang agung tidak sudi dibawah kendali siapapun selalu melakukan perlawanan, terutama terhadap penjajahan Belanda.

Demikian juga setelah menyerahkan Java Ousthook, Mataram ternyata tidak pernah reda dari perebutan kekuasaan. P.Mangkubumi ,memberontak  dan berlangsung selama 10 tahun . Baru pada masa Pakubuwanna III terselesaikan dengan  Perjanjian Giyanti tgl 13 Februari 1755 . Mataram dibagi  menjadi dua yaitu  Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogjakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Ngayogjakarta bergelar  Sultan Hamengkubuwono I . Tetapi pada tahun 1757, perpecahan kembali terjadi antara R. Mas Said ( Pangeran Sambernyawa ) dengan Pakubuwono III, VOC dan Hamengkubuwono I. Akhirnya ditanda tangani perjanjian Salatiga  , Mataram dipecah lagi . R.Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan , Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Surakarta .

Perang Inggris dan Belanda.

Perebutan perdagangan rempah rempah  di Nusantara antara Belanda dan Inggris,tidak pernah surut . Kekalahan Inggris di pulau Banda  dan tertutupnya laut Jawa bagi Inggris tidak menyurutkan ambisi Inggris menguasai Nusantara. Menurut Mr. Farquhar( Mr Farquhar adalah pendiri Penang Malaysia dan orang yang paling mengerti dan paling mengenal secara mendalam sumber daya kepulauan timur) , Sumatera dan Borneo memiliki kekayaan sama dengan Brazilia[3] . Dan posisi  Jawa  di benua Asia (China  dan Hindia) sangat strategis seperti Mesir dan Sicilia di selatan Eropa[4] .Setelah Inggris berhasil  membangun pijakan di Bengkulu,[5]  maka Inggris pun  membangun  Garrison ( kompleks Militer)  , yaitu benteng Malborough dan juga membangun faktory pada tahun 1685 .[6]Benteng Malborough, benteng terbesar kedua di Asia . Sesuai catatan ,[7]benteng tersebut menyerupai sebuah kota kecil, dihuni oleh para petinggi  atau perwira senior  tentara Inggris dan pegawai sipil bersama keluarganya dan  dilengkapi pencatatan perkawinan, pembaptisan dan kematian penduduk.

Setelah menguasai Bengkulu maka  Inggrispun meluaskan hubungan dagangnya dengan Blambangan untuk dapat berhubungan dengan pedagang rempah dari Maluku

Hubungan  dagang Inggris dan Blambangan.

Blambangan memiliki arti yang strategis bagi Inggris dalam perebutan perdagangan rempah melawan Belanda di Nusantara karena  Blambangan adalah kerajaan merdeka terbebas dari cengkeraman penjajah Belanda. Blambangan diuntungkan kuatnya perasaan anti penjajahan di Jawa Timur, (adipati Malang, Keturunan Untung Suropati  . Malang sepenuhnya dibawah kendali keturunan Singosari , sementara Pasuruan dan Probolinggo sepenuhnya dibawah kendali  keturunan  Untung  Suropati). Blambangan menikmati keamanan  .Disamping itu Blambangan juga memiliki  benteng alam berupa gunung gunung Semeru , Bromo , Pegunungan Hyang , dan Gunung Raung dan Ijen, menjadikan Blambangan negara yang aman tentram , sehingga mencapai masa kejayaan sejak masa Tawangalun II sampai Pangeran Pati III..[8]

Hubungan pedagang Inggris dengan  Blambangan sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1600,ketika  pelabuhan Ulu Pampang di Blambangan menjadi tumpuan para pedagang Nusantara  , karena  VOC memonopoli laut Jawa  setelah menerima kekuasaan pantai utara  yang diserahkan  oleh Amangkurat II VOC sangat menindas dan meminta biaya yang sangat berat bagi pedagang yang melewati laut tersebut. Pedagang Nusantara yang telah lama memiliki hubungan dengan kerajaan Melayu,China, dan India , akhirnya  memilih lewat lautan Hindia dan menjadikan Ulu Pampang sebagai pelabuhan persinggahan. Maka Ulupampang menjadi pelabuhan yang ramai . Ini terbukti  sejak awal tahun 1600an Ulupampang mampu mengekspor , sarang burung walet seharga f 4000 , bahan lilin 10 pikul , dan beras 600 ton setiap tahun.[9]

Betapa pentingnya Blambangan dalam kaitannya dengan Inggris ,terbukti kerajaan Blambangan telah tercantum  dalam  peta pelayaran dunia  yang  dibuat Inggris tahun 1629 ( National  Library Singapore ).

Hubungan dagang Inggris dengan Blambangan  menjadi lebih baik  pada masa Susuhunan Tawangalun  ( 1655 sd 1690).Dan ketika  Inggris  menguasai Bengkulu  1685 hubungan dagang Inggris dengan Blambangan  semakin baik. Kehadiran pedagang Inggris di Blambangan  menjadi sekali tiap enam bulan [10] Tentu saja hal ini  , menimbulkan kekawatiran  VOC  sehingga VOC mengirim utusan Jeremias van Vliet menghadap susuhunan Tawangalun pada tahun 1690. Tapi permintaan hubungan ini tidak ada kelanjutannya . Setelah penolakan terhadap  utusan Belanda tersebut ,pedagang  Inggris semakin sering mengunjungi Ulupampang untuk mengambil perbekalan melanjutkan perjalanan ke Timur menuju Pasir dan Banjarmasin.

Pembangunan  Inggrisan di Blambangan

Pada tahun 1760 Inggris ,merobah  motivasi  hubungannya dengan Blambangan , kalau awalnya hanya sebagai tempat persinggahan maka pada tahun 1760 , Ulu Pampang /Blambangan mulai dilirik sebagai tempat berpijak. Pada tahun 1765 , konsul EIC merekomendasikan beberapa pelabuhan yang cukup tepat untuk  pendirian perwakilan perdagangan EIC , termasuk di Blambangan[11]. Setelah itu yaitu tahun 1766 ,kehadiran kapal  Inggris semakin sering . Sebelumnya hanya sekitar 6 bulan sekali , maka mulai tahun 1766 hampir setiap bulan , bahkan kadang kadang dua kali setiap bulan [12]

DR Sri Margana dalam bukunya Perebutan Hegemoni Blambangan menulis , pada bulan Agustus 1766 tiga kapal besar Inggris  diikuti lima kapal belas chialoup, dan dua puluh lima pecalang dan seratus kapal yang lebih kecil , membawa pelaut bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles[13] .  Tidak dijelaskan apa yang dilakukan oleh armada besar ini. Dalam buku  History Of JavaThomas Stanford Raffless menulis bahwa seorang berkebangsaan Inggris ,  Mr.Yesse ,mulai membangun barak militer dan kantor dagang di Blambangan  yang kemudian kita kenal sebagai Inggrisan.Tentang pembangunan itu  dinilai   sangat tepat. Karena kedudukan Banyuwangi ,sedemikian baiknya  sehingga Banyuwangi  disamakan kedudukannya dengan Pinang di Malaya[14].Dukungan dari pemerintah Blambangan juga sangat membantu.Selain itu , Stanford Raffless,juga memuji keberhasilan pemerintahan Blambangan .

Tetapi dalam pandangan VOC ,ramainya pelabuhan Ulu Pampang , dengan kedatangan kapal Inggris dan kapal pedagang Nusantara ,dianggap adanya kekacauan di Selat Bali,karena banyak kapal dagang illegal   [15]. Maka  VOC tidak dapat lagi menunda penyerbuan Java Oesthook.

Pembumi Hangusan Java Oesthook dan Blambangan

Seperti ditulis diatas,meskipun Pakubuwana II  telah penyerahan Java Ousthoek pada VOC  pada 1743, tetapi VOC tidak mampu menguasai Java Oosthoek , karena perebutan kekuasaan yang terjadi di Mataram. Serta sangat kuatnya pertahanan di Java Ooosthoek, dan kuatnya sikap anti penjajahan

Baru   setelah perjanjian Giyanti 1755, ketika VOC mendapat dana besar dari Mataram , pada tahun 1757 persiapan menggempur Java Ousthoek telah dimulai. Persiapan penyerangan pada Java Oostoek tidaklah mudah, karena  VOC memerlukan kekuatan tempur yang sangat besar untuk menghadapi kekuatan adipati Malang ,keturunan Untung Suropati  dan Blambangan.

Tetapi setelah Inggris membangun barak militer dan kantor dagang di Blambangan tahun 1766 , VOC tidak dapat lagi menunda lagi  penyerbuan Java Ousthook.

Pada tahun 1767 VOC membentuk pasukan  tempur  dari  Mataram, Surabaya, dan Madura , Belanda mengadopsi Strategy  Tumpes Kelor dari Mataram yang telah dipraktekan pada keturunan Sunan Giri  , yaitu membunuh habis sampai keakar akarnya [16]

Penyerbuan pertama  dipimpin  Erdwiyn Blanke terdiri atas 25 buah kapal besar dan puluhan kapal kecil , memuat 335 serdadu Eropa, dan 3000 laskar Madura, Mataram, Pasuruan,.Setelah menumpas keturunan Suropati dan adipati Malang  pasukan ini membumi hanguskan Panarukan pada tanggal 27 Pebruari 1767. dan merebut Banyualit pada 31Maret 1767  ( NTM 63). Dan Blambanganpun jatuh ketangan VOC, dan membumi hanguskan dan meluluh lantakan ibu nagari Kota Lateng.

Ternyata meskipun VOC telah mengerahkan kekuatan tempur  yang sangat besar , kemudian menguasai Blambangan dengan cepat , serta membangun benteng di Banyualit,tetapi satu tahun kemudian timbul pemberontakan Wong Agung Wilis.

Dan   untuk memadamkan pemberontakan ini sekali lagi VOC mendatangkan bantuan pasukan  yang tidak kalah besarnya dari yang pertama . Bantuan ini dipimpin A.Groen  membawa 13 kapal yang memuat 302 orang serdadu Eropa, 1000 orang laskar Madura, 400 orang dari Surabaya, 1700 laskar Lumajang.

Ternyata serangan dari Banyualit, dalam benak orang Blambangan adalah serangan yang sangat licik.Banyualit adalah  tempat suci  untuk melarung abu ngaben dan benda peribadatan .Karena itu perang melawan Belanda adalah perang suci  .Blambangan  kalah lagi  dan Wong Agung Wilis tertangkap , kemudian dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768.  Tetapi pertempuran secara sporadis tetap berlangsung di seluruh Java Oesthook

Penemuan Australia dan hancurnya kerajaan Blambangan.

Tahun 1770 Eropa digemparkan penemuan  benua baru oleh James Cook yaitu benua Australia. [17] Penemuan ini tentu saja semakin mempertegas pentingnya Blambangan , dalam support logistik dan persinggahan kapal kapal Inggris menuju Australia.Maka pantaslah Inggris berusaha sekuat menguasai kembali Blambangan.

Pada akhir 1770  wong Agung Wilis dapat meloloskan diri dari Banda  , dan tinggal di Bali [18] , sehingga  wong Agung Wilis ,dapat dinyatakan satu satunya tahanan VOC  yang dapat meloloskan diri  .Tidak lama setelah Wong Agung Wilis , tinggal di Bali, pada tahun 1771 muncul pemberontakan Pangeran Rempeg Jagapati  seorang pimpinan perang  Wong Agung Wilis. Pangeran Rempeg segera mendapat dukungan dari para pejuang yang bertempur bersama Wong Agung Wilis.Belanda  menyebut Pangeran Rempeg Jagapati  sebagai Pseduo Wilis, karena para pejoang yang mendukung Pangeran Rempeg Jagapati sebagai titisan dari Wong Agung Wilis. Yang membuktikan betapa masih kuatnya pengaruh wong Agung Wilis [19].

Perang ini adalah perang yang sangat besar  , ini terbukti VOC menambah pasukan tempur VOC pada tgl 14 Desember 1771.Pasukan tempur ini terdiri pasukan  meriam Belanda dipimpin oleh Kapten Vaandrig Schaar dan Cornet Tinne seorang perwira tamatan Akademi Perancis yang terbaik didunia ,serta 2000 laskar Madura, dibawah pimpinan Alap Alap , seorang Madura .

Tanpa mengurangi jiwa Perlawanan yang  begitu heibat serta dukungan penuh dari pedagang Bugis, Bali , Melayu , yang muak dengan monopoli perdagangan Belanda, dan China  pelarian pemberontakan China di Batavia , sulit ditolak adanya keterlibatan Inggris dalam perang ini.Apalagi dalam pertempuran itu  VOC dapat dipukul mundur dan Kapten Vandrig Schaar dan Cornet Tinne  terbunuh [20].dan VOC kemudian menghentikan penyerbuan selama 11 bulan . Dan baru pada tgl 1 Oktober 1772  mendatangkan lagi sekitar 5000 laskar termasuk beberapa serdadu Eropa untuk menggempur pemberontak[21]

Hal ini menjadi semakin jelas , ketika para pejoang  Blambangan yang terpukul mundur , membangun pertahanan di Nusa Barong pada tahun 1773 dengan persenjataan yang sangat canggih yaitu memiliki  8 kapal  dagang, 8 pucuk meriam , dan 100 pucuk senapan dan menampung 3000 penduduk[22] . Sehingga pelayaran di lautan Hindia masih dalam cengkeraman Blambangan

Catatan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk  menaklukan Blambangan  sebanyak  80 ton emas ,juga menunjukan perang ini adalah perang yang besar dan penting .[23] ( Penulis berpendapat bahwa jumlah biaya tersebut adalah total biaya yang dikeluarkan oleh VOC , sejak dimulai perang melawan , adipati Malang , keturunan Untung Suropati , sampai Perang Blambangan tuntas).Perang ini menurut DR. Sri Margana  adalah perang tersadis sepanjang sejarah, sementara para  sejarahwan dan budayawan Banyuwangi menyebut Puputan Bayu. Dengan berakhirnya perlawanan ini, maka Kerajaan Blambangan lenyap dari sejarah. Kerajaan Blambangan dibelah menjadi dua , Blambangan Barat  dan Blambangan Timur dengan  ibu kota Ulu Pampang . 

Perlawanan terhadap Belanda tidak pernah surut, sehingga VOC melakukan dislocating system , sampai tahun 1811. Penduduk Blambangan yang  pada tahun 1750  ,berjumlah 80ribu , pada tahun 1811 tinggal 8 ribu.                     From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000 [24]  Sebuah pernyataan yang menggemparkan dan sampai saat ini menjadi perbincangan International [25]

Tapi dilupakan di Banyuwangi.

[1] Putra Sultan Agung ,Amangkurat I ( 1646 sd 1677) adalah raja Tiran ( DR. Sri Margana PHB 37  dan Trilogi Genduk DUKU JB . Mangunwijaya ) .Hampir seluruh adipati memberontak .Salah satu pemberontakan yang terkenal adalah pemberontakan Trunojoyo. Walaupun Amangkurat I meminta bantuan VOC , namun Trunojoyo dapat menguasai keraton Mataram dan memaksa Amangkurat mengungsi dan mati di Tegalarum (1677).Putranya Amangkurat II, terlibat perebutan kekuasaan dengan Pangeran Puger.Amangkurat II , meminta bantuan VOC , sehingga mampu mengalahkan Pangeran Puger. Dan Amangkurat II ,menyerahkan pantai utara Jawa ke VOC. Ketika Amangkurat III memerintah maka  Pangeran  Puger / Mas Drajat melakukan pemberontakan . Kali ini VOC mendukung Pangeran Puger sehingga dapat merebut tahta dari Amankurat III. Amangkurat III , melarikan diri ke Jawa Timur berlindung pada  Adipati Untung Suropati. Pangeran Puger kemudian menjadi raja Mataram dengan gelar Pakubuwana I. Dan Amangkurat III membentuk pemerintahan di pengasingan.Meskipun pada akhirnya pasukan VOC dan  Mataram mampu menangkap  Amangkurat III dan membuang ke Sri Langka dan membunuh Untung Suropati, tetapi Jawa Timur tetap dikendalikan keturunan Untung Suropati yang mendapat dukungan dari keturunan/pengikut  Amangkurat III.

[2] Thomas Stanford Rafless  Hystori of Java  509

[3] History of Java 140

[4] ( History of Java 101) .

[5] Alaan Harfield (1995): Bencolen : A history of the Honourable East India Company’s , Garrison  on the west coast Sumatra ( 1685 -1825).

[6] ( Firdaus Burhan (1988) Bengkulu  Dalam Sejarah )

[7] pada British Library and India Office Collections ,[7] pada tahun 1790

[8] Drs I Made Sudjana M A. Nagari Tawon Madu 35.

[9] Drs I.Made Sudjana MA .Nagari Tawon Madu  22

[10] Drs I Made Sudjana   Nagari Tawon Madu  61

[11] DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49

[12]Ibid 61

[13] DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49

[14] Thomas Stanford Raffless History of Java 144

[15] Ibid 62

[16]   Margana 98

[17] Richards Tropical Encyclopedia ,The Richards Company Inc New York , volume 5.543.

[18] .Drs. I Made Sudjana M A, Nagari Tawon Madu  68)

[19] Penulis telah mengecek informasi keberadaan makam Wong Agung Wilis di pura langgar Bangli.

[20] Ibid  79)

[21] Ibid 80

[22] Ibid 84

[23] J.K.J. de Jonge .1883 mengutip  surat Gubernur Jenderal Reiner de Klerk kepada pemimpin VOC tertanggal 31 Desember 1781,

[24] Sir Thomas Stanford Rafless.Hystory of Java   68

[25] Kumar , Ann” Javanesse   Histiographie in and of the colonial periode, a case study . Dalam Anthony Reid and David Maar (eds) Perception of the past in Southeast Asia,Kualalumpur 1979,187206  via  I Made Sudjana M A Nagari tawon Madu  dan makalah DR .Sri Margana

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka .

1.      Sri Margana disertasi dalam program DR ,Leiden University “Java ‘s Last Frontier : The Struggle for Hegemony of Blambangan, c.1763-1813.

2.      DR. Sri Margana , Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan  Pustaka Ifada 2012

3.      C. Behan Mc Cullagh , Logic of History, Perspektif Posmodernisme , Lilin Persada Pers , Yogjakarta 2010

4.      Drs I Made Sudjana MA, Nagari Tawon Madu , Larasan Sejarah  2001

5.      Thomas Stanford Raffles. The History of Java, Narasi. Yogjakarta 2008

6.      William H.Frederick , Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia ,Sebelum dan sesudah Revolusi , LP3ES, Oktober 1984

7.      Mann , John, sejarahwan Amerika spesialis dinasti Mongol : Ku Bilai Khan .

8.      Prof .DR. Drs. I Ketut Riana S.U. Kakawin Desa Warnnana uthawi  Nagara Krtagama , Masa Keemasan Majapahit, KOMPAS , Jakarta September 2009.

9.      Robin Tatu ,Babad Buleleng I Gusti Putu Jelantik Dalam Konteks Sejarah

10.  DR. Hasan Djafar , Mas Akhir Majapahit , Komunitas Bambu 2012

11.  Irwan Djoko Nugroho , Majapahit Peradaban Maritim , Suluh Nuswantara Bakti, November 2011

12.  Supratikno Rahardjo, Peradaban Jawa Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir, Komonitas Bambu 2011.

13.  Prof DR.M . Bambang Pranowo , Memahami Islam Jawa,INSEP, Alvabet Oktober 2009.

14.  DR. Purwadi M.Hum dan Drs Niken H. M.Hum . Dakwah Wali Songo. Shaida Yogjakarta 2007

15.  Drs Wiji Saksono, MengIslamkan Tanah Jawa .MIZAN Januari 1995.

16.  Prof DR. Edi Sedyawati, Prof DR. Sri Hastanto , Musik Tradisi Nusantara , Traditional Music of the Archipelago  volume 7.  Dit Jen Nilai Budaya Seni Film , Dept Kebudayaan dan Pariwisata  , 2007

17.  Hasan Ali , Sekilas Puputan Bayu , Pemda Banyuwangi  2006. 

18.  Seno  Gumira Ajidarma , Nagabumi,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta  2009.

19.  Hasnan Singodimayan , berbagai artikel

20.  Makalah , Seminar hari Jadi Banyuwangi

21.  Berbagai sumber dari Majalah , Harian