SUASANA HARI RAYA “BROJOLAN” /MENDADAK 56 TAHUN LALU

Hari Raya tahun ini yg dipastikan akan terjadi pada tanggal 20 September 2009, berbeda dengan tgl yang tertera di kalender umum yaitu tgl 21 September 2009, menimbulkan kalang kabut kenalan, tetangga, dan saudara saya.

Seorang executive kenalan saya, terpaksa mengabaikan ticket pesawat yang dibeli untuk tanggal 20 September, dan kalang kabut mencari ticket tgl 19 September, karena beliau tidak akan mungkin akan tenang dan bahagia kehilangan moment yang sangat penting, untuk bersama ibunya, pada malam hari Raya, dan sungkem setelah menjalankan sholat Eid…………..Berapapun harga ticket akan dia bayar asal moment ini tidak terlewatkan.

Seorang tetangga terpaksa mempercepat pulang dengan kendaraannya, hingga menimbulkan kegaduhan……..dan setelah mencapai Cirebon baru ketahuan satu box  untuk hadiah  bapaknya ketinggalan.

Ribuan orang bingung…….namun itu tidak terrekam . Ticket yang dibeli , kalau perlu antri berjam jam  dengan harga duakali lipat (karena tgl 20 Sept  diperkirakan Peak Seasons) ,sekarang menjadi tidak berharga……sungguh memilukan.

Saudara2 yang mestinya  pulang hari Sabtu ,mendadak berubah hari Jum’at, point2 yang biasanya  macet sekarang macet total , SPBU kehabisan bbm…….duh gusti……………

Melihat kejadian seperti diatas , pikiran penulis melayang ketika penulis masih kecil berumur 5 sd 6 tahun , atau yang terjadi 56 tahun yang lalu.

Pada malam itu ,ayah begitu tergopoh gopoh datang dari masjid, karena Lebaran ternyata  terjadi esok hari. Bedug bedug mesjid dipukul lebih keras, bapak bapak berlari lari mengabarkan Hari Raya. Tetangga saya terburu buru menangkap ayam yang masih tidur dipohon, suara ayam ribut dimalam itu, belum lagi gelepar suara ayam disembelih.

Ibu ibu berlarian pontang panting mencari kekurangan bumbu dapur, dan kemudian masak semalaman.

Saya sendiri berlari pontang panting mengirim zakat fitrah keluarga (6 orang),kemudian mencabuti bulu ayam sampai mendekati tengah malam

Seluruh desa malam itu hiruk pikuk, semalam suntuk. Takbiran sudah tidak berirama lagi. Tetapi bedug dipukul lebih keras, kemudian diikuti kampung yang lainnya, begitu seterusnya…….tiap orang merasa chawatir  saudara yang berada diluar  kota tidak tahu besok lebaran….maka pamanku yang memiliki sepeda    mengabarkan ke sanak keluarga di desa desa.

Dan malam itu ada kebahagian yang terpancar , apabila ternyata dialah yang pertama mengabarkan berita  Hari Raya itu……sungguh luar biasa.

Setelah semalam suntuk bergadang, maka bersiaplah untuk sholat Eid di mesjid. Pakaian kami baru, hati sangat gembira, tetapi muka kami kuyu……jalan terseok seok dengan sepatu baru

Keramaian Hari Raya , dipagi hari sangat semarak……..tetapi menjelang dzuhur ….desa sudah sangat sepi……..seperti desa yang telah diluluh lantakan serangan  Garuda ……..sampai magrib tiba……dan setelah itu meriam  bambupun berlaga ,lagi memecahkan daun telinga.

Allohuakbar Allohuakbar Allloooooohuakar………………………..

Kami Sumono & Kel menghaturkan SELAMAT HARI RAYA EIDUL FITRI 1430 H, mohon maaf lahir bathin, semoga kita selalu mendapatkan Ridho Alloh, dan meneguhkan silaturahmi. Amiiiiiiiiiiiiiin

(sampun paripurno anggen kawulo talak broto siam ing wulan romadhon, nenggo dawuh guru lelakuning alam (PARA ROSUL), memayu  hayunining  bawono.

Naliko swanten takbir medar ing angkoso, ngagungaken asmaning gusti Alloh ingkang MOHO RACHMAN LAN MOHO ROCHIM, mratela sampun rawuh Dinten Ingkang Agung;

Duh gusti ,lan saderek kulo sedoyo ‘ ngaturaken sugeng riyadi 1 syawal 1430 h, nyuwun agunging pangaksami sedoyo kelepatan.,kawulo lan keluargi)

~ oleh sumono pada 19 September 2009.

2 Tanggapan to “SUASANA HARI RAYA “BROJOLAN” /MENDADAK 56 TAHUN LALU”

  1. Assalamualaikum Wr.Wb.
    Saya lahir di Banyuwangi 1962 dan sekarang tinggal di Banyuwangi, Ngopeni bocah SMP Tepi hutan gunung Raung. Maka blog saya namai gunung tersebut. Ayah dan Ibu berasal dari Demak Jawa Tengah, pindah ke Banyuwangi tahun 1943. Saya sering membuka Blog milik Bapak Sumono. Mohon maaf , Baru sekarang saya memberi komentar. Terima kasih, Tulisan Bapak telah memberi wawasan yang lebih luas. Sebelumnya saya hanya kenal referensi Blambangan dari Babat Blambangan, Negeri Tawon Madu, dan Lekerker. Banyuwangi memang patut disyukuri hampir semua aspik kehidupannya ( Kesuburan dan keindahan alam, budaya, sejarah ) seperti yang tergambar dalam lirik lagu umbul-umbul Belambangan. Dan yang paling penting, dengan membaca tulisan Bapak, saya semakin cinta Blambangan, dan menanamkan kecintaan terhadap negeri ini pada peserta didik saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: