MENGUNGKAP JATI DIRI WONG BLAMBANGAN
Ibarat Batu , maka bahasa Blambangan itu adalah batu yang berkwalitas, Suseiki. Batu yang terbentuk keindahannya karena kekuatan alam. Ditangan para pengagumnya batu tersebut melebihi harga intan berlian.
|
MESTINYA LIMA PERTANYAAN BUKAN TIGA PERTANYAAN.
- 1.BENARKAH BOSO BANYUWANGEN IKU MENGANUT SISTIM EGALITER…
- 2.BENARKAH BOSO BANYUWANGEN IKU HING ONO UNGGAH UNGGUHE…?
- 3.BENARKAH BOSO BANYUWANGEN IKU ADALAH BOSO JOWO HANG TERBEDAKAN KARENA DIALEKNYA..?KESUWUN ATAS JAWABAN RIKO.
Tiga pertanyaaan yang menggelitik tersebut telah muncul dalam kelompok face book GESAH Using Coro Banyuwangi Aselai. Sejak pertanyaan itu diajukan saya , saya telah mencoba menjawabnya, tetapi setelah saya kaji jawaban tersebut jauh dari memuaskan maka sejak itu saya mencoba mengumpulkan fakta fakta untuk menjawab pertanyaan tersebut lebih baik..Setelah fakta fakta terkumpul ,ternyata perlu diajukan dua pertanyaan baru lagi,yaitu;
- 4. Mengapa bahasa itu tetap bertahan dari gempuran zaman.
- 5. Mengapa struktur bahasa Blambangan tidak sama dengan bahasa Jawa, Madura, dan Bali, Banten dan Cirebon.( Tidak punya unggah ungguh)
.
Diluar dugaan saya ternyata dua pertanyaan terakhir mendorong saya untuk mengungkap lebih jauh JATI DIRI WONG BLAMBANGAN, yang akhirnya saya gunakan untuk menjadi judul tulisan ini. Saya menemui kesulitan untuk menuliskan dengan bahasa Banyuwangi, oleh karena itu , saya akhirnya menggunakan bahasa Indonesia, disamping itu dengan menggunakan bahasa Indonesia memiliki cakupan pembaca yang lebih luas.
Untuk itu marilah kita jawab satu persatu pertanyaan tersebut.
1. Benarkah bahasa Banyuwangen itu menganut sistim Egaliter?
Jika yang dimaksud dengan bahasa Banyuwangen adalah bahasa yang digunakan di penduduk Banyuwangi saat ini, saya akan menjawab dengan tegas ; Ya. Sebagai bahasa yang existing / bahasa yang digunakan dalam perkacapan sehari hari , kemudian dilegimitasi berdasarkan Kamus bahasa Using yang disusun oleh bpk Hasan Ali, mengindikasikan bahasa Banyuwangi menganut sistim yang egaliter, tegas, dan langsung.
Di tinjau aspek sejarahpun ,kerajaan Blambangan adalah gabungan dari kerajaan agrarish dan maritim. Sejak zaman kejayaan Majapahit, pada saat prabu Hayamwuruk , Blambangan selain memberikan bantuan Logistik berupa hasil pertanian yang sangat besar ( Blambangan berasal dari kata Balumbun artinya negeri lumbung pangan ( NEGARAKERTAGAMA) , Blambangan juga membangun pelabuhan untuk mendukung armada Majapahit di Timur dan kemudian menjadi pelabuhan yang sangat ramai pada abad 16 yaitu Panarukan. Panarukan kemudian menjadi ibu negeri Blambangan ,yang oleh Tome Perres disebut Fedeida ( Summa Oriental). Setelah itu ibu negeri pindah ke Kedawung, juga ibu negeri yang terletak di pesisir lautan Hindia. ak aneh pada masa ibu negeri pindah ke Bayu , Macan Putih. Kota Lateng,,kerajaan Blambangan memiliki pelabuhan yang besar yaitu Ulu Pampang. Setelah Perang Puputan Bayu , ibu negeri pindah ke Banyuwangi , maka Blambangan seperti daerah pantai lainnya, terhapus sebagai kerajaan Maritim ( Sedang dipersiapkan tulisan Perjanjian Giyanti dan hancur leburnya kekuatan Maritim Blambangan) . Maka sebagai Negara Maritim layaknya yang ada dalam sejarah , bahasa yang dipakai menganut system Egaliter.
2. Benarkah bahasa Banyuwangen tidak mempunyai Unggah ungguh?
- 2.1 Kata ganti bahasa Banyuwangi Pertanyaan ini sulit saya jawab , karena meskipun Bahasa Banyuwangen kebanyakan pada strata ngoko , tetapi dalam kata ganti ternyata bahasa Banyuwangen memiliki kata ganti yang berstrata, yaitu Isun (Ngoko) ,Kulo( Kromo) , Siro (Ngoko) , Ndiko.( Kromo). Dan perlu dipahami bahwa bahasa yang egalitaer ,berarti tidak punya unggah ungguh, pengertian yang demikian tentu tidak benar. Ungkapan kata ganti ini, juga menunjukan masih kentalnya bahasa kawi, dan adanya perbedaan strata yang seharusnya berlaku, misalnya Isun dalam bahasa kawi Ingsun , mestinya digunakan untuk kata ganti diri orang berkedudukan tinggi, tetapi malah jadi bahasa kata ganti diri rakyat. Demikian juga kata Siro , mestinya untuk menghormati kedudukan orang, malah menjadi untuk menyebut orang setara, dan ini berkebalikan dengan nDiko, yang seharusnya untuk kawan seiring , malah untuk menghormati kedudukan orang . Dalam percakapanpun , orang Banyuwangi masih menggunakan bahasa Banyuwangen kromo untuk menghormati orang.contoh. ; Monggo kampah ( Pinarak , bahasa kromo Jawa). Meskipun harus diakui dalam penggunaan bahasa kromo, kata serapan bahasa Jawa sangat banyak.
2.2 Tidak ada serapan bahasa kromo Bali dalam bahasa Banyuwangi. Dalam bahasa Banyuwangi tingkat kromo tidak ada serapan bahasa Bali. Fakta ini juga membantah bahwa Banyuwangi pernah dijajah /dikuasai oleh Bali karena jika Bali( Mengwi atau Gelgel ) pernah menjajah/menguasai Blambangan maka tidak mungkin , dalam bahasa tingkat tinggi/ kromo Banyuwangi tidak muncul bahasa Bali. Fakta lain yang membuktikan bahwa Bali tidak pernah menjajah Blambangan telah saya tulis di http://padangulan .wordpress.com.
3. Benarkah bahasa Banyuwangen itu adalah bahasa Jawa yang terbedakan dialeknya.
- Bahasa Banyuwangi memiliki persamaan kata dengan bahasa Jawa, Bali,Madura
Adalah keliru mengindetifikasikan bahasa Banyuwangen hanya pada Bahasa Jawa ,. karena persamaan bahasa Banyuwangen yang berlaku saat ini tidak hanya pada bahasa Jawa, tetapi juga dengan bahasa Bali,Cirebon, Banten, Madura. Itulah sebabnya orang Banyuwangi yang berada didaerah itu dapat dengan cepat menguasai kelima bahasa itu ( Jawa, Madura, Banten, Cirebon, Bali ).Kesamaan itu dimungkinkan karena kelima bahasa berasal dari satu rumpun bahasa yang sama yaitu bahasa Kawi. Kesamaan bahasa antara Cirebon , Banten ,dengan bahasa Jawa karena kedua kerajaan itu berasal dari kerajaan Islam Demak, sama sekali tidak berkaitan dengan kerajaan Mataram. Demikian juga kemiripan bahasa Palembang dengan bahasa Jawa , tidak ada kaitannya dengan kerajaan Mataram, melainkan bahasa tersebut adalah lingua franca pada zaman Sriwijaya. Oleh karena itu jika bahasa bahasa itu diakui sebagai bahasa tersendiri, maka menjadi keniscayaan bahasa Banyuwangi/ Blambangan, harus diakui sebagai bahasa tersendiri. Lebih dari itu pada disertasinya untuk meraih gelar Doktor, pada tahun 1987,Prof. DR. Suparman Heru Santosa telah membuktikan secara ilmiah bahwa bahasa Banyuwangi , dinyatakan sebagai bahasa Osing , dan merupakan bahasa khas , penduduk Banyuwangi . Jika kemudian bahasa Banyuwangi memiliki serapan bahasa Jawa yang cukup banyak, maka sudah menjadi kewajaran umum. Tetapi menurut penulis, bahwa bahasa Banyuwangi masih mampu bertahan sampai saat ini ,adalah keajaiban. Karena banyak kelompok yang diidentifakasi sebagai masyarakat yang teguh mempertahankan budaya Majapahit, ternyata tidak tahu lagi bahasa Majapahit, malahan menjadi sepenuhnya menggunakan bahasa Jawa.
Setelah dipahami bahwa Bahasa Banyuwangi adalah bahasa U/Osing, merupakan bahasa yang berdiri sendiri , saya merasa ada pertanyaan yang lebih menggelitik yang belum dijawab . Apalagi bahasa tersebut dirumuskan sebagai bahasa yang digunakan oleh pelarian para prajurit Puputan Bayu yang menyingkir ke pedalaman. Saya mencoba mencari theory yang bisa mendukung bahasa yang digunakan pelarian perang mampu bertahan selama 300 tahun dalam genggaman kekuasaan Mataram /Kompeni yang terus menerus melakukan deligimitasi dan sinisme .Ternyata saya belum menemukan .Malahan yang terjadi sebaliknya , mereka yang mengaku pelarian Majapahit ( yang berada di tanah Jawa ),dan tetap melakukan kegiatan spiritual sesuai tradisi Majapahit , telah tergerus bahasa Majapahitnya , dan malah menggunakan bahasa Mataram. Sedang bahasa Banyuwangi malah menyebar luas ke seluruh negeri Banyuwangi dan mampu mempengaruhi para pendatang untuk menggunakan bahasa ini. Keingintahuan itulah kemudian saya rumuskan dalam dua pertanyaan diatas.
Kami tunggu komentar dan masukkannya. Terima kasih. Dan sampai ketemu pada artikel berikutnya.
( Singapore April 2011)


[...] MENGUNGKAP JATI DIRI WONG BLAMBANGAN « PADANGULAN [...]
Tahukah Anda Taman Rekreasi atau Tempat Wisata Yang Menarik Di Provinsi Banten? | Indonesia Search Engine dibahas juga di dalam Mei 3, 2011 pada 2:37 am |
Makasi mas uda pasang hasil gambarku ^,^
Terima kasih juga telah memberi inspirasi. Kapan kita bisa ketemu ya
Ass… wr.. wbr…
kangge pak sumono kulo bade tangled kata using atau sing niku asale sangking bahasa pundi??? soale kulo nate teng ambon kata sing juga di gunakan orang sana bermakna sama yaitu tidak. nopo enten sangkut paute ta antara kata sing yang di gunakan orang banyuwangi dengan kata sing yang di gunakan orang maluku??? matur nuwun sak derenge… mugi mugi ndiko tetep sehat. lan tetep nulis terus tentang sejarah lan asal usule tiang banyuwangi. kulo terus ngikuti tulisane ndiko.
wassalam…
Dalam tulisan selanjutnya akan saya ungkapkan.
@ Sapardi wajabae. Tulisan Sunan Giri Putra Blambangan , dengan julukan Khalifah Nusantara dan Tanah Melayu masih belum siap , isinya antara lain Menurut H.J De Graff, lahirnya berbagai kerajaan Islam ,seperti Demak, Pajang , dan Mataram tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya kata sejarahwan Jawa itu, melintassampai keluar pulau jawa seperti Makassar ,Hitu, Ternate.Konon seorang raja barulah syah kerajaannya kalau sudah direstui oleh Sunan Giri ( DR.Purwadi M.Hum. Dra Enis Niken H.M.Hum Dahwah walisongo 107 via Riklefs 1974)
Raja Hitu malah mengaku sebagai keturunan Sunan Giri