GANDRUNG BANYUWANGI ,KARYA GARAPAN DEDDY LUTHAN
(GERAK TARI GANDRUNG …KARYA S.YADI , PELUKIS BANYUWANGI)
Sembilan belas tahun yang lalu tepatnya tgl 5 Maret 1990, saya menonton Gandrung garapan seniman kondang DEDDY LUTHAN ( HENDRAWANTO PANJI AKBAR LUTHAN) di Taman Ismail Marzuki dengan thema yang sangat menggugah KADUNG DADI GANDRUNG WIS . Dari Kompas Januari 2008, saya baca beliau telah mementaskan gandrung pada tahun1990, 1991, 1992, 1993, dan pernah membawa seniman gandrung ke KEBUDAYAAN INDONESIA AMERIKA SERIKAT. Dan berkeinginan untuk mementaskan kembali gandrung pada tahun ini. Sungguh perhatian yang luar biasa.
Pada pementasan tgl 5 Maret 1990 itu beliau menghadirkan penari gandrung yang sudah mumpuni, yaitu mbah Suanah, mbah Awiyah, dan penari muda gandrung Banyuwangi, lengkap dengan peralatannya dan penabuhnya. Saya sendiri sudah tidak pernah nonton gandrung sejak SMP kelas 3 atau sejak tahun 1963 itu berarti saya sudah 27 tahun tidak menonton gandrung. Hal itu disebabkan disamping mulai tumbuhnya tontonan baru yang marak di Banyuwangi saat itu,seperti dangdut dan band ,dan angklung model baru juga saya lebih sering mendengar kabar miring tentang gandrung. Disamping itu nonton gandrung bagi orang kota , anak anak sekolahan ,dianggap ndeso.
Sebagai pengunjung setia Taman Ismail Marzuki saat itu, meskipun saya hanyalah penggemar seni,dan sebagai orang Banyuwangi, saya mulai tertarik untuk menonton pementasan itu dan mulai nguping untuk tahu lebih jauh tentang maksud pementasan itu.Dari pembicaraan yang beredar saat itu saya memutuskan untuk menonton. Ketika saya membeli tanda masuk, saya diberi buku, yang berisi reportoir tentang pementasan itu.( yang tersimpan apik sampai saat ini). Ketika saya membaca reportoir ,saya mulai bertanya tanya apa benar arti kesenian gandrung seperti yang ditulis Bpk .Dedy Luthan, rasanya jauh benar dengan pemahaman saya selama ini. Gandrung selama ini saya fahami sebagai kesenian yang berbau miring, tetapi bpk.Dedy Luthan menulis gandrung pada dasarnya penuh pesan moral dan penarinya meyakini menjadi gandrung adalah panggilan Jiwa, semacam ritual.
Inilah kutipan pendapat beliau; Para gandrung pada masa lampau begitu teguh mempertahankan cara yang demikian( melagukan secara penuh ,SEBLANG LOKENTO, SEKAR JENANG, KEMBANG PEPE, SONDRENG SONDRENG dan KEMBANG PIRMA), sehingga walaupun puisi puisi tersebut tidak pernah ditulis namun hingga dewasa ini sebagian besar dari puisi puisi masihdiingat dan dinyanyikan oleh orang tua terutama yang ada di pedesaaan, pada hal puisi puisi tersebut merupakan puisi yang amat tinggi dengan bahasa yang sulit dimengerti.
Inilah salah satu kutipan lagu SEKAR JENANG pada buku repertoirnya.
Sekar sekar Jenang .Maondang dadari kuning
Temuruno ageng alit .Kaulo nyuwun Sepuro
Layar layar kumendung .Ombak umbul ring segoro
Segorone tuan Agung .Tumenggung numpak kereto
Lilir liliro kantun.Sang kantun liliro putro
Sapanen dayoh riko.Mbok srungkubo milu tomo
Lilir lilir gile.Sabuk cinde ring gurise
Kakang kakang ngeliliro.Sawah bondo ring seloko
Terjemahan bebas dari penulis
Kuletakan bunga persembahan.Ketika purnama sedang penuh
Duhai saudaraku .Dengarlah permohonan maaf saya
Ketika fajar pagi menembus awan.Ombak dilautan bergelombang tenang
Lautan menampakkan kebesarannnya.Layaknya seorang pembesar naik kereta
Janganlah pernah berputus asa.Dikaulah yang mampu membangkitkan
Kembangkan tanganmu , menerima kebaikan.Pegang teguh ,keutamaan
Bangkit bangkitlah segera.Berita kemegahan telah Nampak
Duhai saudaraku bangkitlah.Kemakmuran adalah harapan kita.
Ketika saya baca kutipan itu,saya tersentak ……saya langsung teringat nonton Seblang di waktu fajar bersama nenek, dan lagu yang dinyanyikan nenek menjelang tidur .
Memang sulit memahami bahasa lagu lagu Seblang . Saya sendiri tidak pernah bisa mengerti kalimat nyanyian itu dengan baik, syairnya mengingatkan saya mantera yang diucapkan oleh dukun kampung , ketika nenek membawa saya untuk berobat.
Nenek saya orang Osing. Sebagai orang Osing , nenek sangat senang sekali nonton gandrung dan selalu mengajak saya menonton. Ketika itu ( sekitar tahun 50 an sampai dengan 60an) sebenarnya cukup banyak tontonan rakyat di Banyuwangi, mulai angklung caruk, jaranan,damar ulan, umar maya , kuntulan. Saya sebenarnya lebih senang nonton DAMARULAN, dan UMARMAYA,daripada nonton Gandrung. Nonton Damarulan , UMAR MAYA , bisa semalam suntuk. Dan setelah itu rasanya telinga berdengung sehari penuh, karena begitu kerasnya bunyi tabuhan(gamelan) dimainkan . Karena cerita yang menarik dan karena ego (maksudnya jika kita bisa menonton semalam suntuk , kita akan dianggap jagoan). Dua tontonan ini , berbeda versi. Damarulan menceritakan tentang penaklukan raja Blambangan , Menak Jinggo,dengan iringan tabuhan Bali sedang Umar maya menceritakan penyebar luasan pengaruh Islam ke Persia, sedang costum dan tabuhan (gamelan) hampir sama dengan wayang orang.Tetapi baiklah , cerita Damarulan dan Umar maya, mudah mudahan nanti bisa saya tulis dalam bab tersendiri.
Nenek selalu mengajak saya menonton gandrung saat permulaan(JEJER) dan saat menjelang fajar(SEBLANG).Pada saat paju gandrung , saya sudah di ajak pulang . Yang saya ingat pada saat itu,adalah perbedaan penampilan nenek dan orang yang sebaya. Pada waktu nonton Jejer ,wajah beliau dan orang2 sebaya sangat ceria , tetapi waktu menonton seblang menangis tersedu sedu, minimal menitikkan air mata. Suatu saat saya tanyakan kenapa nenek dan orang orang sebaya menangis, beliau menjawab bahwa gandrung itu sedang meminta ampun kepada Sang Maha Pencipta atas segala kekhilafan yang dia lakukan semalam. Saya sempat heran mendengar jawaban itu, oleh karena itu pada saat yang lain, saya tanyakan kalau sudah mengetahui salah, kenapa dia ulangi lagi. Ya menjadi gandrung itu sudah merupakan bagian dari hidup. Jawaban itu saya cerna begitu saja. Jawaban orang tua yang amat sederhana,dan saya bagian peradaban masa lalu yang patuh, menerima saja dengan ichlas jawaban itu.
Kini seorang seniman besar DEDY LUTHAN ,membawa gandrung ke kancah pemikiran intellectual, dalam suatu pementasan KADUNG DADI GANDRUNG WIS di TAMAN ISMAIL MARZUKI. Menghadirkan mbak Suanah dan mbak Awiyah , penari gandrung yang tonton bersama nenek . Aku mulai berpikir , bagaimana mungkin seorang nenek menari gandrung………..Betapa mengejutkan ketika mbah Suanah dan mbak Awiyah , muncul menari gandrung,sungguh luar biasa……orang tua itu berubah menjadi sangat hidup seperti gandrung muda, dan aura gandrung dalam seblang ketika saya menonton bersama nenek menggetarkan seluruh sendi saja . dan ketika lagu seblang itu dilantunkan, suara yang sendu dan penuh kerendahan hati,tanpa aku sadari air mata saya menetes membasahi pipi . Kini aku dapat memahami arti gandrung sebagai panggilan seperti yang disampaikan nenek. Pementasan ini membawa saya menyusuri masa masa kecil saya, berjalan di kegelapan fajar ,bersama nenek
Kini Seblang telah diarsipkan menjadi khasanah musik dunia menjelang fajar oleh Smithsonian Folk ways , New York , Amerika Serikat. Jejer Gandrung menjadi tarian penyambutan tamu. Gandrung telah menjadi ciri khas Banyuwangi. Gandrung telah metamorphosis mengikuti gerak zaman.Dan saya sejak saat itu memahami arti sebenarnya pementasan Gandrung. Jauh dalam lubuk hati , nyanyian gandrung SEKAR JENANG di waktu Fajar ( Seblang) merayap mengusik kalbu, dan memompakan semangat baru


Halo Pak.
Saya senang sekali bisa menemukan “padangulan” khususnya tentang perhatian Bapak terhadap budaya banyuwangi. Sy sebenarnya sedang “search” tarian gandrung untuk mengerti lebih jauh. Meskipun saya org OSING lahir dan sampai SMA masih di banyuwangi tetapi betul2 buta tentang budaya dan khazanah lainnya.
Hal menarik dari tarian gandrung,adalah kelembutan dan kedinamisan geraknya. Saat-saat tertentu lembut,tetapi pada saat yang lain, menggebrak dengan gerakan yang cepat dan menyambar.
Gambaran ini satu sisi berbeda dengan kultur jawa (khususnya jawa tengah , pada sisi yang lain apakah ini juga merupakan kultur asli orang osing, memang perlu pendalaman lebih jauh).
Sampai saat ini asumsi yang ada di dalam pikiran saya, untuk mengerti tentang gandrung, harus mengerti keseluruhan konteks masyarakat osing (inilah yang sedang saya coba pelajari).
Sekali lagi “maturnuwun”, banyak informasi yang saya dapat dari “padangulan.”
Salam.
Tom
ALhamdulillah. Ya kadung menurut saya pak Luthan perlu juga diminta pendapatnya………karena beliau mampu mengcompare dengan budaya rakyat lainnya. Dadi kita tambah luas pandangannya
om sumono, ini ada tulisan saya di kompas, mungkin bisa dijadikan renungan he he he; http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/03/17492744/Gandrung.Banyuwangi..Riwayatmu.Kini.
Bagus……alhamdulillah gandrung Banyuwangi bisa metamorfosis menjadi tarian penyambutan….jejer gandrung.
Wah kalo tahu ada penulis….dan blogger , saya pingin belajar banyak…….
Tulisan tentang hukumnya doang….